Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Polisi Tai Ledig di Tanah Papua

Fawaz Al Batawy oleh Fawaz Al Batawy
4 September 2017
A A
Tai Ledig Polisi Papua

Tai Ledig Polisi Papua

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah tiga kali saya membaca buku Filep Karma, Seakan Kitorang Setengah Binatang. Buku yang menceritakan ketidakadilan di tanah Papua dan perlakuan keji aparat penegak hukum kepada warga Papua, seakan-akan mereka bukan sepenuhnya manusia. Jauh-jauh hari saya membantah apa yang ditulis Filep Karma, dan kejadian di Kampung Oneibo baru-baru ini menguatkan bantahan saya.

Tidak, Filep Karma. Sama sekali tidak. Perlakuan yang kalian terima bukan perlakuan untuk setengah manusia setengah binatang. Sekali lagi tidak, Filep. Apa yang kalian terima itu murni perlakuan terhadap binatang.

Iklan

1 Agustus 2017, warga Kampung Oneibo memprotes PT Putra Dewa Paniai (PDP) yang mengabaikan permintaan mereka meminjam kendaraan milik perusahaan untuk mengantar salah seorang warga yang kritis karena tenggelam di sungai. Korban akhirnya meninggal dunia setibanya di rumah sakit. Warga marah, bentrok antara warga dan pegawai perusahaan terjadi.

Aparat kepolisian, sebagai pihak paling berwenang dalam menjaga keamanan dan ketenteraman datang menenangkan suasana. Caranya sungguh sangat elegan dan berwibawa: menembaki warga yang protes dengan peluru tajam. Empat orang luka-luka dan satu orang meninggal dunia.

30 Agustus 2017, sembilan anggota kepolisian yang terlibat penembakan di Kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai, menjalani sidang etik. Hasilnya: lima orang dinyatakan tidak bersalah, empat lainnya dinyatakan bersalah dengan sanksi dipindahtugaskan dan diwajibkan untuk minta maaf.

Lawakan macam apa ini?

Untuk kejahatan yang sampai mengorbankan nyawa seorang manusia, keputusan sidang tersebut sama sekali tidak lucu.

Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat. Hahaha. Aparat kepolisian Deiyai begitu fasih mempraktikkan slogan ini. Senjata beserta amunisi milik aparat tentu saja dibeli dengan pajak rakyat. Mereka, para aparat, mengembalikan uang pajak itu kontan, tanpa tedeng aling-aling: Dar-der-dor, satu nyawa melayang.

Tiga tahun yang lalu, di salah satu warung makan di Timika, Papua, saya berbincang dengan seorang polisi. Saat saya bertanya tindakan aparat meredam kerusuhan di Timika saat itu (beberapa hari sebelum saya datang terjadi kerusuhan antar suku di Timika yang dipicu sengketa penerima bantuan PT Freeport), ia menjawab dengan tegas, “Harus dikerasin, Mas. Kalau tidak begitu, rusuh terus. Kelakuan mereka itu persis binatang!”

Nah, Bung Filep Karma, sekali lagi anda salah.

Keputusan hukuman meminta maaf atas kejahatan yang tidak main-main di tanah Papua bukan kali ini saja terjadi. Menurut John NR Gobay, Sekretaris II Dewan Adat Papua, hukuman kasus di Deiyai persis di Sugapa, permintaan maaf untuk sebuah pembunuhan. Bedanya, untuk kasus di Sugapa ditambah hukuman tujuh hari penjara. Tujuh hari! Sedap betul.

Ketidakadilan, sepertinya memang menjadi menu sehari-hari yang mesti dikunyah masyarakat Papua. Mereka harus menelan mentah-mentah semua itu. Protes sedikit, ketidakadilan lainnya akan datang. Selalu begitu.

Sumber daya alam melimpah, keindahan lanskap tiada tara, dan keragaman budaya yang kaya raya justru menjadi kutukan bagi Papua. Semua hal yang seharusnya mendatangkan surga itu justru menjadikannya neraka. Dan neraka itu datang dari laku aparat yang katanya melindungi dan mengayomi.

Fakta lain yang kian menjengkelkan sekaligus memuakkan dari kasus di Kampung Oneibo: aparat kepolisian yang bertugas ‘mengamankan’ bentrok itu mendapat dana santunan dari pemerintah daerah. Iya, betulan, ini bukan omong kosong.

Iklan

Saya kutipkan pernyataan Alfret Pakage, Ketua Pansus DPRD Deiyai, “Saya tegaskan, pemberian uang santunan dari Pemda Deiyai bukan hanya diberikan kepada keluarga duka, tapi juga diberikan kepada pihak aparat keamanan dan itu disaksikan langsung oleh Kapolres Paniai, Pak Supriyagung.” Luar biasa.

“Uang yang diberikan untuk aparat keamanan itu untuk pengamanan dan ongkos pulang bagi satuan Brimob dari Deiyai.” Lapan anam, Pak Alfret!

Sudah membunuh, dihukum berat berupa kewajiban meminta maaf, aparat yang mulia tersebut mendapat dana santunan pula. Sungguh keajaiban yang hanya bisa terjadi di Papua.

Untuk semua lawakan ini, hanya ada dua kata: tai ledig!

Terakhir diperbarui pada 4 September 2017 oleh

Tags: Filep KarmaKampung OneiboPapua
Fawaz Al Batawy

Fawaz Al Batawy

Artikel Terkait

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
papua.MOJOK.CO
Eksplor

Hutan Papua Tak Baik-baik Saja, Terancam Hilang Imbas Pembukaan Lahan Besar-besaran

23 Mei 2026
papua.MOJOK.CO
Eksplor

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO
Sosial

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.