Lelaki yang Mempertaruhkan Seluruh Hidupnya untuk Buku

Lelaki itu bernama Bandung Mawardi, di lingkungan keluarga dia dipanggil Mawar sedangkan oleh beberapa teman dekat dia dipanggil Kabut. Panggilan Kabut ini berasal dari sebuah lagu ‘Menjaring Matahari’ oleh penyanyi Ebiet G Ade yang liriknya berbunyi

“Kabut, sengajakah engkau mewakili pikiranku?”

Panggilan ini muncul ketika dia berjualan buku bekas dan kaset lawas di pelataran kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Karena lagu ini disetel berulang-ulang membuat orang-orang memanggilnya Kabut. Saya pun mengenalnya dengan nama itu.

Sosoknya yang nyentrik dan orisinil memberi karisma tersendiri. Dari mulutnya selalu saja ada cerita dan hal-hal nyeleneh yang kita tak pernah tahu sebelumnya. Ataupun hal-hal yang mungkin kita tahu tapi tak pernah kita sadari. Tak jarang juga kisah ngenes-nya ia ceritakan dalam seri yang dia sebut sebagai ‘biografi kemiskinan’. Kabut mengubah kisah pilu menjadi lucu.

Seperti konon dia sering tidak punya uang, tapi itu tak membuatnya gentar untuk membeli buku. Di Rabu pagi yang syahdu, saya berkunjung ke biliknya. Bilik yang dia beri nama Bilik Literasi. Rumah bagi tumpukan buku-buku, koran dan majalah lawas yang dia koleksi berpuluh-puluh tahun lamanya.

Membolos adalah keajaiban dalam hidup Kabut

Hari itu, Bilik tengah ramai kedatangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia yang tengah belajar penyuntingan. Bilik Literasi juga merupakan penerbit indie. Karena itu, buku-buku hilir mudik layaknya manusia yang datang dan pergi. Pagi itu kami bercakap-cakap di teras. Saya mengawali obrolan dengan Kabut tentang bagaimana semuanya bermula. Peristiwa apa yang membuat dirinya tertarik pada buku.

“Awalnya saat zaman sekolah, bolos, petantang- petenteng, merokok, nongkrong di alun-alun utara, banyak orang-orang menjual buku dan majalah. Ikut saja nongkrong di situ. Jadi mungkin panggilan awalnya di situ,” kata Kabut. Saat itu dia melihat para pedagang menjual buku. Baginya itu  pemandangan unik, karena yang mereka jual bukan buku pelajaran.

“Jadi bagiku itu jawaban dari kemarahan terhadap buku-buku pelajaran. Nongkrong di situ terus buka-buka, pegang, lalu baca,” jelasnya.

Lalu ketika saya singgung masihkah dirinya ingat buku pertama yang dibeli dan dibaca pada waktu itu.

“Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Sejak itu kepikiran kalau bolos atau membelanjakan duit, mendingan ke pasar buku,” kata Kabut.

Saat itu harga buku terjangkau. Orang kalau nongkrong di situ seperti mendapatkan hiburan dan kebahagiaan. Di ruang terbuka, banyak buku dan majalah ditumpuk sembarangan. Kadang orang di situ ngobrol, merokok. Ini merupakan pengalaman berbeda yang dirasakan Kabut. Biasanya orang membolos ke mal, ini malah baca buku.

Sejak kelas 1 SMA, Kabut kerap membolos untuk cari dan baca buku. Baginya, membolos dan membaca buku merupakan keajaiban dalam hidupnya. Namun, ada perasaan berdosa, karena uang yang ia gunakan membeli buku adalah uang yang seharusnya ia gunakan untuk membayar SPP dan keperluan sekolah lainnya.

Bukan hanya ngglandangke uang sekolah, Kabut juga menjual lembar kerja siswa (LKS), ia bahkan menjual sepatunya demi menonton konser Dewa 19. “Yang menyelamatkanku di masa remaja adalah kenekatan membeli buku dan nonton Dewa 19,” katanya.

Kabut kembali bercerita bagaimana dirinya dimarahi keluarga karena sekolah berantakan dan dan kerap bikin masalah, akibatnya ia tidak naik kelas. Dirinya sempat minggat ke Semarang, naik bis membawa duit sekolah untuk bayar ini bayar itu, yang akhirnya dia belanjakan untuk membeli majalah Horizon lawas dan novel Burung-Burung Manyar karya YB Mangunwijaya.

“Aku menduga itu episode aku menggandrungi Romo Mangun. Jadi minggat, tidur di masjid, beli buku novel Burung-burung Manyar yang ditulis seorang Romo,” katanya terkekeh. Bagi Kabut, novel itu menjadi bacaan berbobotnya setelah sebelumnya lebih banyak membaca roman picisan. Sejak saat itu, Kabut berubah seleranya, daftar bacaannya kian banyak.

“Sejak membaca Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun, membuatku berani membaca sastra edisi-edisi berat,” katanya.

Bertemu buku, bertemu jodoh

Obrolan kami terputus oleh kurir pengantar paket (selama kami mengobrol ada 3 kurir paket yang datang) mengantarkan paket berisi buku-buku. Buku-buku tersebut ada yang menjadi koleksi atau ada yang dijual kembali. Saat kutanyakan berapa biaya belanja buku tiap bulannya, Kabut menjawab tak perlu ditanyakan karena jumlahnya ngawur, anggarannya besar. Dirinya juga menambahkan terkadang untuk belanja buku dia perlu ‘merampok’ kawan-kawannya.

Biasanya dia akan memotret buku-buku tersebut lalu dilengkapi tulisan ‘apakah kamu mau Bandung Mawardi menjadi bodoh karena tidak bisa membaca buku ini’. Saat kusinggung terkait mitos yang beredar bahwa Bandung Mawardi pernah belanja buku di Shopping, Jogja, membeli buku sampai lupa menyisakan duitnya untuk ongkos naik bis ke Solo, kemudian jalan kaki dari Shopping ke Jalan Kaliurang di rumah temannya.

“Tak perlu diceritakan, itu masa lalu. Ada banyak cerita memalukan seperti itu tapi tak perlulah,” katanya terkekeh. Selanjutnya saya tanyakan dari sekian peristiwa perburuan, buku apa sebetulnya yang dia cari.

Baca juga:  Lelaki yang 26 Tahun Menunggu Kekasihnya di Tempat yang Sama, Setiap Hari, lalu Mati di Sana

“Aku tidak mencari apa-apa, persoalan mencari dan bertemu buku itu berbeda,” kata Kabut.

Rumah Kabut menjadi jujugan bagi mahasiswa maupun orang-orang yang ingin belajar menulis atau mencari buku untuk referensi. Foto oleh Fanny Chotimah/Mojok.co.

Rumah Kabut menjadi jujugan bagi mahasiswa maupun orang-orang yang ingin belajar menulis atau mencari buku untuk referensi. Foto oleh Fanny Chotimah/Mojok.co.

Ia menjelaskan, misal dia dari rumah ke Gladak, atau ke Shopping. Ia tidak punya gagasan atau rencana untuk mau mencari buku atau majalah tertentu. Hal itu yang membuatnya kemudian ditanya pedagang. Cari buku apa mas? Buku kuliah? Sastra? Filsafat? Pedagang memang wajib bertanya.

“Tapi ini yang membuatku diam saja. Aku ada di depan tumpukan buku bongkar-bongkar, lihat-lihat. Nanti ya bertemu.. itu yang membuatku mau dan berterima membaca buku apa saja.. Dulu nggak kepikiran membaca buku ini akan digunakan untuk apa? Atau akan menjadi orang seperti apa?”

Kabut menggambarkan, bertemu buku itu seperti bertemu jodoh yang tanpa pernah kita duga. Lalu pertemuan itu sedikit banyak mengubah diri kita, bisa memberikan gagasan dan wawasan baru. Jika dirinya tidak tahu akan menjadi orang seperti apa, apakah tidak pernah tahu juga karena banyak membaca lalu kelak akan menjadi penulis.

“Ya tidak pernah tahu, terkadang ya bingung menaruh buku-buku itu ditumpuk di belakang kepalaku di dekat bantal di tempat tidur. Biar aku merasa punya kemampuan membaca dan ditagih. Nanti kalau ditumpukan terambil satu, khatam, nanti disingkirkan lalu diganti tumpukan baru,” kata Kabut.

Kebiasannya itu membuatnya keranjingan membaca. Jam-jam membacanya panjang, sembarang buku dibaca. Pengetahuannya campur aduk. Itu baru ketahuan waktu sering diundang ngisi diskusi atau seminar. Kabut sering menjawab ‘nggih’. Mau itu yang mengundang Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, atau seminar nasional arsitektur, ia jawab nggih. Diminta ngomong film ia akan mengiyakan, musik Jazz juga, diskusi tentang pendidikan ia juga bersedia.

“Karena mau-mau saja, jangan diharap aku memiliki banyak pengetahuan. Karena pertemuan-pertemuan itu yang bagiku memiliki keberanian untuk berbagi cerita. Itu yang akhirnya membuatku kepikiran mau menyelamatkan buku-buku yang tidak dibaca banyak orang. Buku-buku yang bukan selera umum, pedagang putus asa bukune ora payu-payu he-he-he akhirnya aku mengajukan diri untuk membeli, membaca, dan memilikinya. Karena kepikiran buku sudah terbit ditulis orang tapi tidak ada yang membaca, penulis-penulis itu harus dihormati dan berpahala. Kalo aku baca bukunya amal jariah penulisnya tak terputus,” paparan mantan mubalig di pengajian remaja ini panjang lebar.

Menurut Kabut terkadang buku-buku yang tak populer itu ia jadikan referensi untuk tulisan esainya yang sering dimuat di koran ataupun majalah. Tak jarang ada yang meragukan referensinya, dianggap sebagai buku yang tak pernah ada atau imajinasi dirinya belaka.

“Aku telat tahunya tapi Jorge Luis Borges penulis novel Amerika Latin, suka membuat data pustaka muslihat, mengajukan buku-buku yang tidak ada di dunia, tapi mengarah ke tokoh dan judul-judul tertentu. Tapi katanya orang-orang ya mau ditipu. Atau seperti Ali Syari’ati (Sosiolog Iran) dalam biografinya ternyata yang diajar di perkuliahan manut-manut mengutip buku setelah dicari bertahun-tahun, bukunya tidak ada he-he-he aku tidak meniru mereka, yang kugunakan asli, benar-benar ada.”

Sengaja membiarkan buku berantakan

Untuk jumlah koleksi buku-buku, majalah ataupun koran dia pun tak menghitung ataupun melakukan inventaris. Saat ini dia masih berlangganan koran dan membeli 4-5 koran per-hari, tumpukan koran-koran sudah memenuhi hingga atap rumah. Begitu pun buku-buku dan majalah tertumpuk dan ditata tak lagi disimpan di rak, tapi di setiap sudut dan pojok yang semakin sesak. Tumpukan buku itu tidak ditata per-kategori atau disusun layaknya buku-buku di perpustakaan.

Buku-buku di tempat Kabut atau Bandung Mawardi sengaja tidak ditata perkategori atau jenis buku. Foto oleh Fanny Khotimah/Mojok.co

Buku-buku di tempat Kabut atau Bandung Mawardi sengaja tidak ditata perkategori atau jenis buku. Foto oleh Fanny Khotimah/Mojok.co

“Ikut rumusan para pedagang buku. Karena pengalaman awal itu dengan buku-buku bekas. Beberapa pedagang mencoba untuk menata, ini buku kuliah, buku sastra, tapi aku paling seneng kalau pas di dagangan buku campur-campur begitu. Karena kita harus memberi mata kita teliti, tangan kita juga waktu buka-buka harus dengan doa antara beruntung bertemu atau tidak, waktu yang agak lama kita gunakan itu lebih banyak memunculkan ketakjuban-ketakjuban. Karena kita tidak mengira ada buku ini, ada penulis ini, yang lebih menakjubkan harganya. Kog buku ini dihargai murah.

“Aku meniru itu saat buku dan majalah kubawa pulang ya berantakan saja, campur-campur, biar mereka bercakap-cakap, gandengan tangan, tidur bareng, saling ejek. Campur-campur saja karena kalau aku gunakan saat menulis atau membaca biar aku nggak punya sistem. Jadi waktu aku lihat aku baca buku ini ta ambil, sambil kepikiran nulis apa, buku-buku itu kuambil ya bisa jadi tulisan.”

Meski dengan pilihan ini memiliki konsekuensi buku-buku tersebut disantap rayap, tikus dan berjamur. Rupanya dia telah merelakan itu. Jangan pernah bertanya dari sekian buku yang dibaca buku apa yang paling berkesan baginya. Alasannya karena dirinya bukan pembaca yang berselera. Ada ratusan mungkin lebih, jadi kalau mau tahu datang setiap hari untuk mendapatkan cerita setiap buku.

Baca juga:  Beternak Kura-kura Darat dan Menua Bersamanya

Saat ini di zaman yang sudah serba digital, mungkin bagi kita membaca buku fisik sudah tidak begitu penting lagi, namun Kabut memilik pendapat berbeda.

“Penting banget! Penting banget! Pangkat tiga karena aku terlanjur percaya bahwa bacaan itu tercetak, terpegang, ada kesan-kesan lanjutan dari rupa, aroma, cara kita memegang, menaruh, melihat. Aku nggak mengelak pengalaman awal-awal dengan itu. Dan aku selalu telat dengan teknologi. Aku nggak mau terlalu cepat berubah, masih mau dengan yang cetak. Karena aku bisa menikmatinya dengan jeda-jeda dan waktu-waktu yang kupilih.”

Sebagai seorang penulis, beberapa penghargaan di tingkat daerah dan nasional pernah diraihnya, seperti di antaranya penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah, juga dari Dewan Kesenian Jakarta beberapa kali dirinya meraih penghargaan untuk lomba penulisan kritik sastra. Dia pun kerap didapuk mengisi lokakarya terkait kepenulisan ataupun mengajak anak-anak muda untuk sinau membaca dan menulis seperti di Bilik Literasi. Banyak anak muda yang datang dari dalam kota ataupun luar kota, ada pula yang tinggal dalam kurun waktu tertentu.

Sebelum Bilik Literasi berdiri Kabut sudah mendirikan komunitas membaca, menulis dan diskusi semenjak zaman SMA. Ia mengajak anak mahasiswa yang terdiri dari 4 orang dinamakan KOMA (Komunitas Manusia).

“Dulu awal-awal aku sendirian, diajak teman-teman nongkrong nggak mau, diajak piknik nggak mau. Selalu takut karena tidak punya duit, baju selalu jelek dan lungsuran. Jadi kalo main sama teman-teman merasa nggak pantas, mengganggu mereka,” katanya.

Kabut lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, nggak ikut pergaulan. Kalaupun keluar ikut pengajian. Satu saat kepikiran, ikut pengajian terus, bosan juga. Tapi, ia selalu menghindar kalau diajak teman bepergian.  Saat SMA kelas 2 atau kelas 3 dia mendata, di kampungnya anak yang sudah kuliah ada 3-4 orang. Oleh Kabut, mereka diajak jajian untuk ngobrol tiap hari Minggu di rumah salah satu temannya. Kabut yang masih SMA, mengajak 4 mahasiswa di kampungnya untuk ngobrol. Dia merasa punya keberanian. Kabut juga merasa omongannya didengarkan berkat bacaan yang ia baca.

Setelah lulus SMA, Kabut memutuskan untuk menganggur selama setahun untuk kerja serabutan. Pendapatannya dia gunakan untuk menambah buku dan majalah. Melihat itu keluarganya malu, Kabut kemudian diminta untuk kuliah. Pilihannya jatuh di STAIN karena biasa SPP-nya paling murah di Kota Solo. Ia sebenarnya sedikit takut kuliah di tempat itu karena ada embel-embel perguruan tinggi agama.

Kabut kemudian aktif di teater, lalu membuat seri obrolan dengan Kaum Estetika yang diobrolkan hanya puisi, lalu NGUASU (Ngudaroso Wayah Surup) dan Sekte Surat, setiap orang menulis surat dengan tema macam-macam lalu diobrolkan. Berikutnya Kabut Institute, lapak jual buku bekas, berkumpul dan diskusi yang pada akhirnya bangkrut.

Meski begitu dirinya tetap senang karena dari berjualan buku bisa bertemu para penulis seperti Afrizal Malna, Triyanto Triwikromo, Prie GS, Dwiki Darmawan, dan lain-lain. Lalu setelah itu membuat komunitas Buletin Sastra Pawon, buletin sastra yang dibagikan secara gratis dan Pengajian Senin, kelompok diskusi dan menulis setiap hari Senin di perpustakaan UNS, di kedua komunitas inilah saya bertemu Kabut.

“Dari jualan buku bekas mendapat tambahan teman untuk mengobrol, dulu jualan di tiga kampus, STAIN, UMS, UNS beberapa orang tergoda, lalu main ke rumah. Beberapa suka menginap karena buku-bukuku jauh lebih banyak dari mereka. Aku mengumumkan boleh sinau ke rumah. Syaratnya bawa gula, kopi, teh dan rokok. Aku enggak mau nambahi repot mbokku,” kata Kabut.

Ketika tulisannya sudah banyak dimuat, serta punya honor, pola hidupnya berubah, Kabut bisa menraktir dan bisa berbagi buku seperti di Pengajian Senin, lalu Bilik Literasi gabungan dari semua itu. ” Tapi di UMS karena banyak kelas menengah, aku bikin JMF (Jamaah Fundamentalis Sastra) saat Indonesia gencar isu terorisme dan radikalisme.”

Ketika kutanyakan apa yang membuat anak-anak muda itu tertarik untuk selalu datang dan sinau bareng. Setelah berdebat lucu-lucuan terkait pesona tatapan ataupun karisma yang mana tak dia miliki. Dirinya sampai pada sebuah kesimpulan berikut.

“Dugaanku mereka kasihan, lihat orang itu kasihan.. dia ingin ngomong enggak dapat kuping-kuping. Dulu aku nekat zaman kuliah, aku sering ngomong sendiri, yang penting di depanku ada kuping, patokanku menemukan kuping aku ngomong. Jadi kuping teman-temanku yang tidur aku ngomong terus, he-he-he aku diprotes dianggap ganggu.”

Bagi saya yang mengenalnya dan punya pengalaman sinau menulis, Kabut merupakan pendongeng yang memikat. Dengan humor wagu mengajak untuk berpikir nyeleneh dan hal remeh-temeh. Memaknai hal-hal kecil yang terlewatkan oleh zaman yang terus bergerak. Jika kubayangkan alam pikirannya, pastilah riuh karenanya dia butuh teman untuk ngobrol. Tapi anak-anak muda saat ini lebih memilih medsos sebagai ruang pertemuan ataupun tempat ngobrol dari pada bertemu apalagi meluangkan waktu untuk membaca buku.

Baca juga:  Membaca Modus Fakboy dan yang Berharap Jodoh di Dating Apps

“Nggak apa-apa, mereka orang-orang yang beruntung, hidup dengan murah, dengan cepat, aku saja yang sial…” Itu tanggapan Kabut.

Hidup dari honor menulis dan kebangaan sebagai ayah

Mengandalkan hidup dari honor tulisan yang mana rubrik-rubrik di koran sudah berguguran. Lalu pada penjualan buku yang juga tak seberapa karena akan dikembalikan pada pembelian buku dan majalah lagi. Hidup yang penuh pertaruhan bagaimana dirinya bisa meyakinkan istri dan anak-anak untuk mendukung pilihan hidupnya.

“Dosa terbesar pertanggung jawaban terhadap keluarga. Ada bentrokan. Aku terlalu ngawur setiap pagi itu beli koran bisa Rp 20-25 rib, padahal bisa dibelanjakan untuk beli sayur. Tapi aku terlanjur berjanji. Akhirnya makan daun kelor dari kebun tetangga berhari-hari, lalu ketahuan keluarga besar. Predikatku sebagai bapak hancur, diomelin banyak orang dibilang terlalu tega katanya. Tapi aku tetap beli buku, beli majalah. Tapi akhirnya istri dan anak-anak juga agak paham. Kadang aku ngiming-ngimingi itu tumpukan yang di sebelah sana mau dijual bisa dapat mobil. Tapi kita mau nggak hidup kita nanti jadi bodoh?” ungkapnya.

Salah satu sudut rumah Kabut yang penuh sesak dengan buku. Foto oleh Fanny Chotimah/Mojok.co.

Salah satu sudut rumah Kabut yang penuh sesak dengan buku. Foto oleh Fanny Chotimah/Mojok.co.

Bicara tentang keluarga nama anak-anak Kabut yang pertama seorang lelaki bernama Abad Doa Abjad. Lalu anak kedua perempuan, bernama Sabda Embun Bening, dan anak ketiga perempuan dinamai Bait Daun Takjub. Saya bertanya adakah arti dari pemberian nama-nama tersebut.

“Aku bikin puisi, biar orang ingat juga bahwa Bandung Mawardi bukan hanya seorang esais tapi juga bikin puisi. Aku bikin puisi untuk anak-anakku itu.”

Saya jadi teringat setiap kelahiran anak-anaknya, Kabut akan mengirim sms nama mereka yang memang mungkin hanya satu di dunia ini. Tak akan menemukan kembaran. Saya membayangkan kesulitan ataupun kejanggalan guru mereka saat memanggil nama mereka. Atau petugas kelurahan mencantumkan nama di Kartu Keluarga. Mungkin juga bisa menjadi salah satu Kartu Keluarga paling puitis se-Indonesia Raya.

Menjalani kehidupan yang dipilihnya saat ini tentunya tidak mudah. Saya bertanya-tanya dari sekian banyak peristiwa dan kesedihan ataupun kerepotan, kira-kira persoalan apa yang belum ditemukan jalan keluar baginya.

“Kerepotan saat harus pindah rumah dulu, enggak selesai-selesai mengangkut buku-buku itu ber-truk-truk. Orang biasanya pindahan rumah angkut TV, kulkas, ini tumpukan buku,” katanya tertawa.

Menurut Kabut, keputusan membangun rumah itu keputusan yang tepat. Sebetulnya jika untuk keluarganya saja saja cukup beberapa meter, tak membutuhkan tempat luas, tapi karena untuk buku, sekarang pun sudah penuh sesak. Kabut tak pernah menganggarkan membeli rak agar buku rapi.

“Keluarga kutanyakan ini untuk rumah kita saja atau rumah untuk umat? Keluarga merelakan untuk umat, entah sudah berapa ribu orang kesini, tanpa daftar tamu, tanpa potret.”

Semua buku sama berharganya

Kabut juga dikenal tidak suka dipotret. Jangan harap bisa memintanya untuk berpose atau foto bareng. Untuk melengkapi tulisan ini saya pun memotretnya secara candid dengan sepengetahuannya. Saya berkeliling memotret tumpukan buku-buku dan majalah yang ditata di sudut dan pojok rumah yang kian menggunung. Saya tanyakan adakah di antara itu semua koleksi yang paling berharga untuknya.

“Nggak ada yang paling berharga, semua sama saja sudah dikehendaki hidup bersama denganku di sini, untuk dipandang dan dibaca, misal yang paling berharga dimakan tikus ya biasa saja,” kata Bandung.

Banyak orang yang ketika membutuhkan referensi, setelah mencari kemana-mana tidak menemukan, ternyata justru ada ditumpukan buku-buku milik Kabut. Ia menyikapinya dengan tertawa-tawa saja. Buku-buku yang ditumpuk begitu saja, nyatanya sangat berharga untuk riset, disertasi. Banyak sejarawan-sejarawan yang datang ke tempatnya. Ia sempat diomeli karena seharusnya orang-orang yang datang berbayar. Kabut bilang, nggak usah.

Ada yang dari Korea datang ke tempatnya, juga dari Jepang. Mereka menggunakan data dari tempat Kabut. Ia mempersilahkan dengan senang hati. Katanya, itu caranya bersyukur. Dalam tawanya yang terkekeh, Kabut bilang, kalau orang-orang yang datang ke tempatnya tidak menemukan data yang mereka cari, bisa-bisa menangis, bunuh diri, karena mutu keintelektualannya tidak terjaga.

Bagi Kabut, data yang ditemukan orang-orang di tempatnya mungkin berharga, tapi baginya sama saja. Ia tidak ingin hitung-hitungan, karena hidupnya juga nggak pakai hitung-hitungan. “Kalo sudah pada titik paling rendah aku masih bisa ngeluh ke teman, ke saudara, masih memungkinkan itu yang membatalkanku untuk tidak bunuh diri. Banyak yang masih sayang, baik padaku, selumrahnya aku menyayangi banyak orang, umat, berbaik pada mereka dengan cara apa pun tidak ada ruginya dan jangan dihitung pahalanya,” katanya.

Obrolan kami berakhir karena sesi kelas penyuntingan yang tengah berlangsung akan segera dimulai kembali. Mungkin, bagi Kabut jalan hidup yang dia pilih merupakan sebuah kesialan. Memang tak banyak orang yang terpilih atau pun memilih untuk melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh orang banyak. Sebuah dedikasi yang mempertaruhkan seluruh hidup demi sesuatu yang dipercaya. Setidaknya saya masih punya harapan, jika mencari buku atau sesuatu yang saya tidak tahu dan tidak menemukannya di tempat lain, saya tahu siapa yang bisa saya temui. (*)

BACA JUGA Dosen Nyentrik dari UGM dan artikel SUSUL lainnya.