MOJOK.CODi berbagai tempat di Indonesia, ada situasi-situasi ketika susahnya salat lumrah kita temui.

Kemarin malam, di kota kabupaten, ada tiga peringatan Isra Mikraj secara bersamaan. Dua di pusat kota, satunya di pinggiran. Saya diundang di dua tempat dari tiga lokasi yang ada, tapi saya memilih hadir ke acara yang terletak di pinggiran karena dua alasan: pertama, tempatnya di kedai kopi Kancakona; kedua, penceramahnya adalah saya sendiri.

Di acara yang saya datangi, hadirinnya bisa dihitung dengan jari, jelas jomplang jika dibandingkan dengan dua acara lainnya. Keunggulannya, ini peringatan Isra Mikraj yang hadirinnya pada minum kopi. Keunggulan lainnya, acara di kafe ini punya tema “Naik Bis Menuju ke Langit”.

Nah, gimana itu caranya menghubung-hubungkan Isra Mikraj dengan naik bis?

Isra dan mikraj adalah tema perjalanan di malam hari. Isra perjalanan dari Mekah ke Palestina; mikraj perjalanan dari Bait al-Maqdis ke langit, ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bersifat wah, wow, dan penuh ketakjuban-ketakjuban. Logika tidak dapat merasionalisasinya sehingga ketika Nabi tiba lagi di Mekkah, orang-orang menyebut kisah beliau itu sebagai fiktif (bukan fiksi, catat!). Hanya modal imanlah yang dapat membenarkannya seperti ditunjukkan oleh Sayyidina Abu Bakar.

Sebetulnya begini. Isra itu bukan sekadar “berjalan atau perjalanan di malam hari” (nocturnal journey), melainkan “diberjalankan di malam hari”. Susunan yang pertama aktif, yang kedua pasif. Jika kita mengacu pada yang pertama, Nabi adalah subjek bagi verba berjalan. Karena bentuk susunan kalimatnya bersifat pasif, maka status Nabi Muhammad menjadi objek. Di dalam Alquran, peristiwa-peristiwa besar (seperti Zalzalah atau Kiamat) cenderung dijelaskan dalam dibentuk pasif sehingga perhatian kita bertumpu ke situ. Ini hasil saya nguping dari Amin al-Khuli atau Anda bisa cek dalam Al-I’jaz al-Bayani lil Qur’an.

Terlepas dari bagaimana proses perjalanan itu, inti dari Isra Mikraj adalah perintah salat. Tok, itu saja! Perintahnya adalah salat 50 kali, tapi berkat “nego”, akhirnya jumlah salat pun turun jadi 5 kali saja.

Dari sini, kita bisa bayangkan, betapa hebatnya proses perintah salat itu. Makanya, disebutkan bahwa salat ada saka guru agama. Rusak saka gurunya, rusak pula agamanya. Oleh sebab itu, salat juga disebut sebagai “mikraj”-nya orang mukmin. Ya, orang beriman melakukan “mikraj” lima kali sehari-semalam. Bagaimana mungkin, kita yang abdi Tuhan (abdullah) ini tidak mau “laporan”, wong PNS yang abdi negara saja laporan terus pakai finger print kok.

Baca juga:  Pesawat Nurtanio yang Melengkapi Kejayaan Darat, Laut, dan Udara

Anehnya, orang yang normal-normal saja dalam mengerjakan salat di rumah acap enteng saat menempuh perjalanan. Tentu saja, kita tidak akan nyindir orang yang memang tidak normal dalam melaksanakan salatnya, di rumah dan lebih-lebih di perjalanan. Kita omongkan yang wajar-wajar saja.

Sering saya lihat, salat yang biasa dikerjakan orang di rumah-rumah menjadi hal yang  mewah saat mereka berada di perjalanan. Kalau ada waktu lowong, baru dia salat. Atau, ada “genre” yang baru akan salat ketika sudah punya masalah serius, seperti dalam sinetron dan film. Motifnya sangat beragam. Adapun di antara motif yang rumit, antara lain karena masjidnya, kendaraannya, juga jadwal angkutannya.

Aslinya, salat itu “pekerjaan” ringan, lebih ringan daripada macul dua-tiga terumbuk di sawah; dikerjakan lebih singkat daripada makan di warung. Apa yang memberatkannya? Di situlah mengapa ada iman. Ia selalu bersanding dengan ketaatan. Inilah yang menjadi ukuran berat-ringannya “pekerjaan” tadi.

Inilah beberapa situasi di mana salat menjadi tantangan.

1. Saat naik bis

Saya sering melihat orang yang bela-belain bersalat dalam keadaan duduk di atas bis. Wudunya pakai tayamum dengan menepuk-nepuk sandaran kursi. Saya heran, bukan karena mana mungkin ada serpihan debu di atas bis yang kini sudah ber-AC dan kabinnya rapat begitu, saya heran karena ini terjadi di Indonesia, di negara yang penduduknya nyaris muslim semua, di negara yang musalanya banyak dan mentereng, airnya melimpah, cuacanya normal. Kelemahannya: bisnya nggak mau berhenti, terus balapan.

Di Jawa, untuk bisa salat ketika naik bis, kita harus menghitung durasi waktu perjalanan, memperkirakan waktu istirahat, untuk bisa salat, terutama subuh. Yang pasti berhenti itu tidak seberapa banyak. Bis di Sumatra, Aceh terutama, dan konon juga di Makassar, selalu menyediakan waktu untuk salat Subuh. Ternyata, kita yang di Jawa bukan saja kalah sama mereka yang menggunakan rata-rata sasis premium, kita juga kalah dapat memberikan pelayanan dalam ibadah penumpang.

Baca juga:  Perjalanan Menjengkelkan Jogja-Ambarawa

2. Saat menjadi sopir trailer atau truk gandeng

Saya juga dengar cerita, betapa susahnya salat bagi sopir trailer dan truk gandeng. Kehadiran mereka ditolak oleh banyak takmir masjid di tepi jalan. Masih mending kalau “cuman” tronton. Lah, parkir mereka banyak makan tempat, bobotnya pun sering kali bikin tanah melesak.

3. Saat di pesawat

Di pesawat terbang, agak ribet untuk salat. Mau salat di mana? Di koridornya? Wudunya di mana? Akibatnya, para penumpang hanya melakukan salat lihurmatil waqti, yakni sekadar menghormat waktu salat. Ya, melakukannya harus dengan perasaan menyesal, dong, bukan malah senang karena sudah tidak salat. Nanti setelah mendarat, bayar itu salat karena salat adalah utang. Kalau cari pesawat yang ada musalanya, kita harus naik maskapai Saudia edisi superekskutif. Tapi, kalau tujuan Anda ke Ternate, mana ada Saudia terbang ke sana?

4. Saat di kereta api

Ini juga jadi masalah. Gerbong kereta api tidak bisa dibuat salat. Sudah merokok dilarang di semua sudutnya, tempat salat pun tak ada. Maksud KAI ini gimana, ya? Paling banter kita bisa salat di bordes, itupun kalau kelas argo. Bordes ekonomi tidak cukup bahkan sekadar untuk rukuk. KAI kan ada di Indonesia yang kita tahu sendirilah, penumpang kebanyakannya beragama apa. Saya tidak protes kepada DB-Bahn ketika naik kereta dari Berlin ke Leipzig (hehe, pamer dikit). Lah, kalau KAI kan ada di Jawa, eh, Indonesia.

Sebetulnya, ada lagi tantangan salat yang lain, antara lain di hotel yang sempit. Ruangnya tidak ada, musalanya tidak ada. Akibatnya, kita harus salat di atas springbed. Salat seperti ini tantangannya berlipat dua: mengawal kekhusyukan dan mengatur keseimbangan.

Tantangan yang lain tak usah ditulis semua. Ini sudah kepanjangan. Kalau kita ingat betapa hebatnya peristiwa Isra dan Mikraj “hanya” demi memutuskan satu hal, yaitu perintah salat, sebagai seorang mukmin, meninggalkan salat tak akan pernah ditawar lagi. Mestinya, kesulitan dan halangan yang disebutkan di atas itu tampak seperti recehan: tetap ada nilainya, sih, tapi tidak seberapa berartinya jika dibandingkan dengan kehebatan tekadnya.