6   +   3   =  

MOJOK.CO – Banjir Jakarta menyulut beragam respons di antara warga. Ada yang masih nyalahin Jokowi atau Anies Baswedan, tapi ada juga yang pasrah. Faktor alam gitu.

Setidaknya ada tiga respons warganet terhadap banjir Jakarta yang juga melanda Tangerang, Depok, dan Bekasi kemarin.

Pertama, kelompok yang menyalahkan ketidakbecusan pemerintah soal mitigasi bencana banjir Jakarta. Kedua, orang yang menganggap banjir Jakarta kayak gini emang tanggung jawab semua pihak, karena ini kategori bencana alam. Ketiga, mereka yang masih aja sibuk belain junjungannya masing-masing. Baik yang nyalahin Jokowi atau nyalahin Anies Baswedan.

Bila didasarkan pada tiga kelompok tersebut, kayaknya saya masuk ke golongan pertama deh.

Oke, oke. Nggak perlu ngegas. Saya jelasin alasannya.

Kenapa?

Ya karena pemerintah punya kewenangan lebih besar guna mencegah bencana rutin banjir Jakarta ini terjadi lagi. Soal rancang bangun daerah kan pemerintah yang pegang. Perizinan pembangunan kan pemerintah yang berwenang. Penindakan tegas pengembang nakal kan pemerintah yang punya kuasa.

Jamak diketahui dari dulu (khususnya) Jakarta sering bangun gedung sana-sini, kagak mikirin dampaknya ke lingkungan—entah secara ekologis maupun sosial. Setidaknya Jakarta dengan bangga tercatat sebagai kota dengan mal terbanyak di dunia.

Februari 2016, menurut catatan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta ruang terbuka hijau hanya kebagian sisa lahan 10 persen dari total luas daratan ibukota atau 2.452 ha. Makin dikit lahan serap air (padahal air kan semestinya masuk ke dalam tanah, hehe) ditambah naiknya permukaan air laut ya tenggelam bukan hal aneh. Itu memang konsekuensinya. Masuk akal dan malah sangat sunnatullah.

Kalo ditimbang-timbang berdasar kondisi geografis mari kita bandingkan antara Jakarta dan Belanda. Benar loh Jakarta itu dulunya rawa, daerahnya air. Udah sejak zaman VOC mindahin kantornya dari Ambon ke Batavia, daerah ini memang langganan banjir.

Sementara Belanda datarannya di bawah permukaan laut. Dua lokasi ini rawan banjir, iya. Sama-sama saingan dengan permukaan air laut. Tapi kenapa Belanda bisa menangani persoalan banjir ini, sementara ibukota mantan negeri koloninya kagak bisa?

Di sana komitmen pemerintah soal penanganan banjir nggak usah ditanya. Ada satu dewan khusus bahkan yang mengurusi soal ini: Rijkswaterstaat.

Salah satu hasilnya adalah dibangunnya beberapa dam. Di luar konteks biaya pembangunannya hasil narikin pajak rakyat di nusantara dulu, setidaknya program-program pencegahan banjir di Belanda adalah bukti bagaimana pemangku kebijakan punya komitmen kuat guna mengatasi masalah yang ada.

Baca juga:  Islam Nusantara di Indonesia dan Islam Konghucu di Cina

Bukti juga kalo pemerintah itu punya power lebih buat nentuin kebijakan mitigasi bencana. Di sini mah komitmennya kan sama investasi doang, IMB plus Amdal ilangin aja terus potong deh anggaran penanganan banjirnya, hehe.

Tahun ini adalah banjir terparah sejak 2013 lho. Jangan sebut para pejabat kagak punya andil terhadap bencana yang sebenarnya bisa dicegah, wong buktinya beda kepala, beda kebijakan, beda hasilnya kok.

Oke deh, soal curah hujan yang sangat tinggi itu juga problem alam, tapi jangan bilang kalau pemerintah nggak punya kekuatan mengantisipasinya. Mereka udah dipilih biar mimpin kok, lha kok enak bener nggak boleh kena protes.

Selain itu, bela-belain pejabat dengan bilang udah dari sononya kayak gitu, bersyukur saja adalah tindakan yang bener-bener maksain. Jangan salahin Tuhan atas nasib yang kita bikin sendiri. Kalau memang lalai yaudahsii gausah dibelamati-matian.

Akui aja deh, kalau kita itu kurang berani buat lebih ekspresif protes ke penguasa.

Kebakaran lahan di Australia kemarin warga Cobargo, salah satu daerah terdampak kebakaran lahan di New South Wales, sampai pada nggak mau salaman sama Perdana Menteri (PM) Scott Morrison yang berkunjung. Sampai warga juga maki-maki dia karena dianggap kagak becus nanganin kebakaran lahan—yang tahun ini dianggap makin payah penanganannya.

Itu bencana alam euy, kalo dipikir-pikir kan pemerintahnya nggak punya andil langsung terhadap pengondisian alam yang menyebabkan kebakaran lahan di sana gitu. Bukannya aneh kalo nuntut pemerintahnya bahkan sampai ngecuekin PM karena dianggap kagak becus memimpin?

Tapi mereka tetep protes kok, karena sebagai warga memang berhak buat mendapatkan pelayan sebagai masyarakat.

Pejabat populis mestinya dicuekin saja, bandel. Tiap tahun politik, banjir Jakarta selalu jadi bahan kampanye. Realisasinya? Yah, nggak beres-beres juga ternyata.

Jika banjir yang rutin ada ini masuk dalam agenda kampanye mereka, sebenarnya kita warga terdampak punya hak buat nuntut janji. Warga Cobarga setidaknya paham soal itu. Sudahlah jangan disekat pilihan politik lagi, udah kena banjir mah semuanya juga sengsara.

Baca juga:  Datang ke Mahfud MD, Said Didu dan Sudirman Said Ajak Pindah Dukungan

Nanti-nanti mah tunjuk muka pejabat-pejabat ini kalo soksok-an carmuk turun bantuin ke daerah bencana. Sayangnya di sini orang-orang pada nggak sampai hati ngelakuin itu. Sekalinya ada yang berusaha jelasin bagaimana pemerintah punya andil dalam musibah banjir Jakarta ini, dikomentari dengan: sukanya nyalahin pemerintah padahal situ buang sampah sembarangan atau mannaaa solusi konkretnya. Huh.

Gini ya, mau kamu nyedot thai tea pakek sedotan edgy aluminium atau makan-minum pakek taperwer atau nggak buang sampah atau ndak pakek motor ke kampus, nggak akan ngaruh banyak ke lingkungan. Suer deh.

Buat kamu sendiri mungkin kerasa lah ya, tapi buat semua orang ya kagak. Buktinya pemanasan global tiap tahun naik terus walau udah makin banyak yang menerapkan gaya hidup rendah emisi karbon. Iyalah penyebab utamanya bukan kamu saja yang kentut ngeluarin karbondioksida atau emisi karbon dari motor matikmu yang cuma dipake pulang-pergi kampus.

Industri bermodal besar yang punya peranan  besar terhadap krisis iklim dan mereka punya afiliasi dengan pemerintahan di tiap negara di seluruh dunia. Sama halnya masalah banjir, sampah yang kita buang mungkin salah satu penyebabnya, iya, tapi ada penyebab utama yang lebih besar dan itu bisa dicegah.

Siapa pencegahnya?

Ya pelayan masyarakat ini, orang-orang yang ngeluarin kebijakan. Bakal sia-sia usahamu atau teman-teman sekampungmu mencegah banjir sepanjang masih ada kongkalikong antara pemodal yang seenak udel bangun sana sini dengan pihak berwenang yang memuluskan hal itu.

Masak dengan kesadaran macam gini, kita sebagai masyarakat nggak boleh meminta kehidupan yang lebih baik sama yang punya kuasa sih? Mereka yang kasih izin bangunan dan jalan sana-sini, lalu ketika masyarakat menderita akibat banjir Jakarta disuruh tabah dan diem aja?

Hm. Okefaiyn.

BACA JUGA Kiat-Kiat Sukses Menjadi Pengangguran atau tulisan rubrik ESAI lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles