MOJOK.CO – Kominfo menilai foto Tara Basro yang mewakili banyak perempuan untuk mencintai tubuh sendiri itu termasuk pada kategori pornografi. Wuih.

Kementerian Komunikasi dan Informatika alias Kominfo memang nggak ada capek-capeknya bikin terobosan. Dari sekian kementerian, harus diakui, Kominfo-lah yang jadi penyumbang hiburan dan faedah terbanyak. Barang siapa meragukan komitmen Kominfo dalam bekerja, sungguh terkutuk lah ia.

Dari perkara Netflix, TikTok, hingga pemblokiran Indoxxi, Kominfo selalu hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai pihak yang bijak lagi bajik. Kalau kata Sapardi Djoko Damono, tidak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Eyang Sapardi mesti segera meralat lirik tersebut. Sebab yang lebih tepat ialah: tidak ada yang lebih bijak dari Kominfo.

Adapun manakala Raka Ibrahim menempatkan Kominfo di urutan puncak kementerian yang paling banyak bikin blunder dalam artikel “Klasemen Kementerian Paling Blunder Bulan Ini”, pastilah karena si penulis terburu-buru dan kelewat suuzdon.

Kurang elok menyebut berbagai keganjilan yang dibuat Kominfo sebagai blunder. Sekelas kementerian mana mungkin bikin blunder terus-menerus?

Apalagi Kominfo yang tiap harinya bergelut sama teknologi dan informasi. Mustahil lah mereka blunder. Yang mereka lakukan bukan blunder, tapi terobosan dan kebijakan luhur. Saking luhur dan canggihnya, banyak orang tidak memahaminya.

Bukti teranyar soal betapa mengagumkannya Kominfo adalah ketika Kominfo mempermasalahkan foto Tara Basro. Mbak Tara yang syutingnya di Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam keren parah itu, baru saja menggegerkan jagat maya—setidaknya di Twitter dan Instagram.

Lewat unggahan foto yang memperlihatkan bentuk tubuh Tara Basro yang ternyata sama kayak kebanyakan perempuan Indonesia, ada gelambir-gelambirnya dan sawo matang, Mbak Tara Basro mengingatkan soal pentingnya mencintai diri sendiri.

Kepsyen yang Mbak Tara Basro tulis membuat banyak perempuan terkuatkan dan lebih percaya diri dengan tubuh sendiri. Puncak petuah Mbak Tara Basro yang menggugah berbunyi begini:

“Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of it daripada fokus dengan apa yang tidak kita miliki.”

Baca juga:  Dadi Biyung Mbok Aja Seneng Ngajari Anake Kudu Kulit Putih

Sejak foto itu Mbak Tara unggah, banyak respons positif menimpali. Saya membaca komentar perempuan-perempuan yang merasa gembira dan termotivasi oleh postingan Mbak Tara Basro. Mereka jadi lebih pede dengan keadaan diri sendiri, tidak melulu menimbang keidealan tubuh sebagai langsing dan glowing lagi.

Ya, semua baik-baik saja sampai Kominfo datang “menyerang”. Tanpa angin dan hujan (eh, ada ding, soalnya lagi musim hujan, nih) Kominfo menyebut perbuatan Tara Basro melanggar undang-undang.

Kata Kominfo, Tara Basro telah menyebarkan pornografi. Alamak, saya malah baru ngeh apa yang Mbak Tara lakukan adalah pornografi setelah mendengar pernyataan Kominfo.

Kemampuan Kominfo dalam memperhatikan apa yang banyak orang luputkan adalah bukti sahih kejelian Kominfo. Hanya orang-orang dengan pandangan mata setajam elang dan pikiran secemerlang batu akiklah yang bisa melakukan hal itu.

Cuma Kominfo yang sempat-sempatnya fokus sama pornografi, saat orang-orang memandang apa yang Mbak Tara lakukan adalah ajakan untuk mencintai diri sendiri.

“Yang jelas kami melihat itu (unggahan foto Tara Basro) memenuhi unsur Pasal 27 ayat 1 tentang melanggar kesusilaan. Itu menafsirkan ketelanjangan. Foto yang ditampilkan itu, seperti yang tadi saya sampaikan, kami akan segera take down, tapi syukur-syukur sudah di-take down sendiri olehnya,” kata Kabiro Humas Kominfo Ferdinand Setu.

Sungguh mulia Kominfo. Mereka amat ingin melindungi anak bangsa dari bahaya pornografi. Soal pemberantasan hoaks mah diurus nanti saja. Internet yang lemot dan penyebarannya tidak merata? Wah, itu nomor sekian. Pornografi jauh lebih berbahaya karena bisa memecah belah bangsa.

Kita tidak perlu heran mengapa Kominfo kok bisa sefokus parah gitu sama konten yang dianggap porno. Lembaga-lembaga pemerhati media dan informasi macam Kominfo (ada KPI juga sih) ini alur pikirannya memang sangar. Ciri khas orang bijak.

Baca juga:  Kala Presiden Jokowi Menyerahkan Posisi Kepresidenannya Selama 5 Menit

Kayak misalnya kita nonton SpongeBob buat nyari hiburan, orang-orang kayak gini bisa aja fokus ke bikini Sandy. Lagi haha-hihi nonton Doraemon main ke pantai, orang-orang kayak gini bisa aja malah fokus ke baju renangnya Shizuka. Atau waktu kita perhatian sama video dokumenter soal panen susu dari sapi perah, orang kek gini malah fokus sama puting sapi perahnya.

Lalu, ketika kita lihat postingan Tara Basro soal love yourself, orang-orang Kominfo malah fokus ke foto Tara Basro yang nggak pake baju doang.

Ya iya sih, Mbak Tara memang harus memblur gambarnya dulu kali ya sebelum diunggah. Kalau perlu, seluruh fotonya aja di-blur, ke kepsyen-kepsyennya sekalian di-blur. Bahkan kalau perlu sampai ke logo Instagramnya aja sekalian di-blur.

Yah, yang namanya ketelanjangan dan kesusilaan itu sebenarnya soal preferensi hasrat seksual aja sih. Mungkin Kominfo berpikir, jika ada orang yang sange sama bikini Sandy atau gambar baju renang Shizuka yang lagi main ke pantai, maka bakal lebih mungkin lagi kalau ada orang merasa “uwuwu” ketika lihat foto Mbak Tara Basro.

Lalu karena Kominfo baik hati, mereka akhirnya berupaya melindungi orang-orang kayak gitu. Maksudnya melindungi orang-orang gampang sange kek gitu. Nah, demi orang-orang yang sange-nya ada di rpm terendah itulah Kominfo mau melindungi mereka dari bahaya.

Gimana? Kurang baik apa coba Kominfo itu?

Jadi, plis, jangan jelek-jelekin Kominfo terus ya? Apalagi sampai menuduh Kominfo cuma mau bikin sensasi dan merusak keterwakilan banyak perempuan pada Mbak Tara Basro. Kominfo hanya ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat Indonesia.

Lagian ya, boro-boro foto bugilnya Mbak Tara Basro, gambar bikini bajing loncat aja bisa bikin sange orang kok, wajar kali kalau Kominfo bertindak preventif. Iya kan, Pak Jhonny G. Plate?

BACA JUGA Surat ‘Daripada’ Terbuka untuk Menkominfo John G. Plate atau tulisan Erwin Setia lainnya.