• 705
    Shares

MOJOK.CO – Jangan hanya tahu nikmatnya seks saja tapi tidak mau tahu bahayanya apa. Jangan hanya tahu enak-enaknya saja tapi ogah peduli dengan risiko-risikonya.

“Wah, kamu expert ya?” kata seorang teman laki-laki saat saya saat menjelaskan pentingnya menggunakan kondom.

Anjir, saya kan kerja di aplikasi kesehatan dan sempat beberapa tahun megang rubrik seks di majalah lifestyle, apa sesuatu yang luar biasa bagi saya kalau cerita soal kondom? Apakah terkesan berlebihan untuk kita lebih sadar terhadap kesehatan organ reproduksi?

Sampai saat ini diskusi mengenai seks masih menjadi pokok cerita yang tabu. Hanya dua gendangnya kalau seseorang terkesan fasih membicarakan hubungan seksual. Bakalan dituduh expert dibidang itu sekaligus dianggap pelaku. Hal yang—tentu saja—mengarah pada pemaknaan negatif.

Selain memiliki ketertarikan spesifik terhadap hubungan seksual secara keilmuan, pekerjaan membuat saya mau tidak mau sering terpapar informasi mengenai hubungan seksual dan organ reproduksinya, baik untuk pria maupun wanita.

Ketika dulu bekerja di majalah lifestyle di Medan, saya menjadi penanggung jawab untuk rubrik seks. Rubrik ini sebenarnya berupa artikel yang ditulis oleh dokter yang disertai kolom tanya jawab dari pembaca. Kalau kebetulan kekurangan pertanyaan dari pembaca, pertanyaan datang dari saya sendiri.

Lantas itu membuat saya expert? Tidak sih. Sedikit banyak saya jadi tahu soal penyakit kelamin dan apakah oral seks disarankan atau tidak bagi kesehatan.

Pindah ke Jakarta, saya bergabung dengan majalah lifestyle yang juga yang ada rubrik seksnya. Saya tiga tahun bekerja di sana dan kebetulan setiap tahun selalu ada rotasi rubrik untuk diserahi tanggung jawab beberapa kali, sampai saya kena di bagian seks lagi.

Mungkin karena ini majalah lifestyle ibukota, cakupan seks yang dibahas lebih “waw”. Dari soal posisi untuk kepuasan, sampai posisi yang disarankan untuk penis ukuran kecil maupun besar. Yeah, hal-hal spesifik semacam itu.

Baca juga:  The Power of Andi Arief

Lantas apa saya menjadi expert? Tentu saja tidak. Hanya membuat saya jadi tahu bermacam-macam posisi terbaik dan terburuk dalam aktivitas seksual.

Sampai akhirnya, hampir setahun ini saya bergabung dengan perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi kesehatan yang menawarkan jasa berupa apotek antar, konsultasi dokter dan tes lab.

Tenang, saya bukan petugas yang menjawab pertanyaan mengenai penyakit. Saya hanyalah sesekali copywriter dan lebih banyak jadi penulis artikel mengenai penyakit. Ini termasuk herpes, klamidia, bahkan penis bengkok. Jadi wahai pemilik penis bengkok, jika engkau membaca tulisan ini, penismu bukan bagian dari keajaiban alam tetapi penyakit dan namanya peyronie.

Lantas apakah saya menjadi expert? Tentu tidak, saya hanya jadi lebih paham mengenai seluk-beluk penyakit termasuk penyakit pada organ reproduksi. Jadi apakah saya akan menjadi dokter? Apalagi itu, jelas tidak. Saya sarjana komunikasi, bukan lulusan kedokteran.

Ketika diskusi mengenai penggunaan kondom dan pencegahan penyakit kelamin sampai kepada teman pria saya, kebanyakan dan salah satunya teman saya tadi yang bertanya di awal tulisan memberi saya cap expert dan menganggap saya menguasai ilmu kama sutra dan serat centhini.

Padahal kan saya cuma penulis yang kebetulan bekerja mengisi website kesehatan. Tidak lantas membuat saya menjadi sexual intercourse expert!

Apalagi ketika menyarankan penggunaan kondom. Situ waras atau nggak, zaman sekarang melakoni hubungan seksual tanpa kondom? Mau kena raja singa ya? Atau jangan-jangan kutil kelamin kamu anggap sebagai aksesoris? Sejatinya menggunakan kondom saat berhubungan seks adalah sesuatu yang lumrah. Mendiskusikan seks seharusnya jadi sesuatu yang biasa saja.

Baca juga:  Kenapa Urusan Ranjang Suami Maunya Nyosor Sementara Istri Maunya Ngeloyor?

Penabuan kondom, merasa jijik soal diskusi mengenai ini hanya akan menghambat informasi soal reproduksi. Tak hanya kehilangan update informasi mengenai kesehatan seksual beserta hubungannya, kamu juga minim pengetahuan tentang penyakit yang bisa ditularkan karena seks yang tidak bertanggung-jawab.

Atau juga aturan tak tertulis, kalau oral bukan sebuah keharusan. Jadi wahai perempuan, kalau engkau ogah oral ya jangan pernah mau. Kalau ia memaksa itu artinya ia lebih mencintai fantasi nafsunya ketimbang kamu.

Berbicara soal hubungan seksual secara terbuka akan memudahkan komunikasi dengan pasanganmu kelak. Maunya gimana, enaknya gimana. Jadi, ketika diskusi mengenai hubungan seksual muncul ke permukaan, ini tidak melulu soal ahli atau tidak, sering atau tidak pernah.

Hal ini juga akan membuatmu jadi orang dewasa yang sebenar-benarnya dengan tanggung jawab yang sebesar-besarnya. Jangan hanya tahu nikmatnya saja tapi tidak mau tahu bahayanya apa. Jangan hanya tahu enak-enaknya saja tapi ogah peduli dengan risiko-risikonya.

Kenapa wanita lama turn on? Bukan karena perempuan malu-malu. Kenapa laki-laki selesai bercinta langsung tepar? Bukan karena mereka nggak punya perasaan. Itu semua jika dibicarakan baik-baik bisa meminimalisir sikap saling buruk sangka.

Eits, jangan langsung menuduh kalau saya menyarankan hubungan seks bebas. Saya hanya meyakinkan teman-teman kalau punya pengetahuan seks itu perlu. Hal ini penting karena penyakit kelamin tidak saja ditemukan pada pasangan tak resmi tetapi juga pasutri. Penyakit kelamin tidak pilih-pilih korbannya.

Makanya informasi mengenai kesehatan organ reproduksi itu perlu. Sama pentingnya dengan kesepahaman mengenai hubungan seks. Karena pengetahuan soal seks itu perlu, sedangkan berpengalaman dengan seks? Ya belum tentu.

  • 705
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles