Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Unggah Selfie, Nggak Semua Ukhti Kebelet Nikah Kaya Salma-Taqy

Esty Dyah Imaniar oleh Esty Dyah Imaniar
19 Desember 2017
A A
Ukhti_Selfie_Mojok

Ukhti_Selfie_Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Selfie bukan kode untuk minta dinikahi.”

Sungguh tidak mudah menjadi Ukhti jaman now. Mau mengunggah selfie saja, mesti menerima komentar absurd para akhi dengan pola pikir wow.

Kalau ukhti-ukhti upload foto ke medsos, berarti sudah kebelet nikah kaya Salma-Taqy.

Ew. Ingin sekali berteriak gemas, “Kenapa antum berpikir semua hal di dunia ini hanya tentang pernikahan, ya Akhi?” Tapi saya sadar kalau tidak boleh berlaku gemas pada sembarang orang. Apalagi kepada jenis teman yang hanya bisa membicarakan pernikahan tapi nggak berani menjalankannya.

Lagipula komentar itu lemah. Kalau si ukhti memang sudah niat menikah, daripada mengunggah selfie ke medsos untuk dihina-tapi-disimpan akhi macam itu, lebih baik mencetaknya untuk proposal taaruf biar diproses dalam forum bersama calon imam yang lebih barokah.

Bagaimana kalau foto itu jadi bahan konsumsi para ikhwan? Semakin banyak pandangan ikhwan tergiur, semakin bertumpuk dosamu. Padahal mungkin niat awalmu bukan demikian.

Nah, ini! Antum pasti tahu kalau ada banyak hal yang ketika kita lakukan, orang menanggapinya dengan berbeda. Kita tidak bisa jelaskan semua maksud kita ke semua orang, karena persepsi dan reaksi masing-masing orang akan dibentuk oleh world view dan pengalaman mereka. Jangankan perbuatan seorang ukhti dhaif ini, perbuatan manusia suci sekelas Nabi SAW saja dipersepsikan beda oleh manusia. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa mengontrol reaksi orang lain.

Jangankan selfie seorang ukhti, orang yang gemar mengunggah foto makanan atau jendela pesawat saja disebut butuh pengakuan sebagai orang berada. Padahal bagaimana kalau makanan yang difoto cuma nasi kucing seribuan? Bagaimana kalau mereka memotret jendela pesawat karena memang pemandangan lautan awan itu bagus sekali? Apakah mereka melakukannya karena kebelet nikah, eh kebelet dibilang kaya? I don’t think so. Dan untuk hal-hal beginian, saya kira antum tahu dari perspektif apa harus melihat: niat.

Jangan protes dulu, Akh, saya juga nggak bisa baca isi hati orang. Jadi saya akan kasih sedikit bacaan tentang tujuan foto diri dalam dunia psikologi fotografi. Menurut John Suller, profesor yang fokus di bidang cyberpsichology, ketika memotret diri manusia nggak hanya membidik bentuk wajah atau tubuh tetapi proses refleksi diri.

Kenapa foto diri bisa jadi medium untuk mencari tahu siapa kita? Karena kita jadi sadar bagaimana kita ingin mengekspresikan diri kita atau bagaimana kita ingin orang lain melihat kita. Seperti ketika antum hobi mengunggah foto diri ketika orasi, ya mungkin antum ingin dilihat ukhti-ukhti, eh orang lain, sebagai koordinator lapangan. Istilahnya, self branding.

Bahkan jenis-jenis foto diri yang berbeda akan mempengaruhi kondisi psikologis para penontonnya secara berbeda juga. Mengenai perbedaan ini antum bisa baca sendiri riset tentang fotografi dan psikologi, di Google banyak. Jangan malas baca Akh, nanti tambah baperan.

Oke, silahkan foto diri. Tapi nggak perlu dibagikan lah. Tujuan upload begitu buat apa, Ukh?

Begini Akh, sebenarnya fungsi foto kan buat komunikasi. Nah kalau foto diri apa yang mau dikomunikasikan? Kecantikan, katamu? Hmpf.

Dari sekian bentuk foto diri, ada satu yang sering kita lupakan; foto diri simbolis. Secara filosofis sebenarnya semua foto yang kita ambil adalah foto diri, baik foto keluarga, kerjaan, bahkan pemandangan. Foto yang kita unggah, apapun itu, menjelaskan sesuatu tentang minat kita, gaya hidup kita, sosok kita dimata orang-orang di sekitar kita, pengalaman yang membentuk siapa kita, dan aspek lain yang penting bagi kita sebagai manusia.

Iklan

Jadi ketika mengunggah foto di medsos, sebenarnya kita ingin bercerita tentang diri kita dalam berbagai dimensi itu pada orang lain.

Kalau menurutmu yang membuat orang berfantasi atas kita hanya foto diri, mungkin orang yang dimaksud kemampuan visualnya masih lemah. Everything you post is a symbolic representation of you. Bahkan ketika si ukhti cuma mengunggah foto masakan atau tiket bioskop, kalau si akhi baperan ya bakal langsung membayangkan seandainya itu dimasakkan untukku atau seandainya yang duduk nonton bersamanya adalah aku.

Saya sengaja membahas sisi personal saja, karena kalian para akhi tidak terima alasan kerja profesional atau bisnis, kan? Katamu, itu ukhti selebgram  foto macam itu mau jual jilbab apa jual muka? Duh duh. Ya ‘afwan kalau kecantikan parasnya merusak kemampuan bertuturmu, Akh. Tapi ketika seorang ukhti mengunggah fotonya, ada banyak hal yang ingin disampaikan selain wajahnya. Fokusmu itu lho, Akh, tolong diperbaiki.

Beberapa ukhti selebgram yang saya ikuti terbukti nggak hanya jual kecantikan. Dalam fotonya, mereka bercerita tujuan, impian, peran yang diinginkan, bahkan menyampaikannya sebagai ikhtiar dakwah populer. Nggak percaya? Coba cek akun Dewi N. Aisyah atau Nadhira Arini. Mereka aktif, berprestasi, dan cantik (sebenarnya malas banget harus menyebutkan ini, tapi kan yang sering antum permasalahkan hanya ukhti-ukhti yang menurut antum cantik).

Di medsos mereka, ukhti-ukhti ini tidak mengunggah foto diri dengan caption baper menunggu jodoh. Soal ukhti baper begini, mau pake foto atau enggak saya juga nggak sepakat. Tapi jangan sampai karena satu dua ukhti baperan, antum langsung menyamaratakan mereka yang upload foto pasti kebelet nikah. Atau menganggap bahwa semua ukhti ingin segera dinikahi karena terinspirasi sosok Salma-Taqy.

Selain manfaat eksternal, membagikan selfie juga baik untuk lebih mengenal diri kita secara internal. Sebab kita terbentuk salah satunya dari persepsi orang lain atas kita. Jadi bagaimana kita menanggapi tanggapan orang atas foto kita, membentuk siapa kita. Karena manfaatnya itu di dunia psikologi bahkan ada konsep phototherapy yang diperkenalkan Judy Weiser.

Ukhti macam saya masih mending dikomentari kebelet nikah. Banyak yang harus berjuang melawan body shaming ketika membagikan foto diri pada orang lain. Lalu kenapa hal menyakitkan begini justru dianjurkan? Ya karena darinyalah kita belajar bagaimana menerima diri kita. Jadi alih-alih emosi ketika ditanya “Ukh, kok upload foto sih?” kita bisa dengan santai menjawab, “Mau upload video nggak ada kuota, Akh.”

Jadi, anggaplah ini ujian hati buat ikhwan jaman now agar bisa lebih menjaga hati di tengah derasnya gelombang paras akhwat meneduhkan. Kita tentu membantu kalian dengan tidak mengunggah foto baperan yang merusak marwah diri seorang ukhti. Tapi kalau harus anti upload foto hanya biar tidak dibilang kebelet nikah, ya ‘afwan.

Kalau dengan foto nggak baperan itu antum masih susah fokus, cari kesibukan lah. Strategi ikhwan zaman dulu tentu beda. Biar mata atau pikiran nggak jelalatan, beberapa menjaganya dengan menyediakan pemandangan halalnya. Nah, antum sudah punya belum?

Eh tapi sudah punya belum tentu cukup sih. Kalau pikirannya ummat, eh akhwat melulu yaa… sampai artikel ini jadi buku juga tetap nggak selesai. He he.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2017 oleh

Esty Dyah Imaniar

Esty Dyah Imaniar

Artikel Terkait

Bekerja di Jakarta vs Jogja
Urban

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja
Catatan

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO
Kilas

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.