Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Waktu yang Ideal untuk Bercinta ala Jawa Menurut Serat Susila Sanggama yang “Lebih Vulgar” dari Kamasutra

Paksi Raras Alit oleh Paksi Raras Alit
18 Maret 2024
A A
Waktu Ideal untuk Bercinta ala Jawa dari Kitab Susila Sanggama MOJOK.CO

Ilustrasi Waktu Ideal untuk Bercinta ala Jawa dari Kitab Susila Sanggama. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Serat Susila Sanggama jauh “lebih berani” ketimbang Kamasutra dan Centhini. Salah satunya adalah ajaran waktu ideal untuk bercinta ala Jawa. Panas!

Membicarakan waktu yang ideal untuk bercinta ala Jawa, saya yakin banyak dari pembaca terbersit ingatan mengenai Kamasutra. Bisa juga ingatan pembaca lari ke Serat Centhini yang dirumorkan sebagai kitab mesum dalam kebudayaan Jawa. Barangkali Anda pernah membaca, mendengar, mengintip kedua sumber tersebut. Memang harus diakui bahwa isi 2 kitab kuno itu tidak jauh dari apa yang dirumorkan. 

Kamasutra banyak memuat ajaran persenggamaan dalam tradisi India. Ditulis dalam tradisi Bahasa Sanskerta sebelum masehi, manuskrip ini adalah teks (sutra) sebagai tuntutan melakukan hubungan sex (kama). Hanya dengan mengetik “kamasutra” di situs pencarian, Anda akan langsung menemukan berbagi gambar dan teks tentang persenggamaan manusia yang tersebar dalam ratusan situs.

Sementara Serat Centhini, yang sebetulnya berisi banyak muatan tentang pengetahuan kebudayaan Jawa, memang benar memuat tema percintaan, hingga waktu yang ideal untuk bercinta di dalam beberapa bagian alur kisahnya. Serat ini menggunakan diksi Jawa yang seolah agak vulgar ketika membahas hal tersebut. 

Masyarakat modern hari ini rupanya salah kaprah ketika hanya menganggap Centhini merupakan kitab sex Jawa. Padahal, bagi yang pernah benar-benar membaca, akan mengerti bahwa isi Centhini adalah tentang segala pengetahuan Jawa pada masa itu. Bahkan, kitab tersebut mendapat julukan “ensiklopedia Jawa”, bukan sekadar manuskrip mesum.

Kitab yang berisi tata cara bercinta paling ideal menurut budaya Jawa

Bagi masyarakat awam, setidaknya 2 karya sastra tersebut menjadi rujukan paling populer untuk membicarakan tentang ilmu bersenggama dalam tradisi masyarakat Jawa kuno. Akan tetapi, di dalam kesusastraan Jawa, sebetulnya masih banyak manuskrip kuno mengenai tuntunan bersenggama selain serat Centhini dan Kamasutra. 

Salah satunya adalah Serat Susila Sanggama. Dari namanya sudah kentara artinya kata susila berkaitan dengan ‘sila, aturan, dan tata cara’. Sementara itu, kata sanggama memuat makna ‘bersetubuh’. 

Manuskrip kuno koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor koleksi NB.16 ini menggunakan aksara Jawa, ditulis manual dengan tangan, bukan cetak. Pada bagian etiket cover tertulis nama Raden Koesoemo Darsono dengan jabatan Mantri Panjuwalan (diperkirakan istilah profesi penulis/penyalin pada zaman dahulu). Pada bagian akhir naskah tertera tanggal selesai penyalinan 25 November 1909. Adalah Raden Ngabehi Cendra Pradata yang mengarang serat ini, seperti yang tertera pada keterangan di paragraf awal.

Pendapat pribadi saya, yang pernah membaca Kamasutra dan Centhini, bahasan kitab Susila Sanggama ini lebih “berani”. Kitab tersebut bahkan mengajarkan berbagai tips and trik bersetubuh ala Jawa. Salah satunya cara memilih waktu yang ideal untuk bercinta ala Jawa sesuai karakter pasangan kita.

Ilmu titen

Kita hanya bisa menduga bagaimana pada zaman dahulu kala leluhur Jawa melakukan riset untuk dapat menentukan waktu yang ideal untuk bercinta ala Jawa yang tepat dan baik. Seperti apa yang tertuang dalam serat Susila Sanggama ini. Sejauh ini, para pakar kebudayaan Jawa sepakat bahwa metode penelitian yang dilakukan nenek moyang peradaban Jawa itu sering disebut ilmu titen, niteni, mengamati, atau mengobservasi. 

Ilmu titen itu dilakukan dengan pengamatan panjang yang barangkali memakan waktu hingga ratusan tahun. Mengingat, pada zaman itu belum ada metode penelitian dan uji coba klinis (khususnya dalam urusan seksologi) untuk mendapatkan hasil uji yang empirik. 

Satu-satunya penelitian yang mungkin dilakukan barangkali adalah niteni setiap peristiwa seksual lintas generasi. Setelah itu, mereka mewariskannya turun-temurun pengetahuan itu secara lisan. Kemudian, baru pada era kesusastraan Jawa berkembang (sekitar abad 18-19) kemungkinan, mereka merangkai pengetahuan itu menjadi tulisan. 

Bukan sembarang kitab stensilan

Masyarakat modern seperti kita ini mungkin tidak lagi menganggap penting atau mengabaikan tentang kapan waktu yang ideal untuk bercinta. Toh, kalau situasi mendukung, consent (sama-sama mau), bisa bercinta kapan saja. 

Akan tetapi, persetubuhan yang terdapat di dalam ajaran Susila Sanggama bukanlah hubungan seksual asal-asalan dan liar seperti yang kita bayangkan. Namun, persetubuhan yang memang memakai aturan, ada susila-nya sesuai judul manuskripnya. 

Iklan

Bercinta yang dimaksudkan di serat tersebut adalah senggama yang sah. Yang melakukannya adalah pasangan dengan status suami istri. Mereka melakukannya dalam rangka ibadah, demi tujuan mulia, yaitu bersatunya 2 insan ciptaan Allah untuk membuahkan keturunan yang baik dan berguna. 

Pada awal bagian serat, bahkan tercantum cara pengucapan doa sebelum bercinta. Kitab ini juga menegaskan bahwa piwulang pengajaran untuk mereka yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Jadi bukan semata-mata buku hiburan porno, atau stensilan, seperti yang mungkin kamu baca waktu remaja.

Baca halaman selanjutnya: Bercinta, dalam budaya Jawa, ternyata punya hitungan sendiri.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2024 oleh

Tags: budaya jawacara bercinta ala jawacenthinijawakamasutrasusila sanggamawaktu ideal untuk berhubungan badanwaktu yang ideal untuk bercinta ala Jawawaktu yang ideal untuk seks dengan pasangan
Paksi Raras Alit

Paksi Raras Alit

Seniman dan pegiat aksara Jawa.

Artikel Terkait

Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

15 Desember 2025
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO
Esai

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Bahasa Jawa harus dipelajari Gen Z. MOJOK.CO
Ragam

Cara Menjadi Jawa Seutuhnya dengan Mengilhami Bahasa, Tanpa Mencampurnya Jadi “Jawindo” dan Bahasa Slang ala Gen Z

24 Oktober 2025
Aksara jawa. MOJOK.CO
Ragam

Aksara Jawa Bukan Sekadar Mantra Berbau Klenik, Bisa Menyelamatkan Hidup jika Dipahami Secara Sains

23 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.