Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tetsu Nakamura, Dokter Jepang yang Tewas dalam Misi Kemanusiaan

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
14 Desember 2019
A A
tetsu nakamura uncle murad orang jepang afganistan kemanusiaan dokter irigasi 9/11 teror as mojok.co

tetsu nakamura uncle murad orang jepang afganistan kemanusiaan dokter irigasi 9/11 teror as mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tetsu Nakamura, seorang Jepang yang merasa terpanggil untuk membantu penduduk Afganistan setelah dibombardir AS, tewas dibunuh oleh kelompok bersenjata.

Namanya Tetsu Nakamura, seorang dokter.

Dari namanya Anda tentu bisa menebak bahwa ia orang Jepang. Saya bertemu dengannya di akhir 2001 atau awal 2002, saya lupa persisnya, di Kumamoto, saat saya masih kuliah di sana.

Tak lama setelah serangan teror ke gedung WTC 11 September 2001, Amerika melakukan serangan ke Afganistan, yang dituduh Amerika sebagai basis Al-Qaeda, biang kerok serangan itu. Dalam hiruk pikuk serangan itu nama Nakamura muncul dalam pemberitaan, menyampaikan kritik terhadap serangan brutal Amerika itu.

Dalam suasana demikian saya mendapat informasi bahwa Tetsu Nakamura akan berkunjung ke Kumamoto, menyampaikan kuliah umum tentang situasi di Afganistan. Saya hadir di kuliah itu. Dari kuliah itu saya mengenal sepak terjang Nakamura dan Peshawar Kai, organisasi kemanusiaan yang ia pimpin.

Peshawar adalah wilayah Pakistan di perbatasan Afganistan yang menjadi basis kegiatan Nakamura dan kawan-kawannya. Dari Peshawar ia membantu rakyat Afganistan dalam berbagai kegiatan sosial di bidang kesehatan.

Dr. Nakamura adalah seorang Kristen yang taat. Dengan ajaran kasih yang ia yakini, ia melayani orang-orang Afganistan yang membutuhkan berbagai layanan kesehatan. Ia begitu menghormati orang-orang yang ia layani, mencoba memahami situasi dan latar belakang mereka. Ia bercerita bagaimana ia dengan susah payah memakai steteskop dari luar pakaian yang tertutup rapat saat memeriksa pasien yang memakai burqa karena tidak ingin membuat pasiennya tak nyaman kalau ia harus menyentuh kulit secara langsung.

Nakamura pertama kali ke Peshawar sebagai relawan yang dikirim oleh Misi Kerja Sama Kristen Jepang untuk memberikan pertolongan medis kepada pengungsi perang akibat invasi Uni Soviet. Tadinya ia berencana mengabdi selama 5 tahun saja. Tapi, sepertinya ia jatuh cinta pada Peshawar dan Afganistan. Ia tak berminat pulang.

Ia kemudian tak berhenti dengan memberikan pertolongan medis saja. Daerah operasinya adalah daerah rawan kekeringan. Kekeringan dengan mudah merenggut nyawa ratusan orang akibat kelaparan. Bagi Nakamura, pelayanan berupa usaha mengatasi kekeringan jauh lebih penting daripada pelayanan kesehatan.

Nakamura lalu memulai inisiatif membangun saluran irigasi. “Satu saluran irigasi lebih berharga daripada 100 dokter,” kata Nakamura. “Di rumah sakit kita melayani pasien satu per satu. Tapi dengan irigasi kita menyelamatkan orang satu desa.”

Ia membangun saluran irigasi di Distrik Khewa, memanfaatkan air dari Sungai Kunar. Saluran yang ia buat sepanjang 25 km. Saluran itu mengairi 16.000 hektare lahan, memberi penghidupan kepada 600 ribu orang, mengubah gurun pasir menjadi ladang gandum yang produktif.

Ia juga membangun beberapa bendungan. Nakamura yakin itulah cara terbaik untuk membangun Afganistan, dan berharap perdamaian akan tumbuh dari situ. “Senjata bukanlah solusi,” kata Nakamura.

Namanya Tetsu Nakamura, orang-orang Afganistan memanggilnya Kaka (paman) Murad, dan kini ia seorang insinyur teknik sipil.

Ia mendapat inspirasi membangun saluran irigasi dari saluran irigasi tradisional yang telah dibangun 200 tahun yang lalu di kampung halamannya di Fukuoka. Nakamura berubah peran, dari orang yang menyembuhkan menjadi orang yang memberi makan.

Iklan

Tak semua orang berterima kasih padanya. Bagi pihak Barat, ia dianggap halangan bagi propaganda menumpas teroris karena ia bersuara keras terhadap serangan militer Amerika. Ia pernah dituduh sebagai pendukung fundamentalis Islam.

“Bagaimana mungkin saya ini mendukung fundamentalis sementara saya adalah seorang Kristen?” katanya dalam ceramahnya di Kumamoto waktu itu.

Sementara itu, bagi Taliban ia pun bukan sahabat. Ia hanyalah bagian dari misi kafir yang berbahaya.

Beberapa kali ia mendapat serangan yang mengancam nyawanya, tapi berhasil lolos. Tahun 2008 ia harus kehilangan sahabatnya, Kazuya Ito, ahli pertanian yang berjuang bersamanya dalam membangun saluran irigasi. Ito diculik saat sedang menginspeksi pembangunan saluran irigasi dan dibunuh oleh Taliban.

Nakamura tentu tahu betul risiko itu. Ia dengan tenang menghadapinya. “Saya akan bahagia mati di sini,” katanya.

Pada 4 Desember 2019, Nakamura beserta stafnya diserang oleh orang-orang bersenjata di Jalalabad. Nyawanya tak tertolong. Ia gugur saat hendak diterbangkan dari bandara Jalalabad. Kaka Murad, atau Uncle Murad, begitu orang Afganistan memanggilnya, telah pergi, mengakhiri tugasnya sebagai manusia.

Tugasnya diakhiri oleh orang-orang yang telah hilang kemanusiaannya. Nakamura tidak gugur dalam kecelakaan perang yang tak disengaja. Ia memang ditarget untuk dibunuh. Para penyerangnya terlihat sudah merencanakan pembunuhan terhadapnya, menyergap, menembaknya dengan puluhan peluru dari senapan otomatis. Lima orang yang menyertainya ikut gugur. Para penyerang datang untuk memastikan bahwa mereka telah membunuh Nakamura sebelum kabur.

Atas jasanya, Nakamura pernah memenangkan Ramon Magsaysay Award tahun 2003 dan diangkat sebagai warga kehormatan Afganistan. Masih ada sejumlah penghargaan lain yang ia terima.

Tapi, penghargaan sebenarnya telah ia menangkan dari 600 ribu lebih manusia yang ia tolong dan jutaan manusia lain yang memahami arti perjuangannya. Di mata pihak-pihak yang tak punya hal lain selain permusuhan, ia hanyalah musuh yang harus dibinasakan. Begitu mengerikan manusia-manusia yang telah kehilangan kemanusiaan. Alih-alih memberi bantuan, mereka malah memusuhi para pemberi bantuan.

Saya masih ingat betul wajah Nakamura, yang saya lihat dari dekat saat saya berbincang dengannya usai acara kuliah di musim dingin 18 tahun lalu itu. Ia masih tampak muda waktu itu. Suaranya lembut, selembut senyuman yang selalu ia tebar saat berbicara. Dari wajahnya hanya terpancar satu kesan: kasih sayang.

Selamat jalan, Nakamura sensei. Selamat jalan, Kaka Murad. Rest in peace.

BACA JUGA Salman Taseer dan Kasus Penistaan Agama yang Bermula dari Hal-hal Remeh atau esai HASANUDIN ABDURAKHMAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 Desember 2019 oleh

Tags: 9/11afganistanAl Qaedaamerika serikattetsu nakamurauncle murad
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Kabar

Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran

4 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Tajuk

Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

2 Maret 2026
Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia
Sekolahan

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.