Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sebenarnya Keturunan Cina itu Orang Indonesia atau Bukan?

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
28 November 2019
A A
sbkri agnez mo keturunan cina orang indonesia diskriminasi budaya cina di indonesia mojok.co

sbkri agnez mo keturunan cina orang indonesia diskriminasi budaya cina di indonesia mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kontroversi Agnez Mo mengaku tak punya “darah Indonesia” berkembang menjadi debat soal nasionalisme. Masalah keturunan Cina dan status mereka sebagai orang Indonesia memang pelik sejak lama. Jadi ingat era SBKRI dulu.

Waktu saya masih SD, saya punya beberapa kawan keturunan Cina. Salah satunya bernama A Chai. A Chai ini tidak terlalu pintar dan agak nakal. Sesekali kenalakannya itu menjengkelkan para guru. Zaman dulu, kalau ada murid nakal guru tidak segan menghukumnya dengan pukulan rotan. Saya juga pernah dapat hukuman itu. Cuma untuk A Chai, kejengkelan guru tidak berhenti di pukulan rotan. Ada umpatan, “Kamu itu Cina, warga negara asing. Jangan macam-macam di sini!”

Di zaman itu saya tahu ada 2 kelompok keturunan Cina, yaitu yang sudah WNI dan yang masih WNA. Kelak setelah saya dewasa baru saya tahu, orang-orang keturunan itu mesti memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SBKRI). Bila tidak memiliki, mereka masih dianggap warga negara asing. Lucunya, surat itu masih dituntut juga bagi keturunan Cina yang lahir dari orang tua yang sudah WNI.

Kenapa SBKRI ini tidak diberlakukan untuk WNI keturunan lain, seperti Arab atau India? Itu ada latar belakangnya. Dulu pemimpin Cina Mao Zedong mengklaim semua orang keturunan Cina di seluruh dunia adalah warga negaranya. Keturunan Cina di Indonesia waktu itu bisa memiliki kewarganegaraan ganda berdasarkan perjanjian dwikewarganegaraan Indonesia-Cina.

Tapi belakangan perjanjian itu tidak lagi berlaku. Kepada yang pernah memiliki kewarganegaraan ganda, diwajibkan memiliki bukti kewarganegaraan SBKRI tadi. Yang tidak memegang kewarganegaraan ganda seharusnya tak masalah.

Tapi akhirnya kewajiban SBKRI diberlakukan secara pukul rata kepada setiap warga keturunan Cina. Secara resmi dokumen ini sudah dihapuskan di tahun 1996 lewat Keppres 56/1996, tapi masih saja terus diminta saat para keturunan itu mengurus berbagai keperluan. Di zaman Reformasi, pencabutannya mesti ditegaskan lagi melalui Inpres 4/1999.

Ketika saya kuliah di Yogya 30 tahun lalu, pernah saya saksikan kecelakaan sepeda motor antara orang keturunan Cina dan orang Jawa. Setelah kecelakaan terjadilah perdebatan soal siapa yang salah dan harus membayar kerusakan. Di tengah perdebatan, datanglah seseorang berbadan kekar. Ia mendekati orang keturunan tadi lalu berkata dengan nada mengintimidasi, “Kamu Cina, kan?”

Terpaksalah orang itu mengangguk.

“Nah, jangan banyak cingcong. Bayar!”

Di kampus saat dilaksanakan kegiatan orientasi mahasiswa baru, mahasiswa keturunan Cina mendapat perlakuan “istimewa”. Setiap kali melihat mahasiswa itu, para kakak senior yang tidak kreatif selalu meminta mereka mengucapkan teks Pancasila atau menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Tentu saja mereka bisa. Semua anak yang lulus SMA pasti bisa melakukan hal-hal itu.

Masalahnya bukan pada mereka, tapi pada kakak senior yang salah persepsi, seolah keturunan Cina tidak peduli pada hal-hal tersebut karena mereka tidak merasa jadi orang Indonesia. Orang-orang Cina bersusah payah untuk diakui sebagai warga negara yang cinta Indonesia. Susi Susanti yang sudah mempersembahkan medali emas Olimpiade sekalipun tetap dituntut untuk punya SBKRI. Demikian pula para seniornya yang sudah terlebih dahulu mengharumkan nama Indonesia lewat cabang olahraga bulu tangkis.

Meski ketentuan SBKRI sudah dihapus, tidak serta-merta orang keturunan Cina diterima. Orang keturunan Cina tetap dianggap orang Cina. Ada kawan yang orang Jawa, menikah dengan orang keturunan Cina. Anaknya tetap dianggap Cina. Orang keturunan Cina tetap dianggap pendatang yang setiap saat bisa dan boleh diusir pulang ke Cina.

Celakanya, seandainya mereka memang ingin pulang, orang-orang Cina Daratan (Mainland China) sana tidak mau menerima mereka. Bagi orang Cina Daratan, para warga keturunan itu bukan lagi Cina.

Orang-orang keturunan Cina di Indonesia pernah dilarang memakai nama Cina. Mereka didorong untuk pakai nama pribumi. Padahal, di saat yang sama orang-orang pribumi ramai-ramai pakai nama Arab atau Eropa. Keturunan Cina boleh memilih, mau pakai nama pribumi seperti Bambang atau Slamet, pakai nama Arab seperti Yunus atau Ibrahim, atau pakai pakai nama Barat, seperti Jack atau Billy. Tapi mereka tidak boleh pakai nama Cina yang biasanya terdiri dari 3 kata itu.

Iklan

Ada anekdot soal nama ini. Seorang keturunan sedang mengurus KTP di kantor kelurahan. Waktu diminta menulis nama, ia menulis namanya Kasnowo Diponegoro. Petugas agak heran dengan nama yang unik dan terlalu gagah itu.

“Kok namamu Jawa banget? Kan kamu Cina?”

Sepertinya ia berharap nama orang itu semacam Jacky atau Andy.

“Oh, nama saya itu ada kepanjangannya, Pak.”

“Apa kepanjangannya?”

“Bekas Cino dadi Jowo, dipekso negoro.” Atau dalam bahasa Indonesia dia bilang, Bekas Cina jadi Jawa, dipaksa negara.

Pemerintah juga pernah melarang pemakaian bahasa dan huruf Cina. Orang-orang keturunan di Pulau Jawa kebanyakan tak lagi bisa bahasa suku mereka. Mereka jadi penutur bahasa Jawa dan Sunda. Keadaan agak berbeda di luar Jawa. Di Sumatera, khususnya Medan, juga di Kalimantan Barat, mereka bebas memakai bahasa dan huruf Cina.

Banyak hal berubah setelah Reformasi, tapi banyak juga yang belum berubah. Salah satunya kini hangat diperbincangkan: Di Yogya warga keturunan Cina tidak boleh punya tanah sebagai hak milik. Sultan belum mau mengubah ketentuan itu.

Sebenarnya apa sih salah orang-orang ini sampai mereka diperlakukan demikian? Mengapa mereka terus menerima tuduhan dari “pribumi” bahwa komitmen mereka terhadap Indonesia kurang? Bahwa mereka lebih cinta tanah leluhurnya ketimbang Indonesia?

Lha, orang-orang Cina itu juga banyak yang berjuang melawan penjajah Belanda dan Jepang. Tapi kan ada juga yang berkhianat dan memihak pada penjajah. Iya, dan orang Jawa yang berpihak pada penjajah Belanda juga ada, kok. Yang sudah jelas-jelas berjuang mengharumkan nama Indonesia saja kok masih dianggap kurang nasionalis.

Tuduhan lain, katanya orang keturunan ini tidak berbaur. Bagaimana bisa mereka tidak berbaur sementara kita sampai punya penganan mi, bakso, pangsit, siomay, dan baju koko sebagai bagian dari keseharian kita?

Hingga saat ini, setelah 70 tahun kita merdeka, setelah lebih dari 100 tahun berlalu sejak para leluhur keturunan Cina itu pertama kali datang ke sini, mereka masih saja dianggap pendatang. Padahal mereka tidak datang dari mana-mana, melainkan dari bumi Indonesia ini. Mereka hidup bersama warga bangsa lain, menyumbangkan kemampuan yang mereka miliki, juga menyumbangkan kebudayaan leluhur mereka untuk memperkaya khazanah budaya Indonesia, dalam bentuk makanan, kesenian, dan bahasa.

Untungnya tidak semua orang Indonesia bersikap demikian. Boleh dibilang, hanya sebagian kecil. Konyolnya, sebagian kecil dari mereka yang mendiskriminasi keturunan Cina itu bahkan tidak benar-benar cinta Indonesia. Ada yang justru sedang berjuang agar Indonesia ini jadi bagian dari imperium Arab. Ironisnya, salah satu tokoh kelompok ini adalah keturunan Cina.

Pelik benar!

BACA JUGA Kebiasaan Jujur Pedagang Cina dan Orang-orang Cina atau esai HASANUDIN ABDURAKHMAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2021 oleh

Tags: Agnez Mocina di indonesiaketurunan cinasbkri
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

rich brian agnez mo billboard indonesia fans militan agnez mo tu wa ga pat driver lagu go international
Esai

Adu Kuat Fans Agnez Mo VS Fans Rich Brian

19 Oktober 2019
Status

Kenapa Sandal Jepit Bertuliskan Huruf Arab Harus Difitnah?

21 Mei 2018
Xiaomi Redmi 5 Plus Beri Pelajaran Hidup Meski Tanpa Agnez Mo dan Chelsea Islan MOJOK.CO
Pojokan

Xiaomi Redmi 5 Plus Beri Pelajaran Hidup Meski Tanpa Agnez Mo dan Chelsea Islan

16 Februari 2018
Agnez-Mo-MOJOK.CO
Nafkah

Menghitung Kekayaan Agnes Monica a.k.a Agnez Mo

26 Januari 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.