Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Seandainya Saya Menjadi Redaktur Mojok

Sely Purbasari oleh Sely Purbasari
2 September 2016
A A
Seandainya Saya Menjadi Redaktur Mojok

Seandainya Saya Menjadi Redaktur Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Akhir-akhir ini, saya kok sering kepikiran buat resign dari pekerjaan saya sekarang dan mencoba tantangan baru buat kerja di tempat lain. Untunglah, ini bukan jenis kepikiran resign yang serius, karena sampai saat ini, saya memang tetap dan masih mencintai pekerjaan saya sekarang ini. Terlebih ketika artikel ini ditulis, ternyata pas tanggal satu alias tanggal gajian. Maka nikmat menjadi birokrat mana yang kau dustakan?

Oke, saya anggap saja bahwa keinginan sesaat saya buat resign sejatinya hanyalah pelampiasan kebosanan saya akibat pekerjaan yang semakin hari semakin itu-itu saja. Kebosanan ini mendadak membuat saya membayangkan seandainya saya kerja di tempat lain. Kerja di tempat dan posisi yang jauh berbeda dengan pekerjaan saya sekarang. Dan dari sekian banyak pekerjaan yang mungkin bisa saya bayangkan, entah mengapa, “Redaktur Mojok.co” menjadi pekerjaan yang paling saya andai-andaikan.

Jadi, melalui tulisan ini, izinkan saya menuliskan pengandaian saya menjadi seorang redaktur di Mojok.co. Nuwun sewu sebelumnya buat mas redaktur yang saya pinjem statusnya buat berandai-andai, boleh tho? Pasti boleh kan, ya? cuma sehari ini kok. Tenang, ini bukan nyindir mas redaktur yang selama ini sudah bekerja maksimal dan optimal (bedane opo) lho ya, ini hanya imaji saya yang sama kusutnya dengan mukena di musholla mall-mall ibu kota.

Oke, mari kita mulai pengandaian yang tak jelas ini.

Jika saya menjadi redaktur Mojok, maka hal pertama yang akan saya lakukan adalah bersyukur. Why? Karena saya dikelilingi oleh orang-orang lucu dan konyol, yang saling sindir dan menyemangati di Facebook/Twitter, tanpa sakit hati, tanpa ambisi, tanpa rasa malu, tanpa was-was status saya bikin chaos, tanpa khawatir turun pangkat, tanpa khawatir mengubah penerimaan Kepala Suku terhadap kinerja saya. Ya nulis ya nulis status saja, sejujur-jujurnya. Tentang perasaan, keluarga, piaraan, sampai cita-cita yang wagu dan mungkin nggak bakal kesampaian. Lalu tertawa sesudahnya. Masya Allah, syurga sebelum syurga sesungguhnya…

Hal kedua yang akan saya lakukan andai saya kerja di Mojok adalah bersyukur lagi karena saya dianugerahi kesempatan untuk membaca kehidupan belasan manusia setiap hari. Ada yang menulis soal kisah asmara, renik-renik politik, sok sial (eh sosial), budaya, dan sebagainya. Gusti, terima kasih sudah memberi saya mata! Dengan ini saya merasa bukan makhluk yang paling nestapa sedunia…

Hal ketiga yang akan saya lakukan andai saya menjadi redaktur Mojok adalah bersyukur (lagi) karena jika tak ada satupun artikel yang memenuhi kriteria untuk tayang di Mojok, saya berhak nulis apa pun untuk mengisi kekosongan artikel pada hari tersebut. Saya bebas wadul tentang apa saja. Apa saja. Karena saya mau tak mau juga harus ikut nulis, maka selera humor saya harus (minimal) lumayan. Minimal orang yang membaca bisa mesem walaupun kecut setelah membaca tulisan saya. Makanya, saya bertekad akan memperbaiki selera humor saya yang lumayan garing akhir-akhir ini oleh sebab terbenam dalam kehidupan monoton di tempat kerja sebelumnya.

Mengapa saya harus memperbaiki selera humor saya? Karena menjadi “serius” hanya akan memperburuk kinerja saya di media ini. Dan itu akan memiliki efek domino terhadap kehidupan Mojok. Sebagaimana kita ketahui, Mojok bukanlah media serius yang membuat pembaca mengerutkan dahi berhari-hari sampai terbawa mimpi. Mojok memiliki tugas mulia nan berat, yaitu menyebarkan gagasan dengan cara jenaka. Dan saya suka itu. Saya suka membual, dibuali, lalu tertawa hingga kemudian merenungi bahwa saya terlalu serius menghadapi hidup selama ini.

Saya akan rajin mengikuti dagelan renyah ala twitnya @NUgarislucu atau dagelan agak mikir macam twitnya @VancityReynolds. Saya akan tambah rajin mantengin film komedi romantis Hollywood macam Mr. and Mrs. Smith, The Proposal, dan sebagainya, di mana dialog-dialog cerdas dan lucu dapat kita pelajari di sana. Saya akan rajin nonton Stand Up Comedy, juga tak ketinggalan, membaca buku ngocol macam Catatan Parno PNS Gila ataupun Terong Gosong.

Kreativitas tak mungkin muncul dari hati yang miskin tawa. Dan semakin selera humor saya membaik, semakin lucu pula artikel yang mejeng di Mojok.

Hal keempat yang akan saya lakukan andai saya menjadi redaktur di Mojok adalah bersyukur, saya memiliki kesempatan menjadi superhero (melet emoticon). Saya memiliki kesempatan berbuat baik. Saya akan meminimalisir artikel-artikel dengan tema perselingkuhan (meski syahdu). Benar ( jika seperti yang saya kutip dari web resmi media ini) bahwa Mojok memang media online selow yang memuat artikel-artikel yang hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja untuk menulisnya, tulisan-tulisan pendek yang dihasilkan saat naik angkot, nunggu kereta, boker, nungguin anak, usai makan siang kantor, ngantre di supermarket, dan lain-lain. Lha, tapi perselingkuhan itu lain. Itu tak se-selow yang kita bayangkan. Itu romantis tapi tragis. Tak selucu yang kita tertawakan. Ada kepelikan tersendiri membahas itu. Jadilah Mojok dari Jogja yang tetap lugu dan unyu-unyu, jadi plis, berhentilah mbahas itu, masih banyak hal lain yang bisa dipojokkan :p.

Hal kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesepuluh yang akan saya lakukan andai saya menjadi redaktur di Mojok adalah bersyukur, karena diam-diam di sebuah gedung bertingkat di Jakarta, ada seseorang yang ngebet pengin menggantikan pekerjaan saya :p

PS: Ditulis oleh Redaktur Mojok jadi-jadian, dan disunting oleh Redaktur Mojok beneran –yang mana sangat menggemari artikel soal perselingkuhan.

BACA JUGA Al Ghazali vs Ahmad Dhani dan tulisan Sely Purbasari lainnya.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2021 oleh

Tags: kerjaMojokredaktur
Sely Purbasari

Sely Purbasari

Artikel Terkait

5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO
Liputan

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)
Esai

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Purwokerto Tidak Istimewa, tapi Nyaman Melebihi Jogja MOJOK.CO
Esai

Pandji Benar. Purwokerto Memang Tidak Istimewa, Tapi Lebih Nyaman Ketimbang Jogja

21 Juni 2024
Mencari Jawaban Kuliah untuk Cari Ilmu vs untuk Cari Kerja, Sebuah Perdebatan yang (Dipaksa) Lestari
Kampus

Mencari Jawaban Kuliah Cari Ilmu vs Cari Kerja, Sebuah Perdebatan yang (Dipaksa) Lestari

13 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nilai Empan Papan Orang Jogja dalam Series Trio Bintang Lima. MOJOK.CO

Series “Trio Bintang Lima”: Saat Arwah Eyang Turun Tangan Ingatkan Gen Z yang Lupa Soal Tata Krama Orang Jogja

25 Januari 2026
Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
senar raket. mojok.co

Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora

21 Januari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
Penangkaran merak di Jogja City Mall. MOJOK.CO

Merak Bukan Lagi Sekadar Simbol Keagungan, tapi Teman yang Merakyat di Pojokan Mal Jogja

23 Januari 2026
“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan.MOJOK.CO

“Terapi Massal” Pekerja Jakarta di Istora Senayan

24 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 1): Bukan Guru Besar Biasa, Diuji Bukan dengan Pujian

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.