Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Purwokerto Itu Bukan Kota dan Bukan pula Kecamatan, tapi Sebuah Daerah yang Terbuat dari Tumpukan Salah Paham

Wahyu Tri Utami oleh Wahyu Tri Utami
3 Januari 2024
A A
Purwokerto Terbuat dari Tumpukan Salah Paham MOJOK.CO

Ilustrasi Purwokerto Terbuat dari Tumpukan Salah Paham. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perihal mendoan

Hal kedua yang membentuk Purwokerto dan menempel sebagai ciri khasnya adalah mendoan. Makanan khas Kabupaten Banyumas yang terbuat dari tempe lebar, dicelup adonan tepung bercampur daun bawang kemudian digoreng setengah matang. Lengkap dengan sambal kecap sebagai cocolan, sudah bisa jadi menu sarapan atau lawuh medhang sembari ngopi.

Mendoan hangat bisa dibilang menempati puncak piramida gorengan terpopuler di seantero angkringan dan warung-warung makan tradisional. Makanan sederhana, tapi ternyata orang di luar daerah tidak bisa dengan mudah mereplikasinya.

Salah satu hal yang membuat saya sedikit merasa kesal saat merantau ke luar kota adalah ketika memesan mendoan melalui aplikasi ojek online. Saya berekspektasi akan mendapat mendoan seperti yang dijual di warung gorengan dekat rumah. Tapi, realitanya, adalah tempe papan yang dipotong lebar dan dalam keadaan matang sempurna.

Benar-benar representasi meme “what I order online vs what I got”. Mendoan itu pakai tempe khusus yang dibungkus daun pisang dan sengaja dibuat tipis lebar, bukan tempe papan yang dipotong melebar. Plus, nama mendoan sendiri diambil dari kata mendo yang artinya ‘setengah matang’.

Ya sudah, tidak apa-apa. Rupa mendoan yang beda jauh antara aslinya dengan buatan orang luar Banyumas ini justru membuat saya makin bangga dengan kuliner khas kampung halaman. Apalagi, mendoan kini telah secara resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2021. Banyumas pride!

Semakin sesak oleh pembangunan

Ngomong-ngomong soal merantau, tahu meme kucing yang seakan lagi bilang “Hah?” yang viral itu? Nah, begitulah reaksi saya saat melihat kondisi Purwokerto sepulang dari tanah rantau. Pasalnya, ada semakin banyak bangunan yang menyesaki. Daerah ini memang seakan tidak henti-hentinya melakukan pembangunan.

Dilansir dari laman Instagram SSC Purwokerto pada 7 September 2023 lalu, telah dilakukan groundbreaking alias peletakan batu pertama untuk proyek pembangunan Purwokerto City Center (PCC). Kawasan PCC yang berlokasi di bekas Stasiun Timur ini nantinya akan berisi Super Indo, hotel 11 lantai, rail tram, retail, convention hall, ruko arcade, plaza terbuka, masjid hingga gedung parkir 6 lantai. Edan!

Mega proyek lain yang sedang dalam tahap pembangunan ialah agrowisata seluas 17 hektar di Pabuaran-Sumampir yang sudah melakukan land clearing sejak 2020 lalu. Taman wisata alam ini nantinya akan mencakup kebun binatang, waterpark, jogging track, flying fox, ATV area, hingga persawahan.

Sebagai kota kecil di kaki Gunung Slamet, Purwokerto bisa dibilang sedikit terpencil. Tapi itu dulu. Sekarang, franchise makanan dan minuman kekinian yang belum masuk bisa dihitung pakai jari. Kedai kopi berlogo ikan duyung (itu lho, yang sedang ramai diboikot) juga sudah masuk sini.

Pembangunan yang masif ini memang diharapkan bisa membuat warga Purwokerto semakin betah dan memiliki lebih banyak pilihan saat bepergian. Namun, ada juga yang berpendapat kalau rendahnya upah minimum tidak sebanding dengan banyaknya pusat perbelanjaan.

Apalagi, beberapa proyek pembangunan berakhir sepi peminat. Menara Pandang Teratai, misalnya. Lokasi wisata anyar ini menghabiskan Rp108 miliar dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang harus mulai dicicil per 2023 lalu.

Walau sudah ditopang dengan beragam event di sekitar Menara, tapi para pengunjung justru lebih banyak berkumpul di pinggir jalan trotoar. Otomatis, parkir dan penghasilan para pedagang di sana tidak masuk ke pengelolaan wilayah Menara Teratai. Ini jelas jadi PR buat pemerintah daerah guna semakin memajukan wisata lokal supaya bisa menarik lebih banyak wisatawan.

Romantisasi

Orang Jogja terbiasa misuh perihal romantisasi daerah istimewa dengan UMR yang hanya Rp2 juta. Kalau warga Purwokerto, punya kalimat legendaris terkait daerah tempat tinggalnya: “Ditinggal ngangeni, ditunggoni ora sugih-sugih.”

UMR-nya bahkan lebih rendah dari Jogja, tapi tempat-tempat hiburannya sudah nyaris menyamai Kota Pelajar itu. Bertahan dengan 1 sumber pemasukan setara UMR di tengah banyaknya tempat jajan kekinian hampir pasti membuat siapa saja susah jadi kaya.

Iklan

Tapi, saat meninggalkan Purwokerto untuk mencari nafkah di kota lain, akan ada perasaan rindu yang menggebu-gebu. Daerah bukan kota dan bukan kecamatan yang terbuat dari salah paham, mendoan, dan pembangunan ini adalah rumah sekaligus tempat pulang ternyaman bagi para penghuninya atau siapa saja yang pernah datang untuk mencari ilmu di sana.

Bahkan, Purwokerto termasuk dalam daftar kota-kota terbaik yang bisa dipilih untuk menghabiskan masa pensiun di hari tua karena ketenangan dan slow living yang ditawarkan. Sesuai dengan nama julukannya, Purwokerto Kota SATRIA: Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, Aman.

Penulis: Wahyu Tri Utami

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Purwokerto, Tempat Tinggal Terbaik di Jawa Tengah dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2024 oleh

Tags: banyumasjawa tengahkota purwokertoMendoanmendoan asliPurwokertoPurwokerto City Centerumr purwokerto
Wahyu Tri Utami

Wahyu Tri Utami

Pembaca buku, penonton film, penulis konten. Sesekali jadi penyelam andal (di internet, bukan di air).

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Kilas

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

29 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.