Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ontran-Ontran Yogyakarta

Irfan Afifi oleh Irfan Afifi
7 Mei 2015
A A
Ontran-Ontran Yogyakarta

https://mojok.co/irf/esai/ontran-ontran-yogyakarta/

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di awal peralihan kekuasan Ngayogyakarta, Sultan Hamengku Buwana Kaping IX—bukan Bawana—tidak pernah secara terbuka memasrahkan keris Ki Ageng Joko Piturun ke Sultan Hamengku Bawana Kaping X (sedasa atau sepuluh?)—yang kata para abdi dalem, sedikit menyalahi kebiasaan paugeran sebelumnya. Kita tahu, prosesi pewarisan keris Ki Ageng Joko Piturun ini biasanya merupakan simbol resmi penyerahan kekuasaan kepada raja baru yang segera bertahta.

27 Mei 2006 gempa bumi mengguncang Yogyakarta, juga keraton. Bangsal Prabayeksa, ruang pusaka itu jungkruk. Trajumas, simbol jejeba penegakan “keadilan” rontok. Mbah Marijan, saat Merapi njebluk di tahun 2010, “mbalela” untuk turun gunung. Ia, katanya, hanya “sendika dawuh” dengan Sultan kaping IX.

Para Sentana dan Abdi Dalem mengeluh. Sejak dikeluarkan Sabda Tama, para Abdi Dalem banyak yang undur diri. Jauh sebelum itu beberapa Empu mengaku tak lagi diakui oleh keraton. Bahkan ada Empu yang memutuskan pindah ke Keraton Solo. Selain itu, saya juga lamat-lamat pernah mendengar bahwa ada seorang pujangga keraton bernama Suryanto Suryatmaja yang terpaksa harus hijrah ke Solo di era Pakubuwana 12.

Ontran-ontran ini tak berhenti di sini. Ringin alun-alun kidul kobong tahun lalu. Keterampilan nembang macapatan dan sekar ageng mulai diabaikan dan macet secara regenerasi. Ada beberapa teman yang sinau macapatan di Keraton mengakui hal ini.

Kondisi “geger” ini diperparah  dan memuncak sejak santernya isu penetapan Keistimewaan Yogyakarta. Sungguh, gelontoran dana setelah penetapan Keistimewaan Jogja dari Jakarta benar-benar tidak hanya memecah sedaya kawula alit Ngayogyakarta, melainkan juga membuyarkan darma “hangabekti” dan ketulusan para Abdi Dalem yang telah diwarisi berabad-abad dari leluhur mereka.

Saya tanya, apakah Anda pernah merasakan pujaan hati Anda “berpaling” dari Anda dengan alasan memilih orang lain karena alasan materi dan kemapanan? Ah… Sudahlah, ndak perlu saya lanjutkan.

Sebenarnya saya tidak terlalu weruh babakan geger Sabda Tama dan Sabda Raja. Saya hanya tahu bahwa sekarang Pembayun sudah bergelar Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi. Itu pangkat sekelas Ywaraja atau Pangeran Pati, dan seorang yg bergelar Mangkubumi atau sekelas Pangeran Pati tidak mungkin tidak diangkat Sultan(ah). Sebuah tahap yang mungkin tidak bisa dicegah lagi.

Namun, saya juga tahu, meskipun penghilangan gelar khalifatullah dianggap bisa sedikit memantaskan melenggangnya Pembayun untuk Jumeneng Nata, saya sangat ragu apakah seorang perempuan pantas menerima keris, apalagi kerisnya bernama Kyai Ageng Kopek dan Kyai Ageng Joko Piturun. Tidakkah ia lebih pas menerima wedung ataupun patrem—semacam belati? Atau jangan-jangan, penyempurnaan keris Ki Ageng Kopek seperti tertera dalam Sabda Raja—menurut tafsir ngawur saya—merupakan sanepa dari kata “Mengko Pek’en” (baca: Nanti ambillah) seperti yang diujarkan Prabu Darma Kusuma sang Raja Amarta kepada Sunan Kalijaga sebagai ungkapan terima kasihnya karena dibantu membaca Jamus Kalimasada yang telah lama membuatnya tak bisa mati.  Maksudnya, ya kekuasan ini “Mengko Pek’en, Nduk, Anakku.”

Para kawula alit, termasuk saya, selalu membayangkan bahwa satu-satunya raja di Indonesia yang masih jumeneng, bisa menjadi raja yang gung binathara. Seorang raja besar yang mewarisi kemulyaan sifat-sifat Bathara Dewa. Ya, seorang Raja yang selalu aweh tongkat untuk orang-orang yang mudah terpeleset, mendermakan boga/makanan kepada mereka yang kelaparan, dan menyediakan air bagi rakyat yang kehausan—alias selalu wening penggalih, rasa, pikirannya untuk tak sebatas mementingkan keluarganya, melainkan sumrambah kepada rakyat Ngayogyakarta pada umumnya.

Saya sebatas rasan-rasan, jangan sampai harapan-harapan kawula alit akan rajanya justru malah luput dari kudangan dan mrucut dari embanan. Mungkin itu, dugaan saya, makna Manunggaling Kawula Gusti seperti yang disiratkan dalam konsep khalifatullah.

Lalu?

Saya jadi ingat Suwargi Prof. Damardjati Supajar akan sanepanya, bahwa pada suatu hari nanti mata para kawula alit Ngayogyakarta berubah menjadi sebesar kenong, alias mata terbelalak membesar karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jadi, sekali lagi, ontran-ontran apa yang sebenarnya terjadi? Saya tidak tahu. Yang jelas, mata saya sekarang terbelalak. Anda?

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2021 oleh

Tags: JogjaSultan Hamengku Buwana IXSultan Hamengku Buwana XYogyakarta
Irfan Afifi

Irfan Afifi

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.