Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengalirkan Semua Kotoran Demi Romlah

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
22 Juni 2016
A A
Mengalirkan Semua Kotoran Demi Romlah

Mengalirkan Semua Kotoran Demi Romlah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kandungan Romlah sudah masuk hitungan sembilan bulan. Dia hanya menunggu hari untuk melahirkan. Bidan memperkirakan, Romlah akan melahirkan di ujung Ramadan. Dan itulah yang mencemaskan Sunody Abdurrahman, suaminya.

Dia tentu saja berbahagia karena akan segera punya anak dan tanggung jawab baru sebagai seorang bapak. Tapi yang dia kuatirkan adalah keselamatan istrinya saat melahirkan dan keselamatan calon anaknya. Pikirannya sering dipenuhi kecemasan yang bukan-bukan. Takut Romlah begini. Takut bayi mereka begitu.

Nody memang mencintai istrinya. Jauh-jauh hari dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyongsong hari persalinan istrinya. Tapi semakin mendekati hari kelahiran, kecemasannya semakin mengaduk-aduk.

Mau mengadu ke Mat Piti, mertuanya, dia segan. Mau curhat ke Cak Dlahom yang juga mertuanya, apalagi. Dia kebingungan sendiri. Romlah sudah mengingatkan agar Nody tak usah berpikir yang bukan-bukan. Agar menyerahkan semuanya pada Allah.

“Kita kan hanya bisa berusaha, Mas…”

“Iya, Dik, tapi menyerahkan semua pada Allah itu seperti apa? Aku mencemaskanmu. Mencemaskan anak kita. Aku sudah menyerahkan pada Allah, tapi aku tetap cemas.”

Begitulah jawaban Nody ketika Romlah mencoba menenangkan hatinya. Dia sebetulnya juga cemas. Kecemasannya bahkan jauh lebih besar ketimbang kecemasan Nody. Tapi dia berusaha tenang dan mencoba mengerti kegelisahan suaminya.

Dan sudah sebulan terakhir, wajah Nody lebih sering tampak seperti air keruh. Dia tetap selalu tersenyum, tapi matanya seperti menyorotkan sesuatu yang berat.

Cak Dlahom melihat perubahan wajah Nody itu. Dia melihat Nody bukan Nody yang biasa dia lihat: berwajah cerah. Nody akhir-akhir ini adalah Nody yang selalu menyendiri atau hanya berdua dengan Romlah.

Maka pada suatu malam, Cak Dlahom menemui Nody yang sedang bersantai bersama istrinya di teras depan. Dia segera duduk di lantai. Anak dan mantunya itu kaget. Mereka hendak turun dari lincak tapi Cak Dlahom melarang.

“Tak usah turun. Duduk saja di sana…”

Nody dan Romlah tak membantah. Nody menunduk. Romlah memain-mainkan tangannya. Mereka tahu, kalau Cak Dlahom menemui mereka, biasanya akan ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan. Mereka menunggu.

“Nod…”
“Dalem, Cak…”
“Berapa lama kamu menikahi Romlah?”
“Sudah setahun, Cak.”
“Sudah setahun…”

Cak Dlahom bergumam mengulang jawaban Nody. Suasana hening. Romlah dan Nody menunduk.

Iklan

“Apa yang memberatkan pikiranmu, Nod?”

Nody tak segera menjawab. Mertuanya bertanya tentang sesuatu yang selama ini ingin diutarakannya, tapi kini dia justru kebingungan untuk menjawabnya. Dia mengambil napas dalam-dalam.

“Saya memikirkan Romlah dan calon anak kami, Cak.”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Keselamatan keduanya…”
“Lalu setelah kamu pikirkan, apa kelak kamu bisa menyelamatkan Romlah dan anakmu?”
“Tentu tidak, Cak.”
“Apa sore tadi kamu mandi, Nod?”

Nody tidak segera menjawab pertanyaan mertuanya itu, tapi Cak Dlamon mengulang pertanyaannya.

“Sudah mandi, Nod?”
“Sudah, Cak?”
“Mandi dengan air?”
“Dalem, Cak…”
“Air bersih?”
“Air yang sama yang kita gunakan setiap hari.”
“Lalu apa kamu lihat ke mana larinya air yang kamu gunakan untuk mandi?”
“Mengalir ke selokan…”
“Benar kamu lihat air itu mengalir ke selokan?”
“Tidak, Cak. Saya hanya melihat air dari kamar mandi masuk ke lubang pembuangan.”
“Mestinya kamu perhatikan ke mana air bekas mandimu itu mengalir.”

Nody tak menjawab. Romlah tak enak hati. Dia ingin menjawab tak mungkin suaminya memperhatikan ke mana air bekas mandinya mengalir, karena itu artinya Nody harus keluar kamar mandi sambil telanjang. Tapi Romlah juga hanya diam saja. Dia tak ingin Cak Dlahom semakin aneh.

“Air mandimu air bersih. Dia membersihkanmu. Membawa kencingmu, membawa semua kotoranmu. Masuk ke lubang pembuangan lalu mengalir ke selokan. Di sana, airmu bertemu dengan air dari kamar mandi dan dapur dari rumah yang lain dengan membawa kotoran lain.

Dari selokan mengalir ke kali yang agak besar. Bertemu dengan air dari rumah-rumah lain dengan membawa kotoran lain yang lebih banyak. Dari kali yang agak besar mengalir ke sungai. Kotoran yang dibawa air bertambah banyak. Kayu, bangkai, ludah, darah, nanah, dan sebagainya. Di beberapa tempat, air sungai dibendung. Sebagian mengalir ke parit, mengalirkan air ke sawa, ke ladang. Tapi air tetap dan terus mengalir. Membawa apa saja yang dibuang kepadanya. Menghanyutkan apa saja.”

Cak Dlahom sebentar berhenti. Seolah memberikan kesempatan kepada Nody dan Romlah untuk mencerna yang diucapkannya. Dia menyalakan rokok. Mengisapnya dalam-dalam.

“Semuanya dibawa oleh air. Dibawanya ke laut. Dan laut menerima semua pembuangan dari seluruh sungai. Dari mana saja. Dan kamu tentu tahu, air kotor itu, semuanya lalu menjadi bersih di laut. Airnya bersih dan membersihkan. Suci mensucikan. Semua yang hidup di dalamnya boleh kamu makan bila kamu mau. Kamu sudah tahu kan, Nod?”
“Dalem, Cak…”
“Apa yang menjadi bebanmu, menjadi pikiranmu, menjadi kecemasanmu, tidaklah seberat beban yang wajib dibawa oleh air, Nod. Air bahkan tak pernah mengeluh, tak pernah murung, tak pernah mencemaskan apa pun yang datang atau dibuang kepadanya.”
“Dalem, Cak…”
“Lalu apa yang kamu cemaskan, Nod? Mengalirlah seperti air. Bawa saja semuanya. Hadapi. Alirkan semuanya hanya menuju kepada Zat Pemelihara. Semata hanya kepada Dia. Tidak ada yang lain. Tidak kepada yang lain…”
“Maturnuwun, Cak…”

Romlah memotong suara Cak Dlahom. Cak Dlahom kembali mengisap kreteknya. Nody turun dari lincak, menghampiri mertuanya lalu mencium tangannya. Romlah menyusul suaminya. Mata Cak Dlahom berkaca-kaca. Sebentar lagi dia akan jadi kakek. Anak dari Romlah dan Nody.

“Terimakasih, Cak. Kami pamit mau masuk kamar. Mau tidur…”

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2017 oleh

Tags: airCak DlahomkotoranmandiRamadan
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

1.381 WBP Lapas Yogyakarta Dapat Remisi Lebaran 2026. MOJOK.CO
Aktual

1.381 Napi di Lapas Yogyakarta Berhasil Menang Lawan “Hawa Nafsu” hingga Dapat Remisi Saat Lebaran 2026

21 Maret 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.