MOJOK.CO – Trump dan Netanyahu sebaiknya memang berendam di air hangat saja, bukan ngajak perang. Biar syaraf mereka kendor dan nggak punya pikiran liar.
Saya pernah kehilangan kesadaran selama sepersekian detik saat menyetir di jalan bebas hambatan. Bukan karena kantuk, tapi karena serangan nyeri yang begitu luar biasa. Pandangan buyar, fokus hancur. Trigeminal Neuralgia (TN)—penyakit saraf yang oleh dunia medis dijuluki “penyakit bunuh diri”—sedang kumat wajah saya.
Minggu ini, awal Maret 2026, rasa sakit itu datang lagi. Di saat yang hampir bersamaan, politik dunia memanas: koalisi Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Mungkin Anda bertanya, apa hubungannya saraf dengan perang? Awalnya saya juga berpikir begitu, sampai saya menyadari satu hal: kebijakan luar negeri yang menentukan nasib jutaan nyawa sering kali lahir dari otak manusia yang—sama seperti saya—bisa korsleting karena rasa sakit dan tekanan biologis.
Kebijakan luar negeri tergantung ‘black box’ pemimpinnya
Dua dekade lalu saya didiagnosis dengan trigeminal neuralgia (TN), sebuah penyakit yang oleh dunia medis dijuluki “penyakit bunuh diri.” International Classification of Headache Disorders (ICHD-3) mendefinisikan trigeminal neuralgia sebagai serangan nyeri wajah yang parah, tiba-tiba, menusuk, dipicu oleh hal-hal sepele seperti berbicara, tersenyum, atau kena angin.
Rasa sakit ini membajak pikiran. Ketika TN menyerang, korteks prefrontal saya, yaitu bagian otak yang bertanggung jawab atas pertimbangan matang, kehilangan kendali. Amigdala saya, yaitu pusat deteksi ancaman, menjadi hiperaktif. Dunia saya menyempit, yang ada di pikiran saya hanya sekarang. Besok, lusa, tahun depan memudar. Yang terpenting adalah menghentikan rasa sakit, sekarang, dengan cara apapun.
Tiga dekade lalu saya mengenal teori-teori politik luar negeri di bangku kuliah. Salah seorang teman membuat skripsi tentang ‘black box’ dalam administrasi George H. W. Bush, presiden Amerika Serikat ketika itu. Konsepnya sederhana; untuk memahami kebijakan luar negeri, cukup mengamati input dan outputnya, berupa ancaman masuk dan kebijakan keluar.
Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam pemerintahan, tidak tahu apa yang ada di pikiran para pemimpin tersebut. Isi kotaknya yang berupa proses pengambilan keputusan, dinamika birokrasi, dan kondisi psikologis para pemimpin tidak diketahui sehingga tidak relevan.
Sejak lama para ilmuwan berusaha membuka ‘black box’ itu. Graham T. Allison (Essence of Decision, 1971), menunjukkan bahwa keputusan dalam Krisis Rudal Kuba tidak bisa dijelaskan hanya dengan melihat Amerika Serikat sebagai ‘aktor rasional.’ Keputusan itu adalah hasil tawar-menawar antar-birokrasi, prosedur operasi standar militer, dan ego para pejabat.
Lalu Roger Hilsman, yang menulis tentang pembuatan kebijakan luar negeri, menggunakan metafora yang indah dengan menyebut proses pengambilan keputusan bukan hanya ‘kotak hitam,’ tapi ‘kotak merah muda, ungu, coklat, dan biru’, karena masing-masing mewakili lensa analisis yang berbeda, seperti birokrasi, politik domestik, dan psikologi para pembuat keputusan.
Lebih jauh, tahun 1980-an dan 1990-an, para ahli seperti Robert Jervis dan Yaacov Vertzberger menunjukkan bahwa persepsi ancaman, toleransi risiko, dan bias kognitif para pemimpin sangat menentukan kebijakan luar negeri, bahkan terkadang lebih dari kepentingan nasional yang objektif.
Para ahli telah membuka kotak hitam dan menemukan isi yang memang kompleks: birokrasi, politik, psikologi. Tapi hampir semua ilmuwan di era itu melewatkan sesuatu. Yang tidak mereka temukan, bukan karena tidak ada tapi karena mereka tidak mencarinya, adalah tubuh.
Saya sudah mengalami beberapa kali MRI, tapi saya tidak butuh alat itu untuk tahu bahwa rasa sakit mengubah cara berpikir saya. Itu saya alami setiap hari.
Penelitian neuroscience kini mengkonfirmasi apa yang saya alami secara langsung. Korteks prefrontal (pusat pertimbangan matang) melemah di bawah tekanan kronis. Amigdala (pusat deteksi ancaman) menjadi hiperaktif, seolah semuanya terasa seperti ancaman. Dan, sumbu HPA (sistem respons stres) terganggu yang membuat kita sulit kembali tenang setelah terpicu.
Semua ini adalah biologis. Ini adalah cara otak mamalia bekerja ketika sedang dalam tekanan luar biasa. Dan ini terjadi pada saya, orang biasa yang hanya mengurus diri sendiri, bukan negara.
Trump, Netanyahu, Ali Khamenei bukti pemimpin adalah makhluk biologis
Sekarang bayangkan para pemimpin dunia mengalami ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menurut puluhan psikiater dalam buku The Dangerous Case of Donald Trump (2017) menunjukkan pola narsisisme toksik dan kemungkinan penurunan kognitif pada pada korteks prefrontal-nya ketika dia merasa terpojok di ruang sidang? Apakah keputusan menyerang Iran lahir dari strategi, atau dari amigdala yang overheat?
Benjamin Netanyahu, menurut analisis Prof. Shaul Kimhi dari Universitas Tel Aviv, memiliki kecenderungan paranoid dan ketidakmampuan mempercayai siapapun kecuali keluarga dekat. Apa yang terjadi pada sistem deteksi ancamannya ketika membaca laporan intelijen tentang Iran?
Ali Khamenei telah memimpin Iran di bawah tekanan sanksi, ancaman militer, dan isolasi internasional selama bertahun-tahun. Apa yang terjadi pada sistem sarafnya ketika dia memutuskan untuk membalas atau menahan diri? Meski bukti sedikit dan lebih bersifat spekulatif, ada sebuah opini di The Jerusalem Post menyinggung bahwa Khamenei menunjukkan ciri-ciri gangguan kepribadian antisosial.
Saya tidak tahu. Saya tidak pernah bertemu mereka. Tapi saya tahu rasa sakit. Dan saya tahu bahwa rasa sakit mengubah segalanya.
Selama ini saya membaca Hans Morgenthau, Henry A. Kissinger, dan teori-teori perang dingin. Kini ada teori kontemporer yang menyatukan tubuh dan politik. Nayef Al-Rodhan, seorang filsuf dan ilmuwan saraf, mengajukan Symbiotic Realism dalam jurnal Frontiers in Political Science (2025). Argumennya: semua teori hubungan internasional selama ini hanya berspekulasi tentang sifat manusia.
Kini, secara empiris, ilmu saraf bisa memberitahu kita bagaimana otak manusia benar-benar bekerja. Menurutnya, semua keputusan, termasuk keputusan perang dan damai, dibuat oleh otak yang secara biologis terbatas, dipengaruhi oleh emosi, kelelahan, rasa sakit, dan status. Tidak ada ‘aktor rasional’ yang murni, yang ada hanya aktor biologis.
Jika kita ingin memahami mengapa negara bertindak, kita harus memahami tubuh para pembuat keputusan. Secara tidak langsung, temuan ini mengatakan para pemimpin dunia dan pembuat keputusan adalah manusia biasa. Mereka adalah makhluk biologis, seperti halnya saya, dan kita semua.
Presiden Prabowo juga manusia
Jika ingin menarik ke dalam negeri, dalam konteks peran Indonesia dan pemerintahan Prabowo Subianto dalam menyikapi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, relevansi temuan antara hubungan tubuh dan politik sangat kuat. Indonesia adalah negara yang hidup dari ketergantungan energi. Ketika Selat Hormuz terganggu oleh perang maka harga minyak melonjak. Inflasi mengancam, dan ekonomi goyah. Keputusan para pemimpin di Washington, Tel Avis, dan Teheran mungkin dibuat dalam keadaan lelah, sakit, atau tertekan, pada akhirnya mempengaruhi harga beras di Pasar Senen.
Presiden Prabowo juga manusia yang bisa lelah dan stres. Dia juga punya hari-hari buruk. Ketika mengatakan ingin menjadi mediator AS/Israel dengan Iran, kita perlu bertanya bagaimana kondisi tubuh beliau saat gagasan itu dibuat?
Apakah tidurnya cukup? Apakah pemerintahannya sedang dalam tekanan politik yang luar biasa? Kita tidak perlu menjadi psikolog klinis untuk bertanya. Kita hanya perlu berhenti menganggap pemimpin sebagai kotak hitam dan mulai melihat mereka sebagai manusia biologis.
Metafora ‘kotak hitam’ diperkenalkan oleh David Easton ke dalam ilmu politik enam puluh tahun lalu. Input masuk, output keluar, dan apa yang terjadi di dalam tidak perlu kita pedulikan. Lalu, generasi berikutnya membuka kotak itu dan menemukan birokrasi, politik, dan psikologi di dalamnya.
Trump dan Netanyahu harusnya berendam air panas untuk meredam syaraf liar mereka
Kini, ilmu saraf, dan pengalaman pribadi saya, menunjukkan bahwa kotak itu masih menyimpan satu rahasia lagi. Di dasar kotak itu, ada tubuh, ada saraf, ada rasa sakit, dan ada kelelahan. Ada amigdala yang menjerit minta tolong. Ada korteks prefrontal yang kehabisan energi. Ada manusia yang sedang berusaha bertahan.
Perdamaian dunia ternyata tidak hanya bergantung pada ideologi atau kepentingan nasional, tapi juga pada ketenangan saraf-saraf di kepala para pemegang kuasa. Kata dokter saraf saya: kalau sedang sakit atau tertekan, cobalah berendam air hangat.
Mungkin itu yang lebih dibutuhkan Trump dan Netanyahu saat ini. Bukan menekan tombol rudal yang menghancurkan peradaban, melainkan menekan tombol keran. Berendamlah sejenak. Redam saraf-saraf liar itu. Karena perang tak pernah menyelesaikan apa pun, tapi air hangat—setidaknya bagi saya—meredam dan mengendorkan syaraf.
*) Opini ini tidak menggambarkan perilaku penderita trigeminal neuralgia secara keseluruhan. Pengidap trigeminal neuralgia lain mungkin memiliki pengalaman berbeda karena setiap tubuh memiliki respon yang berbeda terhadap penyakit.













