Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Membakar Surga Menyiram Neraka

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
6 Juli 2015
A A
Membakar Surga Menyiram Neraka

Membakar Surga Menyiram Neraka

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjelang sahur, semakin banyak orang yang berkerumun di depan pagar tembok masjid kampung. Orang tua, anak-anak, laki-laki dan perempuan jadi satu. Mereka menyaksikan Cak Dlahom yang  terlihat berlari bolak-balik di jalan kecil di depan masjid. Dia melakukannya sejak habis tarawih, dan orang-orang kampung tak percaya Cak Dlahom akan berlari selama itu.

Keringat mengucur deras di sekujur tubuh Cak Dlahom. Mengalir dari rambutnya. Menetes ke hidung dan pipinya. Napasnya terdengar ngos-ngosan. Dia tak peduli menjadi tontonan orang-orang dan terus berlari. Dua tangannya juga bergantian memegang obor bambu.  Dari mulutnya terdengar, “Celaka…Celaka…”

Iklan

Ketika waktu sahur digantikan subuh, dan orang-orang mulai salat di masjid, Cak Dlahom tak berhenti berlari dengan obornya. Ketika jamaah selesai salat dan mulai terdengar berzikir, dia malah mengencangkan suaranya. “Celaka… Celaka…”  Suaranya itu seolah sengaja diarahkan ke masjid dan memang setiap kali sampai di depan pagar masjid, Cak Dlahom menoleh ke masjid sambil berseru “celaka” itu.

Mat Piti yang sejak malam sudah tahu dan melihat tingkah Cak Dlahom akhirnya tidak tahan juga. Turun dari masjid dia menghampiri Cak Dlahom dan mengajaknya pulang. Cak Dlahom, tumben nurut. Mungkin karena dia juga kecapekan. Dan di sepanjang jalan menuju rumahnya, Mat Piti mencoba bertanya pada Cak Dlahom.

“Ada apa lagi, Cak? Kok setiap hari kayaknya ada masalah?”

“Orang-orang di masjid itu celaka, Mat…”

“Mereka beribadah lho, Cak. Bukan mencari celaka…”

“Mereka celaka, Mat.”

“Salat dan beribadah kok celaka. Gimana sih, Cak?”

“Tidak ada perbuatan baik yang diancam neraka kecuali salat, Mat.”

“Iya,  Cak, salatnya orang-orang yang lalai.”

“Nah, pinter kamu.”

“Tapi kita kan ndak tahu, apakah mereka lalai atau tidak, Cak?”

“Siapa sih yang memelihara Sarkum, anaknya almarhum Bunali?”

“Kan ada ibunya, Cak?”

“Istrinya Bunali kerja apa, Mat?”

“Pembantu di rumah Pak Lurah, Cak…”

“Sarkum tidak melanjutkan sekolah, karena ibunya hanya pembantu. Dia juga terjerat utang, dan kamu ndak tahu kan, Mat?”

Iklan

“Dia kan dapat upah dari Pak Lurah, Cak?”

“Mereka hidup kekurangan, Mat. Dan para tetangganya hanya sibuk beribadah di masjid.”

“Beribadah kan wajib, Cak?”

“Oh tentu saja, tapi ketika beribadah, salat itu, apa sebetulnya yang kamu harapkan, Mat?”

“Ya surganya Allah, Cak, dan berlindung dari neraka-Nya.”

“Terus setelah kamu mendapat surga, kamu akan apakan anak Bunali dan istrinya?”

“Setiap orang kan bawa takdirnya masing-masing, Cak?”

“Itulah masalahmu, Mat…”

“Masalah gimana sih, Cak? Kan wajar, Cak?”

“Wajar menurutmu, Mat.”

“Lah terus?”

“Karena kamu beribadah, salat, puasa, berzakat dan berhaji, lalu apa kamu merasa berhak atas surga?”

“Seharusnya begitu, Cak…”

“Mat, surga dan neraka itu makhluk. Tak pantas kamu harapkan.”

“Maksudnya, Cak?”

“Derajat surga dan neraka itu, tidak lebih mulia dan lebih teruk darimu.”

“Ya gimana ya, Cak…”

“Andai pun engkau berhak terhadap surga atau malah berhak atas neraka, tempatmu di sana tidak akan berkurang atau bertambah oleh apapun, termasuk oleh ibadahmu.”

“Jadi saya ndak perlu beribadah gitu? Ndak perlu salat dan sebagainya?”

“Jangan dirikan salat kalau kamu tak tahu siapa yang kamu sembah. Kalau kamu melakukannya juga, kamu seperti memanah burung tapi tanpa melepas anak panah dari busurnya. Sia-sia karena yang dipuja hanya wujud khayalmu.”

“Iya, Cak… Iya.”

“Salatmu dan sebagainya itu urusanmu dengan Allah. Tapi Sarkum yang yatim, dan ibunya yang kere, mestinya adalah urusan kita semua.”

“Dua-duanya mesti jalan, Cak?”

“Lalu kenapa Sarkum tidak bisa sekolah dan kelaparan, dan ibunya yang janda terlilit utang?”

“Jadi apa yang harus saya lakukan, Cak?”

“Orang-orang itu baru punya harta dan kekayaan saja sudah enggan bersedekah. Bagaimana kalau mereka kere dan melarat?”

“Ya, ya, saya paham, Cak. Biar saya dan Romlah yang mengurus Sarkum dan ibunya.”

“Baguslah, Mat…”

“Saya  mengerti sekarang, sampeyan lari-lari bawa obor, maksudnya ingin membakar surga yang diharapkan oleh orang-orang yang beribadah itu kan, Cak?”

“Kamu mulai pintar, Mat…”

“Terus yang kemarin, sampeyan bawa ember ke masjid mau menyiram neraka? Gitu?”

“Kamu sudah mengerti…”

“Nah itu yang jadi masalah, Cak.”

“Masalah gimana, Mat?”

“Air seember kemarin sampeyan apakan?”

“Aku siramkan ke lantai masjid…”

“Ya itu masalahnya, Cak. Pak Lurah kemarin jatuh terpeleset di masjid gara-gara air yang sampeyan siramkan.”

 

(diinspirasi dari Kitab Suluk Linglung dan kisah-kisah tentang Rabiah al Adawiyah)

 

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: #MerconCak DlahomMat Piti
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

Ramadan, Puasa, dan Nostalgia bersama Irfan Afifi & Hairus Salim

Ramadan, Puasa, dan Nostalgia bersama Irfan Afifi & Hairus Salim

30 April 2021
Politisi Mercon Isu PKI yang Mulai Mejan Gara-gara Pandemi

Politisi Mercon Isu PKI yang Mulai Mejan Gara-gara Pandemi

27 September 2020
Tradisi Balonan pas Riyaya MOJOK.CO

Tradisi Balonan pas Riyaya kang Mbebayani

19 Juni 2019

Aja Kakehan Nyumet Mercon

15 Mei 2019
Ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo Diduga Bom

Mari Beraksi dengan Mercon Busi

16 Juni 2017
julia_perez_mojok

Selamat Jalan, Julia Perez

11 Juni 2017
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.