Fizi, gambaran orang miskin yang mulutnya pingin ditabok
Tragisnya, kesadaran ekonomi macam Mail ini berbanding terbalik 180 derajat dengan Fizi. Dalam serial animasi Upin dan Ipin, keliatan sekali jika Fizi merupakan representasi orang yang miskin papa, tapi mulutnya kepengen ditabok. Dalam banyak episode, dia tidak bisa menjaga omongan sehingga membuat temannya sakit hati.
Pertanyaannya, kenapa Fizi begitu senyablak? Kenapa ia begitu mudah melontarkan komentar yang menyakiti teman-temannya, termasuk Upin dan Ipin yang yatim piatu?
Jawabannya bisa kita cek via analisisnya Karl Marx. Dimana dalam teori Marxis, Fizi dalam hal ini mengalami kesadaran palsu (False Consciousness). Fizi direpresentasikan sebagai anak dari kelas bawah atau proletar.
Namun, alih-alih membangun solidaritas kelas bareng Upin-Ipin dan teman-temannya yang sesama orang susah (Class Solidarity), Fizi justru memilih buat menjadi antek-antek alias ngebabu buat si “borjuis kecil” yang dalam hal ini adalah Ehsan.
Kesadaran palsu Fizi yang dekat dengan orang kaya dan merendahkan teman-temannya
Kalau kita menonton serial Upin Ipin, Fizi selalu ngikutin dan ngekor di belakang Ehsan demi kecipratan kemewahan yang ia punya.
Ia ikut menikmati berbagai fasilitas yang dimiliki sahabatnya itu, mulai dari makanan enak, jalan-jalan, hingga mencoba mainan-mainan mahal yang tidak dimiliki anak-anak lain di Kampung Durian Runtuh.
Demi diterima di lingkaran borjuis kecil itu, Fizi kemudian meluapkan rasa amannya dengan cara merendahkan sesama kelas bawah via mulutnya yang minta ditabok tersebut.
Kita bisa melihatnya saat ia mengejek Upin dan Ipin karena tidak memiliki orang tua, atau ketika komentarnya pada ulang tahun Mei Mei membuatnya sempat diusir dari acara tersebut. Mulut Fizi yang sering bikin ingin ditabok itu seolah menjadi cara untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi daripada teman-temannya yang lain.
Fizi seakan percaya, bahwa bersama Ehsan yang punya kuasa, maka ia bisa ketularan naik kelas dan punya privilese buat ngebuli bocil-bocil lain di lingkaran pertemanannya. Padahal mah enggak.
Di situlah letak apa yang disebut Karl Marx sebagai false consciousness atau kesadaran palsu. Fizi tidak menyadari posisinya sendiri, lalu memilih meniru cara pandang kelompok yang lebih dominan. Alih-alih bersolidaritas dengan sesama anak kampung, ia justru mereproduksi pola merendahkan yang selama ini menguntungkan kelompok yang lebih beruntung darinya.
Secara halus, mulutnya Fizi yang rasanya kepengen ditabok itu dan bagaimana Flexing Ehsan yang sering ujar “Daddy aku beli…” itu adalah produk dari alienasi sosial yang muncul di layar kaca kita.
Tontonan ini sukses menjadi konsumsi bocil-bocil sembari disuapin sama emak-bapaknya di rumah setiap hari. Relasi sosial timpang yang sebenarnya juga hadir di dalam realitas kehidupan nyata, namun dibungkus dengan nyaman via serial animasi nan lucu dan menggemaskan. Anjay.
Penulis: Aditia Muara Padiatra
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Meski Muak, Akui Saja Kita Bersemangat Dengar Teori Konspirasi Upin Ipin dan Teori Konyol Serupa dan tulisan lainnya di kanal Esai.














