Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kritik untuk Jogja: Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan

Yang terjadi saat ini adalah Jargon “Jogja Ora Didol” menjadi “Jogja Sold Out”.

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
7 Juni 2023
A A
Kritik untuk Jogja Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan MOJOK.CO

Kritik untuk Jogja Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apakah Jogja sudah sedingin batang pisang yang dingin dan kaku? Padahal, inilah bentuk sejati, paling paripurna dari mencintai: kritik!

Di depan teras, saya menatap langit malam yang mulai bertabur bintang. Sepertinya musim kemarau sungguh datang. Udara mulai dingin, bediding kalau kata mendiang eyang saya. Sembari mengisap rokok, saya melempar pikiran dan muhasabah diri. Sembari mengingat dua tahun terakhir saya terus melempar kritik ke Jogja. Apakah seluruh kritik saya membuahkan hasil?

Isapan terakhir menutup muhasabah diri dadakan ini. Sampai saya berani menarik kesimpulan bahwa Jogja adalah medan laga yang tidak akan bisa dimenangkan. Setajam dan sekeras apapun kritik yang dilempar. Seperti guratan takdir, kritik pada provinsi ini akan berakhir tragis. Siapa saja yang melempar kritik, mereka hanya menerima patah hati. Entah Anda seorang pakar, budayawan, apalagi orang biasa.

Mengapa tiba-tiba saya menjadi pesimis? Apakah Jogja sudah sebebal itu pada kritik? Atau sudah tidak perlu dikritik? Mungkin daerah ini memang tidak benar-benar bermasalah? Dan hanya saya dan segelintir orang yang kelewat sepaneng menghakiminya?

Apalah arti kritik bagi kedigdayaan Jogja

Tentu provinsi ini tidak pernah bebas dari kritik. Tapi, jargon “Jogja Ora Didol” bisa dianggap sebagai batu penjurunya. Kritik terhadap pembangunan hotel yang masif menjadi hal baru bagi masyarakat. Setelah banyak elemen bersatu mendukung keistimewaan, muncul suara sumbang. Seruan pembangkangan ini tentu menimbulkan polemik. Sebagian mendukung, dan tentu saja sebagian menolak.

Kemudian gelombang kritik makin santer menerjang. Dari perkara izin tambang pasir, sampai pembangunan Bandara YIA. Konflik Sultan Ground mulai muncul meramaikan suasana. Isu makin meluas, dan perkara UMR ikut menjadi narasi utama. Isu rasial menyumbang pertumpahan darah. Belum lagi kemunculan klitih yang menambah kritik terhadap situasi sosial dan keamanan daerah istimewa ini. Dan semua dibungkus bau busuk isu penanganan sampah yang sempat viral.

Namun apa yang terjadi? Betul, tidak ada! Jargon “Jogja Ora Didol” menjadi “Jogja Sold Out”. Warga Temon sukses tergusur oleh bandara internasional. Tambang pasir masih berjalan, berbarengan dengan konflik Sultan Ground. UMR masih menyedihkan dan terus jadi lelucon satu negara. Isu ras. Perkara klitih? Buktinya masih saja ada usulan untuk pakai outfit baju zirah kalau keluar malam.

Apalah arti kritik yang sudah hampir satu dekade mulai digaungkan itu? Memang, kritik makin lantang dan sumbang terdengar. Meskipun hanya didengarkan oleh dinding benteng Baluwarti yang dingin tanpa pernah bisa menggores romantisnya Jogja yang sekeras kayu adam.

Pandemi saja tidak mampu menegur

Tapi Jogja tidak selalu baik-baik saja. Covid-19 menghantam telak daerah istimewa ini. Pandemi seluruh dunia menjadi teror baru yang tidak pandang bulu. Mau keluarga keraton atau supir becak bisa jadi korban. Bahkan Jogja sempat bertengger sebagai “daerah hitam” pandemi dengan angka positif yang mengerikan.

Jogja jelas “dirudapaksa” oleh pandemi. Dalam sekejap, provinsi ini menjadi sunyi sepi. Pariwisata lumpuh dan para mahasiswa memilih pulang kampung sebelum diblokade. Banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup paling dasar seperti makan sehari-hari. Puncaknya adalah tragedi “Sardjito Kelabu” di mana puluhan orang meregang nyawa dalam semalam karena kehabisan oksigen.

Kritik kembali dilayangkan terhadap sikap dan keputusan pemerintah. Terutama perkara pengalokasian Dana Keistimewaan (Danais) sebagai dana penanganan pandemi. Baik untuk pengadaan area karantina, bantuan pangan, sampai bantuan untuk UMKM. Dan sekali lagi, kritik dibalas tindakan yang entah. Bantuan pangan dilakukan warga secara swadaya, bantuan UMKM jadi pinjaman, dan usulan dana penanganan pandemi dari jimpitan.

Kok bisa? Ini daerah istimewa! Ketika ada dana dingin bernilai Rp1 triliun lebih, solidaritas masyarakat malah jadi sumber keselamatan banyak orang. Tapi inilah kasunyatan yang membuat ati kemropok.

Baca halaman selanjutnya….

Jogja Istimewa tanpa political will

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2023 oleh

Tags: bandara YIACOVID-19Jogjaklitih jogjars sardjitoumr jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.