Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kolom: Gerak Jatuh dengan Gesekan

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
21 Juni 2020
A A
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO

Ilustrasi Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gerak jatuh bebas adalah gerak jatuh tanpa adanya gesekan. Gaya yang bekerja pada benda yang jatuh hanyalah gaya gravitasi. Pada praktiknya, keadaan itu cuma terjadi bila benda jatuh dalam ruang hampa. Sementara di dekat permukaan Bumi tidaklah hampa, selalu ada udara. Karena itu gerak jatuh bebas sejatinya tidak benar-benar ada. Tapi memang dalam banyak kasus gaya gesek itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan gaya gravitasi yang bekerja pada benda, sehingga gaya gesek bisa diabaikan, sehingga benda dianggap jatuh bebas saja.

Bagaimana bila gesekan dengan udara cukup besar sehingga tidak lagi bisa diabaikan? Dalam hal ini akan bekerja 2 gaya (ini pun sebenarnya penyederhanaan), yaitu gaya gravitasi ke bawah dan gaya gesek ke atas. Gaya gesek ditentukan oleh kerapatan udara dan luas penampang benda yang jatuh. Makin rapat udaranya, makin besar gaya gesek. Demikian pula, makin besar luas penampang benda, makin kuat pula gaya gesek benda dengan udara.

Apa yang terjadi saat benda jatuh sehingga ada gaya gesek? Udara terdiri dari partikel-partikel kecil, yaitu molekul-molekul gas penyusun udara, yaitu nitrogen, oksigen, hidrogen, karbon dioksida, dan sebagainya. Molekul-molekul itu bergerak bebas. Benda yang jatuh itu bertabrakan dengan molekul-molekul tadi. Kalau dihitung gaya yang dihasilkan dari tumbukan benda dengan molekul, tentu sangat kecil. Tapi jumlahnya sangat banyak sehingga gaya yang dihasilkan tumbukan pun tidak kecil.

Gaya tumbukan ditentukan oleh kecepatan benda yang bertumbukan. Makin cepat benda jatuh, makin besar gaya gesek yang dihasilkan. Ketika benda mulai jatuh, kecepatannya belum besar. Gaya gesek pun kecil saja. Sembari jatuh, benda mengalami percepatan. Karena kecepatannya bertambah, maka gaya gesek pun bertambah. Gaya gesek ini mengurangi kecepatan. Jadi, semakin cepat benda jatuh, makin besar perlambatan yang ditimbulkan oleh gaya gesek.

Apa akibatnya? Kalau luas penampang benda kecil, meskipun benda bergerak sangat cepat, gaya gesek akan kecil saja. Akibatnya, gaya (dan sekaligus percepatan) ke arah bawah tetap jauh lebih besar dibandingkan dengan gaya gesek (dan perlambatan) ke arah atas. Hasil akhirnya, benda tetap jatuh seakan tak ada gesekan dengan udara.

Tapi kalau luas penampang benda besar ceritanya akan lain. Gaya gesek akan terus meningkat seiring dengan kecepatan benda jatuh. Lalu suatu saat akan tercapai keseimbangan, yaitu gaya gesek menyamai gaya berat atau gaya tarik gravitasi. Akibatnya, tidak ada gaya resultan yang bekerja. Dalam keadaan ini berlakulah Hukum Newton I, yaitu benda akan bergerak lurus kalau tidak ada gaya resultan yang bekerja padanya. Akibatnya benda akan jatuh dengan kecepatan tetap, yaitu kecepatan saat keseimbangan tadi tercapai. Kecepatan tetap ini disebut terminal velocity.

Contoh nyata terminal velocity bisa kita saksikan pada orang yang terjun payung. Parasut penerjun punya luas penampang yang cukup besar untuk menghasilkan gaya gesek yang besar. Usai melompat dari pesawat parasut yang terkembang segera mengalami gaya gesek. Penerjun bergerak ke bawah, mengalami gerak dipercepat untuk beberapa saat, kemudian segera mencapai terminal velocity, jatuh dengan kecepatan tetap.

Gambaran di atas adalah kejadian dalam kasus terjun memakai parasut bulat yang merupakan standar militer. Dalam kasus terjun bebas (sky dive) ceritanya lain lagi. Penerjun mula-mula tidak mengembangkan parasut, hanya jatuh bebas. Di sini peran hambatan udara terlihat sangat jelas. Kalau hendak jatuh agak lambat, penerjun mendatarkan tubuh, membesarkan luas penampang tubuhnya. Kalau mau jatuh lebih cepat, ia menegakkan tubuhnya sehingga luas penampang menjadi lebih kecil. Ia akan meluncur jatuh lebih cepat.

Parasut sky dive berbeda dengan parasut bulat. Parasut ini bisa diatur sehingga luas penampang gesekan bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan. Dengan cara itu penerjun bisa mengatur kecepatan jatuhnya. Ia bisa jatuh perlahan, bisa pula meluncur dengan cepat.

Gaya gesek udara, sekali lagi, tergantung pada kecepatan. Benda-benda berkecepatan sangat tinggi menghasilkan gaya gesek yang sangat besar. Demikian besar sehingga gesekan itu menghasilkan panas yang sangat tinggi. Benda-benda ruang angkasa yang jatuh, masuk ke atmosfer Bumi terbakar oleh gaya gesek yang ditimbulkan antara benda itu dengan udara dalam atmosfer Bumi. Banyak meteor yang musnah terbakar saat masuk ke atmosfer Bumi.

Pesawat ulang-alik terbang dengan kecepatan sangat tinggi. Gaya gesek udara dengan bagian luar tubuh pesawat juga sangat besar. Mirip dengan meteor tadi, gaya gesek itu membakar bagian luar pesawat. Karena itu bahan pesawat ulang alik itu dibuat sangat khusus agar mampu bertahan terhadap panas tinggi yang dihasilkan dari gesekan tadi.

BACA JUGA Gerak Jatuh Bebas dan esai sains Hasanudin Abdurakhman lainnya di kolom TEMAN SEKELAS. 

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2020 oleh

Tags: gaya newtongerak jatuhparasutteman sekelasTeman Sekelas
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO
Kolom

Kolom: Gerak Dua Dimensi

28 Juni 2020
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO
Kolom

Kolom: Gerak Jatuh Bebas

14 Juni 2020
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO
Kolom

Kolom: Gerak Relatif (2)

7 Juni 2020
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO
Kolom

Kolom: Kecepatan dan Percepatan

31 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.