Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kolom: Duaribu Duapuluh

Mahfud Ikhwan oleh Mahfud Ikhwan
27 Desember 2020
A A
merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya seharusnya menuliskan angka, 2020, tapi saya ingin melihatnya tampak istimewa dan tak akan dipertukarkan dengan angka-angka tahun lainnya, baik yang sebelumnya maupun yang akan datang. Tapi saya tak hendak menuliskannya dengan ejaan standar yang dianut oleh editor media tempat kolom ini tayang, Dua Ribu Dua Puluh, karena itu terlihat terlalu panjang dan bertele-tele. Saya pikir, itulah gambaran perasaan saya atas tahun ini.

Punya kolom sendiri, menulis dua ribu kata setiap akhir pekan, menyanggupi hal yang biasanya tak bisa disanggupi dan mampu, mendapat satu-dua pembaca baru yang menunggu, saya rasa itu bukan hal yang terlalu buruk bagi seorang penulis. Tapi bukan itu yang membuat saya lega di akhir tahun ini.

Nyaris sepanjang tahun kita hidup dalam kegentingan, perasaan tercekam, selalu merasa mesti siap sedia, waspada, bahkan ketakutan, dengan berita duka bertubi-tubi menimpa orang-orang yang kita kenal atau orang-orang di sekitar orang-orang yang kita kenal atau orang yang tidak kita kenal namun begitu penting bagi hidup kita. Dan, dalam keadaan demikian, orang macam saya masih bisa mengeluhkan hal remeh-temeh, membicarakan persoalan-persoalan tak signifikan, bahkan kadang tak membicarakan apa pun selain diri sendiri dan itu pun tak terlalu penting… maka, apa lagi yang diminta? Menjadi terasa nyata di tahun ini bahwa nikmat terbesar seorang penulis adalah masih terus bisa menulis. Oleh karenanya, saya harus bilang, dalam arti paling menguatkan, ini adalah masa yang sangat istimewa.

Tapi, bagaimanapun, ini adalah tahun yang seharusnya kita diberi sejenis kortingan; ini saat-saat yang begitu berat, dan sebagian dari kita kolaps—kehilangan pekerjaan, kehilangan rencana dan cita-cita, kehilangan orang tercinta, atau bahkan yang lebih subtil, katakanlah semacam, kehilangan harapan. Kita sekecil itu rupanya, selemah itu: di depan wabah, di depan alam yang membuat perhitungan, kita cuma hewan melata; kita adalah cacing kepanasan yang diguyur air sisa cucian. Dengan sisa-sisa daya, di tengah sedikit sisa-sisa pengharapan yang ternyata tak cukup kuat untuk jadi pegangan, yang bisa kita gumamkan cuma sejenis doa separoh putus asa: “Mbok sudah, cukup, hop!” Dan ketika terang di ujung lorong itu masih terlihat terlalu jauh dan terlalu kecil, dan kita masih terus meraba-raba dinding gelap yang bahkan belum tentu itu dinding, setidaknya kita sekarang berada di pengujung tahun yang amat menguji dan menguras kesabaran ini. Kita belum benar-benar keluar, ya, tapi bolehlah kita berhenti sejenak mengambil semacam jeda.

***

Saya tak biasa menjadikan pergantian tahun sebagai sesuatu yang mesti dihitung dan karena itu mesti dirayakan, juga sangat payah dalam hal menjadikan 12 bulan/365 hari itu sebagai kesadaran dan acuan waktu. (Saya membenci pesta tahun baru, dan saya tak antusias dengan segala tetek bengek tentang ulang tahun, dan menjaga diri dari segala kecengengan yang melekat kepadanya.) Tapi, untuk tahun ini, saya merasa perlu untuk sedikit berdamai. Saya ingin sedikit membuat semacam revisi.

Sebagai penggila bola, sesekali mungkin saya perlu memakai tahun sepakbola sebagai acuan: setiap setahunnya adalah satu musim kompetisi, dengan satu pemenang di akhir musim. Anda kalah di musim ini, dan mungkin di musim-musim sebelumnya, tapi setiap dimulainya musim baru Anda berhak membuat harapan baru, sekecil apa pun itu, sebab poin dimulai dari nol lagi.

Di akhir tahun ini, kita boleh jadi tak lebih dari tim gurem yang selamat dari degradasi di beberapa pertandingan terakhir kompetisi, dengan kondisi compang-camping, sebagian besar pemain cedera dan kehabisan stamina, mungkin dengan kondisi finansial memprihatinkan, dan boleh jadi kita tak punya manajer di pinggir lapangan—ia, mungkin saja, diam-diam melipir pergi setelah merasa tak mungkin bisa menyelamatkan kita, dan memilih menyelamatkan diri sendiri. Tapi, toh, kita selamat. Dan, seburuk apa pun kondisi kita, kita berhak memulai lagi.

“Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, nyaris putus asa—yang jika kita mendengarnya di sepanjang tahun ini, kalimat itu benar-benar terdengar sama sekali tanpa pengharapan. Tapi saya pikir, setidaknya, menunda adalah kata kerja; ia, bagaimanapun, juga sebentuk ikhtiar, mungkin dari upaya yang paling kecil dan paling penghabisan. Maka, berhasil mengupayakannya, dan itu berarti terus mengupayakannya, patut juga dirayakan.

Kita mungkin tak akan juara di pengujung musim, dengan piala atau trofi di kuade, dengan medali di leher, dengan konfeti bertaburan dan kembang api berhamburan, tapi terus bertahan, terus menunda kekalahan, adalah juara itu sendiri.

***

Tahun 1999, Jimmy Glass, seorang kiper cadangan pinjaman yang baru direkrut agak terlambat, dan nyaris tak dikenal oleh rekan setimnya, menyelamatkan Carlisle United, klub di divisi empat Inggris, dari terjungkal ke sepakbola amatir. Ia tak menyelamatkan gawang sendiri sebagaimana seorang kiper, melainkan mencetak gol ke gawang lawan layaknya seorang striker. Melawan Plymouth Argyle, Carlisle hanya punya 10 detik lagi untuk memenangkan pertandingan, dan hanya itulah satu-satunya cara mereka menyelamatkan diri dari degradasi. Ketika di detik-detik terakhir Carlisle mendapatkan sepak pojok, Glass meninggalkan kotak penaltinya untuk maju menuju kotak penalti lawan. Dan sedetik ke depan, menyeruak di antara kerumunan 21 pemain lain, ia menyepak bola muntah dari kiper lawan, dan masuk, dan menyelamatkan klub yang baru diperkuatnya hanya dalam tiga pertandingan. Seluruh penonton di stadion tumpah ke lapangan, dan Jimmy Glass digotong di atas pundak ratusan orang, dielu-elukan sebagai pahlawan. Lalu, layaknya pahlawan-pahlawan di komik, setelah kisah penyelamatan yang gemilang itu, Jimmy Glass menghilang tanpa kabar. Hingga sekarang, kisah Jimmy Glass dianggap sebagai salah satu keajaiban sepakbola.

Meski saya sering mengatakan bahwa sepakbola seperti hidup (dan saya tak jarang betul-betul melihat hidup saya seperti itu), saya harus bilang bahwa Jimmy Glass hanya ada di sepakbola, tidak di kehidupan nyata—maksud saya, yang benar-benar nyata. Ia tak bisa diharapkan kedatangannya, dan lebih baik kita tak mengharap kedatangannya. Anda harus menyelamatkan diri dari kebobolan, sering kali sendirian, dan Anda juga yang mesti maju ke depan, mengambil sekecil apa pun kesempatan, untuk Anda sendiri. Bahkan itu masih bukan berarti kemenangan, apalagi juara, melainkan sekadar untuk tetap bisa bertahan—seperti tim gurem macam Carlisle. Bahkan, itu boleh jadi tak sepenuhnya berhasil—seperti Jimmy Glass sendiri, yang pensiun di usia 27 karena tak ada klub yang mempekerjakannya.

Selamat Tahun Baru 2021, terutama untuk Anda yang selamat di tahun 2020.

Iklan

BACA JUGA Berbeda dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN. 

Terakhir diperbarui pada 27 Desember 2020 oleh

Tags: 20202021rebahansepakbolaTahun Baru
Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan

Novelis. Pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Pemenang pertama Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Novel-novelnya yang sudah terbit adalah "Ulid", "Kambing dan Hujan", dan "Dawuk". Pencinta sepak bola dan film India.

Artikel Terkait

Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO
Hiburan

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Dari Jogja ke Solo naik KRL pakai layanan Gotransit dari Gojek yang terintegrasi dengan GoCar. MOJOK.CO
Liputan

Sulitnya Tugas Seorang Influencer di Jogja Jika Harus “Ngonten” ke Solo, Terselamatkan karena Layanan Ojol

1 Desember 2025
Tahun Baru di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

Mereka yang Memilih Menyingkir dari Keramaian Jogja saat Libur Nataru

27 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.