Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kisah Nabi Zakariya dan Ilustrasi Rumi soal Doa

Muhammad Zaid Sudi oleh Muhammad Zaid Sudi
2 Mei 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kisah Nabi Zakariya adalah kisah tentang ketegaran dan kesabaran. Hingga di usianya yang senja ia belum juga dikarunia putra.

Ada yang menyebut saat itu usia Nabi Zakariya sudah 120 sementara istrinya 98 tahun. Ia telah mengharapkan kehadiran seorang anak sejak menikah di usia 20 tahun. Namun harapan Zakariya tak pernah goyah.

Salah satu doa Nabi Zakariya direkam dalam Al-Qur’an adalah, “Qala rabbi inni wahanal ‘adhmu minni wasyta’lar ra’su syaiban walan akun bidua’ika rabbi syaqiyya.” 

Nouman Ali Khan mendeskripsikan kekuatan dan kelembutan doa tersebut dengan mengulas kata syaqiyya yang dipilih oleh Nabi Zakariya. Kata itu mengandung banyak makna. Ia bisa bermakna kecewa, tertekan, atau terburu-buru ingin segera dikabulkan.

Jadi, kalau diterjemahkan barisan doa tersebut menjadi, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban. Dan aku tidak pernah kecewa, merasa tertekan, atau tergesa-gesa agar segera Kau kabulkan permintaanku dalam berdoa kepada-Mu.” 

Jika doa adalah cermin rohani, maka kita bisa melihat betapa kuat dan sabar seorang Zakariya. Kita barangkali tidak memiliki ketabahan itu. Ketika berdoa kita umumnya menyelipkan harapan dan desakan agar permohonan kita lekas dikabulkan. Seminggu, sebulan, setahun rasanya terlalu lama. Lalu kita kecewa ketika merasa doa-doa kita tampaknya tidak digubris oleh Tuhan.

Berbeda dengan Nabi Zakariya, kita sering menganggap doa, meminjam istilah Kang Jalal, sebagai lampu Aladin yang dengan sekali atau dua kali usap lalu muncul jin yang siap melaksanakan perintah. Kita memperlakukan doa sebagai lampu ajaib dengan Tuhan sebagai jin.

Melalui doanya Nabi Zakariya tidak saja mengajarkan tentang kesabaran tapi juga tata krama di hadapan Allah. Dalam berdoa kita adalah hamba yang meminta, bukan orang yang mengacungkan perintah  dan mendiktekan ini itu kepada jin.

Bahkan Tuhan telah memenuhi sebagian besar kebutuhan kita tanpa kita harus meminta. Betapa repotnya jika untuk bernapas, melihat, mendengar, berbicara, tertawa, berjalan dan aktivitas-aktivitas lainnya kita harus meminta terlebih dahulu.

Cara menempatkan diri dalam hubungan dengan Tuhan mempengaruhi sikap kita dalam berdoa. Kita jadi gampang kecewa kepada Tuhan jika harapan kita tidak dikabulkan. Atau melupakan-Nya jika merasa sedang tidak butuh pertolongan.

Dalam Matsnawi, Rumi membuat ilustrasi yang menarik tentang doa, melalui cerita tentang penangkap ular dan pencuri.

Dikisahkan ada seorang pencuri merasa sangat beruntung karena berhasil mencuri ular besar dari penangkap ular. Ular itu adalah hasil tangkapan pertama dari penangkap ular, tapi sang pencuri tidak menyadari bahwa bisa ular itu mematikan, begitupun si penangkap!

Kalut karena perasaan malang yang dialami, pikiran si penangkap ular itu dipenuhi cara untuk menemukan pencuri dan mengambil kembali tangkapannya yang berharga, yang diharapkan akan dapat ditukar dengan segepok uang.

Penangkap ular itu pun menuju kota, bermain-main dengan berbagai rencana untuk menjerat si pencuri. Tiba-tiba, di tengah jalan ia melihat sesosok mayat tergeletak di pinggir jalan. Dari gejala yang tampak ia segera dapat mengenali penyebab kematiannya, racun ular.

Iklan

“Pasti ularku yang merenggut nyawanya!” ia membatin. Penangkap ular itu makin diyakinkan oleh jejak yang ditinggalkan ular di sisi mayat. Ia tercekat. Amarahnya kepada si pencuri mendadak surut. Rasa sakit karena kehilangan berubah jadi syukur yang tak terhingga.

“Saya berdoa begitu keras agar bisa menemukan jiwa yang malang ini dan mendapatkan kembali hasil tangkapan saya. Tapi, untunglah doa-doa saya tidak diindahkan Tuhan. Saya mengira telah kehilangan seekor ular yang dapat dijual, nyatanya saya telah mendapatkan kembali hidup saya! “

Kita pun mungkin pasti sering mengalami hal serupa. Kita marah karena doa kita diabaikan oleh Tuhan. Tapi di kemudian hari kita menyadari betapa doa-doa yang kita panjatkan adalah permintaan yang akan mengantar kita pada kehancuran kalau dikabulkan.

Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Saya ingat beberapa pertanyaan Kang Jalal, apa jadinya kalau doa milyaran orang yang ingin dipanjangkan umurnya pada ranjang kematiannya diijabah? Apa jadinya jika doa lima calon presiden agar menang dikabulkan semua?   

Dunia pasti akan kacau balau.

Maka, sebagaimana penangkap ular, kita juga seharusnya bersyukur atas doa-doa yang tak didengar oleh Tuhan, dan berharap bahwa doa-doa tolol yang pernah kita panjatkan tidak akan pernah diwujudkan suatu hari nanti. Karena syukur tidak selalu karena ada pemberian. Syukur juga bisa karena tidak diberi. Bahkan adanya rasa syukur dalam diri adalah karunia besar yang patut disyukuri.

Doa Nabi Zakariya mengajarkan kita untuk belajar menjalani hidup dengan ridho, yakni meleburkan kehendak kita dengan kehendak Allah. Keridaan Nabi Zakariya akhirnya dijawab Allah dengan kelahiran Yahya. Putra yang sangat berbakti, penerus dakwahnya, dari rahim yang sudah dianggap mandul.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin Faiz, Muh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap hari.

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2021 oleh

Tags: Cerita Nabikisah nabiKolom RamadanNabi Zakariya
Muhammad Zaid Sudi

Muhammad Zaid Sudi

Kadang penulis, kadang penerjemah, kadang guru ngaji. Tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Kolom

Nabi Muhammad dan Riwayat soal Malaikat di Sekitar Kita

10 Mei 2021
Kolom

Bertambah Wawasan, Bertambah Kegelisahan

9 Mei 2021
Kolom

Kisah Nabi Isa dan Orang Bebal

8 Mei 2021
Kolom

Izinkan Saya Bercerita Tentang Ayah Saya

7 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.