Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Cara Kiai Kholil Bersaksi ketika Melayat ke Ahli Maksiat

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
6 Maret 2020
A A
Cara Kiai Kholil Bersaksi ketika Melayat ke Ahli Maksiat

Cara Kiai Kholil Bersaksi ketika Melayat ke Ahli Maksiat

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Para pelayat gelisah ketika Kiai Kholil bersaksi bahwa almarhum adalah orang baik, padahal para pelayat tahu yang meninggal adalah ahli maksiat.

Pelayat yang hadir ke rumah Fulan sepi sekali. Tak banyak yang hadir. Kalau tidak menghitung jumlah keluarga Fulan, tamu yang datang melayat tak sampai 30 orang. Masih banyak kursi-kursi yang kosong.

Sepinya pelayat ini ada sebabnya. Sudah banyak tetangga yang tahu, kalau Fulan meninggal karena menenggak minuman keras oplosan. Fulan memang dikenal dengan kebiasaan minum-minumnya. Hal yang sebenarnya lumayan mengganggu bagi para pelayat ketika si almarhum masih hidup.

Informasi semacam ini tentu bikin sentimen negatif dari para tetangga yang melayat. Kalau bukan karena hukum mengurusi jenazah sampai salat jenazah itu fardhu kifayah, para pelayat ini pasti malas sekali untuk berangkat. Apalagi yang meninggal ahli maksiat begini.

“Innalilahi, kok ya sial bener itu Fulan ya. Matinya kayak gitu,” bisik-bisik tetangga terdengar.

“Ini siapa yang doain ya nanti? Apa iya Kiai Kholil berkenan hadir kalau almarhum matinya kayak gini?” tanya tetangga yang lain.

Tak dianya, Kiai Kholil tetap hadir. Para pelayat sempat kaget ketika Kiai Kholil datang. Ada perasaan aneh yang muncul.

“Waduh, ini gimana ya. Almarhum matinya kayak gitu, yang doain Pak Kiai langsung lagi,” bisik-bisik tetangga lagi.

Kiai Kholil datang seperti biasa. Bahkan tak tanya-tanya ke keluarga sebab meninggalnya almarhum. Salat jenazah, lalu mendoakan. Kiai Kholil biasa saja. Benar-benar tak ada gelagat bahwa Kiai Kholil terganggu dengan cara almarhum meninggal.

Kiai Kholil tetap menunggu prosesi pemakaman Fulan. Begitu sudah sampai liang lahat, Kiai Kholil didapuk oleh keluarga almarhum untuk memimpin doa. Sebelum berdoa, Kiai Kholil tansinul mayit atau menanyakan kepada para pelayat apakah jenazah hidupnya buruk atau baik.

“Bapak, ibu, sae nggeh mayit niki? Fulan niki tiyang sae nggeh? (jenazah ini baik ya? Fulan ini orang yang baik kan ya?),” tanya Kiai Kholil ke palayat yang hadir di pemakaman.

Hening. Pelayat diam semua.

“Tiyang sae nggeh? (Orang baik kan?),” tanya Kiai Kholil lagi.

Merasa tidak enak dengan Kiai Kholil, terdengar suara dari pelayat yang di belakang.

Iklan

“Injih, niku tiyang sae, (iya, dia orang baik),” kata beberapa orang malu-malu. Bahkan dengan suara angin sekalipun, suara itu terdengar samar hampir tak terdengar.

Kiai Kholil paham, ada perasaan bimbang dari para pelayat. Bagaimana mungkin bisa bersaksi bahwa Fulan orang baik, kalau sepanjang hidupnya suka meresahkan tetangganya dan meninggal dengan cara seperti itu. Secara dhohir sudah jelas kalau Fulan ini ahli maksiat, lantas untuk apa dibilang sae?

“Apa sulitnya sih bilang Fulan ini orang baik?” tanya Kiai Kholil lagi.

“Ta, tapi, Pak Kiai, Fulan kan memang bukan orang baik. Kita semua jadi bohong sama Gusti Allah dong kalau bilang ahli maksiat meninggal dalam keadaan kayak gitu dibilang meninggal dengan baik,” bisik hati-hati seorang pelayat yang berdiri tepat di belakang Kiai Kholil.

Kiai Kholil tersenyum.

“Meninggalnya seorang hamba itu tetap baik. Kalau seorang mukmin hidup, maka ia berkesempatan untuk berbuat amalan baik, kalau seorang muslim mati dalam keadaan sefasik apapun anggap saja dirinya sudah tidak bisa berbuat keburukan lagi. Sehingga matinya seseorang itu pasti baik,” kata Kiai Kholil.

Para pelayat jadi makin hening, mendengarkan Kiai Kholil.

“Jenazah tidak lagi bisa bermaksiat lagi itu merupakan sebuah kebaikan dari Allah. Jangan ber-suudzon terhadap Allah, tapi selalu lah khusnudzon. Lagian, tidak ada yang tahu kalau Fulan masih hidup, kehidupannya bisa jadi malah makin buruk lagi. Bisa jadi kematian ini memang jadi jalan terbaik bagi Fulan. Sebab, keadaan paling baik seorang hamba adalah ketika bisa bertemu dengan Allah. Apalagi kematian itu adalah akhir dari segala macam maksiat,” kata Kiai Kholil.

Para pelayat manggut-mangut, keraguan mereka jadi lenyap.

“Jadi gimana para hadirin? Fulan niki sae nopo mboten? (Fulan ini baik atau tidak),” tanya Kiai Kholil lagi.

“Saeee,” kata para pelayat serempak, beban ragu-ragu mereka sepanjang mengantar kematian Fulan seolah lepas begitu saja.

Dalam pandangan para pelayat, stigma ahli maksiat langsung luntur begitu saja. Mereka sadar, kali ini mereka bukan sedang mengantarkan seorang ahli maksiat ke pemakaman, melainkan sedang mengantar saudara seiman.

 

*) Diolah dari cerita Gus Baha’.

BACA JUGA Aku Islam Maka Aku Berpikir atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2020 oleh

Tags: ahli maksiatGus Baha'
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO
Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Dalil Al-Qur'an dan Hadis agar manusia tak merusak alam, jawaban untuk tudingan wahabi lingkungan dari Gus Ulil ke orang-orang yang menjaga alam MOJOK.CO
Catatan

Dalil Al-Qur’an-Hadis agar Tak Merusak Alam buat Gus Ulil, Menjaga Alam bukan Wahabi Lingkungan tapi Perintah Allah dan Rasulullah

12 Desember 2025
Sisi gelap kurban (Idul Adha) di desa. Orang miskin nelangsa, tapi orang kaya pesta daging MOJOK.CO
Ragam

Ironi Kurban di Desa: Saling Jegal demi Raup Keuntungan, Orang Miskin Tak Kebagian Daging sementara Orang Mampu Berpesta

6 Juni 2025
Gus Baha dan Pemikiran Cerdasnya tentang Esensi Beragama | Semenjana Eps. 11
Video

Gus Baha dan Pemikiran Cerdasnya tentang Esensi Beragama | Semenjana Eps. 12

28 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.