Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Pernikahan Memaksa Wanita Mengenakan Topeng Kesempurnaan Meski Kebahagiaannya Terkikis

Noorma Amalia Siregar oleh Noorma Amalia Siregar
17 Oktober 2020
A A
Ketika Pernikahan Memaksa Wanita Mengenakan Topeng demi Kesempurnaan Meski Kebahagiaannya Terkikis MOJOK.CO

Ketika Pernikahan Memaksa Wanita Mengenakan Topeng demi Kesempurnaan Meski Kebahagiaannya Terkikis MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pernikahan bukan penghalang sebuah impian. Melepaskan topeng yang melekat bukan hal yang salah. Namun, jangan biarkan topeng hasil pernikahan mengikis habis wajahmu. Ingat, kebahagianmu yang utama.

Topik pernikahan tidak jarang menjadi pembahasan dalam sebuah percakapan. Baik itu bersama orang lain atau menjadi pertimbangan untuk diri sendiri. Namun lucunya, berbagai pandangan tertuang saat membahas topik ini.

Pernikahan digambarkan seperti membuka lembaran baru kehidupan yang penuh kebahagiaan. Seperti sebuah film yang sering berakhir dengan momen bahagia yaitu saat pemeran utama bersanding dalam pernikahan. Namun, apa yang terjadi usai pernikahan nan indah itu?

Sebuah film mengenai pernikahan seakan berputar kembali di pikiran saya. Kim Ji-young: Born 1982 adalah film Korea Selatan yang bercerita tentang kehidupan seorang wanita dan berbagai tekanan akibat pernikahan.

Masalah pernikahan yang dia hadapi bukan karena suami yang kejam atau rentetan masalah rumah tangga lain yang mungkin ditemukan dalam sinema Indonesia. Permasalahan dalam pernikahan Kim Ji-young jauh lebih kompleks namun sering dianggap remeh oleh orang lain, salah satunya soal standar ganda.

Dalam film itu digambarkan seorang wanita yang memiliki banyak peran dalam kehidupan pernikahan, yaitu sebagai istri, ibu, dan menantu. Banyaknya peran tersebut sering menyamarkan jati diri seorang wanita. Wanita yang sudah menikah seakan mendapatkan peran baru yang “harus dimainkan” secara sempurna. Akan tetapi, tergambar dengan jelas bahwa, dalam usaha menyempurnakan peran baru, seorang wanita kehilangan jati dirinya. Peran baru yang melekat seakan menjadi topeng yang menyembunyikan wajah atau identitas aslinya.

Banyak wanita mendambakan pernikahan sempurna bak dongeng yang memiliki akhir happily ever after. Namun, sayangnya konflik dalam dongeng sering terabaikan karena diakhiri dengan momen paling bahagia. Mempertimbangkan untuk menikah tidak salah, namun yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah kamu untuk menanggung beban dari sebuah pernikahan?

Banyak pemikiran kuno yang masih tetap lestari mengenai pernikahan. Salah satunya adalah posisi wanita sebagai pengurus rumah tangga, suami, dan anak. Posisi tersebut membatasi kesempatan bagi perempuan dalam mengembangkan diri dan kariernya.

Laki-laki dianggap lebih pantas untuk mencari nafkah dan wanita cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Oleh karena itu, tidak jarang wanita mengorbankan karier demi memantaskan diri sebagai ibu rumah tangga yang baik. Masalah yang sangat klasik, tetapi masih lestari sampai sekarang. 

Yang lebih menyakitkan lagi, peran ibu rumah tangga sering dianggap remeh oleh orang lain. “Enak sekali, hanya diam di rumah dan menerima gaji suami.” Tidak jarang cemooh seperti itu dilontarkan kepada ibu rumah tangga. Wanita sepertinya ditakdirkan untuk selalu berada di posisi serba salah. Pertanyaannya, apakah benar ibu rumah tangga adalah peran remeh semata?

Tentu saja tidak. Film Kim Ji-young: Born 1982 menggambarkan dengan miris bagaimana ibu rumah tangga mengorbankan kehidupannya. Tidak hanya secara fisik, mentalnya ikut terkena dampak.

Kejenuhan dalam menjalankan peran ibu rumah tangga ternyata mampu mengguncang mental. Di puncak jenuhnya, tokoh Kim Ji-young “berubah” menjadi orang lain dan menyampaikan segala kesahnya. Ia menyampaikan keinginan yang dipendamnya melalui “orang lain”. 

Namun gangguan jiwa yang dialami oleh Kim Ji-young tidak hadir begitu saja. Diskriminasi karena budaya patriarki telah dialaminya sejak kecil. Banyak keluarga yang menganggap anak laki-lakinya lebih berharga dan selalu diutamakan.

Kim Ji-young menerima perlakuan timpang dari ayahnya. Ketika ibunya tahu soal perlakuan sang ayah, semuanya sudah terlambat. Gangguan mental sudah kadung terjadi. Hmm… apakah keterlambatan ini disebabkan ibu Kim juga mengalami perlakuan tidak adil juga? Bisa jadi.

Iklan

Pemikiran kuno mengenai derajat laki-laki yang lebih tinggi tidak hanya berlaku dalam sebuah pernikahan. Nyatanya, seorang anak laki-laki mendapatkan “keuntungan” dari jenis kelaminnya. Bahkan, ada adegan di mana Kim Ji-young saat remaja hampir menjadi korban pelecehan seksual. Bukannya memberikan perlindungan dan dukungan, ayahnya malah menyalahkan gaya berpakaian (rok pendek) dan sikapnya yang terlalu ramah kepada orang lain.

Budaya patriarki telah mengakar sangat dalam. Lebih miris ketika kita tahu kalau sebagian wanita mewajarkannya. Wanita seakan telah ditakdirkan untuk selalu berada di posisi yang lebih rendah. Bahkan, jika ada wanita yang menuntut untuk berada di posisi yang sama akan dipandang aneh. Terutama dalam sebuah pernikahan.

Ketika melakukan perlawanan, wanita akan ditekan oleh keadaannya sendiri. Sebuah tekanan yang membuat perlawanan itu menjadi sia-sia. Terutama ketika wanita sudah mulai merasa “harus menerima” keadaan. Miris sekali.

Sosok Kim Ji-young juga begitu. Dia sudah paham bahwa untuk mengubah sesuatu, dia harus menghadapi tantangan baru. Pengalaman dilecehkan ketika masih kanak, lalu dituntut menjadi orang yang berbeda di dalam pernikahan membuat sosok Kim berada dalam “ruang antara”. Antara mau melawan tapi sulit sekali dan menerima keadaan.

Pada titik tertentu, meski harus “membuang” jati diri, Kim mengaku menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Seakan-akan, dia terperangkap dalam situasi ini. Ujungnya, Kim menyalahkan diri sendiri atas kegagalan menjadi sempurna ketika menjalankan banyak peran sebagai istri, ibu, dan menantu.

Ada berapa dari wanita di luar sana yang bernasib seperti Kim? Ketika mereka sampai pada titik menyalahkan sendiri padahal sebetulnya korban dari sebuah budaya?

Saya mencoba memahami bahwa status istri dan ibu akan otomatis melekat setelah wanita menikah dan punya anak. Sering terjadi, proses belajar menjadi istri dan ibu ditepikan oleh banyak orang. Mereka menganggap wanita selalu harus langsung bisa. Padahal, prosesnya tidak muda. Ada proses adaptasi di sana.

Banyak orang “tidak peduli” dengan proses itu. Pokoknya harus bisa. Harus sempurna. Bahkan ketika wanita sudah ikhlas “menggadai” jati diri demi pernikahan yang bahagia. Banyak orang, terutama mereka orang dekat, bahkan tidak peduli dengan kesusahan yang sedang dijalani wanita dalam proses ini.

Saya ingin menyampaikan kepada wanita di luar sana, jangan sampai kehilangan jati diri untuk kesempurnaan peran yang dituntut orang lain. Seorang suami menuntut wanita menjadi istri yang sempurna. Seorang anak menuntut wanita menjadi ibu sempurna. Seorang mertua menuntut wanita menjadi menantu yang sempurna. Lalu, kepada siapa seorang wanita harus menuntut?

Mirisnya, wanita akan menuntut ke dirinya sendiri untuk menyempurnakan peran-peran yang dilekatkan pada dirinya.

Jangan sampai sebuah pernikahan menghilangkan jati diri seseorang. Babak baru kehidupan mungkin dirasakan setelah menikah. Namun dalam mengisi babak baru tersebut bukan berarti kamu harus mencoret bahkan menghapus lembaran cerita lama sebelum menikah. Jati diri bukan sebuah barang penukar dalam pernikahan.

Tidak benar jika impian yang dibangun sejak dulu harus musnah karena sebuah pernikahan. Mungkin ada yang berkata, “Yah, itu adalah sebuah pengorbanan.” Benar, itu adalah pengorbanan, tetapi impianmu tidak dibangun untuk dikorbankan. Sebuah impian dibangun untuk dicapai. 

Pernikahan bukan penghalang sebuah impian. Melepaskan topeng yang melekat bukan hal yang salah. Namun, jangan biarkan topeng hasil pernikahan mengikis habis wajahmu. Ingat, kebahagianmu yang utama. Sesekali, hiduplah untuk dirimu. Bukannya egois, namun kamu butuh dukungan dan kasih sayang dari dirimu sendiri.

BACA JUGA Ngeri Sekali Jadi Korban Kekerasan Seksual di Negeri Ini, Minta Keadilan Malah Mentok di Jalur ‘Kekeluargaan’ dan tulisan-tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2020 oleh

Tags: budaya patriarkiKim Ji-young: Born 1982masalah pernikahanmenikahpernikahan
Noorma Amalia Siregar

Noorma Amalia Siregar

Sedang menempuh pendidikan Jurusan Jurnalitik Universitas Padjadjaran. Hobi menonton dan mengkhayal mengenai kehidupan. Menyukai isu kemanusiaan dan gender.

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.