Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Berhati-hati dengan Sikap Fasistik Ngintelektual Zaman Now

Puthut EA oleh Puthut EA
30 Mei 2018
A A
KEPALA SUKU-MOJOK

KEPALA SUKU-MOJOK

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Mojok membuat kesalahan. Mojok meminta maaf. Respons orang bermacam-macam. Mulai dari memaklumi, mengingatkan, hingga ada yang menunjukkan sikap fasistik ngintelektual.

Mojok baru saja membuat kesalahan. Dan ini bukan kesalahan yang pertama. Sepanjang umur media ini yang hampir 3 tahun, saya ingat persis bahwa ini kesalahan keenam.

Iklan

Sebagai Kepala Suku, sejak awal, saya ingin setiap kesalahan yang dilakukan Mojok tidak cukup dengan dikoreksi. Atau misalnya hanya memberi catatan di bawah tulisan. Tidak cukup. Mojok harus juga meminta maaf kepada pembacanya.

Media dikelola oleh orang-orang. Maka dia bisa salah. Kalau orang salah atau keliru, dia minimal melakukan 2 hal: meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya.

Di dunia ini, tidak ada media yang tidak pernah salah. Namun mereka selalu punya mekanisme untuk memperbaiki kesalahan.

Tentu saja setiap kesalahan ada risikonya. Sama kayak kita manusia. Kita berbuat salah, kita meminta maaf, tapi belum tentu semua orang memaafkan kita.

Namun ada saja yang menggelikan, terutama yang barusan saya baca. Ada seorang intelektual (lebih tepatnya “sok ngintelektual”) yang bilang bahwa Mojok pernah mati, karena kesalahan ini sebaiknya memang dulu tidak hidup lagi.

Intelektual dengan model berpikir fasistik seperti itu memang kadang ada. Biasa saja. Fasistik dalam keilmuan itu sebetulnya menandakan setidaknya dua hal: ceteknya pemikirannya, atau memang secara moral terbiasa membabat, membasmi, dan membumihanguskan. Anda bisa bayangkan kalau semua media yang melakukan kekeliruan mesti membubarkan diri. Berarti tidak ada media massa, dong.

Kalau semua orang yang keliru lalu dihukum pancung, tidak ada lagi manusia. Kecuali si pemancung terakhir. Selain karena tidak ada lagi orang yang memancungnya, juga tidak lagi ada orang yang tahu kesalahannya.

Bagi saya, soal beginian perlu menjadi renungan bersama karena kita punya rentetan fenomena sosial yang mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Makin kerasnya orang yang bertentangan satu sama lain. Apa yang tidak disetujui harus bubar. Apa yang dianggap keliru harus dihancurkan. Tapi mungkin banyak yang tidak sadar bahwa kita semua bisa berpotensi menjadikan semua itu makin keras. Kita bisa saja berkontribusi memberi lahan bagi tumbuhnya kaum fatalis dan fasistik macam itu.

Itu bisa dilihat kita gemar sekali mencerca dengan keras siapa saja yang keliru. Bahkan membuli. Atau tidak ada refleksi dan otokritik pada diri sendiri, benarkah apa yang kita pikir, adilkah, apakah itu sesuai dengan kaidah keilmuan atau standar cara berpikir kritis?

Kalau kekeliruan mendapatkan respons negatif, itu wajar. Itu soal ekspresif saja yang biasanya spontan. Seperti kita yang mau tertabrak sepeda motor lalu mengumpat: jancuk! Sudah. Ketika orang yang mau menabrak meminta maaf, ya kita maafkan walaupun mungkin masih dongkol. Tapi yang jelas tidak kita pukuli.

Mojok keliru dan meminta maaf, respons orang macam-macam. Ada yang tetap marah. Tapi habis itu tertawa lagi setelah kemarahan mereka sirna. Ada yang langsung memaafkan. Ada yang salut sama Mojok karena mau meminta maaf. Macam-macam lah.

Tapi yang khusus membungkus diri dengan sikap ngintelektual macam itu, memang harus dikasih perhatian dikit dari Kepala Suku. Biar setidaknya dia tahu, ada yang korslet di cara pikirnya. Karena memang ada orang sok ngintelektual yang asal ngintelektual saja. Atau ada yang memang secara mental gak suka sama Mojok. Jangankan Mojok salah, Mojok benar saja tetap dianggap salah. Karena hidup orang-orang semacam itu disetir dan didorong oleh rasa tidak suka pada apa pun. Termasuk pada Mojok.

Selamat menjalankan ibadah puasa, bersikaplah biasa saja lazimnya manusia. Tak perlu ada yang merasa jadi dewa. Salam hangat…

Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2018 oleh

Tags: fasistikKepala Suku Mojokkesalahan manusiaMojokmojok bubar
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan.MOJOK.CO

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Purwokerto Tidak Istimewa, tapi Nyaman Melebihi Jogja MOJOK.CO

Pandji Benar. Purwokerto Memang Tidak Istimewa, Tapi Lebih Nyaman Ketimbang Jogja

21 Juni 2024
Jejak Angkringan Dari Masa ke Masa, Jadi Andalan Warga Jogja, Solo, hingga Klaten

Jejak Angkringan Dari Masa ke Masa, Jadi Andalan Warga Jogja, Solo, hingga Klaten

16 April 2024
Putcast Edisi Jeda: Kepala Suku Mojok Sedang Bosan Ngomongin Politik…

Putcast Edisi Jeda: Kepala Suku Mojok Sedang Bosan Ngomongin Politik

27 Juli 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.