Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kata Paling Indah dalam Bahasa Indonesia untuk Menggantikan Istilah Hidrogen

Menurut saya, Bahasa Indonesia harus memiliki kata non-Latin untuk hidrogen. Sudah saatnya.

Muhammad Hafidz oleh Muhammad Hafidz
17 Oktober 2022
A A
Kata Paling Indah dalam Bahasa Indonesia untuk Menggantikan Istilah Hidrogen MOJOK.CO

Ilustrasi Kata Paling Indah dalam Bahasa Indonesia untuk Menggantikan Istilah Hidrogen. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bahasa Indonesia itu punya produk budaya dalam bentuk ragam bahasa yang nggak minder. Lagian keren juga kalau dilafalkan: tirtadhatu. Hidrogen.

Bahasa Indonesia tidak mempunyai istilah sendiri untuk sebuah kata bernama “hidrogen”. Bagi saya, fakta kayak gini merupakan bukti kalau kita memang kurang kreatif dalam berbahasa. Padahal, Bahasa Indonesia dengan ribuan “bahasa pendukung”, punya banyak opsi untuk sebuah alih bahasa sebuah istilah.

Sebentar, sampai sini kamu nggak merasa panik atau justru malas karena saya mengulas sebuah topik, yang kayaknya agak berat, kan?. Tapi tenang, jangan panik. Walaupun membahas topik rumit seperti bahasa dan hidrogen, tulisan ini tidak akan memuat rumus Matematika atau Kimia yang jelimet seperti deret fourier (baca: foye) atau rumus Van der Waals.

Mungkin akan jadi agak berat karena kita perlu bersama-sama memikirkan jalan keluar sebuah masalah. Jangan sampai bangsa Indonesia dikatai sebagai bangsa yang tidak punya cinta kepada bahasanya sendiri. Bikin istilah untuk kata hidrogen saja nggak bisa. Kurang lebih begitu. Soalnya, kalau mau menggeser kata hidrogen ke Bahasa Indonesia, kita bisa menggunakan bentuk serapan dari bahasa daerah atau mengadopsi Sanskerta. Opsinya itu sebetulnya banyak.

Hidrogen itu apa, sih?

Sebelum membedah perlunya menamai hidrogen dengan kata asli Bahasa Indonesia, mari kenalan dengan apa itu hidrogen dan sejarahnya. Menurut KBBI, hidrogen adalah gas tidak berwarna, tidak berbau, tidak ada rasanya, menyesakkan, tetapi tidak bersifat racun; unsur dengan nomor atom 1, berlambang H, dan bobot atom 1,0080. 

Hidrogen sendiri berasal dari Bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari kata hydro yang berarti ‘air’ dan genes yang berarti ‘membentuk’. Zat hidrogen ini ditemukan oleh Henry Cavedish pada 1766. Namun, hidrogen itu sendiri baru mendapatkan nama dari Antoinne Lavoisier pada 1783. Lavoisier adalah seorang ilmuwan dari Prancis.

Bahas Indonesia harus punya istilah sendiri

Menurut saya, Bahasa Indonesia harus memiliki kata non-Latin untuk hidrogen. Ada beberapa alasannya. Kita mulai dari kenyataan bahwa negara lain memiliki kata-kata bukan serapan untuk Hidrogen. Kenyataan bakal meneguhkan identitas bahasa dari suatu bangsa itu sendiri. 

Buktinya bisa kamu dapatkan hanya dengan searching di Wikipedia. Lalu, cari artikel dari bahasa lain yang memuat tentang hidrogen. Kamu akan menemukan variasi kata dari Bahasa Jerman untuk hidrogen, yaitu wasserstoff. 

Mempertimbangkan fakta bahwa bahasa lain memiliki kata asli untuk hidrogen, harus diakui, Bahasa Indonesia memang kalah atau bahasa halusnya yakni “kurang kreatif” menyerap atau membuat neologisme kata. Kita jadi kurang memiliki identitas dalam bidang keilmuan, tidak terkecuali di bidang Kimia. 

Sudah sering, misalnya, para polisi Bahasa Indonesia sering mengadili pelaku pencampur bahasa. Misalnya saya sendiri yang kena tegur karena suka mencampur Bahasa Indonesia dengan Jawa, Inggris, dan terkadang bahasa Pasar Atom. Namun, tidak ada yang mengadili atau memprotes “cukongisasi” kata Latin yang mungkin berlebihan seperti di atas.

Pengganti kata hidrogen di Bahasa Indonesia

Untuk menggantikan, atau setidaknya mensubtitusi kata hidrogen, saya akan menyarankan kata tirtadhatu. Kata ini merupakan saran dari Bapak Revi Soekatno, seorang dosen Bahasa Jawa di Belanda. 

Kata tirtadhatu sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuna yang terdiri dari kata tirta yang bermakna ‘air’ dan dhatu yang berarti ‘anasir atau unsur terkecil’. Menurut saya, kata tirtadhatu itu terdengar indah di telinga. Sumbernya juga dari salah satu bahasa yang membuat Bahasa Indonesia itu menjadi sangat kaya. Oleh sebab itu, muncul rasa bangga ketika orang asing menyebut hidrogen dengan kata tirtadhatu.

Sinisme

Saya memperkirakan akan banyak orang sinis di luar sana. Mereka akan berusaha menemukan kelemahan dari proses alih bahasa ini. Saya sudah memperkirakan jika kelak muncul pertentangan bahwa kata tirtadhatu terdengar “kurang keren” jika dibandingkan hidrogen. Kedua, dianggap terlalu jawasentris.

Saya memaklumi protes-protes seperti ini. Oleh sebab itu, saya malah senang apabila banyak orang ikut urun andil dalam mencari istilah paling pas untuk hidrogen di Bahasa Indonesia. Misalnya ramai-ramai kita membedah KBBI. Siapa tahu ketemu kata indah di sana untuk menggantikan hidrogen.

Iklan

Jangan asal comot kata

Eits, tapi jangan asal pakai sebuah kata untuk menggantikan hidrogen. Setidaknya, kita perlu paham konteks. Kenapa begitu?

Beberapa orang cenderung menerjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia secara kata per kata. Mereka nggak memerhatikan konteksnya lebih jauh. Padahal, kalau dipikir-pikir, penerjemahan itu erat kaitannya dengan konteks. Kalau nggak sesuai, ya kita jelas bakal terjun bebas ke lembah kesalahan penerjemahan.

Misalnya gini:

Ada kata dalam Bahasa Inggris yang punya makna tumpang tindih. Bahkan, makna sebuah kata bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Apa bedanya?

Makna primer adalah saat kata tersebut digunakan sendirian. Single. ‘Jomblo’. Namun, ia bisa juga memiliki makna sekunder ketika bergabung dengan kata lain dan menciptakan konteks baru.

Misalnya, kata run dalam Bahasa Inggris. Kita tentu tahu bahwa kata ini berarti ‘lari’ di Bahasa Indonesia, sebagaimana ditunjukkan dalam kalimat sederhana “They are running together.” Sampai di sini, sepakat ya?

Tapi, apa jadinya kalau kita menemukan kalimat “Your nose runs,” atau “We are running out of time” yang merupakan penggunaan kata run sebagai makna sekunder? Memangnya, kamu mau menerjemahkannya dengan “Hidungmu lari-lari” dan “Kita melarikan waktu” di Bahasa Indonesia?

Oleh sebab itu, arah dan tujuan Bapak Revi Soekatno memilih kata tirtadhatu untuk menggantikan hidrogen di Bahasa Indonesia jadi jelas. Selain kata tersebut terdengar indah, konteksnya juga pas.

Yah, pada akhirnya, semua ini hanya sebatas saran dari saya. Paling tidak, Bahasa Indonesia itu punya produk budaya dalam bentuk ragam bahasa yang nggak minder di depan bahasa asing. Lagian keren juga kan kalau dilafalkan: tirtadhatu. Hidrogen.

BACA JUGA Musabab Kita Kerap Gagal Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Muhammad Hafidz

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2022 oleh

Tags: bahasabahasa indonesiabahasa latinhidrogen
Muhammad Hafidz

Muhammad Hafidz

Seorang Mahasiswa Fisika yang suka bermimpi.

Artikel Terkait

Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO
Esai

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
universitas brawijaya mojok.co malang
Kampus

Universitas Brawijaya, Universitas Malang tapi Rasa Jakarta

20 Februari 2025
pramoedya ananta toer.MOJOK.CO
Ragam

Ini yang Terjadi Seandainya Pramoedya Ananta Toer Menjadi Guru Sastra Indonesia

3 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Joki UTBK SNBT di Surabaya raup cuan Rp700 juta demi kebutuhan hidup. Kedokteran jadi incaran MOJOK.CO

Joki UTBK SNBT Bisa Raup Rp700 Juta: Buat Kebutuhan Hidup karena Keterbatasan, Cuan Gede dari Jurusan Kedokteran

10 Mei 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
AstraPay berupaya memperkuat kontribusinya melalui inovasi layanan, edukasi ekosistem, serta pengembangan akses keuangan digital bagi UMKM di tengah pertumbuhan pembayaran atau transaksi digital (QRIS) MOJOK.CO

Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM

9 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
burung migrasi.MOJOK.CO

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.