Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kasus Djoko Tjandra Jadi Petunjuk Pemerintah Bisa Kerja Cepat, Senyap, dan Gemar Menolong

Erwin Setia oleh Erwin Setia
17 Juli 2020
A A
Kasus Djoko Tjandra Jadi Petunjuk Pemerintah Bisa Kerja Cepat, Senyap, dan Gemar Menolong

Kasus Djoko Tjandra Jadi Petunjuk Pemerintah Bisa Kerja Cepat, Senyap, dan Gemar Menolong

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kasus Djoko Tjandra bukanlah aib bagi pemerintah. Ini tanda bahwa pejabat kita ternyata bisa kerja cepat. Saking cepetnya sampai nggak koprol, eh, kontrol.

Semasa kecil saya kira sosok tersakti di dunia fana ini adalah Kera Sakti—karena tak pernah berhenti bertindak sesuka hati—atau Avatar Aang yang mampu mengendalikan berbagai elemen sekaligus.

Beranjak besar saya sadar bahwa perkiraan saya melenceng jauh. Televisi dan laman berita lah yang berhasil membuat saya insaf dan menyadari fakta anyar: Kera Sakti dan Avatar tak ada apa-apanya dibanding Djoko Tjandra sang pendekar dari Papua Nugini Indonesia.

Lah gimana? Selain kemampuan tingkat tinggi dalam hal bermain sihir dalam menghilangkan duit negara, konon Djoko Tjandra juga menguasai ilmu kebal yang Jawara Banten sekalipun sukar menguasainya, yakni kebal hukum.

Bahkan selain blio, kamu boleh kok ambil kertas folio sekarang juga, lalu mulai mencatat, betapa kayanya negeri ini dalam memproduksi pendekar-pendekar sakti mandraguna selain Djoko Tjandra.

Kesaktian para pendekar ini pun tampil dalam beragam bentuk: mulai dari masa penahanan yang cepet banget seolah cuma maling sekardus Indomie hingga yang paling mengagumkan yaitu kemampuan untuk tetap melanglang ke sana kemari walaupun berstatus buron.

Tentu belum pudar betul dari ingatan kita tentang Gayus Tambunan dan Setya Novanto. Orang pertama masih sempat nonton tenis di Bali padahal sedang dibui; sedangkan Pak Setnov—Duta Tiang Listrik kita—kepergok mampir di rumah makan padang padahal statusnya narapidana.

Namun, kesaktian keduanya rupanya belum seberapa dibanding Djoko Tjandra. Sosok satu ini terlibat kasus korupsi Bank Bali senilai ratusan miliar pada 1999. Pada kurun 1999-2000 blio memang sempat ditahan, tapi dikeluarkan kembali setelah pengadilan memvonisnya bebas.

Setahun berselang Kejaksaan Agung mengajukan kasasi. Awalnya sih hakim menolaknya. Baru pada 2009, Hakim MA mengabulkan peninjauan putusan kasasi Kejagung. Nah, herannya, sesaat sebelum hakim memvonis Djoko Tjandra bersalah, blio sudah kabur duluan. Gercep betul udah kayak Sonic naik buraq aja.

Sejak 2009, nama Djoko Tjandra pun disebut-sebut sebagai buron kasus korupsi paling dicari di Indonesia. Lha gimana nggak, akibat kelakuan blio kerugian negara ditaksir mencapai Rp904 miliar. Uang segitu kalo dibuat beli permen susu Milkita udah jadi kolam susu seluas Danau Kenanga UI. Tak heran perburuan terhadap Djoko Tjandra digencarkan.

Sebelas tahun setelah pelariannya, kabar keberadaan Djoko Tjandra nihil belaka. Sejak 2009-2020, alih-alih pemerintah sukses menangkap Djoko, yang ada malah daftar koruptor di Indonesia bertambah panjang. Dari koruptor yang kelas kakap sampai yang kakap banget.

Beberapa waktu belakangan nama Djoko Tjandra kembali mencuat. Bukan karena ditangkap KPK, tapi karena blio bisa melenggang masuk dengan santai ke Indonesia.

Statusnya sebagai buron yang boleh jadi berperan banyak terhadap perut-perut kelaparan para gelandangan dan jomblo-jomblo ngenes yang harus puasa daud demi menjaga ketahanan ekonomi tak menghalangi blio.

Dari kantor imigrasi sampai kepolisian berhasil Djoko tembus. Sungguh sebuah kesaktian pendekar yang bikin bulu kuduk berdiri lawan-lawannya.

Iklan

Banyak orang menyebut lolosnya Djoko Tjandra ke Indonesia sebagai aib bagi pemerintah yang teledor mengawasi pendekar kelas dewa seperti blio. Padahal, kalau kita mau telusuri lebih lanjut, ini bukan aib bagi pemerintah. Ini justru merupakan sebuah petunjuk betapa orang-orang di pemerintahan kita sangat berbudi luhur.

Nggak percaya? Mari simak petunjuk-petunjuknya.

Pada 8 Juni 2020 Djoko Tjandra kedapatan mengurus e-KTP di Kelurahan Grogol Selatan untuk syarat mendaftarkan Peninjauan Kembali (PK). Haibatnya, pembuatan e-KTP Djoko hanya berlangsung kurang lebih sejam.

Waini jelas merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi pemerintah. Ya iya dong, ketika banyak orang mengeluhkan bertahun-tahun e-KTP yang mereka buat nggak jadi-jadi, eh Djoko Tjandra justru dapat membuat e-KTP dalam sekejap.

Hal ini juga menunjukkan bahwa ternyata pemerintah kita ini bisa kerja cepat. Rupanya saya sudah salah duga selama ini. Padahal saya kira cara kerja birokrat itu selamban kukang dalam film Zootopia. Duh, betapa bersalahnya saya ini, sudah berburuk sangka selama ini.

Untuk prestasi ini, alih-alih menyoraki dan mencaci maki, sepatutnya kita memberikan tepuk tangan  dan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah—wabilkhusus untuk dinas kependudukan dan catatan sipil (Disdukcapil) Grogol Selatan.

Ya harus diapresiasi dong. Nggak gampang lho menyelesaikan pembuatan e-KTP dalam waktu sejam saja. Belum beli tintanya, beli kertasnya, apalagi e-KTP ini untuk buron. Tentunya butuh usaha keras. Makanya wajar kalau usaha berat itu harusnya mendapat ganjaran imbalan yang sama beratnya.

Bukan hanya Disdukcapil yang menunjukkan tajinya. Ada juga anggota kepolisian yang juga tak mau ketinggalan berprestasi. Pada 19-22 Juni 2020 Djoko Tjandra diketahui melakukan perjalanan Jakarta-Pontianak untuk keperluan konsultasi dan koordinasi.

Uniknya, surat jalan Djoko yang bernomor SJ/82/VI/2020/Rokorwas tertanggal 18 Juni 2020 itu ditandatangani langsung oleh Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo.

Hmm, kurang baik apa coba tuh polisi kita? Buronan bisa dikasih surat jalan. Betul-betul mengagumkan.

Ini merupakan pertanda bahwa kepolisian tak seburuk yang kita sangka. Buanglah jauh-jauh anggapan kepolisian suka main kekerasan atau doyan pungli. Nggak, Bung. Itu mah cuma oknum. Jatidiri asli kepolisian itu ya suka membantu. Membantu siapapun tanpa kecuali.

Bukti kebaikan lain institusi kepolisian kita adalah munculnya dokumen surat bebas corona untuk Djoko Tjandra bernomor Sket Covid-19/1561/VI/2020/Setkes. Dokumen ini diterbitkan oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri.

Dalam hal membantu, kepolisian kita emang nggak mau tanggung-tanggung. Dari urusan perjalanan, sampai urusan kesehatan. Warbiyasa, warbiyasa. Nggak sekalian dikasih kalung anti-corona itu Pak Djoko Tjandra-nya, Pak? Kan lumayan untuk trial and error.

Melihat hal-hal di atas, itu sudah cukup buat rakyat seperti kita untuk meminta maaf ke pemerintah karena sudah meremehkan kerja-kerja mereka.

Apalagi kejadian semacam ini membuktikan bahwa institusi pemerintahan kita sebenarnya cepat dalam bekerja dan suka menolong semua orang tanpa melihat suku, ras, agama, kewarganegaraan, kekayaan, sampai tak peduli status hukum seseorang*.

*) Syarat dan ketentuan berlaku.

BACA JUGA Adu Sakti Djoko Tjandra vs Joko Widodo atau tulisan Erwin Setia lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2020 oleh

Tags: Djoko Tjandrae-ktpGayus TambunankorupsiKoruptorPolisiSetya Novanto
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tinggal di Bekasi. Aktif menulis cerita pendek dan esai.

Artikel Terkait

korupsi bikin buruh menderita. MOJOK.CO
Aktual

Korupsi, Pangkal Penderitaan Buruh dan Penghambat Penciptaan Lapangan Kerja

9 Desember 2025
rkuhap, kuhap, polisi.Mojok.co
Mendalam

Catatan Kritis KUHAP (Baru) yang Melahirkan Polisi Tanpa Rem Hukum, Mengapa Berbahaya bagi Sipil?

19 November 2025
bantul, korupsi politik, budaya korupsi.MOJOK.CO
Ragam

Budaya Korupsi di Indonesia Mengakar karena Warga “Belajar” dari Pemerintahnya

16 September 2025
nadiem makarim, pendidikan indonesia, revolusi 4.0.MOJOK.CO
Aktual

Kasus Nadiem Makarim Menunjukkan Kalau Lembaga Pendidikan Sudah Jadi “Inkubator Koruptor”

8 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.