Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jogja Sold Out: Warga Lokal Merana, Koruptor Cuci Uang

Kabar buruk ini bukan sekadar isu. Kini santer terdengar praktik pencucian uang yang dilakukan di Jogja. Didukung oleh pertumbuhan properti yang menjanjikan, dan disempurnakan prospek pariwisata yang menguntungkan pemodal. 

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
10 Maret 2023
A A
Jogja Sold Out Warga Lokal Merana, Koruptor Cuci Uang MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja Sold Out Warga Lokal Merana, Koruptor Cuci Uang. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bayangkan skema ini: sebutlah sebuah hotel seharga 10 miliar. Hotel tersebut dibeli oleh koruptor. Setahun kemudian, harga hotel itu meroket jadi 15 miliar. Akhirnya hotel itu dijual. Apakah koruptor tadi untung 5 miliar? Tidak! Dia untung 15 miliar.

Nah, seperti itulah perkiraan pencucian uang di Jogja. Dengan harga properti yang terus naik tanpa peduli pandemi, maka daerah ini istimewa untuk cuci uang. Dengan bermain pembukuan dan transaksi, uang haram hasil korupsi disulap menjadi properti legal. Tapi karena pertumbuhannya menjanjikan, tidak sulit untuk menjual properti panas tersebut.

Selamat pagi Warga.

Monggo halaman 1 koran Harian Jogja edisi hari ini, Kamis 9 Maret 2023. Selamat membaca berita yang kami sajikan.

Selamat menjalani hari dan sukses untuk karya Anda hari ini. #harianjogja pic.twitter.com/wN18ilkWj9

— Harian Jogja (@Harian_Jogja) March 8, 2023

Apalagi Jogja terus menggenjot sektor pariwisata. Jadi properti tadi bisa menguntungkan tanpa harus dijual. Misal hotel, tentu akan ikut profit dengan pertumbuhan pariwisata. Sedangkan untuk properti hunian pribadi, tetap diuntungkan pariwisata. Makin banyak wisatawan, makin banyak yang tergoda punya rumah di Jogja. Dan bagi mereka yang punya cukup dana, properti Jogja masih terjangkau. Apalagi properti hasil cuci uang. Easy money!

Bagaimana dengan warga lokal? Ya hanya makin meringis. Lha wong pertumbuhan upahnya cuma sekian ratus ribu. Sedangkan harga properti bisa naik lebih cepat dalam hitungan tahun. Jadi lumrah kalau bilang warga Jogja susah cari rumah. Anda sudah melihat realitanya. Dan Cuma bisa bilang “ASU!”

Bahagia semu warga Jogja

Sialnya, warga Jogja tidak sadar dengan fenomena ini. Atau lebih tepatnya, tidak peduli. Toh mereka merasa diuntungkan oleh pertumbuhan properti ini. Tanpa sadar kalau kenaikan harga properti makin tidak masuk akal dan makin tidak terjangkau.

Rumah dan sawah terjual demi harga yang tinggi. Namun mereka lupa kalau harga properti lain ikut naik. Sampai pada titik di mana hasil jual properti mereka sudah tidak berharga di Jogja. Mungkin hal ini tidak terasa bagi mereka yang punya belasan properti. Lha kalau mereka yang merelakan tanah warisan dijual? Anda akan sering menemukan para kontraktor (baca: orang yang ngontrak rumah) berawal dari jual tanah warisan demi uang besar dalam waktu singkat.

Tapi tidak usah bicara sense of belonging. Lha wong cuma ini yang bisa dilakukan warga Jogja. Kalau tidak jual tanah, kapan lagi bisa dapat uang besar? Dari kerja? Kerjaanmu yang gajinya sepertiga gaji karyawan Jakarta?

Koruptor menari di atas ketimpangan

Tapi bukan hanya koruptor saja yang bertanggung jawab atas fenomena ini. Tapi bukan berarti mereka tidak berperan nyata. Harga properti yang makin ugal-ugalan ini membahagiakan para bajingan ini. Membuat mereka menari di atas bangkai orang yang kesulitan mencari tempat tinggal. Inilah yang disebut gentrifikasi!

Gentrifikasi itu nyata. Dan mengakibatkan ketimpangan sosial yang sama nyatanya. Proses migrasi kelompok masyarakat ekonomi atas ke daerah ekonomi bawah tidak akan membawa dampak baik. Tapi malah makin melebarkan jurang sosial. Mereka yang kaya makin diuntungkan, dan yang miskin makin kehilangan buying power.

Buktinya, banyak koruptor yang memiliki aset di Jogja. Mereka memanfaatkan dana haram demi menguasai properti daerah istimewa. Dan seperti yang saya bilang, tinggal menunggu waktu saja sampai satu per satu terungkap. Entah oleh kinerja KPK, atau kemuakan masyarakat.

Namun satu yang pasti, Jogja sudah laku. Sold out! Dibeli investor dan pemilik kapital. Dan juga dibeli mereka yang mencuri uang Anda. Jadi silakan tetap telaten untuk bahagia dalam kemiskinan. Tetap narimo ing pandum. Biarkan Jogja terus ramah bagi mereka yang menyengsarakan Anda!

BACA JUGA Jogja Adalah Kota Paling Sakit di Dunia dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Dimas Prabu Yudianto

Iklan

Editor: Yamadipati Seno

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2023 oleh

Tags: gentrifikasiJogjajogja ora didolpencucian uang di jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.