Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ironi dan Fakta Kota Pelajar: Ketika Remaja Asli Jogja Justru Tidak Bisa Menikmati Bangku Kuliah

Deny Setyoko Wati oleh Deny Setyoko Wati
1 Maret 2024
A A
Jogja Ironis Remaja Asli Kota Pelajar Tidak Kuat Bayar Kuliah MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja Ironis Remaja Asli Kota Pelajar Tidak Kuat Bayar Kuliah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Akibat kapitalisasi pendidikan

Kita perlu menyadari bahwa pendidikan hari ini diatur di bawah sistem kehidupan sekuler kapitalisme. Kapitalisme adalah ideologi yang bersumber dari akal manusia. Sehingga, segala sesuatunya sampai terkait aturan kehidupan ditentukan berdasarkan akal manusia. 

Prinsip dasar kapitalisme dibangun berdasarkan pemisahan agama dari kehidupan. Atau yang kita kenal dengan sekularisme. Kapitalisme memandang bahwa agama hanyalah sebatas ibadah ritual. Oleh karena itu, agama tidak diperbolehkan untuk mengatur urusan kehidupan manusia. Jadi, dalam kehidupan manusia, manusia berhak mengatur urusannya sendiri dengan akalnya. 

Tersebab prinsip yang seperti inilah maka pandangan hidupnya menjadi pragmatis, yakni mempertimbangkan asas manfaat atau untung dan rugi. Alhasil, corak sistem kehidupan dalam kapitalisme hanya berorientasi pada profit semata. Termasuk dalam menentukan kebijakan penyelenggaraan pendidikan tinggi, seperti di Jogja, juga diukur dari untung dan rugi.

Akhirnya, sistem tersebut menjadikan pendidikan sebagai komoditas ekonomi. Maka wajar, jika biaya pendidikan begitu melangit. Pendidikan tinggi sudah menjadi bisnis semata untuk memperoleh keuntungan, bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan masyarakat. Seperti halnya barang, bagi yang memiliki kemampuan untuk membeli, maka dia dapat mengonsumsinya. Sebaliknya, bagi yang tidak mampu membeli, ya tidak akan bisa menikmatinya.

Sistem sekuler kapitalisme juga menjunjung tinggi kebebasan 

Sistem ini, dalam kehidupan bernegara, menghilangkan peran vital negara dalam segala aspek mengurusi rakyat, termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Penguasa jadi seperti “lepas tangan” dalam menyelenggarakan pendidikan. 

Terbukti juga dengan adanya keleluasaan yang diberikan kepada setiap universitas untuk membuka-tutup program studi sesuai kebutuhan pasar. Program studi yang paling dibutuhkan oleh pasar, akan menjadi program studi yang bernilai jual tinggi. Sementara itu, program studi yang kurang diminati, dianggap perlu dievaluasi dan akhirnya ditutup. Begitulah pendidikan menjadi barang ekonomi. Dalam sistem sekuler kapitalisme, negara tidak wajib memberikan layanan pendidikan kepada rakyat tanpa terkecuali dan secara cuma-cuma. 

Sistem pendidikan alternatif

Jika kita menginginkan terwujudnya tujuan pendidikan, agaknya kita perlu mengubah paradigma sistem pendidikan hari ini. Paradigma sistem pendidikan Islam kiranya bisa menjadi alternatif. Sebab tidak seperti sistem sekuler kapitalisme yang memandang pendidikan sebagai komoditas. Islam memandang pendidikan sebagai basic needs masyarakat yang harus dipenuhi oleh negara. 

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Muqaddimah Dustur pasal 173 juga menerangkan bahwa, “Negara wajib menyelenggarakan pendidikan berdasarkan apa yang dibutuhkan manusia di dalam kancah kehidupan bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan dalam dua jenjang pendidikan yaitu pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara secara cuma-cuma. Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara cuma-cuma.”

Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam pelayanan pendidikan. Mulai dari pembiayaan, kurikulum, fasilitas, pendidik profesional sampai sarana dan prasarananya. Negara juga akan menjamin agar fasilitas dan layanan pendidikan mudah diakses oleh individu rakyat dengan murah bahkan secara gratis. Bahkan penelitian pun juga akan dibiayai oleh negara. Bukankah ini yang dibutuhkan Jogja?

Pembiayaan pendidikan ini akan diambil oleh negara dari baitul mal (kas negara). Perlu diketahui, dalam sistem Islam, negara akan mengoptimalkan pemasukan yang bersumber dari pos pengelolaan Sumber Daya Alam. Sehingga rakyat akan mudah dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. 

Sekali lagi, perlu diperhatikan, bahwa corak sistem pendidikan seperti ini hanya ada di dalam sistem pendidikan Islam. Oleh karena itu, jika kita ingin merasakan pendidikan yang murah dan berkualitas, harus terlebih dulu mengganti paradigma sistem pendidikan sekuler kapitalisme dengan paradigma sistem pendidikan Islam. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis: Deny Setyoko Wati

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jogja Sudah Tidak Pantas Menyandang Status Kota Pelajar dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2024 oleh

Tags: biaya kuliah di jogjabiaya kuliah di jogja mahalbiaya ukt kuliah di jogjaJogjakabupaten slemanKampus di Jogjakampus di slemanKuliah di jogjaslemanukt jogja mahal
Deny Setyoko Wati

Deny Setyoko Wati

Hanya ibu rumah tangga biasa.

Artikel Terkait

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Eksplor

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.