Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jadi Pahlawan ala Ahok

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
5 Maret 2015
A A
Ahok, Bapak Air Mata DKI Jakarta

Ahok, Bapak Air Mata DKI Jakarta

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hari-hari belakangan ini, dinding facebook saya dipenuhi dengan ajakan menandatangani sebuah petisi daring mendukung Koh Ahok supaya tetap menjabat Gubernur DKI—menjadi RI-3, kata Ahok—, dan melawan persekongkolan anggota DPRD Jakarta yang menyelipkan anggaran siluman sebesar 12,1 triliun dalam APBD mereka.

Saya bukan tidak mau membela Ahok, tapi perseteruan antara anggota DPRD ibukota dengan gubernurnya itu sejatinya masih tidak jelas, membingungkan seperti lagu Infineta Tristeza dari Manu Chao yang mencampur-adukkan tiga bahasa sekaligus: Rusia, Perancis, dan Spanyol.

Iklan

Ahok, melalui petisi daring tadi, mau tidak mau ditampilkan seperti pahlawan super (superhero) yang sedang menghadapi gerombolan penjahat (villain), para anggota DPRD yang dikomandani M. Taufik. Ketika meme dukungan untuk Ahok mulai menggeser meme Polwan Dewi Sri Mulyani, saya tahu bahwa orang-orang sudah menyalahpahami tugas mulia yang dibebankan Partai Gerindra kepada M. Taufik, salah memahami faedah villain bagi superhero, dan tepat di sinilah saya merasa sedih.

Saya tidak bisa menyalahkan orang banyak yang menganggap bahwa Ahok adalah pahlawan bagi mereka. Ada tiga hal yang bisa menyebabkan seseorang menjadi pahlawan. Pertama, dilahirkan. Kedua, dibuat. Dan ketiga, kecelakaan. Demokrasi modern melarang kita membaiat pahlawan dari sisi keturunan, sementara pahlawan-Jakarta-yang-dibuat sudah jadi presiden, maka yang tersisa bagi Ahok memang tinggal satu itu: kecelakaan. Semacam pembela kebenaran, pahlawan kebetulan.

Selain itu, ada tiga hal juga yang wajib dimiliki oleh pahlawan. Satu, pendamping (sidekick). Dua, penggemar (fans). Dan tiga, penjahat (villain). Untuk urusan penggemar, Ahok tidak perlu dicemaskan. Gubernur yang berani mengajak pedagang kaki lima berkelahi tapi dapat Bung Hatta Anti-Corruption Award ya cuma dia doang.

Nah, sekarang tinggal dua pintu yang bisa dimasuki Partai Gerindra untuk membantu Ahok menampilkan aura kepahlawanannya. Ketika Ahok mengalami kecelakaan menjadi gubernur, Gerindra menyiapkan Om Taufik untuk sebagai pendampingnya. Tapi sayang beribu sayang, Ahok ternyata lebih memilih mantan Walikota Blitar.

Cinta ditolak racun serangga ditenggak hanya berlaku bagi anak-anak alay yang tidak pernah menonton acaranya Mario Teguh. Partai Gerindra adalah partai terhormat yang tidak kurang akal. Di sinilah kemudian, Om Taufik diberi peranan lain, sebagai villain, menyediakan dirinya menjadi tameng bagi para kompatriotnya untuk ditembaki—meminjam istilah dari pengamat politik Burhanuddin Muhtadi—dari delapan penjuru mata angin.

Roger Ebert, seorang kritikus film, pernah berkata bahwa film pahlawan-pahlawanan cuma sebaik penjahatnya—karena pahlawan dan gimmick-nya cenderung berulang. Semakin hebat penjahatnya, semakin bagus pula filmnya.

Hal ini sejalan dengan sabda filsuf gila, Friedrich Nietzsche, bahwa kalau seseorang ingin menjadi pahlawan, maka ular harus berubah jadi naga terlebih dahulu; atau sang pahlawan akan kekurangan lawan yang pantas. Dan inilah tugas mulia yang dibebankan Partai Gerindra kepada Om Taufik tadi: supaya jadi lawan sepadan bagi Ahok, dia harus berubah dari ular menjadi naga.

Om Taufik bukan Joker yang membenci Batman seumur hidupnya. Joker bilang, dia tidak membenci Batman karena dia gila, tapi dia gila karena dia membenci Batman. Orang mengira Om Taufik gila karena membenci Ahok. Orang-orang salah paham, sekali lagi, dia ular yang mau berubah jadi naga.

Berubah dari ular menjadi naga jelas bukan perkara mudah. Itu sulit, baik dari segi teknis maupun psikologis.

Secara teknis, korupsi pengadaan barang dan alat peraga saat pemilukada tahun 2004 sebesar Rp 488 juta hanyalah ular kecil, tidak berbisa, dan cenderung imut. Maka disusupkanlah angka sebesar 12,1 triliun di APBD yang akan mengubah Om Taufik jadi naga.

Dari sisi psikologis, tidak kurang Joker pun menghadapi persoalan yang tidak ringan. “Aku selalu terlihat tertawa. Senyumku hanya kulit luar saja. Kalau kau bisa melihat ke dalam, aku sebenarnya menangis. Kau mungkin mau meratap bersama-sama denganku,” begitu kata Joker suatu kali.

Menjadi sasaran kebencian dari begitu banyak orang bukanlah hal yang bisa ditanggung orang biasa. Hanya Om Taufik yang bisa. Ada yang sudah mulai merasa sedih dan ingin meratap bersama Om Taufik?

Iklan

Ahok, seperti kata Eddward S. Kennedy, memang masih sebatas aktor watak. Dia belum menjadi siapa-siapa, belum mengubah apa-apa. Tapi orang tidak boleh melupakan siapa yang paling berjasa di balik meruapnya citra Ahok sebagai pahlawan: Om Taufik!

“Kita berdua akan jadi orang besar, Sup. Kita punya takdir yang sama, hanya berada di sisi yang berbeda,” ujar Lex Luthor kepada Superman.

Memikirkan penjahat-penjahat seperti Joker, Lex Luthor, dan Om Taufik, yang sebenarnya sudah berjasa besar tapi disalahpahami oleh orang banyak, di situ kadang saya merasa sedih. Kesedihan yang tak berbatas.

Infineta tristeza.

 

 

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: ahokjakartaM. Taufik
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO
Kilas

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.