Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Forum Muslim Bogor Ngawur Kaitkan Tahun Baru Imlek dengan Agama Konghucu

Novi Basuki oleh Novi Basuki
3 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Forum Muslim Bogor menyeru untuk tidak memfasilitasi perayaan tahun baru Imlek karena mengira itu juga perayaan agama Konghucu. Hedeh, ngawur todemax.

Antum cuma akan menghabiskan waktu yang sama dengan yang dipakai buat menadahkan tangan meminta angpau, untuk menemukan ayat yang bunyinya begini dalam mukadimah Da Xue yang jika diterjemahan secara ugal-ugalannya kira-kira:

Barang siapa hendak menjadi penebar rahmat bagi seluruh alam, benahilah dulu negerimu.

Barang siapa hendak membenahi negeri, bereskanlah dulu rumah tanggamu. Barang siapa hendak membereskan rumah tangga, binalah dulu dirimu. Barang siapa hendak membina diri, luruskanlah dulu hatimu.

Barang siapa hendak meluruskan hati, bulatkanlah dulu tekadmu. Barang siapa hendak membulatkan tekad, perluaslah dulu pengetahuanmu.

Dan, untuk memperluas pengetahuan, telitilah dulu sedalam-dalamnya setiap perkara yang hendak kau ketahui itu.

Sekadar mengingatkan, Da Xue adalah salah satu dari Empat Kitab (Si Shu atau Su Si) yang wajib dimuliakan penganut agama Konghucu berdasar “delapan rukun iman” (ba cheng zhen gui) agama yang diilhami dari ajaran-ajaran filsuf agung bernama asli Kong Qiu.

Adapun “hucu” atau “fu-tze” atau “fusius” atau “fuzi” atau “cu” atau “zi” yang lumrah disematkan di belakang nama Kong Qiu itu, artinya adalah mahaguru.

Na‘am, mengajar memang menjadi profesi utama Kong Qiu.

Selama sekitar 72 tahun hidup di dunia fana ini, Kong Qiu tercatat mempunyai murid sebanyak tiga ribu. Jadilah beliau dipanggil sebagai Konghucu. Tafaḍḍal bila antum mau menerjemahkannya sebagai Ustaz Kong.

Sampai di sini faḥim, ya?

Oke lanjut.

Tenang, kali ini ana tak berniat mengelaborasi keterkaitan wejangan di atas dengan perkara-perkara politik kontemporer di Indonesia. Meski, tentu, petuah tersebut bisa saja kita jadikan pedoman untuk—misalnya—menentukan siapa yang layak dicoblos dalam hajatan pemilihan presiden negara kita pada April mendatang.

Kata-kata hikmah dimaksud, wabil khusus kalimat terakhirnya, sengaja ana comotkan karena tergelitik berita viral mengenai surat yang diedarkan Forum Muslim Bogor terkait perayaan tahun baru Imlek yang insya Allah bakal jatuh pada 5 Februari nanti.

Dalam surat bertitimangsa 23 Januari 2019 itu, Forum Muslim Bogor menyeru seluruh umat Islam di mana pun berada untuk tidak “memfasilitasi”, “mendukung”, “menghadiri”, “mengikuti”, “menggunakan pernak-pernik”, dan “mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek ‘Gong Xi Fa Cai’” kepada mereka yang merayakannya nanti.

Apa pasal? Kata Forum Muslim Bogor, dengan berbuat begitu, berarti telah “menunjukkan kita setuju dengan hari raya” yang “bahayanya terhadap aqidah umat serta keharaman umat Islam untuk menghadiri atau terlibat di dalamnya” adalah mutlak tersebut.

Harap maklum. Kalau tidak dilakukan langkah preventif sedini mungkin, keimanan umat yang sudah kian ambyar akibat masifnya operasi klandestin Kristenisasi dan Yahudisasi belakangan ini, bisa-bisa akan makin sekarat jika masih ditambah dengan Konghucuisasi yang jelas-jelas kafir maksimal karena di belakangnya ada naga-naga aseng yang bermain sebagai juragannya.

Makanya, walau bagaimana pun, Forum Muslim Bogor merasa perlu untuk menyadarkan dan menabligkan info valid bin sahih kepada umat bahwa “Perintah merayakan Imlek datang [langsung] dari Kongzi” yang tak lain dan tak bukan “merupakan nabi bagi agama Khonghucu.”

Iklan

Bahkan, Forum Muslim Bogor menegaskan, titah itu secara terang benderang “tertuang dalam kitab agama Khonghucu.” Karena itu jangan heran kalau tahun baru Imlek dijadikan sebagai “perayaan terpenting penganut agama Khonghucu.”

Subhanallah. Luar biasa sekali keluasan ilmu Forum Muslim Bogor yang pastinya sudah terlebih dahulu melakukan penelaahan sampai ke akar-akarnya mengenai perayaan tahun baru Imlek sehingga mereka tidak terjerembap pada apa yang disabdakan Rasulullah, “fa ’aftaw bi gairi ‘ilmin fa ḍallū wa aḍallū” (berfatwa dengan tanpa ilmu hingga membikin orang tersesat dan berlanjut menyesatkan yang lainnya juga).

Sayangnya, Forum Muslim Bogor tidak detail menyuguhkan informasi di dalam kitab-kitab Konghucu yang mana, perintah merayakan tahun baru Imlek itu berada. Ana husnuzan. Barangkali, secara implisit, mereka ingin supaya kita mengamalkan ayat Al-Quran pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk senantiasa membaca.

Sambil komat-kamit baca istigfar dan syahadatain karena takut automurtad, dengan deg-degan ana coba telusuri Da Xue yang disusun oleh Zengzi alias Zeng Shen (505–435 SM), salah seorang santrinya Konghucu itu.

Hasilnya?

Ya jelas nihil. Sebab, Da Xue yang tipis itu, sebagaimana bisa juga antum terawang sendiri melalui kalimat yang ana nukilkan di muka, cuma berisi nasihat-nasihat bagaimana diri, keluarga, negara, dan dunia mesti dikelola.

Antum mau salto berapa kali pun, ana haqqul yaqīn di sana antum tidak akan berjodoh menemukan keterangan mengenai perintah perayaan tahun baru Imlek dari Konghucu—walau hanya sebesar biji żarrah.

Belum puas, ana lantas membaca Zhong Yong, kitab yang konon dikompilasi oleh Zisi alias Kong Ji (481–402 SM), cucunya Konghucu sendiri. Lagi-lagi di situ ana tidak ketemu perintah menggelar hari raya Imlek dari Konghucu.

Ana malah kepikiran kalau zhong yong (jalan tengah), yang juga merupakan salah satu inti dari ajaran Konghucu selain ren (welas asih), selaras dengan prinsip wasaṭiyyah (moderat) dalam Islam.

Terus terang ana sepakat dengan pendapat Liu Zhi (1660–1739). Dalam pengantar 20 jilid kitab keislaman berbahasa Cina berjudul Tianfang Dian Li (Hukum dan Ritual Islam) yang ditulisnya, ulama masyhur Cina zaman dinasti Qing itu menyatakan terdapat banyak kesamaan antara ajaran Islam dengan ajaran Konghucu.

Buktinya, ana menemukan tak sedikit petuah Konghucu yang kongruen dengan ajaran Islam dalam Lun Yu, kitab serupa hadis yang berisi percakapan-percakapan Konghucu yang diriwayatkan oleh anak-anak didiknya.

Anehnya, kendati entah sudah berapa kali ana menghatamkannya, di Lun Yu ana juga masih belum mendapati adanya ayat yang menyebut Konghucu menitahkan pengikutnya merayakan tahun baru Imlek.

Akhirnya ana berpikir, ketimbang waktu terbuang sia-sia mencari yang mungkin sebenarnya memang tidak ada, barangkali lebih baik ana tandai dulu satu per satu beragam ajaran Konghucu yang 11:12 dengan ajaran Islam itu buat dijadikan bahan tulisan selanjutnya.

Ana heran, antum masa nggak capek terus-terusan mengais-ngais perbedaan antara Islam dengan Cina untuk dibentur-benturkan seenak udelnya? Tahun Kambing sudah lama berlalu. Saling mengambinghitamkan mestinya sudah tak laku.

Tapi kan sekarang Tahun Babi?

Woles ae. Dalam kitab Li Ji yang diyakini ditulis oleh Konghucu sendiri, Konghucu pernah bilang kalau “junzi bu shi hun yu” (orang budiman tidak akan makan babi).

Tuh, sama dengan pantangan bagi muslim, kan?

Tak usahlah antum persoalkan asbabul wurud, etimologi, maupun interpretasi kontekstualnya. Toh, antum kan sudah terbiasa memamah mentah-mentah segala informasi lalu memberi hukum ke orang lain biar bisa dimamam lagi.

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2019 oleh

Tags: AgamaForum Muslim BogorIslamKonghucutahun baru imlek
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
intoleransi, ormas.MOJOK.CO
Ragam

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran Ryu Hasan MOJOK.CO
Esai

Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran dr. Ryu Hasan

3 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.