Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Curhat Ibu Rumah Tangga untuk Pemerintah yang Tidak Konsisten

Diana Nurwidiastuti oleh Diana Nurwidiastuti
13 Januari 2017
A A
Curhat Ibu Rumah Tangga untuk Pemerintah yang Tidak Konsisten

Curhat Mamah untuk Pemerintah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pagi ini saya mulai dengan baik-baik saja. Belanja ke tukang sayur, rupanya cabe masih mahal. Ah, gapapa. Beli ayam, ya naik sedikit. Ah, gapapa. Pulang ke rumah bikin sarapan dan kopi buat suami, suami kok gantengnya nggak naik. Ah, gapapa. Kemudian buka handphone dan mendapati berita dari sebuah koran lokal bahwa per Maret nanti elpiji 3 kilogram harganya bakal jadi Rp30.000. Ah, gapapa.

Heh?! Ralat. Ini apa-apaan?!

Sebagai seorang ibu rumah tangga anyaran, saya berusaha belajar jadi ibu rumah tangga yang baik alias ngirit. Belajar masak supaya nggak jajan tiap hari, alhamdulillah bisa kasih ASI ke anak sehingga nggak perlu beli susu formula yang harganya Allahurobbi itu, pakai popok pakaian yang bisa dicuci, berburu diskon minyak goreng buat stok antaran ke saudara saat Lebaran nanti, dan beragam aksi iritologi lain khas ibu-ibu ekonomi menengah. Juga harus kuat iman saat buka Instagram dan lihat model baju kekinian. Mau update lipen pun harus nunggu honor tulisan, itu juga kalau dimuat. Aduuuh, Hayati lelah, Bang ….

Sebenarnya, selama ini saya sudah berusaha jadi warga negara yang baik. Ikut program imunisasi dasar dari pemerintah, bayar pajak tepat waktu, melengkapi administrasi kependudukan, dan hal-hal lain yang meskipun memakan waktu seharian, tetap saya ikuti sebagai bentuk kecintaan saya terhadap negara ini. Namun, ketika sampai pada hal-hal yang berbau subsidi, saya bimbang hati dan selalu mengajukan pertanyaan: sebenarnya saya ini masuk golongan masyarakat yang mana?

Kalau mau dibilang masyarakat miskin, nggak juga. Nyatanya di rumah punya komputer karena suami saya freelance designer. Sesekali kami rekreasi ke mal meski cuma untuk melipir ke restoran fastfood buat beli es krim 7 ribuan. Motor juga ada, meski dulu belinya harus kredit. Handphone juga sudah smartphone, meski saking jadulnya sehingga sudah nggak bisa update sistem operasi lagi. Ketika BBM jenis premium diumumkan hanya untuk warga miskin, kami akhirnya beralih ke Pertamax karena merasa masih mampu, toh sepeda motor bisa diirit-irit pemakaiannya. Namun, kalau mau dibilang kelas menengah atas, ya nggak juga. Rumah masih ngontrak, TV nggak punya (demi menghindarkan anak kami dari gempuran Mars Perindo, sedang mau langganan TV kabel nggak mampu), penghasilan tidak tetap, rumah pun hanya dilengkapi a-se, angin semriwing.

Selama berkeluarga pun kami tidak pernah kebagian jatah raskin, askeskin, dan segala subsidi lain yang ada embel-embel miskinnya. Rumah kontrakan kami listriknya prabayar, dengan daya 1.300 watt. Pernah kami coba datang ke PLN agar dayanya diturunkan jadi 900 watt, toh barang elektronik di rumah kami sedikit. Eh, ternyata harus buat surat pengantar dari RT, RW, dan kelurahan yang menyatakan kami adalah warga miskin yang butuh listrik subsidi. Yo wis, kami mundur.

Lha terus sekarang kok elpiji 3 kilo juga mau disalurkan langsung hanya untuk warga miskin dan UMKM. Saya baca, nantinya hanya yang pegang kartu dari Kemensos saja yang bisa beli gas subsidi. Tiap rumah tangga dijatah tiga tabung per bulannya, dan sembilan tabung untuk UMKM. Apa pemerintah sudah buat kajian (yang mendalam dan komprehensif) tentang hal ini? Bukankah selama ini yang namanya jatah-jatahan itu rawan penyelewengan?

Dulu, pemerintah gencar mewajibkan setiap warga harus beralih ke elpiji yang lebih ramah lingkungan. Meski sudah banyak yang kebledosan gas melon ini, kebijakan tetap lanjut. Lha kok sekarang tiba-tiba jadi disubsidi khusus, dan dengan gampangnya menganjurkan, “Pakai gas pink saja ….”

Saya kemudian browsing ke situs Pertamina untuk tahu tentang Bright Gas ini. Rupanya BUMN kesayangan kita ini mematok harga Rp61.500 untuk isi 5,5 kilo dan Rp317.500 jika ditambah tabungnya. Ini pun jika beli langsung di agen LPG. Harga akan lebih mahal di minimarket atau pengecer lain. Berarti, per kilonya kita harus membayar Rp11.181 atau sekitar dua kali lipat dari harga elpiji 3 kilo saat ini. Terus masih harus bayar harga tabung lagi. Duh!

Hambok ya pemerintah ini konsisten mendukung usaha para ibu muda seperti saya ini, yang keponthal-ponthal masak dengan deg-degan karena takut gas mbledhos. Sekarang malah harus ditambah deg-degan karena harga gas akan naik dua kali lipat. Yang miskin juga tetap deg-degan takut jatah tiga tabung per bulannya habis. Mau balik pakai kayu dan anglo, nanti pasti dinyiyiri para aktivis dan dibilang nggak go green. Balik pakai minyak tanah juga susah nyarinya. Kompor listrik? Watt-nya gede, lagi pula tarif listrik juga akan naik, to? Apa jajan saja tiap hari? Ah, nanti takut dicap sebagai IRT yang malas. Lagian harga masakan juga pasti akan naik karena tidak semua penjual makanan masuk UMKM yang disubsidi.

Terus gimana nasib kami, para masyarakat yang berada pada kelas nggak jelas ini? Apa perlu kami cari penghasilan tambahan dengan ikutan bikin situs penyebar hoax dan kebencian? Apa perlu kami cari followers untuk akun bakulan seprai dengan jadi haters Presiden? Tolonglah, pemerintah mbok jangan sekejam mantan yang nikah duluan, jangan mencla-mencle kalau bikin kebijakan, dan jangan bikin masyarakat deg-degan.

Percayalah, dilahirkan sebagai rakyat Indonesia saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kami deg-degan.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: bright gasfeaturedgas 3 kgharga naiklistrik naiklpj naikminyak tanahPertaminasubsidi
Diana Nurwidiastuti

Diana Nurwidiastuti

Artikel Terkait

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO
Kilas

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Pertamina siagakan LPG untuk penuhi kebutuhan masyarakat selama libur Nataru MOJOK.CO
Ekonomi

Natal dan Tahun Baru, Pertamina Banjiri 3 Juta Lebih LPG Melon untuk Jateng-DIY

23 Desember 2025
Pertamina MOJOK.CO
Ekonomi

Sambut Libur Nataru di DIY, Pertamina Siagakan Motorist

20 Desember 2025
Nasib motor Yamaha Aerox 2023 usai diisi BBM jenis Pertalite, jadi brebet di Jawa Timur. MOJOK.CO
Liputan

Nasib Sial Motor Yamaha Aerox 2023 yang Tersiksa karena Pertalite, Brebet hingga Tak Cukup ke Bengkel Sekali

29 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.