• 21
    Shares

Curhat

Dear Gus Mul…

Perkenalkan, nama saya Yudi, saya adalah pembaca Mojok sejak lama, sejak Mojok nggak punya channel Youtube dan nggak main Instagram.

Langsung saja ya, Gus. Jadi begini, saya ini sedang berada dalam sebuah kompetisi memperebutkan seorang perempuan. Lawan kompetisi saya adalah Darno, sahabat saya sendiri.

Perempuan yang saya dan Darno perebutkan itu namanya Nining. Ia adalah kasir salah satu minimarket koperasi di tempat kami bekerja. Saya sudah lama menaruh hati pada Nining. Perangainya yang ceria, kalem, serta senyumnya yang begitu manis tak kuasa menahan gejolak di dalam hati saya.

Entah bagaimana ceritanya, mungkin karena saya yang tak bisa menyimpan ekspresi jatuh cinta, kawan saya Darno suatu hari mendadak bertanya pada saya, “Kamu suka sama Nining ya, Yud?” Tanya Darno.

Saya ingin mengelak, namun agaknya itu hal yang susah, sebab dengan Darno bertanya seperti itu, maka sudah pasti ia sudah melihat banyak tanda bahwa saya memang suka sama Nining. Akhirnya, saya pun mengakuinya.

Setelah saya mengaku bahwa saya suka sama Nining, hal yang tak pernah saya duga kemudian terjadi. Usut punya usut, ternyata Darno mengakui bahwa dia juga suka sama Nining.

Kami berdua kemudian terjebak pada situasi yang sangat canggung. Saya dan Darno menyukai perempuan yang sama.

Kami berdua kemudian membuat semacam perjanjian tak tertulis untuk bersaing secara sehat. Kami membuat semacam aturan-aturan sederhana tentang bagaimana kami bersikap dalam mengarungi kompetisi. Misal, kami satu sama lain dilarang untuk menjelek-jelekkan atau membuka keburukan di hadapan Nining, atau kami tidak boleh melakukan pendekatan lewat jalur keluarga sebelum jelas siapa pemenang di antara kami berdua.

Kompetisi memperebutkan Nining ini sudah berjalan hampir empat bulan. Dalam waktu yang lumayan lama itu, Darno berada dalam garis terdepan. Maklum saja, secara ekonomi, Darno memang lebih punya banyak uang, sehingga ia lebih mampu untuk sering berbelanja di minimarket. Ia punya modal yang saya tak punya.

Nah, yang ingin saya tanyakan, apakah sampeyan punya saran bagi saya untuk bisa mengimbangi Darno dengan modal keuangan yang jauh lebih kecil?

Yah, barangkali sampeyan pernah punya pengalaman mendekati kasir juga. Siapa tahu, Gus.

Salam,

~Yudi.

 

Jawab

Dear, Yudi.

Jujur, saya sudah pernah menyaksikan banyak kompetisi dalam berbagai hal, namun kelihatannya kompetisi antara sampeyan dan Darno adalah hal yang unik dan berbeda.

Ini adalah kompetisi unik yang pernah saya tahu.

Begini, Yudi. Dalam sebuah kompetisi, setiap peserta selalu punya rahasia atau keunggulan yang tentu saja bisa mereka andalkan untuk menuju kemenangan. Itu hal yang lumrah. 

Dalam kompetisi unik ini, misalnya. Darno punya senjata rahasia (yang sebenarnya nggak rahasia-rahasia amat), yakni berupa uang yang lebih besar dari sampeyan, sehingga ia punya kesempatan lebih banyak untuk bertemu dengan Nining karena ia tentu saja lebih banyak berbelanja.

Senjata itulah yang membuat Darno —menurut sampeyan— berada dalam garis terdepan. Jujur, dalam hal ini, saya tak bisa membantu banyak. Namun begitu, saya bisa memberikan beberapa saran yang mungkin bisa sampeyan praktikkan, setidaknya untuk bisa mengimbangi Darno.

Saran pertama, berbelanjalah dengan seefisien mungkin. Sekali lagi, seefisien mungkin. Ini cara yang mungkin bisa sedikit mengimbangi belanja Darno. Misal, dalam satu hari, Darno bisa berbelanja tiga kali dengan menghabiskan uang 100 ribu. Sampeyan bisa melakukannya dengan modal yang lebih kecil. Ini kan soal kuantitas, bukan soal harga. Dengan uang uang 20 ribu, sampeyan bahkan bisa belanja sampai 4 kali: belanja pertama beli chiki lays dan aqua, belanja kedua beli beng-beng, belanja ketiga beli pasta gigi, dan belanja keempat beli korek api.

Saran kedua, gunakan keuangan kawan untuk melancarkan urusan sendiri. Hal ini bisa dilakukan misal dengan menawarkan diri kepada kawan-kawan untuk membelikan titipan belanjaan kawan-kawan. “Aku mau ke minimarket beli minum, ada yang mau titip?” Nanti di minimarket, sampeyan tinggal belanja titipan kawan-kawan sampeyan, sedangkan sampeyan sendiri tentu saja tidak beli minum. Sebab… ya sebab sampeyan kismin. Urusan minum pasti bawa dari rumah. Hahaha.

Saran ketiga, taktik uang receh. Seperti yang kita tahu, minimarket biasanya butuh uang receh cukup banyak sebagai kembalian. Nah, pada posisi ini sampeyan bisa mengambil peluang. Dari rumah, sampeyan bisa menyiapkan banyak uang receh, kemudian bawa ke tempat kerja, dan mampirlah ke minimarket untuk menukarnya kepada Nining. Selama proses penghitungan uang receh tersebut, manfaatkan waktu sebaik-baiknya, ajak ngobrol, kalau perlu, lancarkan manuver-manuver gombal.

“Bapak kamu tukang cari uang receh, ya?”

“Kok tahu?” (Ntah si Nining bakal jawab ini atau nggak, tapi, anggap saja dia jawab)

“Soalnya kamu telah meng-krincing-krincing-kan hatiku.”

Nah, itulah beberapa saran dari saya. Maaf, saya cuma bisa memberikan saran seputar mengimbangi kuantitas kunjungan ke minimarket. Sebab, untuk saran yang lain-lain, biarlah sampeyan yang usaha sendiri.

Yang suka sama Nining kan sampeyan, bukan saya. Jadi saya nggak mau terlalu banyak ikut mikir. Sekian

~Agus Mulyadi

  • 21
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles