Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Chelsea Islan Penyelamat Loper Koran

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
18 April 2015
A A
Chelsea Islan Penyelamat Loper Koran

Chelsea Islan Penyelamat Loper Koran

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Si Budi Kecil kuyup menggigil. Menahan dingin tanpa jas hujan. Di simpang jalan Tugu Pancoran. Tunggu pembeli jajakan Koran” – Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran (1985)

Ketika memberi sambutan untuk syukuran filmnya, Guru Bangsa Tjokroaminoto, di Studio 5 Empire XXI, Jl Solo, Yogyakarta, di akhir pidatonya yang secara keseluruhan layak quote tepuk tangan, Pak Garin Nugroho merasakan tenggorokannya tercekat. Beliau lalu memilih cepat-cepat melempar menyerahkan mik kepada kru.

Dan hati-hati, jika Pak Garin tenggorokannya sudah tercekat hebat dan air bah di pelupuk mata siap menerjang—ini agak jarang terjadi, gak sesering Ibu Mega, dan gak seroyal Kanda Taufiq Abdul Gaffar (karena dianggap kepanjangan, nama bapaknya dibuang, dan dipakai nama kakek: Ismail. Jadilah Taufiq Ismail).

Pastilah akan ada sesuatu yang mencengangkan. Benar saja, kejutan yang disimpan Pak Garin Nugroho dalam Tjokroaminoto ternyata adalah Chelsea Islan. Dalam sejarah Tjokro, peran seperti yang dibawakan Chelsea tak bakal ditulis sejarawan sekaliber Nugroho Notosusanto atau sejarawan muda berbakat kritis bermental kuat seperti Pak Komisaris Baja Hilmar Farid.

Jangankan kepikiran, bengong saja gak sampai. Ya, Chelsea Islan adalah penyelamat wajah loper koran. Semua nama-nama yang disebut dalam film Tjokro, iyes, adalah pemimpin redaksi koran yang hebat. Tapi tiba-tiba Chelsea Islan menyorongkan wajah imut tanpa cacat dari swargaloka di antara muka-muka keras duniawi—termasuk muka unyu bin sederhana dari Mas Cindil alias Gunawan Maryanto.

Chelsea maju dan dengan percaya diri tanpa pamrih menyejajarkan diri dengan lejen-lejen kuminis muda Indonesia, pentolan nasionalisten, dan pembela Islam yang teguh akidah yang meguru di rumah Tjokro. Dan semua-muanya cowok apkiran yang hanya mikirin revolusi sampai lapar sonder cewek. Kecuali Kusno yang nyambi.

Saya merasa, ini saatnya, di tahun 2015, sejak Tirto Adhi Soerjo bikin Medan Prijaji 1907 dan Usmar Ismail syuting pertama film Darah dan Doa 1950, loper koran diajeni. Selama ini, loper koran adalah proletar ceprit dalam rantai panjang dunia pers. Dan yang akhirnya memanusiakan loper itu adalah SPS PWI AJI Chelsea Islan.

Puji Tuhan, Puji Pak Garin. “Siapa aku ini, Tuan Tjokro!?” tanya Chelsea Islan. Berkali-kali. Kalau mahasiswa senior Yogyakarta ditanya Chelsea seperti itu, jawabannya bisa sangat mudah dan ces: “Dik Chelsea anak Uncok. Titik.” Uncok adalah Universitas Cokroaminoto.

Seperti nasib loper koran, begitu pula nasib kampus Uncok dalam sejarah pergerakan revolusioner di Indonesia. Dalam sejarah mahasiswa 1998, dicatat potensinya saja enggak—apalagi 1966. Mungkin hanya disebut secara minimum dalam satu kalimat yang tercerai-berai dalam klipingan koran lokal Bernas atau Kedaulatan Rakyat. “Siapa aku ini, Tuan Tjokro!?” tanya Chelsea Islan. Berkali-kali.

Chelsea, kamu duta loper koran yang lahir di tahun 2015. Chelsea, kamu telah mengangkat derajat kebanggaan citrawi loper koran macam si Budi Kuyup yang sering mangkal di Tugu Pancoran, Jakarta, atau nenek-nenek yang duduk sejak pukul empat pagi di kios korannya di Kilometer Nol Yogyakarta.

Sebagai pengkliping koran, saya menyembah kepadamu yang mau-maunya berada dalam satu saf dengan barisan proletariat di matarantai dunia koran itu. Chelsea, sosokmu hadir tepat ketika zaman ini bersulih wajah dan punya istilah keren pengganti frase loper koran. Ya, loper koran itu di zaman blokir web ini bersulih nama jadi buzzer. Dan salah satu loper koran buzzer terbesar saat ini adalah Arman Dhani Jonru. Ya, Jonru, Jonru Ginting. Dialah loper “web Sarekat Islam”  pasca generasimu. Mendengar itu, Chelsea Islan langsung menangis sesenggukan. Keras. Sangat keras.

“Namaku Chelsea Islan, bukan Chelsea Islam. Aku jual koran, bukan jual Quran!”

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2017 oleh

Tags: Chelsea IslanGarin NugrohoJonruTjokroaminoto
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Jogja Jadi Kota Sinema, Upaya Mendidik Selera Penonton di Tengah Gempuran Film Horor dan Perselingkuhan yang Kosong Nilai MOJOK.CO

Jogja Jadi Kota Sinema, Upaya Mendidik Selera Penonton di Tengah Gempuran Film Horor dan Perselingkuhan yang Kosong Nilai

11 Agustus 2024

Gibran Rakabuming Bicara Soal Bisnis, Mata Najwa, Sampai Jonru

18 Oktober 2023
Tjokroaminoto: Bapak Kos Soekarno, Semaun, Dan Kartosoewiryo

Tjokroaminoto: Bapak Kos Soekarno, Semaun, Dan Kartosoewiryo

13 April 2023
Asisten Sutradara, Jantungnya Sebuah Produksi Film MOJOK.CO

Asisten Sutradara, Jantungnya Sebuah Produksi Film

15 Juli 2022

Ong Harry Wahyu, Art Director Daun di Atas Bantal dan Habibie Ainun

25 Januari 2021

Annisa Hertami: Skenario Kuat, Film Bisa Selamat

22 Januari 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.