Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berbaik Sangka kepada Dua Menteri yang Makan di Warteg

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
8 Oktober 2015
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dear Bapak Menteri Perindustrian Saleh Husin dan Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dakhiri,

Saya baru saja selesai membaca berita tentang sampeyan berdua. Itu lho, berita sampeyan berdua yang nekat makan di warteg dekat istana karena sudah saking tak kuatnya menahan lapar selepas melakukan agenda kegiatan seharian.

Berita itu heboh banget lho, Bapak-bapak sekalian… Bahkan sampai jadi bahan perbincangan di kalangan netizen. Banyak yang kagum dengan aksi sampeyan berdua. Namun tak sedikit pula yang justru menghujat karena menurut mereka itu hanya sekadar pencitraan belaka.

Terlepas dari berbagai tanggapan yang muncul ke permukaan, saya sendiri tidak setuju dengan aksi “nyeleneh” sampeyan berdua. Berikut saya lampirkan beberapa alasannya.

Sampeyan berdua katanya kelaparan seusai mengikuti peluncuran program “Investasi Padat Karya untuk Menciptakan Lapangan Kerja”, di salah satu pabrik sepatu di Balaraja, Tangerang, dari siang hingga menjelang sore, dan belum sempat makan. Sekarang bayangkan, bagaimana perasaan si pemilik pabrik sepatu. Dengan sampeyan berdua makan di warteg karena “kelaparan”, itu sudah cukup menyakiti hati si pemilik pabrik, karena ia merasa tidak sanggup menjamu sampeyan berdua dengan hidangan yang layak dan mengenyangkan.

Saya jadi kasihan sama si pemilik pabik sepatu, ia pasti dituduh zolim karena sampai lupa tidak memberi makan kepada sampeyan-sampeyan yang sekelas menteri ini. Mungkin ia sekarang sedang menangis sendirian di kamarnya, meratap penuh penyesalan. Seperti hobinya Bapak Air Mata Nasional kita, Nuran Wibisono. Apakah bapak-bapak sekalian berpikir sampai sejauh itu? Ckckckck…

Dan bukan hanya pemilik pabrik sepatu saja lho yang sampeyan berdua sakiti hatinya. Ajudan-ajudan sampeyan berdua juga merasakannya. Bayangkan, bagaimana perasaan para ajudan itu saat tahu sampeyan berdua harus repot-repot makan di warteg, padahal sampeyan bisa dengan mudah mengutus mereka untuk membelikan nasi kotak atau nasi Padang. Sungguh keterlaluan sekali.

Mereka pasti sakit hatinya karena merasa tidak becus dan tidak bisa melayani tuannya dengan baik. Mungkin sekarang ini, ajudan-ajudan sampeyan juga sama seperti si pemilik pabrik sepatu: menangis sendirian di kamarnya, meratap penuh penyesalan, sambil merutuki diri sendiri.

“Aku kotor, aku hina, aku hanya ajudan tak berguna yang hanya makan gaji buta! Mengapa Kau timpakan ini padaku Tuhan… mengapaaaaa????!!!”

Nah, sebab selanjutnya, saya tak setuju dengan aksi sampeyan berdua makan di warteg, adalah karena aksi tersebut sangat berpotensi menjadi ajang adu domba. Maksud L?

Aksi sampeyan berdua, tanpa disadari, telah membuka keran amunisi baru bagi Jonru untuk menghantam pemerintahan Jokowi. Minimal dia jadi punya bahan untuk membuat tulisan “propaganda” dengan judul: “Menterinya saja kelaparan, apalagi rakyatnya”. Ini jelas sangat membahayakan stabilitas nasional. Aduuuh, pucing pala beta.

Apa yang paling membuat saya sangat tidak setuju dengan aksi sampeyan berdua adalah, aksi tersebut bisa membuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin berkurang. Lho, kok bisa? Lha, yo bisa tho.

Jadi begini lho, Pak Hanif dan Pak Saleh… Presiden kita tercinta sekarang ini kan sedang dihujat banyak orang, dituduh pencitraan saat fotonya seorang diri di atas lahan bekas kebakaran di Riau serentak muncul di seluruh media di Indonesia. Ealah, lha kok sekarang malah sampeyan berdua yang ikut-ikutan melakukan aksi yang bisa memancing masyarakat untuk berspekulasi pencitraan juga. Hal ini cukup signifikan lho, untuk menurunkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Sampeyan berdua nggak kepikiran kan?

Saya sih sempet mikir, barangkali makan di warteg memang bukan untuk pencitraan, tapi sampeyan berdua sengaja lakukan agar bisa nyambi rokokan. Soalnya di istana kan tidak boleh merokok. Jadi, nanti seandainya sampeyan berdua dipanggil sama Pak Jokowi karena rapat akan segera dimulai, setidaknya, sampeyan berdua bisa santai sejenak lalu menjawab: “Sek, Jok, sak udutan!”

Iklan

Tapi kita semua tahu, tidak semua rakyat Indonesia bisa berpikir sepolos dan sebaik sangka saya. Jadi jelas, aksi makan di warteg yang bapak berdua lakukan, menurut saya, masih lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Ah, tapi ya mau bagaimana lagi, sudah kejadian ini… Huft.

Elo berdua emang resek kalau lagi laper! 

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2021 oleh

Tags: jokowiMediapemerintah
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO
Esai

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
pertamina bikin mudik lewat jalan tol semakin mudah.MOJOK.CO

Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access

20 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.