Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beda ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Bad Genius’ dalam Suguhkan Impian Kuliah ke Luar Negeri

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
3 Oktober 2020
A A
Beda ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Bad Genius’ dalam Suguhkan Impian Kuliah ke Luar Negeri

Beda ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Bad Genius’ dalam Suguhkan Impian Kuliah ke Luar Negeri

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sekolah ke luar negeri sering dianggap sebagai impian terbesar seorang anak ekonomi kelas bawah. Cuma caranya mau kayak Laskar Pelangi atau Bad Genius?

Sebelum film 5 cm kasih influence orang untuk naik gunung dan Filosofi Kopi kasih endorse kopi asli non-sachet sebagai minuman khas anak indie, Laskar Pelangi lebih dulu menebarkan pengaruhnya di bumi pertiwi.

Andrea Hirata menggambarkan pendidikan adalah pemutus rantai kemiskinan. Ia membuktikannya sendiri setelah menerbitkan novel mega-best-seller yang mengisahkan perjuangan putra daerah pergi kuliah ke luar negeri.

Laskar Pelangi menjadi waralaba sukses yang dialihwahanakan menjadi film, sinetron, drama musikal, dan lagu yang dinyanyikan oleh mantan band calon presiden. Bukunya pun telah beberapa kali dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam beragam bahasa di dunia. Salah satunya bahasa Swahili.

Semua ini berkat kritikan Andrea Hirata terhadap kualitas pendidikan Tanah Air yang belum merata serta kesejahteraan guru yang memprihatinkan. Sekaligus solusi yang ditawarkan sebagai happy ending: kuliah ke luar negeri.

Demi menuntut ilmu, sang penulis novel mengantarkan tokoh-tokohnya untuk menjelajahi Benua Eropa dan menjengkali Afrika. Sehingga para karakter novelnya bisa kuliah sembari traveling ala trenggiling backpacker, diselingi mencari cinta monyet yang hilang.

Setelah membaca tetralogi Laskar Pelangi, tak jarang seorang pelajar ingin mengikuti jejak karakter novel idolanya untuk masuk Universitas Indonesia (UI) dan lanjut kuliah pascasarjana ke luar negeri.

Laskar Pelangi memberikan role model lewat tokoh-tokohnya yang bisa mewujudkan impiannya dengan bekerja keras dan bekerja cerdas. Semua dilakukan dengan cara yang adiluhung dan patut diteladani oleh semua akademisi.

Nasib terlahir miskin tidak menyurutkan semangat sang pemimpi untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya. Sebab di dunia ini tidak semua harus dibayar pakai uang (sendiri). Ada yang namanya beasiswa pendidikan.

Kalau mau tahu kisah pelajar yang kuliah ke luar negeri dengan biaya orang tua, kita bisa menonton film Rentang Kisah yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Gita Savitri.

Ada adegan ketika orang tua kesulitan finansial di kampung halaman dan si anak harus bertahan hidup di negeri orang dengan cara-cara kreatif. Gitasav sampai ikut kajian demi jajanan dan mengumpulkan botol bekas untuk dijual lagi di Jerman. Sampai akhirnya dia menjadi selebgram dan youtuber inspiratif.

Namun, beasiswa tidak selalu menjadi solusi jitu untuk kendala biaya pendidikan. Pada praktiknya, di Indonesia saja, dana bantuan operasional sekolah (BOS) saja bisa dikorupsi. Beasiswa Bidikmisi dituding tidak tepat sasaran, Kartu Jakarta Pintar malah dipakai karaoke dan beli emas. Sementara beasiswa LPDP bisa jadi utang yang ditagih negara di kemudian hari.

Setidaknya, itulah yang ingin disampaikan oleh serial Thailand bertajuk Bad Genius: beasiswa dijadikan alat kepentingan oknum. Terkisah seorang gadis cerdas juara lomba scrabble bernama Lin. Impiannya adalah kuliah ke luar negeri. Mungkin ambisinya itu tercetus setelah menamatkan baca novel Laskar Pelangi bahasa Thailand.

Namun, beasiswa kuliah ke luar negeri itu tidak bisa dimenangkan begitu saja hanya dengan kepintaran Lin. Kepala Sekolah ingin Lin mengundurkan diri sebagai kandidat penerima beasiswa. Sebab Bu Kepsek punya keponakan yang ingin dapat beasiswa yang sama.

Iklan

Di saat yang sama, ada Pat si anak orang kaya yang hendak dikirim oleh sang ayah untuk kuliah ke luar negeri. Namun, kualifikasi Pat belum memadai untuk lulus ujian STIC. Demi uang, Lin pun membantu para pelajar malas tapi berduit untuk lulus ujian dengan menjual sontekan.

Satu lagi cara cepat kaya ala orang Thailand. Setelah sebelumnya ada yang jadi miliarder dengan berjualan keripik rumput laut.

Rasa kecewa Lin terhadap sistem pendidikan di sekolahnya membuatnya jadi Bad Genius. Sehingga dia punya pembenaran untuk setiap kecurangan yang dilakukannya. Kalau dia tidak curang, hiduplah yang akan mencuranginya.

Namun, pada akhirnya, Lin bertobat ala sinetron azab. Lin meninjau kembali tentang impiannya untuk kuliah ke luar negeri. Yang artinya dia harus meninggalkan ayahnya, keluarga satu-satunya di Thailand, serta pujaan hati yang belum tentu kuat LDR. Terlebih meninggalkan sistem pendidikan di negaranya yang masih korup.

Alih-alih mewujudkan impiannya sendiri untuk kuliah ke luar negeri, Lin memilih bertahan di negaranya. Lalu mulai berusaha masuk ke kementerian pendidikan. Berkontribusi membenahi sistem dari dalam.

Pelajar pintar dan berprestasi di Laskar Pelangi dan Bad Genius sama-sama diuji. Di Laskar Pelangi, murid terjenius di kelas bernama Lintang harus putus sekolah karena sudah tidak punya pilihan selain menggantikan almarhum ayah untuk mencari nafkah. Namun, di Bad Genius, tokohnya harus memilih pilihan sulit demi membayar biaya pendidikan: anak cerdas yang tersakiti jadi pebisnis sontekan ujian.

Laskar Pelangi dan Bad Genius adalah dua kemungkinan untuk sebuah impian yang sama. Seseorang bisa berakhir seperti Ikal dan Arai: kuliah ke luar negeri, pulang kampung langsung sukses dan terkenal. Namun, apabila terbentur sistem yang tidak adil seperti di Bad Genius, seseorang bisa saja terbentuk menjadi calon koruptor.

BACA JUGA Sudah Tajir Kok Cari Beasiswa Bidikmisi, Kemaruk Amat Kayak Fir’aun dan tulisan Haris Firmansyah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2020 oleh

Tags: bad geniusbeasiswaKuliah luar negeriLaskar Pelangi
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO
Kuliner

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.