Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bagi Manusia Maupun Buaya, Diusir dari Rumah Sendiri Sama Menyakitkannya

Oktavolama Akbar Budi Santosa oleh Oktavolama Akbar Budi Santosa
6 Desember 2017
A A
buaya-mojok.co

buaya-mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Buaya kan juga butuh rumah. Kenapa dia diusir? Apa dia harus ngontrak? Apa dia harus cari rumah baru? Apa Senin harganya juga naik?”

Jogja dan beberapa daerah di Jawa Timur pada minggu terakhir November terkena bencana. Hujan yang tak kunjung reda sebagaimana saya yang tak kunjung menyelesaikan skripsi membuat beberapa daerah diterjang banjir. Konon hal ini disebabikan oleh Siklon Cempaka yang datang dari Samudera Hindia. Menurut sesebaran info di WA, bakal ada badai lanjutan bernama Dahlia. Saya kira, kalau ada badai lagi bakal diberi nama Euphorbia.

Setelah hujan cukup reda dan banjir surut, warga Jogja, terutama daerah Godean, digegerkan oleh penampakan buaya (buaya jadi-jadian apa sungguhan? Kok disebut penampakan?). Menurut berita yang saya baca, buaya itu tiba-tiba nongol di kali, padahal sebelumnya tidak pernah ada di situ. Warga mengatakan bahwa diduga, buaya itu berasal dari rawa yang tak jauh dari kali.

Ya kali aja buayanya mau ganti tempat tongkrongan, masak nggak boleh? Tapi, hasilnya banyak warga yang resah dan menolak keputusan si buaya yang ingin mencoba tongkrongan baru. Warga lalu ramai-ramai mempersekusi. Buaya ditangkap, dilakban mulutnya, tubuhnya diikat. Jepret, jepret, jepret, laporkan ke Info Cegatan Jogja, grup mancing, jadi berita dan segera menuju ke grup WA warga Jogja sekalian.

Geger keberadaan buaya di kali ataupun sungai bukan kali ini saja di Jogja. Awal 2017, warga Bantul sempat geger setelah salah seorang warga Kretek, Bantul melihat buaya lagi ngadem di Sungai Opak. Warga resah, takut, dan berharap buaya ditangkap. Jepret, jepret, jepret, laporkan ke Info Cegatan Joga, grup hobi di FB lainnya, grup WA, jadi berita, dan balik menyebar ke grup WA lagi.

Saya pribadi mempertanyakan, kenapa harus geger? Buaya kan memang rumahnya, habitatnya, di sungai. Terus, kenapa kita harus heran? Apa salah buaya di sungai? Kalau menurut saya, harusnya warga bahagia karena itu tandanya sungainya layak huni, sungainya sehat karena buaya aja sudah mau balik lagi ke sana. Apa jangan-jangan di era bumi datar ini, sungai bukan habitat buaya ? Apa sudah beralih menjadi habitat plastik sehingga selain plastik, dilarang menghuni dan yang melanggar harus ditangkap plus diusir?

“Buaya itu bisa mengancam kita, Mas,” seorang tokoh imajiner antibuaya menyahut. Lho, buaya mengancam ini maksudnya bagaimana? Apa buaya ini membawa ideologi komunis yang selama ini dianggap sebagai ancaman utama negara? Apa buaya ini membawa ajaran baru yang bisa merusak akidah umat? Apa buaya ini mencemari sungai dan akan berpengaruh pada hidupmu?

“Bukan gitu, Mas, buaya ini bisa menyerang bahkan memakan kita.” Dia berencana memperpanjang debat tampaknya. Khas netizen.

Eh tunggu dulu, buaya kalau menyerang manusia justru lebih logis dibanding kamu saat menyerang saudara-saudaramu. Buaya menyerang hanya ketika mereka diganggu. Lha kamu ? Baru diduga saja sudah main serang sana-sini, membabi buta, tanpa mau mempertimbangkan lebih jauh terlebih dahulu.

Buaya memakan manusia? Memang ada kasus buaya memakan manusia, tetapi berapa banyak to? Toh buaya itu juga kalau ada makanan alamiahnya juga tidak akan memakan manusia. Daging manusia kebanyakan micin, nggak enak buat buaya. Bahkan buaya itu sebenarnya bisa cuma makan sekali lalu berpuasa berbulan-bulan. Lha kamu, kalau sehari makan roti tiga kali diselingi Indomie, masih belum makan namanya. Belum lagi kalau ada resto baru dengan promo beli 1 gratis 1, pasti diserbu.

Buaya tidak begitu. Ada kerbau semlohe nan lezat lewat, kalau tidak lapar ya tidak dimakan. Kerbaunya bebas saja mau lewat atau sekadar minum. Alhamdulillah, selain On The Spot, tontonan Discovery Channel dan National Geography Channel saya berguna juga. Habis ini saya janji bakal mengurangi nonton Rumah Yuyu.

Terus, sekarang kita bayangkan: kita lagi di rumah leyeh-leyeh di teras rumahseperti biasanya lalu ditangkap ramai-ramai oleh warga, diikat dan disekap, difoto, lalu dijadikan meme. Alasannya satu, kamu dianggap mengancam dengan tindakan leyeh-leyehmu itu. Piye perasaanmu nek dadi boyo? Kalau sudah begitum yang sebenarnya mengancam itu siapa? Manusia apa buaya?

“Ya nanti kan setelah ditangkap, diserahkan untuk ditangkarkan, Mas.”

Ditangkarkan pun nantinya bakal dikembalikan ke habitatnya, Bro, alias balik lagi ke sungai. Jadi ya langkahmu ki muspro, percuma. Mau dipindah ke kebun binatang? Lha kok kita ini sebagai manusia senang banget sih memenjarakan hewan?

Iklan

Sudah enak-enak di rumah, malah dipaksa digusur atau dipenjara. Ini termasuk jahat apa jahat banget?

Ya sih, manusia takut dimakan buaya itu wajar. Tapi, kita bisa kan tidak mendekati sungai habitat si buaya. Kalau mau mancing, toh masih ada ribuan spot lain. Kalau mau berak atau kencing, jangan di sungai. Di WC. Kalau nggak ada, paksa pemerintahmu bikin. Fasilitas sanitasi itu salah satu tugas negara untuk menyediakannya dalam rangka menjaga kesehatan warga. Nuntut pemerintah itu boleh kok, wajib malah.

“Wis, Mas, pokoknya buaya ini membahayakan dan harus ditangkap. Agar warga di sini tetap aman!”

Ya, begitulah manusia. Demi alasan keamanan yang sebenarnya relatif, ancaman sekecil apa pun bisa dilibas. Jangankan buaya, sesama manusia juga bisa ditangkap, diusir dari rumahnya, bahkan dilibas demi alasan keamanan. Bisa keamanan ekonomilah, keamanan investasilah, keamanan takhta politiklah, macam-macam pokoknya, banyak contoh nyatanya. Begitu ancaman sudah berhasil dihilangkan, tinggal diatur sedemikian rupa agar dikira sebagai upaya heroik menyelamatkan warga, bangsa, dan dunia sehingga banyak yang bersukacita.

Membayangkan saya menjadi buaya, saya pikir pengusiran paksa dari habitat sendiri sama saja menyakitkannya buat manusia, hewan, maupun tumbuhan. Apa pun alasannya: keamanan, reklamasi, pabrik semen, atau pembangunan bandara internasional.

Terakhir diperbarui pada 6 Desember 2017 oleh

Tags: banjirbuayahewanJogjamusim hujanpenggusuran
Oktavolama Akbar Budi Santosa

Oktavolama Akbar Budi Santosa

Pengulas mie di @nyaaarimie

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO
Transportasi

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.