Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Apa yang Dilakukan oleh Kristen Gray adalah Hal yang Biasa Saja dan Tak Istimewa

Kurnia Gusti Sawiji oleh Kurnia Gusti Sawiji
20 Januari 2021
A A
kristen gray
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apa yang dilakukan oleh kristen Gray, yang membuatnya sampai harus dideportasi itu, sejatinya adalah hal yang biasa saja. 

Membaca tulisan Mbak Katharina Stogmuller yang menceritakan tentang cuitan seorang wanita Amrik bernama Kristen Gray itu tak bisa tidak membuat saya agak nggreges karena memang, apa yang dilakukan oleh Mbak Gray itu sebenarnya sangat dekat dengan apa yang pernah saya lihat: orang-orang yang mengadu nasib ke negeri lain dengan cara-cara yang patut dipertanyakan.

Jujur saja, bagi saya, apa yang dilakukan oleh Mbak Gray itu sebenarnya nggak ada spesial-spesialnya. Malahan saya berani mempertaruhkan koleksi mainan dinosaurus saya bahwa orang Indonesia jauh lebih hebat dan licin dalam melakukan apa yang Mbak Gray lakukan.

Netizen Indonesia seharusnya tahu bahwa praktik melangkah ke negeri orang lalu menetap di sana dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai beranak-pinak di sana, adalah makanan sehari-hari bagi para TKI di Malaysia. Bagaimana tidak, jarak yang dekat dan akses yang mudah membuat negeri jiran menjadi sasaran empauk bagi mereka yang sudah diempaskan oleh negaranya sendiri. Saya rasa tidak perlu buang-buang waktu untuk memberikan data statistik tentang Malaysia yang mempunyai jumlah TKI terbanyak di antara negara-negara lain.

Sebut saja namanya Pak A, seorang sopir taksi yang berasal dari Sumatera Barat dan sudah merantau secara gelap ke Malaysia sejak tahun 70-80an. Beliau adalah sopir taksi yang selalu dipanggil keluarga saya jika kami ingin berpergian ke mana-mana sebelum maraknya aplikasi Grab. Dari beliaulah saya mendengar cerita tentang bagaimana orang-orang Indonesia berusaha untuk meninggalkan Indonesia dan mencari kehidupan yang layak di negeri jiran. Beliau bahkan menceritakan kepada saya di mana saja tempat-tempat yang bisa digunakan untuk keluar-masuk Malaysia tanpa perlu diendus aparat.

Pada akhirnya, tinggal dan menetap di negeri orang adalah sebuah cara untuk bertahan hidup. Seseorang memiliki hak penuh terhadap kehidupannya, dan mereka juga berhak untuk menentukan standar kenyamanan hidup baginya. Kalau Denny Siregar, misalnya, merasa nyaman untuk hidup dengan pola pikir dan logika sebesar ikan teri, maka itu adalah haknya karena itulah kenyamanan baginya. Begitu juga dengan Mbak Gray, yang baginya standar kenyamanan adalah ritme kehidupan di Bali.

Kendati demikian, saya selalu mengatakan kepada murid-murid saya bahwa yang namanya tindak kejahatan atau kriminal itu tidak akan menjadi tindak kejahatan jika tidak ketahuan. Jika seseorang, misalnya, melakukan tindak kejahatan dan ketahuan, maka orang tersebut boleh jadi sama sekali tidak ada bakat untuk berbuat jahat. Pesan moralnya: kalau memang tidak ada bakat jadi jahat, ya mendingan jangan jadi jahat. Ini saya rasa berlaku untuk Mbak Gray.

Saya yakin bahwa Mbak Gray ini bukanlah orang jahat. Seperti yang saya katakan, tidak ada yang jahat dari seseorang yang ingin mencari kenyamanan hidup menurut standarnya sendiri. Hanya saja ya jangan diumbar-umbar juga.

Bagaimanapun, mengajak orang untuk tinggal ke Bali, mengikuti cara dan gaya hidup yang digunakan untuk survive dengan menumpuk pundi-pundi penghasilan tanpa memberi balik kepada tempat Anda tinggal tentu saja secara tidak etis dan juga tidak fair.

Jauh lebih tidak etis lagi kalau mengundang orang lain agar datang ke negara yang sedang kewalahan menangani pandemi.

Saya jadi ingin menceritakan kisah tentang seorang warga negara Indonesia di Malaysia yang kurang lebih mengalami kasus yang sama dengan Mbak Gray.

Ia adalah seorang mahasiswa di salah satu kampus ternama di Malaysia. Rencana jangka panjangnya sebenarnya cukup ciamik: lulus kuliah tepat waktu dengan IPK yang memuaskan, ambil beasiswa, lalu kerja dan mendapatkan visa jangka panjang supaya bisa menanggung keluarganya di Malaysia.

Si mahasiswa ini memang sudah merasa tidak nyaman dengan negaranya sendiri. Ia dan keluarganya pindah ke Malaysia sudah sejak tahun 2007, bersama ayahnya yang ditugaskan ke sana. Di sepanjang waktu ia di Malaysia, ia merasakan ketenangan dan kenyamanan yang sesuai dengan standar dirinya dan keluarganya. Segala carut-marut di Indonesia memang sudah tidak tahan ia terima.

Tetapi kehidupan berkata lain. Si mahasiswa ini sempat goyang trayek akademiknya, sampai ia harus mengulang beberapa kali untuk menamatkan satu atau dua mata kuliah saja. Pada waktu yang sama, ayahnya juga mulai sakit-sakitan, sehingga ia harus memikirkan cara untuk bisa menggantikan ayahnya mencari nafkah. Singkat cerita, ia pun mendapat sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan kecil yang mau menerima warga asing yang tidak memiliki visa kerja.

Iklan

Sekadar informasi, Malaysia memang melarang keras mahasiswa yang memegang visa pelajar untuk bekerja. Jadi jelas tindakan si mahasiswa ini secara teknis melanggar undang-undang.

Tetapi apa daya, keadaan membuatnya begitu. Ia pada akhirnya lulus kuliah, tetapi dengan nilai pas-pasan. Perusahaannya tidak mau menanggung pemindahan visanya dari pelajar ke pekerja, tetapi tetap mau menerimanya bekerja dengan syarat: segala risiko terkait izinnya akan ditanggungnya sendiri.

Untuk mencari kerja baru akan memakan waktu. Maka si mahasiswa itu pun memutuskan untuk tetap bertahan di perusahaan itu—sampai akhirnya visanya mati, dan ia pun harus hidup secara sembunyi-sembunyi. Tidak seperti Mbak Kristen Gray, ia tahu betul bahwa ini adalah perjuangan pribadinya, dan tidak ada satu telinga pun yang boleh tahu. Karena jika ada satu orang saja yang tahu, maka tamatlah riwayatnya.

Tentu saja, kisah petualangannya berakhir karena dihantam pandemi. Perusahaannya menamatkan sepihak perjanjian kerjanya lantaran “ingin menjaga keselamatan dan mengurangi tenaga asing”. Ia pun terpaksa pulang ke Indonesia dengan tangan kosong.

Hmm? Apa? Anda ingin tahu siapa orang bodoh itu?

Well, of course I know him. He’s me.

BACA JUGA Cara Orang Minang Menghargai Lauk Kemarin dan tulisan Kurnia Gusti Sawiji lainnya.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2021 oleh

Tags: Balikristen graywna
Kurnia Gusti Sawiji

Kurnia Gusti Sawiji

Artikel Terkait

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO
Catatan

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO
Esai

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO
Ragam

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.