Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

Septradi Setiawan oleh Septradi Setiawan
27 Februari 2026
A A
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Ilustrasi Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jadi ketua RT saat usia relatif masih muda menyadarkan saya bahwa ini memang bukan pekerjaan prestisius, tapi pekerjaan kuli.

Menjadi ketua RT di usia yang relatif muda jelas bukan cita-cita. Ini adalah pilihan terakhir, jalan sunyi, setelah mimpi besar menjadi wakil presiden (baca: pejabat negara) kandas, digilas sistem, kekuasaan dan realitas yang terlalu lama saya abaikan sambil pura-pura paham politik. 

Jalan Tuhan, entah bagaimana logikanya, justru membawa saya semakin menjauh dari bayangan jadi pejabat negara. Maka, pelan-pelan, saya belajar satu hal yang paling sulit bagi manusia bercita-cita besar: merelakan.

Jadi ketua RT itu jalan Tuhan yang prosesnya jujur dan brutal

Kini, di usia 34 tahun, usia yang konon belum tua, tapi sudah cukup akrab dengan pegal-pegal tanpa sebab, saya justru resmi menjabat Ketua RT di sebuah kampung di Kabupaten Bogor. Bukan lewat lobi senyap, bukan pula hasil baliho di tikungan gang, apalagi kaos seragam. 

Prosesnya jauh lebih jujur dan brutal. Semua warga adalah calon. Dan entah kehendak semesta atau keisengan Tuhan, nama yang keluar sebagai pemenang, adalah nama saya sendiri.

Di titik itu saya sadar, tidak semua jalan hidup berujung istana. Sebagian justru berhenti di pos ronda. Jabatan ini sejatinya tidak kalah strategis dari wakil presiden, hanya saja wilayah kekuasaannya sebatas portal, selokan, dan grup WhatsApp warga. 

Tidak ada pengawalan, tidak ada ajudan, tapi komplain datang tanpa mengenal jam. Dari lampu jalan mati, sampah telat diangkut, sampai suara kucing ribut yang terlalu ambisius mengejar karier sebagai alarm subuh.

Menjadi ketua RT di usia muda adalah pengalaman yang unik sekaligus menampar. Sebuah petualangan yang memaksa saya dewasa sebelum waktunya. 

Di usia ketika sebagian teman masih sibuk memilih kopi susu favorit, saya justru harus memilih menengahi konflik warga atau iuran sampah. Usia muda dipaksa matang, dipaksa bijak, dan terutama dipaksa menahan emosi, khususnya saat rapat warga yang suhunya sering lebih panas dari debat politik nasional.

Mencicipi kekuasaan dalam versi paling kecil

Saya mungkin gagal menjadi Wakil Presiden. Tapi di lingkup kecil bernama RT, saya justru belajar bahwa kekuasaan sejati bukan soal satu telunjuk yang memerintah, melainkan dua telinga yang mau mendengar. Barangkali di sanalah Tuhan tersenyum, sambil berbisik, “Nah, di sini lu belajar.”

Sudah saatnya saya menyudahi mimpi manis tentang kuasa absolut, menunjuk dengan satu telunjuk sambil berkata, “segera laksanakan,” lalu dijawab patuh, “iye, siap dah.” 

Dunia semacam itu rupanya hanya hidup di kepala, bukan di kenyataan yang penuh intrik, drama dan kekotoran politik. Atau mungkin saya memang terlalu naif, terlalu sok berani, bahkan terlalu ceroboh, seperti saat merasa perlu menantang pengajian tengah malam dengan toa pengeras suara.

Singkatnya, saya harus move on. Mengubur mimpi memerintah banyak orang, belajar tahu diri, dan mengakui bahwa seringkali masalah bukan hanya pada sistem, tapi pada diri sendiri yang salah membaca keadaan.

Menjadi Ketua RT pun sejatinya bukan keinginan. Bahkan tak pernah terlintas di benak. Namun setidaknya, di sinilah saya bisa mencicipi kekuasaan dalam versi paling mini, paling lokal, dan paling dekat dengan tanah.

Iklan

Sebulan pertama menjabat, semuanya terasa nyaris sempurna. Ruang musyawarah kembali hidup, mesin potong rumput kembali panas, dan kegiatan warga mendadak rajin seperti baru gajian. 

Ajaibnya, tak ada kritik, tak ada komplain, apalagi oposisi. Grup WhatsApp pun steril, tanpa orang-orang yang semacam Roy Suryo, Rocky Gerung, atau analis politik dadakan bermodal kuota unlimited.

Telunjuk manis ini bekerja efektif. Tanpa surat resmi, tanpa stempel, tanpa rapat panjang berujung konsumsi. Cukup dengan gurauan ringan saat kerja bakti: “beli kopi lu sono,” atau “nanti mampir ke rumah ya.” 

Aneh tapi nyata, semua beres. Demokrasi lokal rupanya masih percaya pada candaan, bukan prosedur.

Di situlah saya mulai curiga: barangkali kekuasaan paling ampuh bukan yang berbunyi keras, melainkan yang disampaikan sambil tertawa.

Bagian paling pahit jadi ketua RT

Tapi, itu sisi manisnya.

Bagian pahit datang belakangan. Saya baru sadar bahwa kepengurusan sebelumnya meninggalkan catatan yang tak kalah epik: saldo Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) tinggal Rp20 ribu atau nyaris amsyong. Pada titik inilah bendahara teriak: “woy gue yang nombokin mulu nih!!”

Secara hitung-hitungan, IPL sebesar Rp60 ribu per kepala keluarga (KK), dipotong dana sosial yang diperuntukkan bagi orang sakit dan meninggal Rp5 ribu, harusnya cukup. Secara hitung-hitungan, iuran tersebut isi cukup untuk gaji satpam, sampah, dan pemeliharaan. 

Namun praktiknya, yang membayar tak sampai 50 persen, 35 KK dari total 55 KK. Akibatnya iuran sampah sering nunggak, lampu jalan mati, dan kegiatan warga meredup pelan-pelan.

Drama klasiknya selalu sama: kesadaran yang rapuh dan kesombongan yang kokoh.

Ada warga yang enggan membayar IPL karena merasa pengurus hanyalah kumpulan orang busuk yang rakus terhadap uang receh. Padahal, meminjam sepuluh ribu saja seolah perlu lapor ke Pak Purbaya atau minta Presiden menggelar rapat paripurna. 

Banyak warga lupa, pengurus RT bukan pengurus negara. Anggaran yang dikelola pun bukan tiga ribu triliun, melainkan sebiji cabai yang kalau dikunyah malah nyelip di gigi.

Ironisnya, ada yang bertahun-tahun tak bayar IPL, lalu marah saat ditagih. Ia gagal membedakan antara kontribusi, partisipasi, dan kewajiban. Yang ada hanya perasaan lebih tinggi dari yang lain, sebuah kesombongan kecil yang dampaknya justru menyusahkan banyak orang.

Modal terakhir sebagai ketua RT: Keikhlasan bekerja tanpa sorak-sorai

Di titik inilah saya benar-benar paham: menjadi Ketua RT bukan pekerjaan prestisius. Ini kerja kuli. Kerja tangan. Manjat tiang lampu, masuk gorong-gorong, mengurus sampah yang baunya lebih jujur daripada janji kampanye, lalu berhadapan dengan tagihan yang datangnya lebih disiplin dari undangan rapat.

Semua itu nyata. Berulang. Tanpa tepuk tangan.

Semua ini saya jalani bersama dengan profesi saya sebagai praktisi media. Siang hari menyaksikan pejabat negara diperlakukan bak bangsawan: karpet merah, ruang ber-AC, sapaan penuh hormat. 

Malamnya, saya berkutat dengan selokan mampet dan lampu mati. Pagi masuk gorong-gorong, sore masuk ruang rapat.

Di sanalah kontras itu menampar pelan tapi terus menerus. Bukan karena iri, melainkan karena sadar: kerja paling berat justru yang paling jarang terlihat. Insentif jadi ketua RT di Bogor juga nggak seberapa.

Semua akhirnya berjalan dengan satu modal terkahir yang tersisa: keikhlasan.

Dan mungkin, di situlah kekuasaan yang sebenarnya berada, bukan pada telunjuk yang memerintah, melainkan pada kesediaan bekerja tanpa sorak-sorai.

Penulis: Septriadi Setiawan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Jokowi 57 Tahun: Saya Ingin Jadi Ketua RT dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2026 oleh

Tags: ketua RTkuliRTRukun Tetangga
Septradi Setiawan

Septradi Setiawan

Ketua RT di Bogor, beristri satu, fokus memuluskan lingkungan dan memperlancar aliran air.

Artikel Terkait

Rasanya Kerja Remote untuk Perusahaan IT Luar Negeri, Masih Bisa Nyambi Jadi Wakil Ketua RT
Video

Rasanya Kerja Remote untuk Perusahaan IT Luar Negeri, Masih Bisa Nyambi Jadi Wakil Ketua RT

16 Juli 2024
kos dekat ugm.MOJOK.CO
Ragam

Sepi dari Mahasiswa UGM, Kompleks Kos Dekat UGM Ini Justru Padat Dihuni Pedagang hingga Kuli Pencari Rezeki di Jogja

13 Mei 2024
Di Rembang TKI Lebih Bermartabat ketimbang Sarjana MOJOK.CO
Ragam

Bagi Orang Rembang Jadi TKI di Malaysia Lebih Terhormat ketimbang Sarjana, Gara-Gara Sarjana Banyak yang Nganggur dan Jadi Beban Orang Tua Padahal Kuliah sampai Jual Sawah

8 April 2024
Kuli Jawa Sudah Terkenal Sejak Masa Kolonial, Gantikan Eksistensi Pekerja Cina MOJOK.CO
Kilas

Kuli Jawa Sudah Terkenal Sejak Masa Kolonial, Gantikan Eksistensi Pekerja Cina

10 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.