Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ada Apa dengan G 30 S/PKI?

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
22 September 2017
A A
pki
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya pernah iseng-iseng bikin survei kecil-kecilan di lingkungan tempat saya tinggal. Hasilnya, tiga dari lima anak tetangga saya hafal Mars Perindo dengan baik. Dari dua yang tidak hafal itu: satu karena nggak punya tivi di rumah, yang satu lagi memang belum bisa ngomong.

Walaupun jauh dari kaidah ilmiah, saya rasa survei kecil-kecilan itu menggambarkan bagaimana televisi bisa berpengaruh begitu dalam terhadap pemirsanya.

Saya bicara soal televisi karena Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, mempersilakan tivi-tivi nasional menayangkan kembali film Pengkhianatan G30S/PKI. Netizen menanggapi kabar itu, seperti biasa, dengan waung sekali: dengan mengusulkan judul-judul baru untuk film itu. Ada yang menyodorkan G30S/PKI Jadi Dua untuk meniru film Nagabonar, G30S/PKI Reborn supaya mirip film Warkop, sampai G30S/PKI Return biar kayak Batman.

Judul apa pun tentu bisa saja dibuat. Bisa AADG: Ada Apa dengan G30S/PKI, sampai yang paling absurd seperti Bulan Terbelah di Langit Jekardah.

Saya sebenarnya tidak punya masalah dengan itu. Tidak dengan rencana Om Tjahjo atau pilihan judulnya. Bahkan hitung-hitungan bisnisnya, seandainya film itu diputar di jaringan bioskop Cinema 21, saya yakin pendapatannya akan jauh melampaui pendapatan film Rafathar.

Saya yakin film itu akan ditonton minimal oleh tujuh juta Alumni 212—minus mereka yang sedang berurusan dengan pihak kepolisian, tentu saja.

Kalaupun ada yang harus saya pertanyakan, paling-paling—karena ini film sejarah—soal akurasinya. Kalau mau adil, atau—pinjam kata-kata Mustofa Nahra Wardaya yang getol mengusulkan pemutaran kembali film itu—“untuk mengetahui sisi benar dan salahnya”, Om Tjahjo bisa mempertimbangkan juga untuk memutar film Jagal dan Senyap bikinan Joshua Oppenheimer di tivi-tivi nasional.

Tapi saya berani bertaruh Om Tjahjo tidak akan melakukannya.

Berbeda dengan film besutan Arifin C. Noer, dua film bikinan Lek Joshua itu secara politis kemungkinan besar akan merugikan partai Om Tjahjo, pemerintah, sampai Presiden Jokowi. Tuduhan bahwa pemerintahan yang sekarang adalah agen KGB, Kuminis Gaya Baru, sampai antek asing dan aseng, akan semakin menguat.

Izin dari Om Tjahjo untuk menayangkan kembali film Pengkhianatan G30S/PKI di tivi-tivi nasional itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Kalau kata meme: “Hmm … sudah kuduga ….” Yang aneh malah karena yang mengusulkannya adalah Kanda Mustofa Nahra, kader PKS paling berkilau kedua setelah Fahri Hamzah. Karena kalau dihitung-hitung, yang rugi sebenarnya malah partainya Bang Mustofa dan Om Fahri itu

Untuk memahami ini, kita harus kembali dulu ke Mars Perindo sebagai contoh kasus. Saya tidak tahu apakah tim sukses Hary Tanoe sadar atau tidak bahwa lagu kebanggaan partai mereka merasuk begitu dalam di kepala anak-anak se-Indonesia Raya. Yang jelas, tivi Om Hary identik dengan penayangan ulang film kartun lama. Mulai dari Dragon Ball sampai Naruto Shippuden yang bahkan dapat slot di jam tayang utama.

Strategi tivi Om Hary itu bekerja dengan tiga cara: Dragon Ball untuk membangkitkan nostagia anak 90-an, Naruto Shippuden meng-edo-tensei generasi 2000-an, dan keduanya menangguk limpahan penonton anak-anak zaman sekarang—minimal tiga dari lima orang anak tetangga saya. Ditambah sisipan Mars Perindo di setiap jeda iklannya, popularitas Om Hary bercahaya lintas generasi. Sambil menyelam, minum air, mandi, nyuci baju, sikatan, atau coli sekalian.

Buat Mustofa Nahra dan partainya dan orang-orang yang sepemikiran dengannya, film Pengkhianatan G30S/PKI paling-paling cuma akan menguatkan fobia mereka kepada komunisme. Membuat mereka tidak peduli pada laporan visum yang menyebut bahwa tidak ada penyiksaan yang dialami para jenderal, tidak peduli pada kemungkinan bahwa peristiwa itu adalah kisruh rumah tangga tentara, akal-akalan CIA, sampai percaya bahwa orang komunis bisa kelihatan dari sumsum tulang belakangnya.

Penayangan kembali film itu—di tivi pula, yang pengaruhnya tadi begitu luar biasa—justru akan menggerus suara orang yang satu barisan dengan Bang Mustofa.

Iklan

Tapi buat Pakde Jokowi, Om Tjahjo, dan partainya, pemutaran kembali film itu akan bekerja seperti film Dragon Ball atau Naruto bagi Om Hary. Tentu bukan untuk menangguk suara pemuda tahun 60-an, karena perkiraan saya jumlahnya juga sudah tidak banyak lagi.

Gampangnya, sekarang Abangnda Jonru kan jadi susah kalau mau maksa Jokowi tes DNA untuk membuktikan bahwa sel darah merahnya nggak ada gambar palu-arit.

Sementara buat pendukung garis keras Pakde Jokowi, film itu tidak akan banyak berpengaruh. Mereka tidak akan peduli benar atau tidak partai komunis itu dulu memberontak. Yang penting jalan tol membentang dari Sabang sampai Merauke. Yang penting HTI bubar walaupun tidak dikasih kesempatan untuk membela diri di pengadilan. Yang penting Buni Yani dan Jonru … ah, sudahlah.

Yang aneh lagi dari Abang Mustofa: konon beliau lagi keliling dunia untuk melawan islamofobia, tapi di dalam negeri beliau malah mau membangkitkan komunisfobia. Bukan saya mau membela kaum komunis yang kata Pak Kivlan Zen jumlahnya di Indonesia sudah ada 15 juta orang, tapi kalau soal memberontak –dan ingin mencegahnya terulang lagi—rasa-rasanya tiga komponen yang disebut Bung Karno Nasakom semuanya pernah melakukannya.

Yang paling menyeramkan dari komunisfobia itu, dan juga islamofobia, sebenarnya adalah labelisasi. Orang yang memanjangkan jenggot, berjidat hitam, dan bercelana cingkrang, kalau beruntung akan dicap Wahabi. Kalau lagi sial, dituduh teroris. Cuma di tempat saya saja Teuku Wisnu dipuja sedemikian rupa sampai fotonya ada di semua bungkus strudel. Di media sosial beliau di-wahabi-wahabi-kan, selain karena tampilannya, juga karena pendapatnya soal agama.

Komunisfobia juga sama. Orang yang berbeda pendapat akan dituduh kiri, orang yang ikut demo buruh akan disangka komunis, orang yang membela petani yang di sawahnya mau dibangun pabrik semen akan dibilang sodaraan sama Kim Jong Un, dan seterusnya. Contohnya sudah banyak. Jokowi sendiri pernah merasakan dituduh anak PKI. Kapolri, Om Tito, pernah disebut mirip Aidit. Malah pengacara Muannas Alaidid jidatnya dibilang mirip Aidit.

Pernah nggak kita mikirin perasaan mereka yang tertuduh? Itu belum kalau kita bicara soal orang-orang yang dihukum atau dibunuh karena dituduh terlibat PKI tanpa pengadilan. Atau anak-anaknya yang mendapat stigma. Atau Agus Widjojo, Gubernur Lemhanas yang menggagas Rekonsiliasi 1965, yang diteriaki orang ‘Jenderal PKI.’ Lha Sutoyo Siswomiharjo, salah satu jenderal yang diculik pada tahun ’65 itu kan bapaknya.

Tapi buat apa juga kita mikirin perasaan orang, ya? Apalagi kalau yang dituduh itu beda pilihan cagub atau capresnya. Lha wong Pak Jokowi yang pernah dituduh sedemikian sadis saja malah membiarkan menteri dalam negerinya mengizinkan film tadi ditayangkan kembali. Bahkan mengusulkan remake pula.

Dari 270 juta orang Indonesia, mungkin cuma Marno Blewah yang masih sempat memikirkan perasaan orang lain. Piye perasaanmu nek dadi kates?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: Mars PerindoNarutoPengkhianatan G 30 S/PKIPKI
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah
Video

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah MOJOK.CO
Esai

Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah

30 September 2024
seni berpemilu ala pki jasmerah mojok
Video

Begini Strategi PKI Memenangkan Suara di Jawa Tengah pada Pemilu 1955

21 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.