Rubrik Otomojok memang benar-benar jadi ajang saling pamer mobil maupun motor, baik memamerkan hal yang bagus-bagus atau malah yang paling busuk sekalian.

Bagaimana tidak, baru kali ini saya sebagai pengamat otomotif yang belum mampu beli ini itu dibuat geleng-geleng ada Toyota Alphard disumpahserapahi pemiliknya yang justru lebih memilih Toyota Innova. (Dan habis itu dia ganti menyumpahi Mercy. Edan.) Atau sekalinya ada yang menulis ulasan motor, membacanya malah pengin nangis karena yang punya kejeblos beli Kawasaki Ninja kemahalan.

Atau yang bikin saya tidak terima: tulisan minggu lalu yang mengklaim Honda CBR 150R sebagai motor 150 cc terbaik. Sebagai penunggang Yamaha R15, saya jelas PANAS!

Mas yang punya CBR itu memuji motornya (walaupun kemudian sadar dia khilaf) karena CBR 150R ramping dan fairing tidak berlebihan seperti motor lain. Baca ini saya PANAS lagi.

Soalnya saya sudah dua kali punya motor gembrot bin semok, oke ini subjektif, tapi tunggu saja kesimpulannya. Motor yang pertama adalah Honda Vario Techno, kemudian ya si Yamaha R15 ini. Kalau Vario semok di bokongnya, R15 bongsor di fairing-nya. Entah kenapa saya nggak bisa move on dari motor-motor semlohe ini. Jadi, kalau ada yang ngomongin pantat Honda Karisma kegedean, plis deh, belum pernah kena senggol Vario Techno ya?

Persoalan pada Vario adalah bannya tidak bisa mengimbangi kesemokan pantatnya. Walhasil, dengan bobot saya yang 100 kilo lebih, si ban sering sekali mengibarkan bendera putih. Akhirnya, dengan terpaksa Vario harus dilego demi memenuhi mimpi menjadi seorang Boy kelebihan berat badan.

Kali pertama melihat R15, perasaan saya sebenarnya biasa aja, nggak ada rasa deg-deg-ser kayak ketemu gebetan gitu. Bahkan awal-awal ketemu sempat saya bully motor bongsor ini, macam kisah dari benci jadi cintanya Pak Habibie ke Bu Ainun. Pak Habibie kemudian terpukau dengan Bu Ainun, saya akhirnya juga terpukau (baca: tidak punya pilihan) untuk beli motor ini.

Baca juga:  Dari Budak Logistik Menjadi Driver: Pengalaman Pertama Mengendarai BMW 318i

Soalnya motor sport lain harganya memang gila-gilaan. Kawasaki Ninja memang keren dan mantap, tapi harganya bikin ingin menyebut nama Allah. CBR 150 versi awal kurang menarik karena gembrotnya kebangetan, sedangkan yang versi Facelift bagus sih, tapi belum ada sekennya (iya, saya mampunya beli seken). Jadi, pas di OLX ada iklan Yamaha R15 tahun 2014, kilometernya masih 2.800-an, kondisi mulus, dan masih di kisaran harga 20-an, segeralah saya bungkus motor di November 2016 kemarin.

Motor ini punya bokong yang sangat tinggi sehingga sudut njentitnya terlihat ekstrem, sekaligus setang yang sangat rendah. Dampaknya, posisi pengemudi menjadi sangat bungkuk, yang bagi sebagian orang justru disukai karena memberikan tampilan yang racing banget. Bagi saya, pada test ride pertama kali, kondisi ini memberi sensasi baru yang cukup asyik. Setelah seminggu pakai barulah terasa sakit di pinggang dan pungung. Umur memang nggak bisa bohong. Salah satu konsekuensi dari setang rendah ini adalah posisi kedua tangan harus siap sedia ketika melakukan pengereman. Kalau lalai, salah-salah bisa nyusruk ke depan.

Nah, yang paling fail dari desain R15 edisi 2014 ini adalah posisi NICA alias pembonceng. Ini juga yang dulu jadi bahan bullying saya pada motor ini. Asem … kini saya kena karmanya. Orang-orang yang saya bonceng mengalami posisi awkward saat di jalan raya, apalagi saat lampu merah. Bayangkan saja, saat semua motor berhenti, pembonceng R15 jadi menonjol sendiri akibat jok belakang yang tinggi tadi.

Penderitaan semakin lengkap karena busa jok belakang sangat tipis dengan desain buritan agak lebar, serta tidak ada pegangan di bagian belakang. Kombinasi nungging dan mengangkang seperti itu sungguh sangat tidak manusiawi, sodara-sodara.

Baca juga:  Yamaha Vega R dan Dosa yang Menyertainya

Apalagi jika yang nyetir ngerem mendadak. Allahuakbar!

Ngeliat orang dibonceng R15 saja ngilu, apalagi merasakan sendiri. Dan benar saja, istri saya saat pertama kali saya bonceng langsung mengajukan referendum dan menyerukan petisi online mendesak pendepakan motor itu. Perlu beberapa kali rayuan dan pengaturan kecepatan agar doi mau lagi dibonceng pakai R15.

Tapi, gaes, segala penderitaan tadi punya hikmah tersembunyi yang disimpan serapi Ksatria Templar menyembunyikan Holy Grail. Kalian hanya perlu sedikit lebih cerdas dan cerdik dalam mengelola SWOT (strength, weakness, opportunities, threat). Ubah weakness dan threat tadi menjadi strength dan opportunities. Mengingat harganya yang mahal, potensi motor ini harus dioptimalkan sebesar-besarnya.

Perpaduan bokong njentit, setang rendah, jok belakang tinggi, ketiadaan pegangan di bagian belakang, jika dikombinasikan dengan top speed yang bisa lebih dari 120 kilo/jam dan rem cakram roda depan belakang yang mumpuni, kalian bisa bayangkan harta karun apa yang tersimpan dari motor ini?

Ya! Motor ini adalah motor yang paling cocok untuk membonceng gebetan ataupun pacar. Ini motor modus banget memang. Dan yang begini nggak ada di CBR 150R yang apa? Motor 150 cc terbaik itu? *melengos*

Apalagi desain keseluruhan R15 memang sudah menarik karena mengadopsi desain Yamaha R6. Jangan khawatir dengan fairing gembrotnya karena, tidak seperti milik CBR 150 cc edisi lawas yang gembrot dan bergelambir di sana-sini, fairing R15 lebih gaya dengan lekuk-lekuk menyerupai insang hiu. Dijamin, mengendarai R15 akan meningkatkan kegantengan Anda secara signifikan.

Sayang seribu sayang, waktu saya lihat iklan Yamaha All New R15 2017 di TV, ada perubahan yang sangat signifikan di sisi buritan ini sehingga menghilangkan keuntungan tersembunyi tadi. Kalau kalian tidak bisa mendapatkannya dari R15 edisi terbaru, buru saja R15 edisi lawasnya di lapak-lapak terdekat.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles