• 50
    Shares

MOJOK.COMenjawab pertanyaan anak itu susah-susah mudah. Bagi seorang ibu, ketika muncul pertanyaan dari anak perempuan mengenai lawan jenis, itu bukan saja susah dijawab, tapi juga bikin cemas dan overthinking.

“Ibu, aku mau tanya tentang cowok. Bingung deh.”

Jantung saya hendak melompat ketika anak perempuan saya tiba-tiba berkata begitu. Anak yang rasanya kemarin masih ngedot jempol dan bobo ngompol, sekarang mulai bertanya tentang lawan jenis.

Buibu ada yang punya perasaan yang sama? Bahwa punya anak perempuan membuat kita jadi ekstra hati-hati, terutama bila sudah menyangkut soal perasaan dengan lawan jenis? Mungkin ini juga yang dirasakan ibu-ibu kita dahulu. Di tengah lingkungan yang patriarkis, ditambah gempuran budaya dan arus informasi yang sangat dahsyat, mengasuh dan membesarkan anak gadis serasa menjaga harta yang menjadi incaran banyak penjahat. Rasanya deg-degan melulu.

Seharusnya dan sebenarnya saya sudah tahu suatu saat akan berhadapan dengan pertanyaan macam itu. Dua anak saya perempuan semua. Hanya saja saya tak menyangka akan terjadi secepat ini. Di mata saya ia masih anak-anak, belum saatnya tertarik pada lawan jenis. Atau setidaknya begitu jika saya memakai diri saya sendiri sebagai ukuran. Apakah ada ukuran baku di umur berapa seseorang mulai jatuh cinta? Saya tidak tahu. Dan itu tetap tidak bisa menepis perasaan tak keruan ketika ia mulai bertanya demikian.

Dengan menilik pada pengalaman diri sendiri di masa lalu, rasanya anak perempuan akan mulai tertarik pada lawan jenis dan galau karena urusan hati ketika menjelang lulus SD. Dulu, saat saya seusia anak bungsu saya ini, boro-boro galau soal cowok, saya malah masih cuek ciblon dan hujan-hujanan pakai kaos kutang dan celana pendek bareng teman-teman cowok maupun cewek. Saya tahu beda kelamin, tahu juga bahwa kami tak boleh saling melihat kelamin atau terlalu banyak bersentuhan secara fisik, tapi tak pernah punya perasaan spesial pada salah satu cowok atau untuk mulai caper pada mereka. Pokoknya dulu saya tahunya hanya main. Sudah.

Baca juga:  Menuruti Passion atau Menuruti Keinginan Orangtua?

Lha, sekarang anak saya yang masih kecil kok tiba-tiba bertanya demikian?

Apakah anak saya tumbuh kelewat cepat karena kebanyakan makan ayam? (Ini teori apaaa???)

Apakah ia membaca buku atau menonton sesuatu yang tidak sesuai usianya?

Apakah sebagai ibu, saya salah mendidiknya?

Apakah ia bergaul dengan teman yang salah?

Rasa khawatir makin berlipat ganda ketika saya ingat ia sering mengakses internet dan buku. Betapapun saya sudah melakukan proteksi pada ponsel dan laptop serta menyortir buku-buku yang ada di perpustakaan rumah kami, saya tetap ketar-ketir. Rasa penasaran yang dimilikinya mungkin bisa membawanya menerobos batas yang saya buat untuk mereka.

Saya makin ingin nggeblak ketika kemarin lalu sempat viral video amatir seorang anak perempuan yang kedapatan menonton film porno di ponsel, yang kemungkinan besar adalah milik orang tuanya.

Ponsel saya juga sering dipinjam oleh anak saya untuk membuka IG dan YouTube guna mencari tutorial membuat slime atau melihat aneka macam squishy. Apakah saya kurang rapat menjaga koleksi, eh proteksi ponsel saya? Rasanya sih tidak.

Apakah orang-orang di lingkungan kami memberi pengaruh buruk?

Saya buang jauh-jauh prasangka ini. Kami ada di lingkungan yang masih sangat kondusif. Lagi pula saya ada bersamanya hampir 24 jam sehari. Ayahnya, meskipun setiap hari bekerja, selalu punya waktu untuk melakukan bonding dengan belajar bersama atau membacakan satu dua halaman buku menjelang tidurnya.

Kami tidak punya televisi. Anak-anak saya hanya menonton televisi di rumah mbahnya. Dan itu jarang sekali. Jadi saya tidak akan menyalahkan sinetron atau tayangan lokal sebagai sebab anak perempuan saya galau soal cowok terlalu cepat.

Aduh. Sebagai ibu, saya sungguh khawatir. Saya belum siap melihatnya menjadi remaja puteri yang mulai resah karena urusan hati. Ilmu parenting saya belum sampai pada bab demikian. Soal menghadapi anak tantrum di depan rak Kinder Joy saja masih belum berhasil saya tuntaskan. Masih teringat hujatan para pakar parenting dadakan di kolom komentar kemarin, saya benar-benar belum siap menghadapi permasalahan selanjutnya.

Baca juga:  Penggemar AADC Seharusnya Berterima Kasih kepada 4 Sosok Ini

Belum lagi permasalahan fisik. Jerawat, PMS, lemak, bau badan, dan banyak persoalan remaja putri lainnya yang juga jadi PR saya untuk mendampinginya melewati itu semua tetap dengan rasa bahagia.

Saya bukannya hendak menolak anak saya tumbuh. Tidak. Saya selalu berdoa ia berkembang dan tumbuh menjadi semakin besar. Tapi, please, bukan sekarang. Ini benar-benar terlalu cepat. Ya Tuhan, dia kan baru kemarin memakai seragam merah putih….

Namun, di antara semua kecemasan ibu tadi, ada satu rasa lega. Setidaknya ia memilih bertanya kepada saya, ibunya sendiri. Setidaknya saya tahu, ia masih berada dalam jangkauan pengawasan saya. Setidaknya saya tahu, ia masih mempercayai orang tuanya untuk berbagi beban meski ia tahu, sebagai ibu, saya ini kacrutnya minta ampun.

Menghadapi pertanyaannya kali ini, saya harus berhati-hati. Ini akan menjadi hal baru baginya. Jika benar hatinya galau karena masalah cowok, ia tak boleh mendapatkan jawaban yang salah atau jawaban yang tak jelas sehingga ujung-ujungnya ia mencari penjelasan di tempat lain.

Karena ini mendadak dan saya tak sempat mencari referensi jawaban, saya akan mengandalkan doa dan naluri sebagai perempuan.

Sambil memandang ke kedalaman matanya, saya menata emosi. Mati-matian saya redam debar yang mungkin bikin badan sedikit gemetar. Oke, saya harus kuat….

“Kenapa, Nak?” tanya saya pelan.

Dengan menampakkan raut kesal yang membuat alisnya bertaut, ia menjawab.

“Kenapa sih cowok nggak mau antre dan gantian kalau kami lagi main perosotan?”

Astaga.