Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kuliah Capek-Capek Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Lha Emang Kenapa?

Dinda Asrining Tyas oleh Dinda Asrining Tyas
9 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setelah kelulusan gelar S2-nya, Mbak Ashanty Hermansyah membuat pernyataan monumental. Sudah kuliah capek-capek masa mau jadi ibu rumah tangga doang sih? Hm, oke.

Sebagai ibu yang baru punya anak, saya menikmati peran sebagai ibu muda yang penuh dengan segala kerempongannya. Bangun paling awal untuk memasak, beres-beres rumah, menyuci baju, menyuapi anak, dan serangkaian aktivitas harian—yang kalau dijereng sudah jadi tol Trans Sumatera—lalu lanjut begitu terus sampai jelang tidur. Bahkan ketika sudah memejamkan mata pun, kadang masih suka nglilar-nglilir untuk menyusui. Iya rempong, tapi saya bahagia.

Namun, ada satu hal yang mengusik keseruan menjalani peran sebagai ibu muda seperti saya. Dan itu adalah mom war alias perang ibu. Perang ibu bukan bedhil-bedhilan, saling lempar wajan panci, atau saling lempar tagihan arisan, melainkan sindir-sindiran, yang sebenarnya jauh lebih melukai serta menusuk hati. Sedalam-dalamnya.

Jika waktu masih gadis suka bersaing dan nggak pernah mau kalah, mulai dari dandanan, baju, gemerincing perhiasan, maka ketika sudah jadi ibu-ibu pun kebiasaan ini masih saja terulang. Medan pertempurannya memang beda, tapi substansinya sama.

Dari masalah ASI vs Sufor, lahiran normal vs lahiran caesar, working mom vs stay-at-home mom, pakai ART vs nggak pakai ART, pakai nanny vs nggak pakai nanny, BLW (Baby Led Weaning) vs Spoon feeding, MPASI rumahan vs MPASI instan, dan seterusnya.

Hal-hal semacam ini yang kemudian melatarbelakangi meletusnya perang argumentasi antara ibu-ibu. Kubu satu merasa paling benar dan menghakimi yang lain. Para ibu berlomba menjadi yang terbaik dengan menindas argumentasi yang lain. Merasa paling sempurna karena telah mengikuti apa-apa yang ditulis di buku KIA atau buku parenting. Padahal, kesempurnaan hanyalah milik Andra and The Backbone.

Salah satu bahasan yang jadi ramai lagi di habitat endemik ibu-ibu adalah jenis perang antara working mom vs stay-at-home mom, alias ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Apalagi setelah salah satu artis idola, Mbak Ashanty Hermansyah, membuat pernyataan, “Sudah kuliah capek-capek masa mau jadi ibu rumah tangga doang sih?”

Pernyataan ini keluar saat belio diwawancara sehabis wisuda S2-nya. Ya ini kan pemikirinnya Mbak Ashanty bahwa ilmu yang didapat selama kuliah akan diterapkannya dalam berbisnis, tapi hal ini jelas memancing kecebong di air keruh namanya. Netizen ibu-ibu khususnya ibu-ibu rumah tangga tentu langsung baper. Pernyataan Mbak Ahsyanty tersebut sama saja dengan tabuhan genderang perang.

Sejujurnya sih dikotomi working mom vs stay-at-home mom kalau hanya sebatas istilah untuk penyebutan saja saya rasa tidak masalah. Tapi kalau kemudian dikotomi ini jadi bahan untuk ngompor-ngomporin ibu-ibu satu sama lain, wah itu jadi perkara yang perlu dibicarakan lebih lanjut.

Sebab, yang muncul kemudian adalah narasi bahwa working mom merasa kastanya lebih tinggi dari ibu rumah tangga karena menganggap diri lebih pantas disebut perempuan mandiri. Yang stay-at-home mom merasa lebih mulia dari ibu bekerja karena mencurahkan segenap waktu untuk anak dan keluarga.

Berada di pusaran dua dikotomi ini sebenarnya membuat saya merasa lelah. Begini, kita kan sudah rempong mengurus rumah, anak, dan suami, lalu kenapa masih menambah kerempongan dengan nyinyir-nyinyir dan bully-bully gitu? Nggak di dunia nyata, nggak di dunia maya, sama saja. Apalagi nyinyirnya sambil mlerok-mlerok gitu. Kan syerem…

Saya sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Secara sadar dan atas keputusan bersama suami, saya memilih menjadi ibu rumah tangga. Lalu apakah saya merasa lebih rendah kastanya? Tidak dong. Saya memilih keputusan ini dan bertanggung jawab atas keputusan ini dengan terus belajar dan memperbaiki diri, utamanya untuk membersamai anak-anak bertumbuh dan berkembang.

Sebagai sarjana yang memilih jadi ibu rumah tangga, tentu saya pernah dikomen semacam ini: “Sayang banget udah sekolah tinggi-tinggi nggak kerja. Gelarnya nggak kepakai ya?”

Kalau dikomen gitu ya memang bikin gimana gitu di hati. Saya paling menjawab singkat, “Pilih bareng anak saja,” sambil memeluk anak saya yang saya gendong, mencari kekuatan dalam pelukannya.

Iklan

Meski dalam hati, saya menjawab versi panjangnya, “Sekolah kan untuk cari ilmu, untuk belajar. Ilmu dipakai dalam menjalani kehidupan, mencakup pekerjaan, pengasuhan, berhubungan sosial, dan hal lain. Dalam peran saya sebagai ibu, mustahil saya menjalaninya tanpa ilmu.” Tapi karena khawatir dikira saya mau bikin kelas 3 sks, kalimat ini saya simpan saja sendiri.

Meski begitu, bukan berarti menjadi ibu rumah tangga jadi otomatis lebih mulia dari yang memilih tetap bekerja di luar rumah (by the way, yang di rumah itu juga statusnya “bekerja” lho di rumah). Realitasnya, banyak juga ibu-ibu rumah tangga yang lebih sibuk nonton sinetron, memantau medsos lewat hape, sibuk bakulan online hingga keteteran sama anak-anaknya. Masih banyak juga yang belum melek informasi tentang wawasan parenting karena isi gawainya hanya untuk selfi saja.

Bagi saya, working mom yang telah memutuskan untuk bekerja apapun motifnya juga patut diapresiasi kok. Mungkin membantu suami mencukupi kebutuhan, aktualisasi diri, bekerja untuk masyarakat, atau apa sajalah alasannya. Kalau saya sih, kita tidak perlu merasa perlu mencampuri hidup orang lain, toh pada kenyataannya mereka banyak yang hepi-hepi saja.

Jadi tolong ditahan mulutnya, “Tega banget ninggalin anak. Lebih mentingin nyari duit.”

Eits, bukan berarti menjadi working mom membuat mereka melupakan anak-anak. Tidak sedikit ibu-ibu bekerja yang tetap berjuang memberikan ASI, bangun dini hari menyiapkan MPASI, mengedukasi pengasuh cara mengolah dan memberikan ASIP dan MPASI, selalu memantau tumbuh kembang anak, dan memperhatikan quality time bersama keluarga.

Jadi, kita sebagai ibu-ibu juga harus lebih sabar menahan saling nyinyir, meluaskan pandangan, menghargai perbedaan. Menjadi ibu terbaik versi anak dan keluarga kita masing-masing.

Tak perlu merasa paling benar, tak perlu merasa rendah diri, dan tak perlu malu kalau nggak bisa seperti Mbak Ashanty. Sebab, hanya satu orang di dunia ini yang bisa kayak Mbak Ashanty karena lebih senior, yakni Mbak Krisdayanti.

Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2020 oleh

Tags: AhsyantiasiHermansyahibu pekerjaibu rumah tanggaibu-ibuKrisdayantiMpasiparentings2sksstay-at-home momsufortol trans sumaterawisudaworking mom
Dinda Asrining Tyas

Dinda Asrining Tyas

Ibu rumah tangga. Tinggal di Bekasi.

Artikel Terkait

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO
Kampus

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO
Ragam

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO
Esai

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.