Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sekarang Aliran Kepercayaan yang Diakomodasi Negara, Besok Apa? ISIS? DI/TII?

Arman Dhani oleh Arman Dhani
14 November 2017
A A
penghayat_keyakinan_mojok_co

penghayat_keyakinan_mojok_co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Keputusan MK mengakomodir kolom agama penghayat ini berbahaya.”

Mahkamah Konstitusi memutuskan mengabulkan permohonan uji materi para penghayat kepercayaan untuk mendapatkan kesetaraan dalam dokumen administrasi kependudukan. Dengan demikian, kini para penganut aliran kepercayaan boleh mengisi identitas keyakinan sesuai yang dijalani dalam dokumen kependudukan.

Bagi manusia beradab, berpikiran maju, dan punya hati nurani, seharusnya ini menjadi kabar baik. Tapi, maaf-maaf aja nih ya, itu kan ciri orang liberal. Sebagai umat yang kaffah, saya menolak hal ini.

Kok menolak? Katanya social justice warrior?

Jadi gini: mengabulkan keinginan orang untuk bisa declare dan terang-terangan atas apa pun yang ia yakini itu berbahaya. Hari ini orang-orang penghayat minta keyakinan mereka diakui negara di kolom KTP, besok-besok apa? Mereka minta hak membangun rumah ibadah? Minta agar tidak mengalami diskriminasi? Enak amat.

Umat muslim yang mayoritas saja masih didiskriminasi. Coba pake cadar, disindir; pake janggut dan celana cingkrang, dibilang teroris; pake otak, dibilang liberal; memuliakan ahlul bait, dibilang syiah. Woh… enak bener para penghayat ini minta diakui. Antre dong. Wong orang muslim Ahmadiyah saja bikin masjid masih disegel, ini kok minta hak buat diakui negara.

Saya meyakini apa yang diucapkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP PPP Ahmad Baidowi atau Awiek yang menyayangkan putusan MK. Beliau beralasan, putusan MK yang memperbolehkan penghayat kepercayaan menuliskan aliran mereka di kolom agama e-KTP bisa menyebabkan konflik horizontal di masyarakat. Selain itu ia takut kolom kepercayaan ini jadi alat terselubung bagi paham-paham terlarang di negeri ini untuk berkembang dengan berdalih sebagai aliran kepercayaan.

“Jangan sampai paham-paham agama atau paham lain yang dilarang dimasukkan dalam aliran kepercayaan. Bisa jadi misalnya paham komunis, agar nggak terdeteksi, ditulis aliran kepercayaan,” kata Awiek.

Meski nggak bisa membedakan antara agama dan ideologi, omongan beliau ini benar adanya. Jangan sampai kita ditipu: ngakunya penulis, ternyata pencopet; bilangnya lahir di Paris, padahal asli Pare. Kan bahaya.

Oleh karena itu, ke depan kita perlu mengawasi lebih ketat siapa-siapa dan apa saja yang diisi dalam kolom komentar. Jangan sampai ada badut yang jadi politisi partai dan bikin statement kurang pintar.

Kolom agama di KTP itu penting karena akan jadi alat ukur pemeriksaan umat di akhirat. Malaikat sudah tak perlu lagi nanya, “Ma dinuka?” Tinggal tunjuk KTP, sudah jelas tetek bengek perkara agama, tuhan, dan nabi. Kita sebagai manusia harus bantu Tuhan dan malaikatnya untuk mendeteksi keyakinan, kalau perlu dengan memaksa sesama manusia memilih agama yang sudah ada. Pilihannya kan jelas ada enam, masak enam belum cukup juga.

Ketua Bidang Tarjih, Tajdid, dan Tabligh PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas sudah bilang tho, “Aliran kepercayaan bukan agama, bagaimana bisa ditulis di KTP menempati kolom agama? Seharusnya yang ditulis adalah salah satu di antara agama-agama yang diakui di Indonesia.” Agama ini kan kayak makan di restoran, adanya lauk lodeh, ikan mujaer, bakwan, dan telor, lha kok ada yang minta bœuf bourguignon, escargots de bourgogne, dan jambon persillé? Dikira warteg apa ya, semua bebas milih?

Wajar kalo Mas Yunahar khawatir dan curiga MK menganut paham HAM liberal. Bisa-bisa nanti semua aliran, ideologi, paham akan menuntut hak yang sama dengan aliran kepercayaan. Bayangkan nanti kalau simpatisan DI/TII, ISIS, HTI, Al-Qaeda, atau NII menuntut agar keyakinan yang mereka bawa diakui negara. Sungguh berbahaya. Di Indonesia sudah jelas, kita nggak boleh menuntut hak yang sama dengan yang lain. Itulah kenapa Ahmadiyah, Syiah, atau yang agak beda dikit dengan Islam kebanyakan harus dilenyapkan. Kalau perlu diusir seperti yang sudah terjadi di Sampang dan Lombok.

Pemerintah Indonesia ini kan udah dengan baik hati mengimpor banyak agama, masak masih mau pake keyakinan lama buat ditaati?

Kenapa sih harus mengakomodasi 187 organisasi kepercayaan dengan 12 juta orang penghayat yang tinggal di Indonesia? Emang mereka ini mesti diakomodir konstitusi? Sudah jelas yang begini merepotkan. Apa susahnya sih ngaku Islam, ngaku Hindu, ngaku Buddha, atau ngaku Kristen? Buat apa hak asasi manusia, nggak penting itu. Sama kayak pengungsi Timur Tengah di Eropa, apa susahnya sih mereka buka jilbab, pindah agama, dan masuk kristen? Pake ngotot keyakinannya sebagai muslim harus diakui pemerintah Eropa. Itu kan nyusahin, paling bener itu asimilasi, agama mayoritas di Eropa apa, itu yang harus diikuti.

Iklan

Kita tahulah di Indonesia agama ini perkara serius. Punya agama disusahin; harus ikut yang mayoritas. Lha piye: beda dikit, dibilang bid’ah; nggak sama tafsirnya, dibilang sesat; punya pandangan berbeda, dianggap liberal. Mau beragama aja syaratnya susah minta ampun. Kalau nggak punya agama? Ya dituduh komunis.

Sebenarnya, ngapain sih orang jadi penganut kepercayaan segala? Jadi penghayat? Orang-orang ini kan peninggalan jaman dulu. Selama ini, penghayat adat dikenal sebagai orang yang mengenal lingkungan dan menjaga kelestarian alam lingkungan hidupnya. Saya kasih tahu aja, itu gaya hidup primitif.

Gaya hidup modern adalah dengan membabat hutan buat industri sawit, menggali perut bumi untuk tambang, atau melakukan reklamasi untuk dibuat hotel mewah. Dikira orang-orang yang yang bangun segala macam tadi ateis? Beragama semua, coy!

Para penghayat adat biasanya memiliki aturan yang tak memperbolehkan penggundulan hutan karena bertentangan dengan ajaran leluhur. Mereka memuliakan hutan, menghormati lingkungan, dan menjaga alam raya. Ini perbuaan melawan kemajuan, peradaban zaman batu, jangan diteruskan. Sekarang coba lihat Arab Saudi, negara beragama, baru saja memberi ijin bagi perempuan untuk mengendarai mobil, memberikan hak lebih banyak pada robot ketimbang perempuan, dan satu ulamanya percaya bumi dikelilingi matahari. Jelas lebih mulia daripada penghayat di Indonesia.

Terakhir diperbarui pada 23 April 2021 oleh

Tags: AgamaAgama WarisanisisIslamMahkamah KonstitusiMuhammadiyahPenghayatPenghayat KepercayaanPPP
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Kerja di Jakarta gaji 5 juta sebenarnya cukup saja bagi perantau. Tapi yang dirampas dari mereka jauh lebih banyak MOJOK.CO

Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

24 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Kebanyakan di Jogja saya merasa wisata di Surabaya membosankan selain Tunjungan. MOJOK.CO

Wisata Surabaya Membosankan, Cuma Punya Kafe Estetik di Jalan Tunjungan dan “Sisi Utara” yang Meresahkan

23 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.