Konon, Komunitas Eden akhirnya gagal mendaratkan UFO di Monas karena rumitnya birokrasi di Indonesia. Padahal tak tanggung-tanggung, komunitas ini sudah menyurati Presiden Jokowi dan Presiden Obama.

Apa yang menarik dari kasus UFO ini? Bagi saya, yang menarik justru bukan pada seriusnya komunitas ini mengurus izin pendaratan UFO di Monas. Bukan pula pada tidak seriusnya para penerima surat menanggapinya. Ada hal lain di atas itu semua.

Yang menarik bin penting adalah respons kaum beragama terhadap Surat Eden itu. Sebagian orang teriak-teriak minta polisi menangkap Ibu Lia dan kawan-kawan, karena dianggap “meresahkan” publik. Sebagian lain nyinyir dan membuli Komunitas Eden sebagai kelompok irasional yang mimpi di siang bolong, sambil menepuk dada dan berbangga karena merasa agamanya sendiri adalah agama yang rasional. Namun sebagian lain setengah serius mendesak Jokowi untuk memberikan selembar surat izin dan menyiapkan lapangan Monas untuk pendaratan UFO tersebut. Siapa tahu Lia Eden benar.

Nah, di situlah letak pentingnya Surat Eden: untuk menguji cara beragama kita dan cara kita memperlakukan keyakinan orang lain.

Baiklah, saya hendak bertanya beberapa hal kepada Anda, para Eden haters.

Apakah beragama harus rasional? Tengoklah ke dalam diri Anda, agama Anda. Ketahuilah, tak ada satu agamapun di dunia ini yang tak mengandung irasionalitas. Pada titik tertentu, perbandingan antar agama adalah perbandingan antar elemen-elemen irasional, antara mitos-mitos. Kesenjangan antara dunia saintifik dan dunia agama membuktikan itu.

Meski demikian, justru kesimpulan para saintis bahwa sejauh ini sains hanya mampu menjawab nol koma sekian persen saja dari misteri alam raya ini, membuat agama masih dibutuhkan. Ini karena agama menyediakan jawaban spekulatif atas misteri yang belum saatnya terpecahkan.

Apakah Lia Eden patut diseret ke penjara? Sudah dua kali ia dipenjara karena keyakinannya. Dan ini adalah keputusan pengadilan yang layak dicatat dengan noda hitam. Ya, memenjarakan orang karena keyakinannya adalah absurd. Karena kalau pengadilan yang memutus perkara itu konsisten, para penganut agama kita keluar-masuk penjara dengan mudah.

Kalau mau diusut, setiap agama tentu saja menodai agama yang lain. Setiap agama mengandung negasi terhadap kebenaran agama lain. Seberapa besar kadar noda dan kadar negasi itu, bisa kita perdebatkan kemudian.

Pertanyaan berikutnya: apakah setelah dipenjara, Lia Eden otomatis merevisi keyakinannya? Tentu tidak, kan sudah minum Combantrin. Buktinya ia dipenjara lagi untuk kedua kalinya. Setelah pemenjaraan kedua itu? Tidak juga. Buktinya ia masih menyebarkan ajaran kepada para pengikutnya, dan nyaris mendarat UFO di Monas.

Nah, ini dia absurditas berikutnya; ketika kita memenjara orang karena sesuatu yang ada di pikirannya.

Kalau Lia Eden terus meyakini sesuatu yang di luar nalar dan kepercayaan Anda, Anda mau apa? Bisa apa? Kalau Ahmad Mosaddeq meyakini bahwa ia adalah utusan Tuhan, Anda mau apa? Apakah Anda bisa menjamin isi pikiran dia berubah ketika dipaksa menandatangani pertobatan di atas kertas? Lagipula, beragama kok insecure betul, kalau Anda memeluk teguh agama Anda dan yakin bahwa itu jalan yang benar tentu tidak perlu terganggu sama sekali dengan klaim Mosaddeq.

Kalau saya menyembah pohon karena dalam keyakinan saya pohon adalah representasi Tuhan di bumi, Anda mau Apa? Anda merasa terganggu lalu menebang pohon yang saya sembah sambil berteriak, “Telah kubunuh Tuhanmu,” begitu? Jika demikian, sayalah yang akan melaporkan Anda karena telah melecehkan keyakinan saya, menodai agama saya. Anda telah melakukan blasfemi alias penistaan agama, maka Anda pantas dipenjara.

  • Putut Tedjo Saksono

    Tulisan yang dinalar dengan waras….salut bung

    • Bambang Tedja

      Nalar yg tak berwawasan. Subjektif sekali. Tak faktual.

      • keyakinan itu memang subjektif bukan?

        • ones

          bener brow, keyakinan/agama sebetulnya memang irasional karena semuanya bersentuhan dengan nurani masing2, kalau saya sendiri sih nengok aja kelakuan orang2 yg ‘beragama’…kalau kelakuannya menyejukkan sekitarnya nurut saya itu bener, sebaliknya kalau kelakuannya bikin resah itu yang gak bener…

  • Apik iki 🙂

  • Who Am I

    Nah, itu dia….
    Jangan rasis kalau beragama :v

    Keren tulisane kang 😉

    • Alitt Susanto

      Jangan rasis kalau beragama?
      Nyoba memahami makna kalimat ini, kok aku malah meriang ya?

      • Who Am I

        Walah, Salah yo?
        kamu sendiri yang pinter deh 😀

        • Alitt Susanto

          Jawaban yang bagus saat dikoreksi. Pasti anda orangnya bijak sekali.

  • Didin solehudin

    Salahnya atau gak salah2 amatnya, kepercayaan Lia Eden dinggap pantas dihukum/dibully karena ilegal dimata publik. Timbul pertanyaan, bagaimana cara melegalkan kepercayaan Lia Eden agar tak jadi sasaran hukum/bully?

  • iskpage

    Gini kang,.. klo bisa mendaratnya jangan di monas nanti bikin macet,.. hehehe coba di tempat lain aja ya,..biar bener2 bisa di setujui,.. monas kan masuk ring 1,.. jadi mungkin alasannya bukan masalah kepercayaan tapi soal keamanan (klo itu terjadi) ,.. klo lia eden di bully itu juga bukti eksistensi,.. dianggap ada meskipun tidak bisa diterima secara nalar orang banyak,… dan itu juga resiko dia sebagai pembawa ajaran baru,.. jadi klo Anda atau Lia eden kekeuh itu keyakinan yang harus dipegang teguh ya monggo aja dengan resiko2 tentunya,.. bahkan Rasulullah ketika membawa ajaran Islam juga penuh resiko,.. jadi klo cuma di bully ya biasa aja kang,..

    • Didin solehudin

      Kalo dilihat dari segi irasional, naik nya Rasulullah ke langit pd waktu mi’roj, ada persamaan dgn pernyataan Lia Eden mengenai UFO yg akan mendrt di Monas. Sama2 irasional. Hehe. Bedanya, Mi’roj nya Rasul banyk yg membenarkan sedangkan Lia Eden, banyak yg membully.

  • Juni Salman

    keren. umat yg merasa paling benar tapi sekaligus paling insecure. aneh.

  • Andrian Hendrawan

    Laik dis peri mach!

  • sirotobi

    saya meyembah sempak saya sendiri, kalian mau apa ? sempak sempak saya sendiri yang makai saya yang nyuci juga saya.
    Anda merasa terganggu lalu mencuri sempak yang saya sembah sambil berteriak, “Telah kucuri Tuhanmu,” begitu? Jika demikian, sayalah yang akan melaporkan Anda karena telah melecehkan keyakinan saya, menodai sempak saya. Anda telah melakukan blasfemi alias penistaan sempak, maka Anda pantas dipenjara.

    • Fabulinus

      Setuju sekali dengan Anda, Bung.

      Terserah mau menyembah “Sempak”, menyembah “Pohon”, berdoa & mengitari “Bangunan”, berdoa kepada “Patung”, menganggap suci “Buku”, itu hak berkeyakinan setiap orang.

      Jika Anda mencuri/menebang/menghancurkan “Sempak”, “Pohon”, “Bangunan”, “Patung”, “Buku” seseorang, maka anda melakukan penistaan keyakinan orang tersebut.

      Salam Sempak.

      • sirotobi

        kalau menurut otak saya yg kurang se ons,
        hidup itu indah selama sempak saya masih saya pakai sendiri dan tidak memaksa orang memakai sempak saya.
        #SambilNyuciSempak
        salam satu sempak seNusantara bung!

        • Yunus Purnama

          Hhhaaassuuuu ngekek aku bajingan ternyata di luar kamar kosanku yg 3×3 ini ada makhluk berkehendak bebas lain yg juga menjunjung tinggi harkat dan eksistensi sempak. 😀 Jayalah sempak! Jagalah isi sempak! Shalom shalom

          Tapi sekali2 piknik tanpa sempak dianjurkan. Pakailah sarung. Semriwing coy haha fakk

          • sirotobi

            makasih mbah, saya cuma pengembara yang membawa sempak.
            wah saya tidak bisa hidup tanpa sempak mbah, anjurkan saja pada orang penyembah sarung mbah. saya penyembah sempak yang masih origins. kepercayaan saya mutlak
            bagiku sempak mu yah sempakmu. sempak ku yah sempak ku. jangan campur adukan isi sempakmu dengan isi sempakku. karena itu murtad Hukumnya.

          • mabdussalam

            Dengan nama Allah yang maha Pengasih dan Penyayang. Saya mau mengajak Anda masuk Agama Islam yang diturunkan Allah Pencipta alam semesta ini dan diri Anda. Dan Allah telah mengutus Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa salaam kepada seluruh manusia.

          • sirotobi

            Subhanallah…
            sudah tong, saya sudah islam dari ketika ayah saya menyerukan suara suara iqamah dan adzan ketika saya di keluarkan..
            tp saya ga ngerti itu suara apa karena saya masih secuil daging dan tulang .
            kamu udah makan ? hayuk sini makan sama saya. pasti kamu lapar yah.atau mau dibungkusin ?

          • mabdussalam

            Jika Anda sdh Islam maka berarti Anda harus patuh kpd Allah karena arti Islam adalah tunduk/patuh. Allah memerintahkan kita menyembahNya. Bukan menyembah Sempak. Apakah akal yg Allah berikan kpd Anda tidak bs Anda gunakan untuk berfikir? Sehingga Anda tidak bs membedakan mana Allah dan mana Sempak?

          • sirotobi

            haha, akhirnya anda mengucapkan sempak juga.
            oke deh saya mulai berfikir, berfikir. berfikir, itu merupakan kegiatan mental yang menggunakan otak. anda sebut saya tidak bisa membedakan Allah dan Sempak. apakah anda menggunak otak anda sepenuhnya ? apakah hanya dengan komentar saya sebelumnya anda langsung mendeskripsikan saya seperti itu. sering seringlah melakukan afirmasi. karena sebenarnya banyak hal yang harus anda pikirkan ketimbang memikirkan sempak. jangan jangan anda mulai tertarik dengan sempak saya ?

          • Lanjar Cahyo Pambudi

            Saya menyukai jalan bepikirnya mas sirotobi. Istilah sempak dengan “tuhan” mengandung metamor-metamor analogi yang harus dipahami secara jernih.

          • Joko Dewe

            Hidup sempak..!! Gitu aja repot…

          • mabdussalam

            Sempak yg Anda pake tidak akan ada yg memperdulikan baik warna maupun baunya. Tetapi jika Anda menyatakan diri menyembah SEMPAK di internet (seluruh dunia) sambil menantang-2 “kamu mau apa?” , Tentu kami berhak menasehati sesuai ajaran Islam agar nasehat-menasehati dalam kebenaran. Apalagi Anda sudah menyatakan Islam. Dosa terbesar adalah menyembah selain Allah (Musyrik) dengan ganjaran kekal di Neraka jika meninggal sebelum tobat dr perbuatan musyrik. Kami menyayangi Anda agar tidak menyesal nanti di hari pembalasan,oleh karena itu kami menasehati Anda agar kembali menyembah Allah.

          • sirotobi

            Coba ditelaah kembali komentar di atas dan mohon hilangkan dulu segala prasangka buruk.

            please ,don’t take me seriously . lol
            i am not who you think i am, sometime we need to be pretend.
            and don’t take life so seriously. enjoy your time.

          • mabdussalam

            Hidup harus serius Bro, karena kita gak tahu diberi kesempatan hidup berapa lama. Apa kita mau terus gak serius sampe mati ? Orang lain tahu kita dr apa yg kita perbuat dan katakan (simple)

          • Yunus Purnama

            Ma bro kalau mau makan ajak saya juga. Siapa tahu enak. Ehtapi begitu saja menelan apa yang dihidangkan sebelum dicerna itu kasihan nanti sakit. Kalau ngopi saja gimana, kopinya masing masing lalu kita berbincang riang

          • Yunus Purnama

            Oh baguslah masih mau mengajak. Kalau maksa-maksa mungkin kita butuh kopi dan simfoni angin malam agar persempakan dan pernak pernik momentum waktu dan tempat menjadi garis cahaya kemilau kedamaian dan keselamatan.

          • Yunus Purnama

            Nah sarung itu hanya hiasan juga ma bro. Sebuah ekspresi kebudayaan dan proses pribumisasi sempak. Toh memang sulit mengetahui siapa yg sejati dalam memakai sempaknya. Dan itu urusan individu karena percaya pada sempak adalah soal rasa. Damailah sempak dan damailah dunia…

  • Gautama Isavedha Khrisnhadharm

    saya sangat setuju dengan tulisan anda ini pak, tapi, saya rasa orang indonesia belum bisa diberi kebebasan seperti itu, karena saya rasa masyarakat sini masih latah, labil, dan dangkal.

  • sirotobi

    btw tulisanya keren om… sya makin percaya diri dan makin cinta sama sempak saya setelah membaca artikel ini. 😀

    • Fabulinus

      salut dengan cinta Anda terhadap sempak Anda. 😀 Mudah2an berkah.

      • sirotobi

        dan saya harap anda juga begitu bung. karena sempak butuh ruang di alamnya sendiri & tanpa bersuara saya ucapkan terimakasih.

  • tikah kumala

    Suka deh tulisan ini.

  • Ardiansyah Didy Hasbi

    Sakarepmu mas

  • exception_al

    tulisan dan paparannya keren. Sayang kata ‘saintifik’ digunakan menggantikan kata ‘ilmiah’ yang sudah ada di KBBI semenjak lama… semacam minder dengan Bahasa Indonesia.

  • musri nauli

    http://musri-nauli.blogspot.com/2007/11/issu-aliran-sesat-dari-perspektif-hukum.html

    sagai praktisi, saya menolak negara membicarakan ttg keyakinan… hukum tdk bisa menjangkau tentang pikiran, rasa manusia..

    negara tdk boleh masuk ke relung pikiran manusia….

  • Buronan Ajal

    kalau anda mau menyembah pohon yah sembah aja, gak usah kasih tau kami. begitu pula lia eden. banyak aliran kok yg adem ayem, gak bikin resah. yooo men, maneh jiga rangginang!

    • Jose Leos

      Apakah anda resah dengan orang yang menyembah pohon ?, kenapa resah ??

    • Christian Addison

      Berarti semua orang di dunia ini ga boleh kasih tau kalau dirinya agama Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, Protestan, dsb ?
      Gimana kalau menurut Lia Eden agama lo ganggu dia dan bikin resah ? Lo di masukin bui karena lo beragama yang gw sebutkan tadi.. Lihat dari sudut pandang lain

  • efyandro

    bebas bung, asal anda jangan ajak saya nyembah pohon, begitu juga lia eden, asal jangan ngajak2 orang nyembah tuhanya, begitupula agama lain lain yang anda bicarakan, asal jangan mengajak agama lain percaya sama keyakinannya,,
    saya ngomong kaya gini, anda mau apa?

    • sirotobi

      saya mau berak boleh ?

    • Fabulinus

      Asal orang2 yang ikut LE itu mengikuti dengan sukarela sih ga masalah.
      Yang jadi masalah adalah kalau saya ajak Anda untuk ikut nyembah tuhan saya “tidak dengan sukarela”. Katakanlah dengan mengancam: “ikut agama saya, atau Anda saya bunuh” (Nah ini aneh! wong berkeyakinan kok maksa)
      NB: berlaku untuk semua agama

  • Hardiansyah Ajo

    yg lia eden lakukan sekarang persis seperti yg di lakukan seseorang sekitar 1400 tahun silam

    • Lanjar Cahyo Pambudi

      Juga saat awal2 masehi dan juga…….. ah sudahlah

  • Asta Priatama

    Masalahnya, agama dan kepercayaan yang diakui di Indonesia tidak termasuk yang diyakini oleh Ibu Eden. Mungkin itu yang menyebabkan pro dan kontra dalam masyarakat. :))

    • Fabulinus

      Kata siapa? Bukannya Ibu Eden itu orang Indonesia juga?

  • AA

    Mungkin masalahnya pada keresahan mereka pada L.E. yang memengaruhi orang dekat mereka (anak, saudara, kerabat, ortu, dll.) untuk menganut kepercayaan si L.E. .__.

    • Fabulinus

      ya itu hak “orang dekat mereka (anak, saudara, kerabat, ortu, dll.)” donk. Sapa suruh mereka mau percaya.
      Kalau Anda resah karena “orang dekat mereka (anak, saudara, kerabat, ortu, dll.)” Anda meyakini sesuatu yang berbeda dari yang Anda yakini, berarti Anda “berniat” untuk memaksakan keyakinan Anda kepada mereka.

      • AA

        Well, ini maksudnya saya hanya ‘menyuarakan’ pemikiran sebagian orang, termasuk saya sendiri. Sebenarnya fenomena yang seperti ini sangat wajar, hal yang hampir sama juga terjadi pada Nabi dahulu.

        Tapi jujur, kalau saya tidak masalah mau mereka menyembah pohon, dll. dan saya cenderung tidak peduli selama mereka tidak merugikan bagi saya. Akan tetapi, kalau ada kerabat dekat, apalagi ortu atau anak yang terpengaruh ya tentu saja saya akan resah. Haha… Hal ini berkaitan dengan apa yang masyarakat anggap baik buruk, benar salah, dll. Walaupun nyatanya L.E. tidak merugikan, tapi hal itu tetap dianggap ‘konyol’ oleh masyarakat, dan yang pada akhirnya berdampak buruk bagi saya sendiri. Memang terkesan self-centered dan egois sekali, sih ._. Yah, menurut saya orang2 yang menentang L.E. itu cukup beralasan…

        • Fabulinus

          Benar sekali. Memang agama & kepercayaan itu pada hakekatnya “konyol” (mengandung ajaran yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah). Karena itu, semua agama & kepercayaan (sejauh yang saya ketahui) selalu menuntut adanya “iman” (mempercayai kebenaran suatu ajaran tanpa mempertanyakan).

          Maksud saya adalah, bahwa agama/kepercayaan/aliran baru (mungkin) akan terus bermunculan selama semua agama & kepercayaan masih mengandung unsur “konyol” tsb. Dengan kata lain, selama 2 manusia (atau lebih) masih hidup di dunia, akan selalu ada premis: “yang benar menurut A belum tentu benar menurut B”. Jadi kenapa harus resah?? Perbedaan itu mendewasakan kok.

          “Merugikan” itu maksudnya merugikan dalam hal apa? Bisa diberi contoh konkret?
          Kalau seumpama “kerabat dekat, ortu, atau anak” Anda yang terpengaruh itu tiba2 menganiaya orang yang berbeda kepercayaan, mungkin saya setuju sekali dengan keresahan anda. Tindak penganiayaan itu pasti salah (paling tidak secara hukum bernegara). Kalau si LE ini menganiaya/meneror/mengacau/merusak fasilitas umum/melakukan demo yang mengganggu lalu lintas, dll. atas nama kepercayaan dia, saya mungkin juga resah & setuju kalau dia ditindak.

          Tapi kalau LE ini tiba2 dipenjara cuma gara2 dia ngaku nabi, & atas kasus pencemaran agama kok kayaknya gimana gitu.. Memangnya pencemaran agama yang mana? (KTP di Indonesia mengakui 6 agama, belum lagi aliran2 kepercayaan yang asli maupun import yg ga diakui secara KTP/undang2). Itulah sebabnya kenapa Indonesia butuh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut saya si LE ini ckup ditegur/diarahkan/dibina. Itung2 pelajaran buat masyarakat. Toh jadi nabi itu ga gampang lho (kalau kata kitab2 suci kan nabi itu butuh mukjizat/terpilih atau diridhoi oleh tuhannya, dll). Kalau si LE ini ga bs buktiin kata2 dia, ya nanti masyarakat jg tau sendiri kalau dia nabi palsu. Ilmu & peradaban itu juga berkembang lewat perbedaan & perdebatan kok. Jd, kenapa resah??

          Ya asal perbedaan & perdebatan itu dilakukan dgn cara yg “terbuka, baik-baik, & sopan-santun” kayak budaya nenek moyang kita, pasti hasilnya juga (mudah2an) baik.

          Hehe.. Maafkan curhat saya yg kepanjangan ini. Silakan menyanggah kalau ada yang tidak setuju.

          • Lanjar Cahyo Pambudi

            Belum ada yang menyanggah dan ini membuktikan bahwa pendapat anda berkelas 🙂

          • sepemikiran dengan anda 🙂

            salam damai

          • dedy hs

            Menurut siapa agama tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, dalam islam semua bisa dilogika saya contohkan dlm islam diharamkan menikahi saudara,ibu adik dll dlm ilmu modern itu menikah recesive atau inses yang keturunannya dapat memiliki berbagai penyakit bawawan, tahukak anda banyak ilmuan barat masuk islam karena alquran sesuai dengan hasil penelitiannya

  • bayuardiyanto

    Hmm kalo anda mau nyembah pohon sebenarnya ya monggo aja, tapi fokus tulisannya jangan di kata “saya” sih. Kalo mau fair, logika tulisannya dibalik. Coba dipikir efeknya ke “kami”, umat beragama yang “legal” di Indonesia. Kalau anda ini jadi penyembah pohon, dan anda bisa meyakinkan orang lain juga buat nyembah pohon–kaya mbak Lia Eden (yg entah kenapa) berhasil meyakinkan beberapa orang buat jadi pengikutnya–sedangkan kita tau bahwa menjadi penyembah pohon itu salah menurut agama yang legal diakui disini, ya umat beragama yg ngerasa agamanya bener dan legal ini yang bakal resah mas. Resah kalo banyak pengikutnya yg masih pada goblok juga ikut2an nyembah pohon krn dirasa ini lebih bener dr nyembah Tuhan yang sekarang.

    Kalau mau fair, impact yang ditimbulkan dari begonya surat Lia buat Jokowi ini yang bikin resah mas, karena kita tau sendiri bahwa apa yang dia bawa itu ngaco dan harus distop. Kalau si Lia ini masih ngeyel dan akhirnya harus dipenjara, ya salah sendiri hidup di Indonesia dimana agama yang diakui sayangnya bukan agama yang dibawa oleh beliau, kecuali kalau sampeyan juga meyakini yg dibawa mbak Lia Eden itu bener, disini saya baru minta maaf. Mungkin karena itulah dia harus dijemput UFO di Monas dan lalu hidup di planet lain biar bisa tenang nyembah apa yang dia yakini 🙂

    • Ridho Alief

      permisi, serius nanya. agama yg legal itu dasarnya apa ya? dan bagaimana bisa kita menghakimi suatu agama itu legal atau ilegal? apakah karena persetujuan pemerintah saja agama menjadi legal dan orang yg beragama selain itu dianggap ilegal? lalu pemerintah berlaku kayak tuhan dong bisa menentukan legal tidaknya suatu agama. hehe.

      “sedangkan kita tau bahwa menjadi penyembah pohon itu salah menurut agama
      yang legal diakui disini, ya umat beragama yg ngerasa agamanya bener
      dan legal ini yang bakal resah mas. Resah kalo banyak pengikutnya yg
      masih pada goblok juga ikut2an nyembah pohon krn dirasa ini lebih bener
      dr nyembah Tuhan yang sekarang.”
      mas, beragama kok insecure banget sih.

      • bayuardiyanto

        Sori yg legal ini saya salah, harusnya diakui. monggo linknya: https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia
        Kalo soal pemerintah, jawabannya ya tanya aja mas sama pemerintah mas kenapa dia cuma mau mengakui 6 agama? Kenapa pemerintah nerbitin: Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama Pasal 1? Salah mas nanya sama saya mah..

        Tapi kalo quote-nya bisa saya jawab sih. Intinya gini: ini bukan soal insecure, tapi jangan latah sama kata kebebasan. Ini kayak ada tetangga baru di kampung tiba2 nyetel musik keras2, dan dia juga ngajak orang2 lain ndukung dia buat nyetel musik keras2 tadi, sedangkan saya yang akamsi ini udah kalem2 aja tinggal di sini. Males gak sih?

        Saya punya agama yang Tuhan udah bilang ini sempurna (yang bilang Tuhan saya mas, silakan kalo mau bantah), tapi LE bilang bahwa dia nabi baru dari agama yang saya anut. Kalo stop sampe disitu, ya itu urusan dia. Tapi masalahnya dia juga ngajak orang yang seagama sama saya buat gabung sama kepercayaannya. Dari sini, saya boleh resah ngga mas?

      • dedy hs

        Pemerintah mengakui 6 agama adalah dari sisi administrasi saja bukan masalah benar atau salah, dasarnya adalah banyaknya pengikut

    • Igo Edogawa

      sepakat sama bung @ridhoalief:disqus . Kenapa harus berpatokan pada pemerintah? padahal pemerintah sendiri bukan Tuhan atau perwakilannya yang bisa membenarkan atau menyalahkan suatu keyakinan.

    • Mochammad Affandi Saputra

      Pertanyaannya:
      1. Jika agama adalah hidayah dari Tuhan, bukankah itu artinya orang yang mau diajak pindah agama itu juga “mendapat hidayah” Tuhan?

      2. Bukankah agama-agama yg ada juga tersebar karena para nabi berhasil meyakinkan umatnya untuk menyembah Tuhan mereka? Kalau sekarang kita resah/takut umat agama A pindah ke agama B dan akhirnya marah-marah dan nyalahin yang nyebarin “agama”, terus apa bedanya kita dengan pemuka-pemuka Bani Israil atau kaum Quraisy?

      • bayuardiyanto

        Iyasih, kalo tiba2 dia mendapat hidayah untuk pindah agama lain, ya kita bisa apa. Dan bener juga kalo mungkin kita kayak umat Bani Israil yang parno sama agama yang dibawa sama Rosulullah. Tapi ya piye ya, emang apa salahnya mas kalo kaya gitu? Kayaknya masih masuk akal kalo kita mencegah orang yang sebenernya udah satu jalan sama kita biar ga belok ke jalan lain. Disini, kebebasan bukan cuma ke orang yang mau belok itu tadi, tapi di saya juga buat ngingetin dia biar ga pindah. Soal dia mau belok atau engga, itu urusan dia. Itu tergantung sama “hidayah” yang dia terima.

        Gini deh, kalau dia bilang “saya menyembah pohon, anda mau apa?” lalu full stop, ya terserah dia aja, saya ga akan melakukan apapun. Tapi kalau “saya menyembah pohon, dan saya mengajak orang2 dari agama anda untuk menyembah pohon karena saya nabi baru dan Tuhan yang anda sembah dengan pohon yang saya sembah sejatinya adalah sama, anda mau apa?”, ya saya akan bilang itu salah karena Tuhan yang saya sembah sejatinya bukan pohon. Sayangnya, subjek yang penulis bawa itu ekuivalen sama pernyataan kedua.

        • dedy hs

          Ga ada yang salah dengan menyembah pohon, dan saya ga menyalahkan LE, justru syiah dan ahmadiyah yg patut dibasmi karena mengaku bagian islam tp tata cara menjalankan agamanya melenceng jauh banyak penambahan disana sini,akan tetapi jika syiah dan ahmadiyah membuat agama sendiri diluar itu baru benar, dan kita ga boleh mengusiknya.

  • Apa yang diyakini pribadi seseorang atau komunitas tertentu adalah hak mereka. Tapi kalau sudah menyurati presiden Indonesia yang berpenduduk lebih dari 250 juta, maka urusannya berbeda. Contoh: Kalau anda menyurati Pak Jokowi minta ditanam pohon tauge di puncak tugu monas, maka akan menganggu kepentingan banyak orang.

    • Ridho Alief

      kalau cuma menyurati saja ya tidak mengganggu sih, kalo akhirnya presiden menanggapi dan menyetujui penanaman pohon tauge di puncak monas dan digelar penutupan jalan besar2an itu baru yg mengganggu hehe

      • namanya juga Pak Jokowi merakyat… kalau tiba2 balas..nah loh he he he. Maju terus untuk Indonesia Jaya!!

    • sirotobi

      anda ini terlalu paranoid. terlalu cemas dan heri (heboh sendiri) hanya karena selembar surat.
      #GenerasiParanoid

    • Fabulinus

      Setuju

    • masuk akal juga

  • Adonia Sihotang

    menarik.

  • Jose Leos

    Tulisan yang cukup lumayan isinya, berani menempatkan sesuatu pada posisi yang sebenarnya. Sangat setuju dengan pernyataan bahwa agama apapaun termasuk islam, Kristen dll adalah Irrasionalitas adalah tahayul. sesama tahyulis dilarang saling menghujat dan menghakimi.

    • Bre AjiNa

      Hati hati om … Ntar dituntut karena menulis agama tertentu tahayul …. He he he

    • Bambang Tedja

      Lumayan ngawur juga..

  • Ihsan Faisal

    sy mau menanam pohon, buat anda sembah…

    • Fabulinus

      Boleh. Tanam yang banyak ya, buat mengurangi polusi di Indonesia.

    • kakakak keren simple mas dan mikir

  • Adhie Fahmi

    Saya suka sama orang yang menyembah pohon. Pasti dia akan jadi aktivis pencegah ilegal logging yang sangat keras.

    • Mungkin lama lama jadi FPP, Front Pembela Pohon.
      Setidaknya nanti pelaku illegal logging bakal mungkin akan dipenggal hidup hidup.

      • Fabulinus

        Brarti “Front Pembela” itu ada kecenderungan suka menggal hidup2 ya mas?

        • Bambang Tedja

          Penyembah pohon kok insecure

          • Fabulinus

            iya ya? untungnya saya enggak. hehe..

          • Bambang Tedja

            Klo istri anda dilecehkan orang, tenang aja.kan yg penting dia tetep cinta anda. Ga usah risau..yg penting kan substansi hatinya.. Penentang penentang penyembah pohon kok insecure

          • Hartono Gazaly

            Dari pohon ke istri? Istrinya jgn disamain pohon mas, kasian 🙂

          • Qidsy Cikal

            Emang Tuhan bisa dilecehkan? Dipegang2 toketnya ? Masya Allah anda menyekutukan Tuhan merupakan mengandaikan Tuhan jd pohon dan isteri taubatlah !!!

        • Abdul Hakim Nurmaulana

          setuju setuju, manusia terlalu lemah untuk membela Tuhan…
          kalau Tuhan mau, manusia bisa dimatikan seketika…
          berarti bukan hal itu dong yang harus diperdebatkan?
          tapi, bagaimana kita bisa mentoleransi orang lain dgn agamanya…
          “agamaku agamaku, agamamu agamamu”

  • Trima Begja

    kalo anda mau nyembah pohon ya sembah aja, wong agama dan keyakinan itu ndak butuh rasional, tapi perlu di ingat kita hidup bersosial yang di batasi dengan batas yang tidak terbatas, dan perlu di ingat batasan bersosial adalah manakala keyakinan kita tidak menyakiti atao menodai keyakinan saodara kita, maka saya yakin kita akan senantiasa mendapatkan penghormatan terhadap apa-apa yang kita yakini, dan manakala kita menodai dan keyakinan saodara kita maka sudah barang tentu batasan sosial kita akan menjadi sangat terbatas…

  • Novan Pattileamonia

    keren keren
    lugas dan menarik dibaca
    salut (y)
    haruse ini yg wajib dibaca sama ORANG-ORANG yg hobi DEBAT tentang KEYAKINAN yg dirasa paling BENAR dan SEMPURNA di dunia. Dulu guru agama saya melontarkan sebuah argumen bahwa AGAMA itu adalah style atau gaya atau cara manusia untuk menyembah dan mengagungkan Tuhan, itu saja.
    sekian dan terima kasih.

  • Ayu N E P

    kerrreennn!!! andai kaum mayoritas punya pandangan seperti ini,. g akan ada lagi konflik mengatas nama kan agama.

    • Bambang Tedja

      Plus kaum minoritas ga pada resek..wuiih tambah damai sentosa dah..

  • Sutikno Sumantri

    Ha..ha…ha…merasa “Eksis” padahal bingung mau kemana? Yakinlah, kamu itu menyembah diri sendiri. Meyakinkan banyak orang untuk menyetujui pendapatmu. Kamu memang “eksis” buktinya dipanggil juga nengok. “Eksistensi” abal-abal Berkedok humanisme. “Eksistensi” dengan syarat dan ketentuan. Camkan bung di dunia ini tidak ada kebenaran yang sejati. So jadilah kebaikan berdasar nurani dimanapun berada. Kamu masih merasa benar???. Kalo saya cuma bisa ketawa…..

  • Singkat dan menusuk. Harusnya orang-orang yang manja beragama itu sadar. Nice piece.

  • Wah, paragraf terakhir jadi sensitif ya, mengingatkan pada kisah Nabi Ibrahim. Saya juga baru baca-baca artikel yang sejatinya berbau atheisme. Hanya hati-hati saja, rasionalitas tidak menjawab semua hal. Pijakan kuat salah satunya dari agama, walaupun disebut di atas berbau hal-hal gaib, spekulatif, dan irasional.

  • Charles Oey

    Sudut pandang tulisan ini sangat menarik

  • Hansky

    Bisa aje lu pohon

  • Leo

    Great…

  • Rudi Hartono

    Artikel yang sangat bagus.

    Apapun itu…. apapun “keyakinan” maupun “agama” yang dianut sebenarnya adalah benar dan tidak salah, karena ini adalah urusan “rasa” urusan “hati dan pikiran” dimana seseorang bisa mencapai ketentraman hidup. Yang salah adalah orang yang meyakininya, karena terlalu yakin atau boleh dikata terlalu fanatik dengan agama maupun kepercayaan yang dianutnya, yang pada akhirnya saling menjelekan ajaran agama dan kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Yang perlu diingat kita sendiri sebenarnya tidak tahu benar tidaknya agama atau keyakinan yang kita anut. Didunia ini ada berbagai macam agama dan keyakinan yang diyakini oleh manusia yang inti dari ajaran adalah sama yaitu untuk menjadikan kita manusia yang lebih manusia, yang mengajarkan kebaikan, yang mengajarkan hubungan kemasyarakatan dan juga mengajarkan bagaimana hidup. Ibaratkan saja agama atau kepercayaan itu adalah “Parasut” yang katanya orang tua kita, atau orang – orang disekitar kita bisa membuat
    kita bisa “selamat” jika nantinya kita jatuh dari “pesawat terbang”. parasut itu berwarna – warni ada yang warna merah, kuning, hijau, ungu, kelabu, dan masih banyak warna lainnya. Orang tua kita atau orang sekeliling kita selalu bilang “parasut saya warnanya putih adalah yang paling kuat, yang ada pengamannya, talinya kuat dari baja, kainnya bagus dan tidak mudah robek terkena terpaan angin dan hujan dll”, sedangkan orang tua teman jauh kita disana
    atau orang sekelilingnya selalu bilang “parasut saya warnanya merah adalah yang paling kuat, ada pengamannya, talinya kuat karena terbuat dari Nylon yang tak bisa keroposi, kainnya juga bagus lo dari bahan sutra dan tidak mudah
    robek, bahkan ada GPS nya pula dll”, begitu juga teman kita di negara lain juga bilang kalau parasutnya yang warnanya ungu juga yang paling baik menurutnya. Akhirnya dengan omongan, cerita, dan bumbu – bumbu pemanisnya orang – orang disekitar kita akhirnya kita memilih “parasut” dengan warna dan spesifikasi sesuai yang diutarakan orang – orang disekitar kita itu, anggap saja warnanya putih. Kita berjalan menuju bandara dengan memeluk erat parasut warna putih itu dengan hati berbunga, dengan keyakinan yang tinggi, dan juga tak
    ketinggalan harap – harap cemas “apakah benar parasut saya adalah yang terkuat dari yang paling kuat dan teraman dari yang paling aman?” karena semua parasut itu masih terbungkus rapi di tas rangsel dan tidak bisa dibuka
    sebelum kita jatuh terlempar dari pesawat terbang. Semua orang naik pesawat terbang dengan membawa dan memeluk parasutnya masing – masing, pada saat didalam pesawat kita hanya bisa memegang, melihat tanpa bisa melihat isi tas rangsel parasut itu. Dan kemudian tibalah dimana sudah tiba saatnya kita dan semua orang dalam pesawat terbang harus jatuh terjun bebas dari pesawat terbang itu, Teman kita A jatuh terlempar dari pesawat dengan parasut warna merah ternyata parasutnya tidak bisa mengembang akhirnya dia tidak selamat sampai di daratan, teman kita B juga melompat dengan parasutnya ungu dan ternyata parasut itu talinya sudah pada putus yang membuat dia juga tidak selamat. saat kita harus melompat dari pesawat terbang dengan parasut warna putih yang telah kita yakini telah tiba, pada saat di 5 menit pertama parasut kita aman dan begitu kuat tetapi pada saat angin berhembus kencang ikatan talinya menjadi kendur dan akhirnya terlepas yang pada akhirnya membuat kita juga tidak selamat seperti teman – teman kita yang lain. Orang tua kita, orang – orang disekitar kita juga mengalami hal yang sama seperti yang kita alami karena mereka hanya mendengar tanpa bisa melihat dan membuktikan
    kebenarannya bahwa parasut pilihannya adalah parasut yang terbaik dari yang terbaik. Karena orang tua kita, orang – orang disekeliling kita yang sudah naik pesawat terbang duluan dan telah terlempar jatuh dari pesawat itu tidak pernah bisa bercerita kembali, dan mengisahkan perjalanan terjun bebasnya dari pesawat terbang dengan parasut pilihannya itu kepada kita yang masih meniti jalan menuju pesawat terbang. Andai saja mereka orang tua kita dan orang – orang disekeliling kita bisa bertemu kembali dengan kita dan bercerita tentang parasut pilihannya dengan gamblang dan jelas setelah mereka jatuh dari pesawat itu niscaya kita pasti bisa memilih parasut yang terbaik dari yang paling baik.

    Karena itulah marilah berfikir positif tanpa hujatan dan cacian kepada pemeluk agama dan kepercayaan yang beda
    dengan keyakinan atau agama kita, Jangan menjelek – jelekan antara agama atau keyakinan satu dengan yang lain karena sebenarnyalah kita itu sama yaitu “Manusia” yang benar – benar “manusia”, toh sebenarnya kita sendiri tidak tahu apakah agama atau keyakinan yang kita anut adalah agama dan keyakinan yang bisa membuat kita “selamat” sampai di “tujuan”.

    Mohon maaf jika ada kesalahan tulisan saya, jika ada perbedaan pandangan adalah wajar karena kita
    adalah manusia yang punya “Rasa”, “Angan – angan” dan juga “panca indra”

    • sirotobi

      tulisan yang bagus mas. saya harap makin banyak orang2 seperti anda di indonesia ini.

      • Rudi Hartono

        Terima kasih banyak saudara Sirotobi yang telah sudi mengomentari ungkapan hati saya

    • Mukhlis

      agama tampa fanatisme bukan agama karna akan ditinggalkan, fanatisme kedalam yang harus dikembangkan bukan pemaksaan keluar.jadi kalau kita tidak fanatik terhadap agama kita maka mari kita pertanyaakan keberagamaan kita bahkan yang atheis aja dfanatik dengan keatheisanya kawan.Trim’s

      • Rudi Hartono

        memang benar bung, agama yang kita anut memang wajar dan harus kita yakini dengan sepenuh jiwa tetapi fanatik itu tidak perlu dikembangkan keluar namun kedalam jiwa dan hidup kita pribadi

    • Halim Daddianto

      Didn’t read lol panjang amat mas hampir ktiduran saya scrollnya hehehe

  • Arvidan

    FYI jangankan menyembah pohon, udah ada di luar sana yang menyembah teko raksasa, boneka barbie, motor butut, sama daging asap (sampai ada rumah peribadatan daging asap, menikah dan pemakaman atas nama daging asap). Bagaimana menurut Anda yang mengaku “rasional”?

    • Fabulinus

      Saya tidak mau mengaku rasional. Tapi saya mau tanya.
      Memangnya ada agama yang 100% rasional?? hehe.. kalau agama itu rasional, fungsinya “iman” buat apa donk?

      • sirotobi

        buat jadi vokalis j-roks mungkin lebih tepatnaya 😀

  • KC Gan

    Seseorang semestinya,

    Tidak menghina agama orang lain.

    Dan hanya menghormati agamanya sendiri,

    Dengan cara menghormati agama orang lain

    Dia menjadikan agamanya sendiri berkembang,

    Sekaligus membantu agama lain untuk berkembang.

    Apabila dia berbuat sebaliknya,

    Menghina agama orang lain,

    Maka, dia sebenarnya merusak agamanya sendiri.

    Dan apabila dia berpikir,

    Saya harus meng-agungkan agama saya sendiri,

    Ia sebenarnya sedang merusak agamanya sendiri.

    Oleh sebab itu, “Keharmonisanlah yang terbaik”

    Marilah kita semua mau mendengarkan,

    Dan bersedia mendengarkan ajaran agama lain.

    • Fabulinus

      Betul sekali

    • Selameth_Sastro

      sip..sip..

  • Wahh bener… ini ngena sampe ke uluh otak para haters ini…

  • Aldila Himawan

    alhamdulillah saya tidak sendirian 😀 tulisannya keren om! saluuut!

  • Dyan Iryadinata

    padahal momen yang saya nanti-nanti itu, kedatangan UFO di monas ternyata cuma tahayul tho…

  • Bambang Tedja

    Penyembah pohon jg jangan merasa insecure.. Teguh saja pd iman anda. Tak perlu risau dgn bisikan, godaan,teriakan pihak lain..klo pihak lain mengambil jalan teriak2 anda mau apa?..bukankah sekarang jamannya information noise..zamannya kebebasan berekspresi. Ya terselahlah mau bagaimana, mau pake style apa..btw apakah bung anick tahu persis apa penyebab si lia edan itu dianggap menistakan agama? Shg hrs dipenjara? Kan ga mgkn klo cuma soal dia bikin keyakinan baru..Salah satunya krn dia melanggar ‘copyright’..so silahkan para penyembah pohon bikin agama baru.. Asal jgn melanggar copyright.. Seperti halnya konghuchu yg baru diresmikan, damai kan? Ga ada heboh2an kan?.. Keyakinan kasodo di tengger jg damai kan?..ori siih. Ga melanggar copyright siihh.

    • Fabulinus

      Yang berwenang ngasih copyright sapa sih bang? pemerintah ya?

      • Bambang Tedja

        Ya di ktp tinggal ditulis penganut kepercayaan. Gitu aja kok repot.

    • sirotobi

      yang menganggap L.E itu menistakan agama siapa sih ? Manusia, Allah, Nabi atau Binatang ?
      dan sejak kapan kepercayaan ada copyright nya ?
      emang Kepercayaan Butuh Copyright ?
      tolong dijawab. karena sempak saya belum ada copyrightnya nih…

      • Bambang Tedja

        Sempak lu urusan lu.. Mau di kopi right kek sok ajah.. Lu nilai bahasa indonesia berapa sih? Gw nulis copyright kan pake petik, tong. Lu pikir aja sendiri.

        • sirotobi

          emosi ? hahah gag bisa jawab ?
          ciri ciri orang yg otakny masih primitif, makanya jangan kebayakan makan beras plastik. otak lu melempem jadinya. jawab dulu pertanyaan saya jangan kabur ente, tar ane fentung ente.

          • Andri Bangsa

            @sirotobi ,….kalao belum cukup pandai jgn banyak bicara nanati keliatan bodohnya

          • sirotobi

            emang saya bodoh, makanya saya hidup, kalau saya pintar buat apa saya hidup .anda orang pandai yah? luar biasa. ternyata banyak orang pandai yang hidup. selamat ya

          • Bambang Tedja

            yaeelahh kan udah gw jawab. ntuu gw nulis copyright pake petik. jadi jgn diartikan harfiyah atuuh kakakk….gw ga kemana2 kok sayang.

          • sirotobi

            ah om bambang nih manggil2 sayang, jawab dulu ah om. jangan pakai kata2 ribet om, ntar saya khilaf loh.

          • Bambang Tedja

            Begini kakak tobi, islam itu ada pakemnya om, tata cara deelel. Ketika LE bikin agama ufo kagak ada masalah, tp ketika ritual,tata cara, penyebutan tuhan dll meminjam islam, wah itu plagiat om. ..Melanggar ‘copyright’. Klo skripsi anda diplagiat org, sakitnya dimana om? Lagu aja klo 7 not sama udh dianggap plagiat. Melanggar copyright. ..pasti ada yg melawanlah..lah dia masih mengajarkan sholatlah, menyebut muhammadlah. Msh pake ayat2 alquran. ditambah provokasi macem2 pula.. Kena pasal lah dia 156

          • sirotobi

            oke om,sip. saya tidak mengatakan anda salah ataupun benar dalam hal ini, karena setiap individu punya cara berpikir masing-masing. argumentasi anda sudah benar karena ada dasarnya. itu yang saya tanya dari awal.
            tp kalau menurut saya……..
            ah sudahlah om, terlalu panjang untuk dijelaskan di dalam kolom 10 x 4 cm ini*asal nebak*.
            tp terima kasih sudah menjelaskannya.
            agama bukan untuk diperdebatkan melainkan di yakini karena keyakinan itu beda dengan agama. keyakinan timbul dengan adanya rasa dan keinginan dari diri sendiri (pure), begitu juga dngan agama, akan tetapi agama disusupi dengan dogma dogma atau pola pikir orang lain yang tentunya harus kita ikuti tanpa terpaksa maupun dipaksa menerimanya. loh kok saya jd ngawur lg. oke deh om Bams, selamat hari selasa om.

          • Bambang Tedja

            Setuju kakak. Asal jgn resek sama yg laen, damai kok..

          • sugiyarto

            Mabdussalam, Bambang Tedja dan Saya… sedang di dalam satu Bus umum menuju cililitan, tiba-tiba di tengah jalan orang orang itu menghentikan Bus kami dan memaksa ke Tanjung Priok…
            Apakah kami tdk boleh marah kpd orang-orang tsb.?…
            Tentu kami tdk akan peduli jika orang orang itu memakai Bus yang lain yang tdk kami tumpangi……

          • Di dunia ini tidak ada ajaran (agama) yang orisinal, Pak @bambangtedja:disqus

            Banyak sumber yang bisa kita temukan untuk membuktikan bahwa yang satu mengadopsi (baca: plagiat) ajaran atau tradisi yang lain. Berikut saya sertakan dua contoh:
            + Islam menyontek tradisi agama-agama sebelumnya -> http://wikiislam.net/wiki/Pagan_Origins_of_Islam
            + Kristen mengklaim ajaran-ajaran yang lebih dulu ada -> https://en.wikipedia.org/wiki/Origins_of_Christianity#Pagan_roots

            Mohon maaf kalau sumber-sumbernya berbahasa Inggris, karena kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, nanti penerjemahnya bisa kena pasal 😀

          • Bambang Tedja

            di dalam kepercayaan saya, nabi adam itu sdh ‘berislam’. meskipun saat itu belum dinamai islam. nabi isa a.k.a yesus jg ‘berislam’ dalam pengertian bertauhid. penamaannya baru officially saat nabi muhammad.

          • Gugun Ekalaya

            kalo Islam yang nabi-nabinya sebagian sama ama Kristen n Yahudi yang usianya lebih dulu itu kena urusan copyright juga nggak sih, Om?

          • Bambang Tedja

            nabi adam itu sdh ‘berislam’ juga nabi musa dan isa dalam pengertian mrk bertauhid.

          • Mukhlis

            menyembah sempak bukan salah tapi kelainan jiwa kepsikiater aja bro…defenisikan dulu agama baru kita bisa bicara penistaannya.

  • mabdussalam

    Agama Anda apa sih ?

    • sirotobi

      agama saya Sempakinisme. saya menyembah sempak. anda mau apa? mau ceramah ? mau menghujat saya ?
      kalau tidak baguslah.
      dan saya tau pasti apa agama anda, karena gaya komentar anda sudah mainstream. saya sering lihat di dunia mbak maya pertanyaan2 seperti ini.

      • mabdussalam

        -Dengan nama Allah yang maha Pengasih dan Penyayang. Saya mau mengajak Anda masuk Agama Islam yang diturunkan Allah Pencipta alam semesta ini dan diri Anda. Dan Allah telah mengutus Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa salaam kepada seluruh manusia.

    • Andre514

      sensus penduduk bro ? nanya nanya kaya lu mau ngasih makan ajah.

      • mabdussalam

        masa nanya aja gak boleh sih Bro ? barusan Anda komentari sy dg pertanyaan juga he 3x

  • Armand Burhan

    Tidak masalah menyembah pohon, batu atau apapun selama tidak mengaku sebagai penganut agama tertentu, misalnya tidak mengaku beragama Islam, tidak mengaku beragama kristen, tidak mengaku beragama hindu, dlsb…

    Sama halnya jika anda mengaku orang Indonesia tidak mungkin anda menghormat pada bendera bergambar palu arit, atau bendera bergambar bintang dan garis biru, dan tidak menyanyikan lagu Gebyar-gebyar sebagai lagu kebangsaannya…

  • maaf mas, dalam tulisan anda terdapat kalimat “Kalau mau diusut, setiap agama tentu saja menodai agama yang lain”
    setahu saya agama Islam tidak menganggap agama lain itu NODA. Islam mengakui adanya injil, taurat, zabur yg semuanya mengajarkan kebaikan.
    Dan jika anda masih menganggap demikian berarti semua ikan yg dilaut adalah HIU. saya kira mas tau maksud saya
    Jadi menurut saya, anda lebih baik menulis tentang “cara menebalkan kepercayaan/keyakinan” yang anda anut tersebut dengan TANPA mencari kalimat pembenaran untuk keyakinan anda tersebut kepada orang lain.
    Maaf jika tidak berkenan

  • Antsomenia

    sebagai penyembah sempak, saya merasa sedih.

  • mabdussalam

    Kami mau mengajak Anda kembali ke jalan yang benar….

  • Sel Vina

    Tulisan yg bagus bermodal wawasan yg liberal, 10 utk anda!

  • Bambang Tedja

    Lucu bang anick..seakan2 tahu apa yg dipikirkan org2. Padahal tidak. Mengira org2 risau sama keyakinannya lia. Padahal bukan itu..lucu mengira org islam segitu dangkalnya. Sok tahu.. Sadar woi lia itu menghina, menistakan, ‘menginjak2’ islam dan bahkan kristen jg.

    • sugiyarto

      seandainya mereka memakai bus mereka sendiri untuk pergi, kita tdk peduli mereka mau pergi kemana….

  • Tok Wan Yeh

    Pertanyaan SEDERHANA untuk PENULIS, sampai SEJAUH & SETINGGI apakah TINGKAT RASIONALITAS & IRRASIONALITAS Anda?

    • Tok Wan Yeh

      Pertanyaan YANG SAMA untuk PARA KOMENTATOR & SUPPORTER, sampai SEJAUH & SETINGGI apakah TINGKAT RASIONALITAS & IRRASIONALITAS Anda?

      Ps: Apabila Anda KEBINGUNGAN dalam memberikan INDIKATOR perihal jawaban Anda, Anda boleh MENCANTUMKAN OBJEK / SUBYEK lain sebagai PROXY (perwakilan) atas TINGKATAN RASIONALITAS Anda.

      Contoh:
      Saya MERASA pintar, tingkatan rasionalitas & irrasionalitas saya SETARA DENGAN KAMBING, karena saya TIDAK AKAN MENIPU DIRI SENDIRI..
      … atau merasa seperti Kecoa, Tai Kucing, Anjing, Orang Utan, Di Antara Manusia dan Binatang, Manusia, Di Antara Manusia dan Nabi, Rasul, Diatas Rasul Dibawah Tuhan, 11-12 sama Jibril, atau Setara Tuhan, DST..

      Monggo..

  • andreas purwanto

    untung saya cuma menyembah Chelsea Islan.

  • Bright Didi

    Mungkin karena keyakinan bu Lia diluar 6 keyakinan yang diakui secara hukum dan juga bukan merupakan kepercayaan yang termasuk dalam catatan budaya di Indonesia, sehingga otomatis kegiatannya (termasuk menyebarkan keyakinan itu) adalah ilegal hukumnya. Jika bu Lia menyebarkan agama ini di suatu negara yang umat beragamanya gak sesensitif di Indonesia, akan lain cerita.

  • Budi Aryotejo

    BAGIKU MO MENYEMBAH POHON KEK…SETAN KEK…ITU HAK KEYAKINAN KALIAN. TAPI SAYANGNYA SUNGGUH TRAGIS ADA SATU AGAMA TERBESAR DI INDONESIA YG BILA TIDAK SEJALAN DAN MENGIKUTINYA DGN AGAMA TSB ANDA DIANGGAP SEBAGAI PENYESATAN AGAMA. DAN MENYEDIHKAN LAGI PEMERINTAH OK OK AJA NURUT PELANGGARAN SEMACAN INI DIJADIKAN UU. MAKANYA NGGAK HERAN SI ELIA EDEN DIPENJARA. APALAGI PARA PENYEMBAH POHON. HATI2….
    MESTINYA KLO PEMERINTAH FAIR…..KALIAN PENYEMBAH POHONPUN ATO ELIA EDENPUN HARUSNYA BISA CLAIM KEPEMERINTAH AGAR TIDAK DISKRIMINATIF MEMPERLAKUKAN UU TSB.
    INI ADALAH BUKTI BEGITU RENTANNYA AGAMA YG TERBESAR DI INDONESIA TERHADAP KRITIK,PERBEDAAN KEYAKINAN DAN AJARAN DAN TOLERANSI.
    KUNCINYA PELAJARI AJA KITAB2NYA SECARA MENDALAM DAN SEKSAMA, KALIAN AGAK KAGET DAN TIDAK PERCAYA KLO DIDALAMNYA TERDAPAT AJARAN INTOLERANSI TERHADAP KEYAKINAN LAIN.

  • dedy hs

    Beragama bukan untuk mencari jawaban spekulatif, beragama adalah cara seseorang untuk berbuat benar. Dalam agama telah di sebutkan SOPnya mana yg baik mana yg jelek. Benar agama memiliki sisi irasional karena agama bukan ilmu pasti. Keirasional pertama adalah tuhan itu sendiri, kalau kita beragama kita tak perlu mempertanyakan tuhan itu seperti apa, bagaimana karena dalam agama sdh tuntunan kita hanya perlu percaya. Anggapan jika yg ada menghancurkan bangunan, tata cara atau apapun bagian dari suatu agama itu diacuhkan saja itu tindakan bodoh karena itu akan menyakinkan pemeluknya, seperti orang islam menghancurkan gereja atau sebaliknya itu tindakan salah karena pemeluknya akan sakit hati, karena agama secara harfiah sendiri berarti “tidak jelek”. Jadi jika ada org berbuat jelek bukan serta merta agama jelek tp lihat manusianya jgn agamanya.

  • kalo saya biasa saja. “sembah saja” pohonmu.

    http://www.soearamoeria.com

  • Saman Semaun

    bangsa yang grogi adalah yang suka mengomentari masalah agama dan penentangnya hingga ratusan komentar, jilak!

  • Muhammad Hanif Ibrahim

    Ternyata banyak ya belum paham.. sedih melihat komentar2nya

  • Turki Usmani

    Maka turunlah Al-Qur’an utk menjadi panduan manusia. Kajilah! Baru berspekulasi. Nikmat manalagi yang kamu dustakan.

  • Maulvi DM

    Nih film yang pasti anda suka.

  • Mukhlis

    kayaknya terminologi agama harus didudukkan dulu bro… baru kita kaji kepenistaannya sehingga yang disebut penistaan agama jelas dan tidak bias.

  • Pepsi

    Mohon maaf… Jika mahluk di dunia ini semuanya seperti Manusia, bagaimana? Memiliki AKAL, HATI, & KEHENDAK… TUHAN menciptakan manusia dengan segala kelebihannya, Akal; yang mana untuk berfikir bebas tanpa batasan, Hati; untuk menyaring segala perkataan dan perbuatan serta pemikiran, Kehendak; atau keinginan atas sesuatu yang menurut akalnya baik, menurut hatinya sesuai dengan perasaannya… Nah, TUHAN MAHA PENCIPTA menginginkan adanya manusia yang diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat menyerupai diri-NYA (TUHAN); dapat melihat, mendengar, berkehendak, bahkan menciptakan sesuatu, salah satunya AGAMA, diluar dari AGAMA (TUJUAN) yang dikatakan dalam KItab-Kitab yang diturunkan kepada manusia pilihan yang disebut sebagai NABI / RASUL… Jadi kalau POHON BESAR / POHON KECIL / KERBAU / TIKUS memiliki Akal, Hati & Kehendak yang serupa dengan kita MANUSIA, jadi seluruh mahluk yang ada di alam Alam Semesta ini adalah TUHAN… Bukan lagi Mahluk… Makanya yang namanya TUHAN beda dengan MAHLUK… So??? Masih mau bikin agama baru atau TUHAN yang lain???… Cukup bagi saya “ASYHADUALAA ILAAHA ILLA ALLAAH, WA ASYHADUANNAA MUHAMMAD RASUL ALLAAH”…

  • Jokosan

    “Ketahuilah, tak ada satu agamapun di dunia ini yang tak mengandung irasionalitas”. Ngeri iki. Vonis yg hanya bisa dilakukan seseorg yg bnr2 ahli banyak agama :). Mgkin maksud Irasional itu tdk bs dibuktikan scara empiris. Tp opo njuk irasional. Lha kita ngising aja gak irasional lho mas. Oke, setiap alat dan sensor tubuh bisa dilacak cara kerjanya dr makan sampe ngising. Tapi apa kita bisa menentukan kapan kita ngising? Ngising is (menurut tulisan diatas) irasional. Hanya bisa dinalar pake Iman. Iman bukan irasional. Pokokke iman, manut dg keyakinan. Ndak usah dinalar nalar. Kebelet yo ndodok, beres… Pun dg seluruh hidup ini. Kabeh berdasar iman, keyakinan utk patuh dan yakin.

    • Jokosan

      Ralat: lha kita ngising saja gak RASIONAL lho

  • Kham

    Buat penulis dan semua rekan rekan yg komen disini saya tanya dulu agama itu apa sih?Tuhan itu apa?

  • Lutfi Prayoga

    seriously, menyembah pohon tdk cuma mengurangi illegal logging. tp juga pasti melestarikan alam & meniadakan bencana banjir, tanah longsor, & asap. ini mungkin tuhan & agama yg (paling) eco-friendly..

No more articles