Langkah Front Pembela Islam (FPI) mendatangi dan memaksa PMA, remaja usia 15 asal Cipinang Muara, agar minta maaf, saya kira adalah keputusan yang tepat. Karena kejayaan Islam yang direpresentasikan FPI dan Habib Rizieq Shihab tengah terancam.

Saya yakin semua muslim di Indonesia setuju ini: Islam Indonesia adalah Islam yang diwakili oleh perilaku FPI dan akhlak Habib Rizieq Shihab. Kalaupun ada yang protes sedikit-sedikit ya maklumlah, yaelah, itu kan karena mereka tidak sebaik dan sedamai FPI.

Selama ini Islam damai dan rahmatan lil alamin kerap disandingkan dengan orang-orang seperti Gus Mus, Prof Quraish Shihab, atau Prof Syafi’i Maarif. Itu kan dulu, so yesterday, buktinya hari ini nama-nama itu sudah tidak ada lagi baunya. Tersungkur di hadapan karisma Habib Rizieq.

Lihatlah akhlak Bib Rizieq yang meminta kita melakukan tindakan nyata kepada Ahok, atau Hary Tanoe. Itu adalah tanda nyata bahwa beliau pembela utama marwah Islam Indonesia. Jika ada yang berani mengkritik Imam Besar, selama itu perempuan atau anak-anak, kita umat Islam wajib bergerak.

NGA penting HAM-HAM Hamburger itu. Kalau ada yang menghina Imam Besar, atau ustadz-ustadz alumni 212, kita wajib mencarinya. Kita catat pelakunya, lalu cari. Sebagai umat Islam, kita wajib membantu anggota FPI mengumpulkan identitas pribadi, dari foto, tempat bekerja, nomor telepon, dan alamat tempat tinggal.

Pahlawan kita para anggota FPI lantas mendatangi tempat tinggal target dan melancarkan tekanan, agar penghina ulama seperti PMA dan Dokter Fiera di Solok mengakui kesalahan dan meminta maaf. Perkara ada orang lain yang menghina Prof Quraish Shihab, Syafi’i Maarif, Gus Mus, atau kyai-kyai sok damai lain, kita tak boleh cari pelakunya. Kan sudah ada Banser, kita mesti bagi-bagi tugas.

Baca juga:  FPI dan Rencana Boikot Media Sosial di Hari Natal

Kalau ada yang menghina ustadz pendukung 212, FPI yang cari. Kalau ada yang menghina kyai NU, bisa Banser sajalah yang mencari.

Tapi Banser itu cupu. Saat Banser mencari orang yang menghina ulama NU, mereka tidak suka main tampol atau main ancam. Padahal itu kan kesempatan emas untuk menunjukkan kedigdayaan Islam. Supaya tidak ada lagi yang berani menghina ulama kita di media sosial atau di manapun, terutama Imam Besar.

Banser itu cupu betul. Sejak awal, tugasnya ya begitu-begitu saja. Kalau ada bencana, bantu. Ada ancaman pemboman gereja, ya bantu jaga. NGA pernah berani sweefing.

Banser memang pernah mendatangi bocah yang menghina Gus Mus, tapi mereka tak sampai hati memukuli kepala anak itu, menakut-nakuti atau mengancam pun tidak. Hih! Banser NGA punya nyali.  memaksakan diri apalagi membuat penghina ulama ketakutan, untuk itu kita mesti mendukung FPI.

Itulah bedanya dengan FPI. Di Solok, Dokter Fiera yang mengkritik Rizieq sampai harus mengungsi ke Jakarta berkat kerja-kerja FPI.  Hidup FPI!

Maka dari itu, kalau ada berita yang menyebut kebebasan berekspresi di Indonesia sedang gawat, ah, itu berita hoax. Saya kira kita perlu terus mendukung FPI menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Melawan anak-anak dan perempuan, karena dua kelompok ini kurang ajar betul. Kalau laki-laki dewasa atau yang berkuasa mah jangan. Bahaya.

Baca juga:  Membela Kak Jonru

Untuk itu kita perlu berterima kasih kepada musisi dan penyair yang kebetulan pernah jadi presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Beliaulah yang telah menghadiahi kita SKB Tiga Menteri, alat kita untuk menggasak Ahmadiyah, Syiah, dan semua orang yang menganggap FPI bukan representasi Islam. Pokoknya kalau ada yang menghina FPI atau Habib Rizieq, dia menghina Islam. Kalau ada yang menghina Islam, ya kita harus jihad, lawan, asal itu anak-anak atau perempuan. Kalau orang dewasa, apalagi anggota Banser, ya jangan.

Saya kira tradisi mendatangi, mengeroyok, dan menyakiti remaja ini memang sangat dekat dengan islam. Malam menjelang Hijrah, Nabi Muhammad bertukar posisi dengan pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Saat itu gerombolan orang yang sakit hati karena berhalanya dihina, berencana membunuh Nabi Muhammad. Saat mereka memasuki rumahnya, alih-alih menemukan Muhammad, mereka menemukan Ali.

Nah, itu, dekat kan dengan Islam? Kita harus mengambil pelajaran dari mana saja, termasuk menuntut ilmu sampai ke negeri aseng, termasuk belajar dari orang-orang Quraish yang sakit hati kepada Nabi Muhammad yang menghina ulama berhala.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles