Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pecinta Drakor yang Tak Suka Film Hollywood karena Merasa Wajah Bule Sama Semua

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
16 September 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sulitnya membedakan wajah bule jadi alasan teman saya, seorang pecinta drama korea (drakor) senior, untuk selalu nolak menonton film Hollywood.

Bagi beberapa orang, pilihan tidak doyan menonton drama korea (drakor) selain soal karena telat ngikutin tren adalah soal kesulitan menghafal nama dan wajah artisnya. Ya kalaupun itu nggak dialami oleh banyak orang, paling tidak itu yang terjadi dengan saya. Artis drakor itu bagi saya karakter wajahnya benar-benar mirip satu sama lain.

Iklan

Bahkan dalam beberapa kasus, menghafal nama artis pemain di film Thailand kadang jauh lebih mudah bagi saya ketimbang menghafal nama artis drakor. Udah namanya susah, cantik dan gantengnya sama aja. Bening kayak porselen semua lagi. Hadeh.

Tak pelak, hal kayak gitu jadi problematika tersendiri kalau saya harus menikmati drakor. Kegagalan dalam menghafal wajah dan nama karakter dalam film, bikin saya sering gagal paham dalam mengikuti jalan ceritanya. Ya bagaimana bisa menikmati cerita kalau membedakan karakter protagonis dan antagonis saja kebingungan.

Saya pikir, gejala ini hanya bisa ditemui oleh mereka yang nggak doyan dengan film-film atau drama korea, ternyata gejala yang berkebalikan juga dialami oleh teman saya yang nggak doyan film-film barat alias film Hollywod.

Ini betulan dialami oleh teman kecil saya yang sama sekali tak suka menonton film Hollywood. Sebut saja nama teman saya ini Gepenk. Sejak dari kuliah, teman saya ini adalah penggemar film-film Asia. Entah drakor, film India, film Thailand, bahkan FTV Indonesia yang sudah Gepenk ikuti sejak 2006-an. Jadi bisa dibilang dia ini pecinta drakor senior lah.

Anehnya, kesukaannya pada film atau series kayak gitu bikin Gepenk jadi anti dengan film-film Hollywood. Ya kamu nggak salah baca. Dia benar-benar nggak doyan film barat. Kamu bisa tanya ke dia soal film Avengers: Endgame dan dia bakal melongo seolah tidak sedang ketinggalan sesuatu yang monumental.

Iya sih, pernah ada satu film barat yang Gepenk suka dan saya pernah pergoki. Serial detektif yang mikir banget kalo ditonton, yakni: SpongeBob SquarePants.

Tiap pagi di rumah kontrakan sambil ngopi. Gepenk selalu penasaran dengan salah satu episode SpongeBob belajar di sekolah mengemudi. Bahkan episode itu pun kadang dipikirnya sambil pusing.

“Itu SpongeBob napa enggak nembak aja sih SIM-nya? Udah goblok, jujur lagi. Ealah.”

Mungkin baginya hal itu udah kayak kita yang sedang menikmati film Memento-nya Christoper Nolan.

Akan tetapi ada kejadian yang betulan bikin saya yakin kalau Gepenk ini memang benar-benar tidak bisa menikmati film Hollywood. Hal ini saya ketahui saat menemaninya nonton film lewat komputer di kamar kos kawan saya yang lain. Sebut saja naman teman saya ini Erte.

Saat itu saya, Erte, Gepenk, sepakat menonton film Hollywood. Hal ini dilakukan semata-mata agar Gepenk juga bisa tertarik menonton film berbahasa Inggris ke depannya. Bukan drakor dan FTV mulu. Setelah perdebatan sedikit panjang mau nonton film apa, akhirnya kita sepakat nonton X-Men: The Last Stand (2006), sebuah sekuel film X-Men (2000) dan X-2 (2003).

Tentu saja butuh waktu guna meyakinkan Gepenk untuk ikut menonton tentang manusia mutan itu. Maklum, bagi Gepenk, menonton film Hollywood kayak gini seperti sedang menghadapi film rumit Inception (2010) atau Enemy (2014).

Iklan

“Lah kenapa sih, Penk, kok bisa gitu nggak suka blas film barat?”

Jawabnya simpel: “Males baca subtitle aku.”

Males baca subtitle katanya. Memangnya Gepenk kalau nonton film India dan drakor tanpa subtitle? Gila aja kalau dia paham. Apalagi kalau nonton film Thailand. Ebuset. Alasan macam apa itu?

Terang saja itu alasan dibuat-buat. Sampai akhirnya kami paksa Gepenk nonton film Hollywood untuk pertama kalinya. Pertama kalinya sampai selesai—tentu saja.

Film dimulai. Lampu sengaja dimatikan biar seperti bioskop mini. Karakter-karakter macam Wolverine, Magneto, dan Professor Xavier mulai muncul. Aksi-aksi laga pun sudah mulai.

Di tengah adegan seru tersebut Gepenk bertanya.

“Sebentar, sebentar, ini Magneto bukan?” menunjuk layar monitor sambil menyetop film.

Saya dan Erte paham, mungkin Gepenk berusaha untuk memahami film ini, sebab yang kita tonton memang X-Men: The Last Stand dan Gepenk belum nonton X-Men yang pertama. Bahkan kami pun paham ketika yang dia tunjuk saat itu adalah wajah Hugh Jackman.

“Itu Wolverine, Penk. Magneto keluarnya masih nanti,” kata Erte.

Film pun dilanjutkan. Di bagian tengah ketika adegan lagi seru-serunya Gepenk lagi-lagi nyetop sambil nunjuk ke layar monitor.

“Ini Magneto?”

Kali ini saya membatin, wah ada yang salah nih.

Sebab kali ini wajah yang ditunjuk Gepenk adalah Professor Xavier. Saya cuma bisa mengelus dada. Film sudah sampai tengah durasi, mengingat tokoh aja nggak bisa. Ngalamat nggak paham ceritanya ini si Gepenk.

Erte sejenak menghentikan filmnya lalu menjelaskan latar cerita film X-Men dulu agar bisa mengerti film ini. Semua upaya ini dilakukan semata-mata agar Gepenk bisa menikmati film seperti kami. Setelah Gepenk manggut-manggut akhirnya acara nonton dilanjutkan.

Saya yang sudah pernah nonton—sebenarnya karena menyerah selalu ditanya “ini Magneto” dari tadi—akhirnya cuma mainan hape di belakang mereka. Sesekali ikut nonton waktu adegannya seru. Selebihnya kalau adegannya membosankan tiduran mainan hape lagi.

Film sudah sampai jelang bagian paling seru, lagi-lagi Gepenk bertanya.

“Nah, kalau ini pasti Magneto.”

Entah kenapa, Erte minggat begitu saja tanpa menjawab ketika Gepenk bertanya. Meninggalkan Gepenk dan saya di dalam kamar.

“Magneto, magneto, ndiasmu,” teriak Erte dari luar kamar.

Gepenk melihat ke arah saya yang tiduran mainan hape. Saya nggak begitu mengerti, kenapa Erte sampai walk out begitu.

Gepenk pun coba menjelaskan, mencoba membela diri.

“Lah mukanya bule gitu kan sama semua. Putih-putih semua. Gimana bedainnya coba?”

Di saat Gepenk menjelaskan, di belakangnya terlihat layar monitor yang menampilkan wajah salah satu karakter dalam film yang—sekali lagi—distop.

Dan wajah di monitor kamera itu adalah wajah Raven. Ya, Raven si Mystique.

Dia sama sekali nggak putih…

Dia itu BIRU, cooegh!


BACA JUGA Manfaat Nonton Drama Korea Maraton dalam Semalam Bagi Nusa, Bangsa, dan Nusantara atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 16 September 2019 oleh

Tags: Drakorfilm HollywoodX-men
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO
Ragam

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
No Other Choice: rekaman betapa rentan nasib buruh. Mati-mati kerja sampai kehilangan diri sendiri, tapi ditebang saat tak dibutuhkan lagi MOJOK.CO
Catatan

No Other Choice: Buruh Mati-matian Kerja sampai Kehilangan Diri Sendiri, Usai Diperas Langsung Ditebang

16 Oktober 2025
Gareth Evans, Bule yang Berjasa Bawa Pencak Silat ke Hollywood. MOJOK.CO
Hiburan

Mengenal Gareth Evans, Bule yang Berjasa Bawa Pencak Silat ke Hollywood

15 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.