• 635
    Shares

MOJOK.CO – Kenapa sih tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional? Kenapa istilah yang dipilih “santri”? Kenapa tidak—misalnya—Hari Kiai gitu?

“Jika ada hari santri, kenapa nggak ada hari Kiai sih?” tanya seorang teman.

Saya tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu.

Karena yang bertanya bukan seorang santri, dalam artian belum pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren mana pun, maka saya bisa maklum bahwa pertanyaan tersebut menggelayut di pikirannya belakangan ini.

Pertanyaan semacam itu wajar saja bagi saya. Bukankah secara kedudukan, seorang Kiai jauh lebih lumrah jika mendapatkan penghormatan tersebut ketimbang santri? Lagipula di Indonesia kita mengenal Hari Guru, tapi tidak mengenal Hari Murid bukan? Oke deh, Hari Murid itu ada, tapi bukan “milik” Indonesia, melainkan merupakan Hari Murid Sedunia yang ditetapkan pada 5 Oktober.

Selain itu, teman saya juga semakin penasaran karena penetapan tanggal itu tertuju pada KH. Hasyim Asy’ari, sosok yang jelas-jelas merupakan seorang kiai besar di Nusantara. Semakin gatal saja rasanya bagi teman saya untuk mendapat penjelasan kenapa yang dipilih istilah “Hari Santri” alih-alih “Hari Kiai”.

Jadi kalau mau dirunut pada keputusan Presiden Jokowi menetapkan Hari Santri pada 2015 silam, alasan tanggal 22 Oktober dipilih karena pada saat itu menjadi hari bersejarah bagi Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan merdeka.

Tanggal tersebut dipilih karena pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad sebagai upaya pencegahan pasukan Kolonial Belanda yang ingin mengembalikan kekuatannya di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Masalahnya saat itu pasukan Belanda membonceng nama dengan pasukan NICA yang sebagian besar merupakan pasukan Kerajaan Inggris.

Paham bahwa posisi Indonesia sudah merdeka, KH. Hasyim Asy’ari lalu mengintruksikan pada setiap masyarakat untuk membela tanah air ini dari serbuan penjajah. “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap individu.”

Atas instruksi ini lalu berderet-deret terjadi peristiwa yang membuat Brigader Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby tewas akibat pertempuran selama tiga hari berturut-turut (27, 28, 29 Oktober 1945) antara Pasukan NICA dengan arek-arek Suroboyo yang sebagiannya merupakan santri.

Mendapati seorang Jendralnya tewas oleh “pasukan pemberontak”, Kerajaan Inggris marah besar sampai kemudian menjadi latar peristiwa 10 November di Surabaya yang legendaris itu.

Sampai di sini, kita tentu mafhum jika dalam peristiwa besar, beberapa orang acapkali akan mengingat orang-orang besar pula. Pada peristiwa itu, orang akan ingat sosok seperti KH. Hasyim As’ari atau mungkin Bung Tomo karena punya peran yang paling terlihat.

Apalagi, dalam pendidikan sejarah di Indonesia, seringkali titik poin sebuah peristiwa sejarah selalu diingat pada orang-orang besarnya saja. Seperti misalnya, peristiwa Serangan Umum 1 Maret, maka bayangan yang muncul adalah sosok Soeharto atau Hamengku Buwono IX, Proklamasi yang diingat ya sosok Soekarno atau Bung Hatta. Bahkan pada Hari Pahlawan 10 November sekalipun, sosok yang melekat adalah Bung Tomo.

Baca juga:  Kisah Sedekah Orang Miskin dan Amplop Bisyaroh yang Tertukar

Maka bisa dibilang Hari Santri merupakan wujud bagaimana sejarah juga bisa dilekatkan pada mereka yang secara individu tidak dikenal oleh banyak orang. Sosok-sosok yang berjuang di Surabaya dan Jawa Timur secara luas ini mendapat tempat yang tidak bisa dipandang remeh dalam upaya bangsa ini meraih kemerdekaan. Dan sosok-sosok itu adalah santri.

Masalahnya, hal tersebut masih tidak cukup menjawab pertanyaan lanjutan dari teman saya, “Lalu kenapa tidak dibikin dua saja? Ada Hari Santri, bikin saja juga Hari Kiai?” tanyanya.

Sebenarnya saya ingin saja jawab: ya itu kan bukan urusan saya, Biji. Itu kan urusannya Presiden. Tapi demi memuaskan hasrat keingintahuannya, maka kita harus kembali pada tradisi pesantren mengapa nama “santri” lebih dipilih ketimbang “kiai”.

Dalam tradisi pesantren, tidak ada istilah “mantan santri” sebenarnya. Seorang santri yang berguru pada sosok kiai, tidak pernah lepas tawadhu’-nya terhadap kiai—bahkan ketika si santri ini akhirnya menjadi kiai juga di masa mendatang. Dan hal semacam ini kebetulan pernah dicontohkan secara langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan sangat baik.

Sebagai seorang ulama paling cemerlang pada eranya, KH. Hasyim As’ari mendapat gelar “Hadratus Syaikh”. Gelar ini bukan gelar sembarangan. Bukan gelar seperti “kiai” atau “ulama” yang bisa disematkan serta merta oleh masyarakat. Ada pertimbangan khusus kenapa gelar ini bisa melekat pada sosok KH. Hasyim As’ari.

Dalam urutan gelar ahli hadis, untuk para ulama yang mampu menghapal 2.000 hadis soheh maka akan mendapat gelar “Al-Faqih”, jika ada ulama mampu hapal seluruh hadis dari sanad Imam Bukhari dan Imam Muslim maka akan mendapat gelar “Assyaikh”, sedangkan KH. Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang mampu menguasai dan hapal Kutubus Sittah.

Artinya KH. Hasyim Asy’ari: menguasai ilmu hadis tidak hanya dari sanad Imam Bukhari dan Imam Muslim saja, melainkan juga dari Imam Abu Dawud, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i, sampai Imam Ibnu Majah. Dari kemampuan inilah beliau mendapat gelar “Hadratus Syaikh”.

Karena kemampuan ini juga, maka sudah jadi pemandangan lumrah pada bulan Ramadan pada saat itu, seluruh ulama di Nusantara (ada yang menyebut se-Asia Tenggara) berbondong-bondong untuk datang ke Pondok Pesantren Tebuireng demi bisa belajar ilmu hadis kepada KH. Hasyim Asy’ari. Dan salah satu ulama besar yang “nyantri” itu adalah Syaikh Kiai Kholil Bangkalan.

Jika kita paham sanad keilmuan beberapa ulama di Nusantara, hal ini cukup mengejutkan sebenarnya. Sebab jika dirunut ke belakang, Kiai Kholil Bangkalan ini dulu merupakan gurunya KH. Hasyim Asy’ari ketika muda.

Baca juga:  Jatuh Cinta Sama Murid Sendiri

Tentu ada pertanyaan nakal yang muncul kalau kita tahu fakta itu: Ah, masa seorang guru mau-maunya belajar sama muridnya sih?

Yap, kamu nggak salah baca. Jadi Kiai Kholil sadar bahwa secara ilmu hadis santrinya ini lebih tinggi, maka Kiai Kholil yang merupakan guru dari banyak kiai besar di Nusantara ini tidak malu untuk belajar—sampai mendatangi langsung kediaman santrinya tersebut.

Tentu saja KH. Hasyim Asy’ari begitu terkejut kiai pada masa mudanya justru berkunjung ke rumahnya untuk belajar. Karena begitu tawadhu’-nya KH. Hasyim Asy’ari kepada Kiai Kholil yang datang, kakek Gus Dur ini meminta para santrinya untuk mengurus Kiai Kholil selama proses belajar itu. Tujuannya jelas, sebagai seorang santri Kiai Kholil, KH. Hasyim Asy’ari tidak rela jika gurunya harus repot seperti “santri-santri” yang lain dalam proses belajar tersebut.

Ajaibnya, Kiai Kholil justru menolak mendapat perlakuan seperti itu.

“Dulu aku memang kiaimu dan kamu adalah santriku. Sekarang aku datang ke sini karena aku adalah santrimu dan kamu adalah kiaiku. Jadi jangan istimewakan posisiku,” kira-kira begitu pinta Kiai Kholil kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Awalnya, KH. Hasyim Asy’ari ingin menurut, tapi berdasarkan besarnya keinginan untuk memuliakan gurunya tersebut maka muncul kemudian ide yang tak kalah ajaibnya untuk mengatasi “masalah” ini.

“Kiai Kholil, benar aku ini dianggap sebagai kiai panjenengan?” tanya KH. Hasyim pura-pura tegas.

“Benar. Kamu adalah kiaiku,” jawab Kiai Kholil.

“Kalau begitu, sebagai kiai aku memerintahkan agar Kiai Kholil menerima perlakuan istimewa dariku dan dari santri-santriku yang lain. Jangan membantah, sebab ini titah langsung dari seorang kiai kepada santrinya,” jelas KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian membuat Kiai Kholil tak bisa lagi berbuat apa-apa lagi untuk dimuliakan.

Peristiwa yang diceritakan dari mulut ke mulut dalam dunia pesantren ini menjadi penjelas bahwa sekalipun KH. Hasyim Asy’ari seorang ulama besar, di hadapan gurunya seperti Kiai Kholil Bangkalan, beliau tetap ingin diposisikan sebagai seorang santri.

Ikatan semacam ini merupakan gambaran bagaimana lekatnya sosok seorang santri yang tak pernah mau dianggap sebagai “mantan santri” dari sosok gurunya. Sampai seumur hidup, seorang santri akan selalu menjadi santri dari sosok kiai yang pernah mengajarinya ngaji atau belajar kitab kuning. Hubungan ini bahkan tetap tidak berubah sekalipun si santri pada masa mendatang jadi jauh lebih pintar dari gurunya.

Artinya, ketika seseorang menyebut “santri”, mau itu Gus Dur, KH. Hasyim Asy’ari, bahkan sampai KH. Ahmad Dahlan—misalnya—mereka semua masuk pada ketegori tersebut sekalipun sudah menjadi ulama-ulama besar yang melegenda di Nusantara. Jika sudah begitu, lalu kenapa harus dibikin Hari Kiai segala bukan?

  • 635
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles