MOJOK.CO – Gus Dur pernah bertemu Presiden Kuba Fidel Castro di Havana tahun 2000. Pertemuannya tak biasa karena didahului dengan drama salah paham.

Antara Gus Dur dan humor ada hubungan khusus. Seperti hubungan antara kuota dengan hape. Tak bisa dipisahkan sampai-sampai humor Gus Dur lebih populer ketimbang kebijakan-kebijakan yang pernah dibuatnya semasa jadi presiden. Saya membayangkan, apabila humor Gus Dur dikumpulkan jadi satu jilid buku, tebal ceritanya pasti melebihi semua tetralogi Pulau Buru dijadikan satu.

Sejak kanak-kanak, lalu menjadi ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama, kemudian menjabat presiden Indonesia, sampai akhirnya lengser, hidup Gus Dur selalu diwarnai kisah jenaka. Dan tak main-main, kisah-kisah itu kerap melibatkan orang-orang ternama. Dari Bill Clinton, Raja Arab, sampai tokoh revolusi sekaligus presiden Kuba Fidel Castro.

Tentang perokok yang jadi legenda Kuba ini, ada satu kisahnya bersama Gus Dur yang lucunya fenomenal. Peristiwa absurd tapi nyata ini terjadi saat Gus Dur berkunjung ke Kuba pada tahun 2000. Sayang sekali, saat itu Presiden Fidel Castro tidak bisa menyambut kedatangannya karena sedang sibuk mempersiapkan diri memimpin Konferensi Gerakan Nonblok.

Tidak hanya Indonesia yang hadir di Kuba saat itu. Sejumlah negara lain turut hadir. Konon, semua pemimpin negara yang ada di Havana saat itu ingin bisa berbincang empat mata dengan Castro. Dan konon lagi, penting tidaknya posisi negara tamu diukur dari seberapa berkenan Presiden Castro menyempatkan waktunya menemui langsung si pemimpin negara. Masalahnya, karena sibuk sekali, Castro sama sekali tidak menerima kunjungan empat mata dari pemimpin negara mana pun.

Baca juga:  Hansip Akan Segera Dibubarkan Karena Masalah Anggaran, Betulkah?

Sadar dengan kesibukan Fidel Castro, apalagi tidak ada jadwal waktu yang pasti dari Presiden Kuba ini untuk bisa ditemui, Gus Dur akhirnya memilih menunggu saja di salah sebuah hotel di Kota Havana.

Dari sinilah cerita fenomenal itu bermula. Kisah ini dituturkan Wahyu Muryadi, jurnalis senior dan mantan pemimpin redaksi TEMPO, kepada CNN Indonesia. Ia ada dalam rombongan wartawan yang menemani Gus Dur berkunjung ke Havana saat itu.

Alkisah, di Jumat malam 14 April 2000, karena bosan mendengarkan rekaman wayang kulit, Gus Dur ingin rileks bersama ajudan dan beberapa petugas paspampres dengan berjalan-jalan di luar hotel. Sebelum malam semakin larut, Gus Dur bermaksud menyaksikan live music di kota. Kebetulan ada pemusik yang akan membawakan lagu yang ingin didengar Gus Dur, lagu berjudul “Guantanamera”.

Namun, ketika Gus Dur turun ke lobi hotel, tiba-tiba komandan Paspampres Gus Dur dihubungi oleh pengawal yang menjaga pintu kamar kiai asal Jombang ini.

“Komandan mohon izin,” kata pengawal kamar Gus Dur.

“Iya?” jawab Komandan Paspampres.

“Ini ada rombongan orang yang tidak jelas dan tidak dikenal tiba-tiba masuk ngotot mau masuk kamarnya Presiden Gus Dur,” kata pengawal kamar.

Di depan kamar ini ada sedikit ribut-ribut, antara pengawal Gus Dur dan salah satu orang yang ingin masuk kamar Gus Dur.

Baca juga:  Cara Gus Dur Mengritik dan Menjawab Kritik sambil Menertawakan Diri Sendiri

“Lho, siapa itu?” tanya Komandan Pasmpampres di lobi hotel.

Tentu saja Komandan Paspampres agak reaktif, maklum keamanan Presiden adalah prioritas nomor satu. Malam-malam hampir larut begini kok tiba-tiba kamar presiden di hotel didatangi serombongan orang tak dikenal. Komandan Paspampres jadi waspada mendengar informasi tersebut.

“Nggak tahu, Komandan,” kata pengawal kamar. Jelas semakin menegangkan dong. Siapa rombongan ini? Mau ngapain mereka sama Gus Dur?

“Orangnya brewokan dan pakai pakaian hansip.”

(((Pakai pakaian hansip)))

Tiba-tiba wajah cemas Komandan Paspamres langsung berubah.

“Wah, itu Castro! Itu Fidel Casto!” teriak semua orang yang mendengar percakapan itu di lobi hotel.

Langsung saja rombongan yang sejatinya mau nonton live music ini bubar jalan dan segera naik ke kamar hotel lagi. Benar saja, di sana sudah berdiri sosok Fidel Castro yang dengan sabar menanti kedatangan Gus Dur.

Untunglah Fidel Castro tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga nggak bereaksi apa-apa ketika dibilang setelan pakaiannya kayak seragam hansip di Indonesia. Kalau Castro paham, didamprat saja sudah syukur. Nggak lucu kan kalau niatnya pengin dengerin Guantanamera, ending-nya malah dikirim ke Guantanamo.



Loading...



No more articles