• 154
    Shares

MOJOK.CO Capaian Sandiaga bakal jadi ampas kalau di hadapan netizen. “Ah, ya wajar saja dia bisa kuliah di Amerika. Lulus dengan prestasi bagus. Dia kan tajir.” Ho’oh.

“Wah, enak betul ya Gus Miftah itu. Baru lahir aja udah dihormati sama orang lain. Waktu kecil ke mana-mana udah dikenal. Dikecup tangannya lagi kalau salaman sama santri Bapaknya. Anaknya Pak Kiai je,” kata seseorang mengomentari Gus Miftah (bukan nama sebenarnya).

Sepanjang saya nyantri di Pondok Pesantren, saya banyak berkenalan dengan para Gus dan putra para Habib. Beberapa di antaranya saya kenal dengan begitu akrab sampai membuat saya paham hal-hal yang tak dipahami banyak orang.

Setelah kenal bertahun-tahun dengan orang-orang kayak gini, saya kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa betapa menderitanya mereka—anak-anak dari orang besar itu—selalu disandingkan dengan reputasi bapaknya.

Sejak dari kandungan, anak-anak, bahkan di segala celah keputusan hidupnya nanti.

Kasus yang dialami teman saya yang keturunan Habib pun juga tak lebih baik. Setiap hal yang dicapainya selalu dinilai sebagai keberuntungan. Buah dari keuntungan dirinya dilahirkan dari darah seorang Habib dengan garis keturunan Rasulullah.

Sama persis yang dialami Gus Miftah. Apa saja prestasi mereka selalu diremehkan.

“Ah, itu kan karena dia anaknya Habib. Ya wajar dong kalau dia hafal Al-Quran.”

“Gus Miftah emang harus pandai baca kitab kuning gini. Anaknya Pak Kiai kan ya harus gitu.”

Benar-benar sebuah pujian yang terdengar menyakitkan karena seolah tidak menganggap kerja keras keduanya dalam bekerja keras memenuhi ekspetasi orang-orang yang mengenal reputasi bapaknya masing-masing.

Hal-hal semacam ini tiba-tiba teringat lagi di kepala saya ketika mendengar tanggapan netizen soal kicauan Sandiaga Uno.

Sandiaga menceritakan bagaimana sejak kecil dia ingin kuliah di Universitas Indonesia (UI), namun sang ayah justru punya kehendak lain, ingin anaknya belajar ke Amerika. Membelikan tiket berangkat, dan—yah—kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Sandiaga Uno mendadak langsung jadi sandbag bully-an dari orang-orang yang tidak punya privilege macam dirinya. Melihat bahwa segala macam capaian Sandiaga ini menjadi remah-remah rempeyek saja.

Baca juga:  Ketika Guru Ngaji Dimintai Tolong Angkut Karung Beras Seperti Kuli

“Ah, ya wajar saja Sandiaga bisa kuliah di Amerika. Lulus dengan prestasi bagus. Dia kan dari keluarga berada.”

Netizen yang melakukan bully-an ini seolah tak paham. Betapa berat beban Sandiaga saat kuliah zaman itu. Bukan, bukan beban secara finansial tentu saja. Kuliah di Amrik pakai Visa F-1 sudah barang tentu menunjukkan betapa tajirnya keluarga besar Sandiaga.

Hanya saja yang tak dilihat dari orang-orang ini adalah: gimana jadinya kalau Sandiaga sampai tidak lulus, atau lulus tapi dengan nilai yang pas-pasan dan memprihatinkan?

Ada nama besar keluarga yang dia bahwa ketika berangkat ke Amrik untuk melanjutkan studinya. Sebuah hal yang tampak biasa saja ketika ditanya, “Mas Sandi kuliah di mana?” lalu dijawab, “Di Amerika, Bang.”

Lalu di balik pertanyaan itu selalu terselip harapan-harapan besar. Harapan-harapan semacam ini: “Kamu harus lulus dengan prestasi bagus lho. Jangan malu-maluin bapakmu.”

Selain Sandiaga dan kedua teman saya di awal tadi, hal semacam itu yang juga saya lihat dari sosok seperti Gus Mus dan Gus Dur. Dua tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Beberapa orang mungkin melihat bahwa Gus Mus maupun Gus Dur diuntungkan karena mewarisi darah sosok besar seperti Kiai Bisri Musthofa dan Kiai Wahid Hasyim. Lalu muncul dugaan bahwa hidup keduanya pasti enak sejak kanak-kanak karena sudah dipanggil “Gus”. Hedeh.

Coba bayangkan kamu hidup dengan menyandang garis keturunan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama kayak Gus Dur, atau putra langsung dari ulama yang melahirkan kitab al-Ibriz li Ma’rifat Tafsir al-Qur’an al-Aziz kayak Gus Mus?

Apa kamu yakin kamu mampu menampung beban besar seperti itu sejak kamu masih anak sampai dewasa? Hidup jadi sempit pilihan-pilihannya, karena kalau berbeda dengan jalur nama besar keluargamu orang akan melihatmu sebagai produk gagal dari bapakmu.

Itu lah kenapa saya bisa memahami kenapa Sandiaga selalu berusaha “sok” bekerja keras dalam hidupnya. Apa yang dilakukan Sandiaga adalah sebuah pembuktian, bahwa dirinya bisa lebih baik dari ekspetasi yang berada di sekeliling keluarganya. Hal-hal yang tentu tidak dipahami oleh orang yang tak memiliki beban serupa.

Baca juga:  Belajar dari Young Lex, Gimana Cara Manajemen Haters yang Sukses

Bahkan ketika Sandiaga “berhasil” menjadi Wakil Gubernur dengan mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama—terlepas dari prosesnya yang bagi sebagian orang cukup kontroversial—namun hal itu justru jadi pembuktian Sandiaga bahwa dirinya bisa lebih besar dari nama bapaknya.

Hal yang belum tentu bisa diraih oleh orang-orang ketika punya keuntungan seperti itu dari bapaknya.

Pada kenyataannya, putra Habib yang menjadi teman saya ini tidak bisa melanjutkan menggapai cita-citanya sebagai seorang mahasiswa—seperti teman-temannya. Padahal harapannya cuma sederhana: bisa kuliah. Tapi sayang, teman saya ini harus disibukkan mondok dari satu pesantren ke pesantren lain sampai akhir hidupnya.

Ya, teman saya ini akhirnya meninggal dunia di usia yang sangat muda. Dengan menjadi seorang Habib betulan, ketika teman-temannya masih sibuk mengerjakan skripsi. Nama besar yang dia bangun sendiri tapi jarang dihargai oleh orang-orang terdekatnya.

Pun dengan teman saya Gus Miftah tadi. Karena merasa selalu dilekatkan dengan nama besar bapaknya yang seorang kiai cukup dikenal di Jawa Tengah, dia awalnya sempat memberontak. Dikeluarkan dua kali dari dua pesantren karena kenakalannya.

Alasannya baru saya ketahui belakangan. Ternyata ada cita-cita yang tidak sejalan dengan cita-cita bapaknya. Keinginan Gus Miftah teman saya ini untuk jadi sutradara film berbenturan dengan reputasi besar bapaknya. Ketika ingin kuliah di jurusan kesenian atau perfilman, penolakan dari keluarga besarnya terjadi berkali-kali.

Sampai akhirnya teman saya ini harus mengubur impiannya dalam-dalam, karena pasrah bahwa takdirnya memang harus mengasuh pondok pesantren bapaknya. Sayang sekali, cita-cita dan kehendak bebasnya justru dibatasi oleh hal-hal yang sering dianggap netizen: “privilege”.

Privilege yang bagi kedua teman saya ini bisa saja dianggap sebagai kutukan.

Soalnya ketika gagal kamu akan dibilang sebagai pecundang yang mencemari nama besar bapakmu, namun ketika berhasil prestasimu akan dianggap merupakan keuntungan yang didapat dari bapakmu.

Hal yang belakangan ini juga sedang dialami oleh sosok seperti Sandiaga.