Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Kesalahan Rakyat Bikin 20 Ribu Ton Beras Bulog Hampir Busuk Dilelang buat Jadi Lem

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
24 Desember 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Karena disimpan di gudang Bulog terlalu lama, sebanyak 20 ribu ton beras hampir busuk akhirnya dilelang dengan harga relatif murah. Murah untuk dibikin lem.

Sebagai salah satu cara untuk mengontrol harga makanan pokok (baca: beras), pemerintah memang selalu menyediakan beras untuk masyarakat lewat Badan Urusan Logistik (Bulog). Masalahnya, dikarenakan kelewat lama disimpan di gudang Bulog, cadangan beras (cbp) sebanyak 20.367 ton pun jadinya malah nyaris busuk.

Nggak mau rugi, pemerintah kemudian menerapkan langkah solutif untuk “membuang” 20 ribu ton beras nyaris busuk milik Bulog ini. Beruntung sebuah perusahaan PT. Zona Eksekutif Liner, mau menampung beras-beras tersebut dalam proses lelang yang diadakan oleh Perum Bulog.

PT. Zona Eksekutif Liner sendiri merupakan perusahaan industri lem furniture. Rencananya, beras sebanyak ini akan jadi bahan baku lem mebel. Perusahaan ini menang lelang setelah mau membayar sebanyak Rp23,8 miliar.

Nyaris busuknya beras di Bulog ini tentu jadi pertanyaan banyak pihak. Kenapa bisa beras sebanyak 20 ribu ton sampai tidak tersalurkan ke masyarakat?

Ya kan nggak mungkin petugas Perum Bulog malas-malasan, sampai luput punya beras 20 ribu ton luput dikelola dengan baik. Mereka kan sudah bekerja sesuai dengan besaran gaji dan tunjangan mereka.

Nah, karena kesalahan tidak mungkin dari pihak pemerintah, maka sudah jelas kesalahan ini lebih pantas diarahkan kepada masyarakat luas. Orang-orang kere yang tidak punya kontribusi terhadap pemerintah, seperti kita-kita ini. Pihak yang memang layak untuk disalahkan atas ke-mubazir-an tahap makrifat model begini.

Beberapa kesalahan rakyat itu karena rakyat…

…ngaku miskin biar dapat bantuan, begitu dibilang miskin malah ogah

Gengsi tidak mau dikatai orang miskin ada, tapi ngarep bantuan pemerintah untuk orang miskin juga ada. Dan peristiwa model begini betulan terjadi di sebuah dusun di Gresik, Jawa Timur.

Beberapa keluarga dikabarkan mendadak ogah menerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dalam bentuk bahan-bahan pokok di daerah Gresik. Usut punya usut, ternyata Kepala Desa setempat memberi syarat nyleneh bagi penerima bantuan khusus untuk orang miskin ini.

Jadi buat warga yang menerima bantuan tersebut, di rumahnya akan ditempeli stiker warna hijau bertuliskan… “keluarga miskin” atau “keluarga pra-sejahtera”.

Hm, langkah yang ternyata cukup ampuh.

Faktanya, sebanyak 18 keluarga yang sebetulnya tak miskin-miskin amat (tapi ngaku miskin biar dapat bantuan), langsung putar balik membatalkan status kemiskinannya. Ya gengsi dong kalau diomongin tetangga kalau di rumahnya ada stiker “keluarga miskin”-nya.

Nah, ini kejadiannya baru di Gresik lho. Coba kalau seluruh Indonesia pada diginin semua, bisa ngalamat pada nggak mau ngaku miskin itu orang-orang kelas menengah yang sebenarnya cuma kepingin ngemis itu.

Iklan

Dengan situasi ini, maka jelas bantuan pemerintah akan semakin lama terserapnya ke masyarakat. Lah piye? Masyarakat jadi malu je kalau mau dibilang miskin?

…punya selera beras yang ketinggian

Sejak dari dulu, kualitas beras dari Bulog memang tak pernah jadi unggulan. Bahkan, dulu banget beras Bulog itu sering dikecengin lebih layak jadi pakan ayam ketimbang sebagai pakan manusia. Sebuah sindiran untuk menggambarkan betapa buruknya kualitas beras Bulog.

Ternyata eh ternyata, buruknya kualitas beras Bulog ini adalah karena proses penyimpanan yang terlalu lama.

Sebetulnya ketika beras itu datang ke gudang Bulog, berasnya sih nggak jelek-jelek amat. Namun karena proses manajerial yang agak ribet, akhirnya beras itu keluarnya rada-rada seret. Jadi jelek deh begitu mau dikeluarin untuk kebutuhan masyarakat.

Tapi hal ini jelas bukan kesalahan Perum Bulog yang sempurna. Sebagai perusahaan negara, Bulog bisa saja sedang mempertimbangkan kelayakan soal harga beras dengan kualitas beras.

Masak iya, beras bagus mau dijual via bazar sembako dengan harga murah untuk keluarga miskin? Ya itu kan membunuh warung sembako sekitarnya dong.

Lagian jika beras masih dalam kondisi bagus kok dikeluarkan dari gudang Bulog, maka nanti masyarakat miskin jadi suka dong jadi miskin. Masak rakyat yang miskin dapat beras yang enak sih? Ya jangan dong, nanti mereka nggak kapok jadi miskin.

Itu artinya, pemerintah melalui Bulog ingin mendidik rakyat kita lewat stimulus yang menantang. Jadi, gimana? Berasnya nggak enak kan? Makanya jangan miskin dong. Usaha sendiri tapi ya buat bisa mentas dari kemiskinan?

Lagian, ketimbang menyalahkan Bulog, sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya kok memang selera beras kita yang sebenarnya udah ketinggian selama ini.

Sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, kita ini memang ditakdirkan sebagai bangsa yang memberi suplai beras terbaik ke seluruh dunia, tapi harus tabah menikmati beras-beras terburuk di seluruh dunia.

Dan itulah karma nenek moyang kita. Karena nenek moyang kita pelaut, bukan petani.

…keblabasan mengikuti saran Puan Maharani

Sebelum menjadi Ketua DPR RI seperti sekarang, Puan Maharani pernah memberi nasihat bijak kepada seluruh rakyat kere Indonesia pada 2016.

Saat itu, ketika Puan masih menjabat sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan menyarankan kepada orang miskin agar jangan makan banyak-banyak. Hebatnya, pernyataan itu muncul dalam sebuah acara penyaluran beras untuk orang miskin.

“Jangan banyak-banyak makan lah, diet sedikit tidak apa-apa,” kata Puan.

Beberapa pihak memang ada yang mengkritik pernyataan Puan ini. Dianggap tidak sensitif terhadap kondisi rakyat miskin. Namun—sekali lagi—pemerintah tidak mungkin salah. Wabilkhusus Mbak Puan Maharani.

Bisa saja, karena wejangan yang begitu menakjubkan ini muncul tanpa bisa diduga, banyak orang miskin di seluruh Indonesia jadi terinspirasi sampai akhirnya mempraktikkan diet ketat. Sesuai saran dengan Mbak Puan Maharani.

Mereka akhirnya jadi ogah makan nasi. Terutama nasi dari beras Bulog. Makin seret lagi deh beras Bulog mau keluarnya. Jadi busuk di gudang dan malah mau disulap jadi lem.

Etapi nggak apa-apa, paling tidak rakyat patut berbangga karena lem furniture untuk industri mebel Indonesia ke depan bakal lebih pulen dan punya aroma air tajen.

BACA JUGA Bukan Jokowi, Inilah Daftar Penyebab Kita Jadi Miskin atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Desember 2019 oleh

Tags: beras bulogbulogPuan Maharaniraskin
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Petani kibulin bulog kirim gabah kering panen "aneh-aneh. MOJOK.CO
Mendalam

Pengamat Imbau Bulog untuk Revisi Pengadaan GKP agar Petani Tak Setor Gabah “Aneh-aneh”

29 Januari 2026
banjir sumatera. MOJOK.CO
Mendalam

Bencana di Sumatra: Pengakuan Ayah yang Menjarah Mie Instan di Alfamart untuk Tiga Orang Anaknya

1 Desember 2025
Stok Beras Bulog 2025 Aman. MOJOK.CO
Aktual

Stok Beras Bulog Memang Berlebih di Gudang, tapi Tak Jamin Masyarakat Bisa Beli dan Petani Sejahtera

24 November 2025
Swasembada Pangan di era Prabowo. MOJOK.CO
Aktual

Memahami “Bahasa Bayi” Swasembada Pangan yang Dibanggakan Presiden Prabowo selama Satu Tahun Menjabat di Saat Petani Makin Nelangsa

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.